NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Diplomasi Buah

Siang itu, Unit 402 tidak terasa seperti apartemen mewah di pusat Jakarta, melainkan lebih mirip ring tinju yang disulap menjadi ruang makan keluarga. Matahari bersinar terik di luar, namun suhu di dalam ruangan terasa lebih panas karena gesekan ego dua manusia yang dipaksa berbagi piring buah.

Di atas meja makan berbahan marmer yang dingin, sebuah apel merah dan sekeranjang anggur menjadi pusat konflik. Saga, dengan ketelitian seorang arsitek yang biasa menghitung beban struktur jembatan, sedang memegang pisau buah seolah itu adalah alat bedah medis.

"Nala, saya sudah bilang berulang kali. Untuk apel jenis ini, sudut potongnya harus wedge enam bagian simetris dengan kemiringan tiga puluh derajat. Itu adalah cara terbaik untuk menjaga tekstur dan estetika piring," bisik Saga dengan nada tajam yang ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke ruang tamu.

Nala, yang sudah kehilangan kesabaran sejak potongan kedua, mendengus keras. "Mas, ini apel, bukan maket stadion nasional! Dimakan juga bakal hancur di perut. Lagian, potongan saya yang gede ini lebih memuaskan buat digigit!" Nala mencoba menyambar potongan apel yang paling besar dengan garpunya.

"Jangan sentuh yang itu! Itu adalah potongan referensi saya!" Saga menangkis garpu Nala dengan ujung pisau buahnya.

"Pelit banget sih! Ini kan wilayah netral sekarang karena selotipnya sudah dicabut!" Nala melakukan gerakan tipuan, pura-pura menyambar anggur namun sasarannya tetap apel merah tadi.

Suasana semakin memanas. Garpu dan pisau mereka berdenting pelan, saling tangkis dalam diam. Wajah Saga memerah karena kesal melihat Nala menghancurkan susunan buahnya, sementara Nala sudah bersiap melakukan serangan "tusukan maut" ke arah apel tersebut.

Tepat saat Nala baru saja akan meluncurkan serangan terakhirnya, suara dehaman yang sangat dikenal terdengar dari arah sofa ruang tamu.

"Aduh, Mama senang sekali melihat kalian. Kupas buah saja sampai bisik-bisik rahasia begitu. Pasti lagi bahas rencana bulan madu ya?" celetuk Tante Sofia tanpa menoleh dari layar TV yang sedang menampilkan acara masak.

Detik itu juga, mode "Siaga Satu Romantis" aktif secara otomatis. Seperti ditarik oleh kabel baja yang sama, wajah Nala yang tadinya penuh amarah langsung berubah menjadi manis yang sangat dipaksakan—tipe manis yang bisa bikin orang kena diabetes seketika.

"Aaaa... iya dong Ma! Mas Saga ini perhatian banget, sampai motongin apel aja detail banget buat Nala," ucap Nala dengan nada suara yang naik dua oktaf.

Tanpa memberikan peringatan, Nala menusuk sepotong apel besar—potongan yang tadi mereka perebutkan—dan mengarahkannya ke mulut Saga dengan kecepatan cahaya.

"Ayo Mas Sayang, buka mulutnya. Mas kan butuh vitamin supaya otaknya nggak kaku kayak semen cor-coran!"

Saga terbelalak. Potongan apel itu datang begitu cepat hingga hampir menusuk pipinya. Ia terpaksa membuka mulut lebar-lebar. Krak!

Nala menjejalkan apel itu begitu dalam sampai Saga hampir tersedak. Ia terpaksa mengunyah dengan gerakan rahang yang kaku, sementara matanya menatap Nala dengan tatapan yang berkata: 'Kamu akan membayar ini setelah Mama pulang.'

Saga tidak mau kalah. Ia tahu ini adalah kesempatan emas untuk melakukan serangan balik atas nama romansa. Ia mengambil garpunya sendiri, lalu menusuk tiga buah anggur sekaligus—hijau, merah, dan ungu—dalam satu barisan vertikal.

"Kamu juga, Sayang. Kamu butuh nutrisi otak supaya kalau bicara tidak ngaco terus dan bisa sedikit lebih... teratur," ucap Saga dengan nada suara yang dibuat selembut beludru, namun matanya memancarkan api balas dendam yang membara.

