NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih yang Tersisa

Toba terasa begitu nyata, namun bagi keluarga Arkana, dunia tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Enam bulan ketenangan hanyalah waktu yang diberikan semesta untuk mereka mengambil napas. Di balik riak air danau yang tenang, sebuah getaran baru mulai muncul getaran yang tidak berasal dari teknologi manusia, melainkan dari sisa-sisa energi yang tertinggal setelah runtuhnya Leviathan.

Pagi itu, Adrian tidak sedang memancing. Ia berdiri di tepi dermaga, menatap pantulan dirinya di air. Namun, pantulan itu tidak sinkron. Bayangannya di air tampak bergerak lebih lambat, seolah-olah ada jeda waktu antara kenyataan dan refleksi.

"Mama," panggil Adrian tanpa menoleh.

Aara, yang sedang menyiram tanaman anggrek di teras, segera meletakkan potnya. Ia merasakan perubahan suhu yang mendadak. Udara di sekitar dermaga terasa statis, seolah-olah molekul oksigen berhenti bergerak.

"Ada apa, Sayang?" Aara mendekat, insting agen elitnya langsung bangkit. Matanya memindai sekitar, mencari ancaman yang mungkin bersembunyi di balik pohon-pohon pinus.

"Jantung danau ini berhenti berdetak," bisik Adrian. "Ada sesuatu yang ditarik dari bawah sana. Bukan oleh mesin, tapi oleh lubang yang kita buat dulu."

Di ruang kerjanya, Kenzo sedang menatap layar monitor yang terhubung dengan satelit pribadi Nusantara. Sejak pembuangan koper terakhir oleh Baskara, Kenzo tetap menyimpan satu jalur komunikasi rahasia dengan Leo di Swiss.

"Tuan Kenzo, Anda harus melihat ini," suara Leo terdengar melalui frekuensi radio analog yang berderak. "Sensor gravitasi global mendeteksi anomali di titik-titik bekas pangkalan Ouroboros. Bukan hanya di Palung Mariana, tapi juga di Svalbard dan pedalaman Kalimantan."

Kenzo mengerutkan kening. "Bukankah semuanya sudah dihancurkan?"

"Secara fisik, ya. Tapi lubang energi yang diciptakan oleh ledakan resonansi Adrian ternyata tidak tertutup sepenuhnya. Mereka berfungsi seperti vakum. Mereka mulai menghisap frekuensi elektromagnetik dari sekitarnya. Itulah sebabnya dunia terasa lebih 'tenang' belakangan ini—energi negatif bumi sedang tersedot ke dalam retakan itu."

"Dan apa masalahnya jika energi negatif itu hilang?" tanya Kenzo.

"Masalahnya adalah hukum keseimbangan, Tuan. Alam semesta membenci kekosongan. Jika retakan itu terus menghisap, suatu saat mereka akan memuntahkan kembali semuanya dalam satu gelombang besar. Dan gelombang itu... bisa menghapus kesadaran manusia di seluruh planet."

Sore itu, sebuah perahu motor tua mendekat ke dermaga rumah mereka. Kenzo sudah berdiri di sana dengan tangan di balik punggung, menggenggam sebuah belati taktis. Namun, saat sosok di atas perahu itu berdiri, Kenzo tertegun.

Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang lusuh, wajahnya tertutup tudung, namun auranya sangat akrab. Saat ia membuka tudungnya, terlihatlah wajah Dr. Aris sang arsitek serum Valkyrie yang seharusnya sudah tewas dalam ledakan di Islandia bertahun-tahun lalu.

"Aris?" desis Kenzo. "Bagaimana mungkin kau..."

"Kematian adalah konsep yang relatif bagi mereka yang menguasai frekuensi seluler, Kenzo," ucap Aris dengan suara serak. Ia tampak sangat tua, jauh lebih tua dari usia aslinya. "Aku datang bukan untuk berperang. Aku datang untuk memperingatkan kalian tentang 'The Echo Phase'."

Aara dan Adrian bergabung di dermaga. Aara menatap Aris dengan kebencian yang mendalam, namun Adrian menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Kau yang membuatku menjadi seperti ini," ucap Adrian pelan.

Aris berlutut di depan Adrian, matanya berkaca-kaca. "Aku menciptakan benihnya, Adrian. Tapi kau adalah pohon yang tumbuh di luar kendaliku. Dan sekarang, akar-akarmu mulai merobek pondasi dunia ini."

Aris menjelaskan bahwa kehancuran Ouroboros hanyalah permulaan dari fase pembersihan besar-besaran yang disebut Protokol 150. Itu adalah rencana darurat yang ditanamkan Kusuma Pratama ke dalam inti bumi.

"Ada seratus lima puluh titik resonansi di seluruh dunia," jelas Aris sambil membuka peta hologram dari sebuah perangkat kuno. "Masing-masing titik harus diselaraskan secara manual oleh seseorang yang memiliki frekuensi Alpha murni. Jika tidak, pada hari ke-150 sejak runtuhnya Leviathan, bumi akan mengalami 'reset' total."

"Dan hari ini adalah hari keberapa?" tanya Aara dingin.

"Hari ke-35," jawab Aris.

Kenzo menatap istrinya, lalu menatap putranya. Kedamaian yang mereka perjuangkan ternyata hanyalah sebuah fatamorgana singkat. Target seratus seratus lima puluh babak baru dalam hidup mereka baru saja dimulai.

"Kita harus berpindah," ucap Kenzo tegas. "Kita tidak bisa melakukan ini dari sini."

Malam itu, mereka berkemas dalam diam. Tidak ada lagi koper besar, hanya peralatan esensial dan senjata yang telah dimodifikasi oleh teknologi frekuensi terbaru. Rumah di tepi danau yang mereka cintai harus ditinggalkan demi keselamatan dunia yang bahkan tidak tahu mereka ada.

Baskara datang dengan helikopter siluman untuk menjemput mereka. "Tuan, unit Nusantara sudah siap di seratus lima puluh lokasi koordinat. Namun, mereka hanya bisa menjaga perimeter. Hanya Adrian yang bisa melakukan penyelarasan."

Adrian memakai jaket hoodie-nya, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. "Mama, apa kita akan kembali ke sini?"

Aara memeluk bahu putranya, matanya menatap cakrawala yang mulai berkilat dengan cahaya ungu aneh. "Kita akan kembali, Adrian. Setelah kita menyelesaikan seratus lima belas langkah tersisa."

Tujuan pertama mereka adalah sebuah titik di Mesir, di bawah Piramida Giza. Aris mengatakan bahwa di sana terdapat "jangkar" tertua yang mengatur rotasi energi di belahan bumi utara.

Saat helikopter lepas landas, Adrian merasakan getaran di dadanya semakin kuat. Liontin emas putihnya mulai bersinar redup, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan sesuatu di kejauhan.

"Perjalanan ini akan mengubahmu, Adrian," bisik Aris yang duduk di sudut helikopter. "Kau bukan lagi hanya pelindung Nusantara. Kau akan menjadi jantung dari dunia yang baru."

Kenzo menggenggam tangan Aara, sementara tangan lainnya memegang kendali senjata. Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ouroboros mungkin sudah mati, namun bayangannya baru saja membesar, menelan cahaya matahari dan menantang sang Alpha untuk melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan.

Pemandangan Danau Toba yang mengecil di bawah mereka, sementara di depan sana, padang pasir Mesir menanti dengan rahasia yang terkubur selama ribuan tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!