NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:59.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Miranda sudah memasukan motornya ke dalam. Di saat ia hendak menutup pagar rumahnya, tiba-tiba langkahnya berhenti di ujung teras, mendapati sebuah buket bunga lumayan besar tergeletak di atas meja kecil.

Disana juga terdapat kartu ucapan. Miranda terduduk sejenak untuk membuka kartu kecil yang menyisip di sela-sela bunga.

Akan tetapi, belum sampai jemari lentik itu membalikan kartu, tiba-tiba gawainya bergetar.

Drttt!!

Sebuah panggilan video masuk. Nomor yang tidak di kenal. Namun, bibir Miranda melekuk tipis kala mendapati nama -- Dewa Pradipta di bawah nomor tadi.

"Mas Dewa," lirihnya. Miranda mengabaikan kartu tadi, lalu segera menggeser tombol hijau dalam gawainya.

Wajah tampan dewa yang tengah tersenyum manis dibalik balutan jas bewarna marun itu, sungguh membuat Miranda hampir terpana, dan cepat-cepat menundukan mata merutuki lancangnya sang pandangan mata.

"Assalamualaikum, Miranda... Bagaimana, kamu senang?"

Miranda mencoba menatap. Pikiranya teringat pada ucapan tetangganya tadi. 'Jasnya bewarna merah tua!' batin Miranda bergolak. 'Jadi, yang mengirim buket ini adalah Mas Dewa?! Ya Allah... Untuk apa Mas Dewa sampai segitunya. Di kasih kerjaan saja aku udah makasih banyak.'

"Mas Dewa, makasih ya! Seharusnya Mas Dewa nggak perlu bersikap seperti ini. Saya jadi nggak enak," katanya tersenyum kikuk.

Dewa di sebrang sudah di kalang kabut sendiri melihat senyum manis Miranda. "Sama-sama Miranda. Kamu suka warnanya?"

Tangan Miranda menggapai lambat pada bunga lavender itu. Ia usap perlahan, lalu senyumnya kembali mengembang. "Iya, Mas... Saya suka warnanya. Dan, kebetulan itu warna kesukaan saya."

Dewa merasakan sesuatu yang terpendam dalam dadanya berdetak sangat kencang. Bahkan, pria itu sampai menyentuh dadanya sendiri.

Miranda terbelalak. Ekspresi Dewa seolah dirinya menahan ngilu yang tak usai. "Mas Dewa nggak papa 'kan?"

"Nggak, Mir... Saya hanya nggak bisa tatap kamu lebih lama lagi. Oh ya, jika kamu suka, tolong simpan ya. tolong jangan lupa di baca. Ya sudah, saya matikan. Assalamualaikum...."

"Walaikumsalam...." Miranda rasa, Dewa ada benarnya. Ia belum sampai membaca kartu ucapan itu. "Mas Dewa tahu aja. Emangnya apa sih isinya?" penasaran itu menjalar memenuhi kepala Miranda.

'Ehem! Saya minta maaf sama kamu, Miranda!'

Miranda cukup melongo melihat kalimat singkat itu. Tapi, tawanya juga sedikit pecah. "Mas Dewa ada-ada sih? Aku tahu, dia pasti merasa bersalah atas sikap gila adiknya itu."

Puas menghirup harum lavender yang menenangkan, Miranda kini langsung bangkit membawa bunga tadi masuk ke dalam.

Sementara di kediaman Baskara, Dewa langsung saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah meeting dengan perusahaan yang akan menanam saham pada Book Star miliknya.

Bibir Dewa melekuk senyum kembali. "Semoga saja Miranda menyukai buku spesial itu," gumamnya penuh harap. Setelah selesai meeting pukul 3 sore, Dewa sengaja menghubungi kurir langganannya untuk mengirimkan Novel dan Buku Antologi kepada Miranda. "Tapi setidaknya, Miranda sudah menerima buku itu."

Puas melamun, Dewa bangkit. Tiba-tiba saja tenggorokanya terasa kering. Setelah melepaskan jasnya, ia bergegas keluar.

Namun, langkahnya reflek pelan, kala mendengar adiknya tengah bertukat telfon dengan sesorang di balkon. Di rasa tak penting, Dewa melanjutkan jalanya menuju tangga.

"Bagaimana, Nanda? Kamu sudah mengirimkan buket bunga di rumah Miranda 'kan?" kedua alis Ezat mejuling sangat mengintimidasi.

Nanda terkekeh tanpa suara. "Aman, Pak Ezar! Saya sudah membelikan buket lavender dan juga kartu ucapan sesuai kata-kata yang sudah Anda tulis. Saya letakan di atas meja teras rumahnya Mbak Miranda."

Mendengarnya saja perasaan Ezar sudah terasa tenang. 'Semoga saja Miranda bisa memaafkan saya.'

Nanda, pria di balik jas marun itu tersenyum bangga. Setidaknya, misinya kali ini sudah berhasil.

Panggilan terputus sepihak oleh Ezar. Pria itu kemudian segera kembali masuk ke dalam kamarnya sekedar membersihkan diri.

*

*

"Razam, Sayang... Kamu stop di situ aja! Aku akan kirimkan kamu uang untuk menjamin hidup kamu. Oke, kamu dapat percaya sama Tante," ucap Ria di sudut teras dapur.

Dewa menghentikan langkahnya begitu pandangannya juga reflek mencari sumber suara. Pria itu meletakan dulu sebotol air tadi, hingga langkah pelanya membawa sampai pintu pembatas.