Saga langsung menjejalkan ketiga anggur itu sekaligus ke dalam mulut Nala yang mungil.

"Mmmph!!"

Mata Nala melotot. Pipinya menggembung sempurna di kiri dan kanan, membuatnya terlihat seperti hamster yang baru saja merampok toko biji-bijian.

Ia terpaksa mengunyah tiga tekstur berbeda itu dengan susah payah sambil tetap berusaha mempertahankan senyum pepsodent-nya di depan Tante Sofia.

Belum selesai sampai di situ, Saga kemudian merangkul bahu Nala dengan gerakan yang terlihat protektif namun sebenarnya sangat menekan. Ia menarik tubuh Nala mendekat hingga tulang rusuk mereka bertemu.

Nala membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang Saga. Namun, alih-alih merangkul dengan lembut, jemari Nala menemukan bagian pinggang Saga yang paling sensitif dan mulai mencubitnya dengan tenaga maksimal.

"Lihat Ma, kami benar-benar tidak bisa dipisahkan," kata Saga sambil mengecup dahi Nala dengan cepat—kecupan yang lebih mirip sundulan kecil untuk memperingatkan Nala agar berhenti mencubitnya.

Sambil tetap berangkulan mesra dan tersenyum lebar ke arah Tante Sofia yang sedang menoleh sambil tersenyum haru, mereka mulai saling berbisik mematikan di balik celah gigi masing-masing yang tetap terkunci dalam senyum.

"Lepasin nggak, Mas? Tulang rusuk saya mau patah!" bisik Nala di sela kunyahan anggurnya yang belum habis.

"Kamu duluan yang nyuapin apel kayak mau ngebunuh orang! Cubitan kamu di pinggang saya ini bisa bikin lebam permanen, Nala!" balas Saga, suaranya tetap stabil dan lembut di telinga Tante Sofia, namun penuh ancaman di telinga Nala.

"Kalau Mas nggak kasih saya izin makan keripik pedas di sofa nanti malam, saya bakal teriak sekarang juga dan bilang kalau Mas sebenernya punya altar pemujaan selotip hitam di gudang!" ancam Nala, jemarinya semakin dalam mencubit pinggang Saga.

Saga menahan napas, berusaha tidak berteriak kesakitan.

"Coba saja kalau berani. Saya akan bilang ke Mama kalau kamu yang sengaja mematahkan maket gedung saya tempo hari karena mau ambil foto estetik buat sosial mediamu!"

Dari sofa, Tante Sofia mengusap air mata harunya dengan selembar tisu.

"Duh, lihat itu. Pelukannya erat sekali, sampai nggak mau lepas. Memang benar kata orang, perbedaan itu yang menyatukan. Yang satu kaku seperti beton, yang satu berantakan seperti taman bunga liar, tapi pelukannya... luar biasa intim. Mama jadi makin nggak sabar pengen lihat kalian di pelaminan."

Tante Sofia tidak tahu bahwa di balik "pelukan intim" itu, Nala sedang berusaha sekuat tenaga menginjak kaki Saga dengan sandal jepitnya, sementara Saga sedang menahan napas sekuat tenaga agar tidak meledak karena cubitan Nala sudah mencapai level maksimal.

"Iya Ma! Kami... memang serasi banget!" seru Nala dengan suara yang sedikit serak karena hampir kehabisan oksigen akibat rangkulan Saga yang makin mengencang.

Saga akhirnya melepaskan rangkulannya begitu Tante Sofia kembali fokus ke TV, tapi ia segera menyambar sisa apel di piring sebelum Nala sempat menyentuhnya lagi.

"Skor satu-sama, Nala," bisik Saga sambil mengelap sisa air anggur di sudut bibirnya dengan sapu tangan yang terlipat rapi.

Nala mendengus, menelan sisa anggur terakhirnya dengan rakus.

"Satu-sama kepalamu! Anggur itu asem, Mas! Kamu sengaja kan pilih yang asem?!"

Saga hanya tersenyum tipis—senyum kemenangan pertama ypang ia rasakan sejak selotip hitamnya dicabut.

Di Unit 402, perang dingin memang telah berganti menjadi diplomasi buah yang berbahaya, tapi satu hal yang pasti: sandiwara ini mulai terasa lebih nyata dari yang mereka berdua ingin akui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!