NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riuh di Balik Meja Kelas

Kamis pagi, udara di SMA Cakrawala Bangsa terasa sedikit lebih segar setelah mendung yang menggantung berhari-hari akhirnya menyingkir. Setelah cuti 1 hari Aruna kembali masuk dengan perasaan yang lebih lega. Aruna melangkah masuk ke kelas dengan wajah yang sudah jauh lebih berwarna.

Syal rajut abu-abunya sudah ditinggalkan di rumah, digantikan dengan seragam yang rapi dan wangi detergen yang menenangkan. Meskipun sisa-sisa flu masih terasa sedikit di pangkal tenggorokan, ia sudah merasa cukup kuat untuk menghadapi tumpukan tugas Kimia yang sempat tertunda.

Begitu bel istirahat berbunyi, ketenangan Aruna terusik. Tiga sosok—Sasha, Jelita, dan Lulu—langsung mengepung mejanya bagaikan detektif yang siap menginterogasi tersangka utama.

"Na! Akhirnya lo balik lagi!" Sasha menjadi yang pertama bersuara, tangannya sibuk meletakkan sekantong buah potong dan satu strip vitamin C di atas meja Aruna. "Gue beneran khawatir lo bakal tepar seminggu."

"Kita bawain ini buat lo, biar stamina lo balik lagi. Jangan sampe pingsan pas ngerjain soal ya," tambah Lulu sambil menaruh kotak nasi berisi salad buah buatannya sendiri.

Aruna tersenyum kecil, ia merasa hangat dengan perhatian sahabat-sahabatnya. "Makasih ya, gue udah baikan kok. Cuma masih agak lemes dikit aja."

Jelita menopang dagu, matanya menyipit penuh selidik. "Tapi gue denger-denger... kemarin pas lo sakit di sekolah, ada drama kecil ya di kelas ini?"

Aruna menghela napas, ia sudah menduga arah pembicaraan ini. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tidak terlalu antusias—bahkan cenderung ingin mengantuk saat topik itu diangkat. "Drama apa? Nggak ada drama, cuma pada nganterin makanan doang."

"Halah, nggak ada drama gimana?" Sasha menyambar dengan heboh. "Gue dapet laporan dari anak-anak yang belum keluar kelas kemarin, katanya dua bocah itu—pangeran OSIS sama jagoan basket—jenguk lo barengan? Terus mereka sempet tatap-tatapan sengit gitu?"

"Kenapa sih lo jadi pusat perhatian mereka berdua sekaligus, Na?" Jelita menyenggol lengan Aruna dengan wajah menggoda. "Jangan-jangan ada apa-apa lagi. Sejak kapan pangeran kita sama si cowok urakan itu jadi perhatian banget sama lo?"

Aruna memutar bola matanya, ia membuka kotak salad buah dari Lulu dengan malas. "Apaan sih kalian. Jangan mulai deh. Kita tuh nggak ada apa-apa. Si Aska itu... dia cuman kemarin tuh ngisengin gue doang. Malah pas nganterin makanan, omongannya tetep aja kasar, nggak ada manis-manisnya."

"Tapi tetep aja dia dateng, Na! Cowok kayak Aska mana pernah mau repot-repot bawain bubur ke kelas cewek kalau nggak ada 'sesuatu'?" Sasha masih belum mau menyerah.

"Ya mungkin dia ngerasa bersalah aja karena kemarin gue kehujanan pas balik bareng dia," gumam Aruna tanpa sadar.

Seketika, ketiga temannya mematung. Suasana meja itu mendadak hening selama beberapa detik sebelum akhirnya ledakan suara Sasha memenuhi ruangan.

"APA?! Lo balik bareng Aska pas badai kemarin?!"

Aruna segera menutup mulutnya, menyadari bahwa ia baru saja membocorkan rahasia yang seharusnya ia simpan sendiri. "Eh, maksud gue... itu... karena banjir, jadi dia nawarin tumpangan."

"Lulu, denger nggak?" Jelita menatap Lulu dengan ekspresi tidak percaya. "Sahabat kita yang paling pinter, paling kalem, dan paling benci sama orang urakan, ternyata boncengan nembus banjir sama Askara."

Lulu terkekeh sambil membenarkan letak kacamatanya. "Gue sih udah curiga pas liat tatapan Aska di bengkel waktu itu. Tapi Na, lo juga pasti penasaran kan sama dia? Cowok misterius kayak gitu biasanya bikin penasaran, meskipun lo bilang ogah."

"Ogah ya tetep ogah, Lu," balas Aruna tegas, meski ada sedikit keraguan di hatinya. "Gue nggak suka cara dia yang tiba-tiba muncul, tiba-tiba ngilang. Belum lagi urusan sama Kak Adrian yang makin rumit gara-gara dia."