Di sana, ia mendapati Mamahnya tengah menghubungi seseorang, dan di rasa pria dibalik panggilan itu bukanlah sekedar anak buah biasa.

"Tante pokoknya harus datang! Aku tunggu nanti malam di Apartement tempat kita biasa ketemu. Dan jangan lupa bawakan aku bahan makanan, karena untuk beberapa hari ke depan, namaku pasti menjadi buronan anak tiri Tante, si Ezar itu."

Ria tampak antusias, begitu perhatian penuh meyakinkan. "Iya, sayang... Nanti malam jam 8 Tante akan ke sana. Ya udah, kamu jangan hubungi Tante lagi. Di rumah ada Baskara. Aku nggak mau masalah semakin runyam," putus Ria menutup panggilannya.

Dewa tersenyum miring dibalik pintu kaca. 'Wah, wah... Akan ada tontonan menarik setelah ini. Rupanya nenek peyot seperti dia selama ini memelihara pria mokondo. Tapi baguslah, dengan terbongkarnya kebusukan Ria, Papah pasti akan segera menceraikan wanita itu.' Setelah puas, Dewa kembali melanjutkan aktivitasnya.

Saat di ujung tangga, ia bertemu Ezar yang sudah rapi dan maskulin dibalik jaket hitamnya.

Dewa menyipit. "Mau kemana kamu, Zar?"

"Mas... Aku mau ketemu Rafael buat mencari pria dalam video itu. Aku nggak terima dia dapat hidup tenang setelah membuat Miranda menderita," jelas Ezar yang masih berapi-api.

Dewa menghela napas tenang. Wajahnya menagak lalu berkata, "Kamu tidak perlu cari jauh-jauh. Itu urusan Mas. Tapi, kalau kamu sudah buat janji sama Rafael ya, pergi saja! Seorang muslim tidak baik mengingkari janjinya," tanpa sadar Dewa keceplosan dengan kalimatnya. Pria itu masih belum menyadari hingga naik lagi ke atas.

Deg!

Muslim? Ezar menoleh ke belakang sekilas. "Apa maksud Mas Dewa?" tak ingin lebih risau, Ezar mengenyahkan dan langsung memutuskan keluar.

Motor kawasaki itu mulai melaju kencang membelah jalanan Ibukota.

*

*

Malam ini, Miranda duduk di teras seorang diri. Mungkin sedikit tenang karena tak ada suara rengekan Tama. Tapi hal itu membuatnya sepi.

Di temani secangkir teh hangat, sebuah buku diary. Wanita cantik itu tersenyum lembut; teringat mendiang suaminya. Dalam catatan diary itu, Arya selalu menuliskan apa pun yang terjadi, bahkan dari pertemuanya dengan Miranda hingga di hari terakhirnya.

Tiba-tiba saja di depan rumahnya terdengar suara motor yang berhenti. Miranda reflek menurungkan bukunya, matanya menyipit lalu bangkit.

"Siapa ya?" Miranda hanya menatap dari teras. Ia belum mendekat, pikirnya bisa saja itu tamu tetangga kompleknya, atau sekedar orang salah alamat.

Sementara pria itu masih tetap duduk diatas motornya enggan turun. "Apa yang harus aku bicarakan? Malu banget cuma mau bilang; Miranda, maafkan saya! Duh, kaku banget bilangnya."

Miranda yang penasaran, kini menepis semua ketakutannya untuk menghampiri.

Dan ketika pria tadi membuka helmnya, Miranda tersentak hingga matanya berubah kuat.

1
Naufal hanifah
bagus
Ig:@septi.sari21: maciihhh kak😍✋
total 1 replies
SisAzalea
adakah " Jauh kan tanganmu?"
Nessa
👍🏻👍🏻
Sarinah Quinn
di sini yang jahat menang telak author dukung Sinta dan ezar sedangkan Miranda yg hancur in s
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏
Sarinah Quinn: terserah author nya. takdir nya di tangan author hanya gak ikhlas SJ gt Thor Sinta SM ezar. kalau nanti ezar di pertemukan dengan orang yg di cintai nya mungkin etis juga ini kn terpaksa nikah nya. tapi lagi lagi kn pembaca ini hanya pembaca thor mengikuti alur nya saja 🙏🥰
total 2 replies
Yunita Sophi
aahh aq kira Miranda akan nikah dgn Ezar...
Ig:@septi.sari21: sad ending ceritanya kak💔🥀
tapi sama-sama bahagia kok😍
total 1 replies
Yunita Sophi
keren thor ceritanya 👍
tia
👍👍👍👍👍
tia
lanjut thor
ardiana dili
lanjut
Dew666
🎈🎈🎈🎈
ardiana dili
lanjut
Nessa
nexxttt..
Yunita Sophi
bagus Ezar... libas aja tuh cewek barber tukang fitnah..
tia
lanjut thor,,
Yunita Sophi
kak thor cepat lanjutin yah... jadi makin penisirin ini...😄
Yunita Sophi
ciah Ezar punya modal nama Tama di bawa bawa..😄
Yunita Sophi
kata Dewa dia ikut agama mamah nya... terus papah nya beda gitu yah thor..
Yunita Sophi
semangat Zar...
Yunita Sophi
👏👏👏👏👏 seru nih tante 😄😄😄
Yunita Sophi
Ria mau kaya apa pun di lakukan... merebut suami kakak,membunuh kakak tp setelah berhasil menguasai malah selingkuh ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!