"Nah, bicara soal Adrian..." Sasha mencondongkan badan, merendahkan suaranya. "Gimana kelanjutannya? Kemarin dia keliatan banget ngerasa bersalah. Dia minta maaf lagi nggak?"

Aruna mengangguk pelan. "Udah. Dia udah minta maaf, katanya dia nggak bermaksud ngekang. Dia juga janji bakal lebih santai soal jadwal belajar kita. Sore ini rencananya kita mau bahas soal sebentar, terus dia mau nganter gue pulang lagi—pake mobil, katanya biar aman."

"Gila, persaingannya makin panas!" Jelita berbisik semangat. "Satu pake mobil yang nyaman dan aman, satu lagi pake motor yang nembus badai dan bikin deg-degan. Lo mending pilih yang mana, Na?"

"Gue pilih tidur," jawab Aruna singkat, membuat teman-temannya tertawa.

---

Sore harinya, sesuai janji, Adrian sudah menunggu Aruna di depan laboratorium. Suasananya jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada lagi nada perintah, yang ada hanyalah diskusi hangat tentang materi biologi sel yang sedang mereka pelajari.

"Na, kalau kamu capek, kita udahan dulu ya. Jangan dipaksain," ujar Adrian lembut sambil menutup buku paketnya.

"Nggak apa-apa, Kak. Dikit lagi selesai kok," jawab Aruna.

Setelah selesai, mereka berjalan menuju parkiran. Mobil sedan putih Adrian sudah terparkir rapi. Saat mereka baru saja akan masuk ke mobil, suara knalpot yang sangat dikenal Aruna menderu dari arah gerbang. Aska baru saja akan keluar dari area sekolah dengan motor hitamnya.

Aska sempat melambatkan motornya saat melihat Aruna berdiri di samping mobil Adrian. Ia membuka visor helmnya, menatap Aruna sekilas, lalu beralih menatap Adrian dengan seringai tipis yang provokatif. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia kembali menutup visor dan melesat pergi, meninggalkan sisa suara mesin yang menggema.

Adrian hanya diam, ia menghela napas panjang lalu membukakan pintu untuk Aruna. "Ayo masuk, Na. Di luar mulai dingin."

Di dalam mobil, suasana terasa kedap dan sunyi. Berbeda jauh dengan kebisingan yang dibawa Aska tadi. Aruna menatap keluar jendela, melihat jalanan yang mulai basah karena gerimis tipis kembali turun.

"Na," panggil Adrian memecah keheningan. "Aku nggak akan nanya soal kemarin lagi. Tapi aku cuma mau bilang, aku senang kamu sudah sembuh. Sekolah berasa sepi kalau kamu nggak ada."

Aruna menoleh, ia melihat ketulusan di wajah Adrian. "Makasih, Kak. Aku juga seneng bisa balik lagi."

Perjalanan pulang sore itu terasa sangat nyaman. Adrian memutar lagu instrumental yang tenang, membuat Aruna yang masih dalam masa pemulihan merasa benar-benar rileks. Namun, di dalam kepalanya, ia masih memikirkan pembicaraan dengan teman-temannya tadi di kantin.

*Kenapa sih mereka harus jadi perhatian sama gue?* Pertanyaan itu terus berputar.

Aruna menyadari bahwa hidupnya sekarang benar-benar berada di antara dua dunia. Dunia Adrian yang penuh dengan kenyamanan, keteraturan, dan dukungan yang manis, serta dunia Aska yang penuh dengan ledakan, tantangan, dan kejujuran yang terkadang menyakitkan.

Saat mobil Adrian berhenti di depan rumahnya, Aruna turun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. "Makasih ya, Kak, udah dianter."

"Sama-sama. Istirahat yang bener ya, Na. Jangan begadang," pesan Adrian sebelum melajukan mobilnya pergi.

Aruna masuk ke rumah, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah benda kecil tergantung di pagar rumahnya. Sebuah kantong plastik hitam kecil. Ia membukanya dan menemukan satu pak cokelat jahe dan secarik kertas kecil yang tulisannya sangat berantakan:

*'Jangan mati dulu, Anak Pintar. Masih banyak soal yang belum lu kelarin.'*

Tanpa ia ketahui Askara mengikuti mereka dengan motornya hingga sampai rumah pada saat Aruna bertemu dengan Askara beberapa saat yang lalu itu.

Tanpa sadar, Aruna tersenyum. Senyum yang tidak ia tunjukkan pada teman-temannya tadi, senyum yang hanya ia simpan sendiri di kegelapan teras rumahnya.

Ia tahu, meskipun ia bilang ogah, variabel bernama Askara ini telah memberikan warna yang tidak pernah ia temukan dalam rumus mana pun. Dan petualangan di SMA Cakrawala Bangsa, sepertinya baru saja benar-benar dimulai.

---

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!