Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan
Sisi dan mama baru saja selesai makan nasi pecel di kantin. Sisi mengajak mamanya kembali ke kamar Riri. Namun mama menolak.
"Nanti dulu, biarkan kakakmu leluasa ngobrol dengan Ahmed."
"Mama, apa benar kak Riri suka sama bang Ahmed?"
"Mama rasa sih iya. Mama bisa lihat dari gerak-geriknya."
"Seumpama nih ya, mereka beneran jadian. Apa mama setuju? Bang Ahmed cuma sopir ojek lho, ma."
Mama menghela nafas panjang.
"Mama sih setuju saja. Selama orangnya baik dan mau bertanggung jawab. Masalah pekerjaan, bisa dibicarakan. Keluarga kita jan, banyak lapangan pekerjaan. Tapi.... "
Tiba-tiba mama ingat sang suami. Mama khawatir Papanya Riri yang tidak setuju. Apa lagi jika dibandingkan dengan Arga, pasti dia akan menolak Ahmed mentah-mentah.
"Kok bengong, ma?"
"Eh, tidak apa-apa. Telpon kakakmu, tanyakan dia mau beli apa!"
"Iya, ma."
Sisi pun segera menghubungi Riri sesuai perintah sang mama. Riri langsung mengangkat telpon dari adiknya. Ia memesan bubur satu porsi ayam.
Setelah menutup telponnya, Riri bangun dari brangkarnya karena ingin pergi ke kamar mandi. Ia sudah lepas kateter dari tadi pagi.
"Mbak Riri, mau ke mana?"
"Mau ke kamar mandi, bang."
"Bi-biar saya bawakan infusnya."
"Terima kasih. "
Sultan berjalan di belakang Riri dengan jarak yang cukup dekat. Riri melangkah dengan sangat pelan. Tiba-tiba Riri merasakan pusing. Sultan dengan sigap langsung memegang tubuh Riri dari belakang.
"Astaghfirullah... " Peliknya.
"Mbak Riri... mbak Riri.... "
"M-maaf, bang. Agak pusing."
"Terus gimana, mbak? Apa bisa masuk ke kamar mandi?"
"Mau duduk sebentar, bang."
Sultan menuntunnya ke sofa untuk duduk.
Dengan terpaksa Sultan memapahnya. Namun dengan sopan Sultan. masih meminta izin untuk itu.
Riri dapat merasakan wangi maskulin dari tubuh Sultan. Bukan itu saja, ada debaran yang terdengar sangat kencang.
"Mbak Riri, sebaiknya telpon saja adik atau mamanya buat mengantarkan mbak Riri ke dalam kamar mandi."
"Sebentar lagi mereka kembali, bang. Saya tunggu saja."
Riri menyandarkan diri di sofa.
Sultan merasa iba melihatnya. Dalam hatinya ingin sekali memijat kepala Riri, namun apalah dayanya. sejenak Riri memejamkan matanya. Lalu tangannya tak sengaja menyentuh tangan Sultan yang sedang berada di sofa di samping tangannya. Sontak ia langsung membuka mata dan mengangkat tangannya.
"Maaf maaf, bang."
"Eh iya, mbak. Nggak pa-pa kok."
Padahal jantung Sultan hampir saja copot.
Sementara itu Mama dan Sisi sedang berada di depan pintu kamar itu. Mereka mendekatkan telinga ke lubang pintu berharap mendengar pembicaraan dua orang yang sedang berada di dalam.
Riri pun memutuskan untuk menelpon adiknya. Sisi terkejut saat handphone-nya berdering karena takut ketahuan kalau dia berada di depan kamar. Sisi langsung menolaknya. Mama pun langsung mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum... "
"Wa'alaikum salam."
"Maaf kak aku tolak karena aku sudah sampai di depan pintu."
"RI, kamu kok duduk?"
"Ma aku mau ke kamar mandi tapi tiba-tiba pusing."
"Astaghfirullah... "
"Maaf Bu, saya tidak mungkin mengantar mbak Riri ke dalam kamar mandi."
"Iya nak Ahmed, saya mengerti. Terima kasih ya sudah jagain Riri."
Sultan mengangguk.
Mama semakin kagum dengan sikap Ahmed yang tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Akhirnya Sisi memapah Riri masuk ke dalam kamar mandi.
"Nak Ahmed ini saya beli bubur ayam dua. Satu untuk Riri satu untuk nak Ahmed."
"Seharusnya nggak perlu repot, bu. Sebentar lagi saya mau pulang."
"Nggak pa-pa dimakan dulu, bareng Riri."
Tidak lama kemudian Riri keluar dari kamar mandi. Ia dipapah kembali ke brangkarnya.
"Ini bubur ayamnya, ayo dimakan lalu diminum obatnya."
"Biar saya temani, bu."
"Oh iya, tentu saja nak."
Sultan pun duduk di kursi samping Riri. Mereka sama-sama makan bubur ayam.
Sementara itu mama dan Sisi duduk di sofa sambil memberi isyarat dengan mata.
Riri merasa hatinya saat ini sangat tenang.
"Kerupuknya kok nggak dimakan, mbak?"
"Em, buat abang saja. Saya takut batuk."
"Baiklah." jawab Sultan seraya menerima kerupuk tersebut dan memakannya.
Mama melihat adanya chemistry di antara keduanya. Dan mama juga yakin bahwa Ahmed adalah laki-laki yang baik.
"Ma, mereka cocok lho." Bisik Sisi.
Mama mengangguk.
Setelah selesai makan bubur ayam, Ahmed pun pamit pulang kepada mereka. Sebenarnya ia ingin sekali berlama-lama, namun tidak enak hati.
Setelah kepergian Ahmed, Sisi justru menggoda kakaknya.
"Cie cie... kakak pasti senang habis dijenguk bang Ahmed."
"Apa sih, dek!" Riri berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Kak, bang Ahmed itu ganteng banget lho. Bahkan tunangan ku saja kalah ganteng."
"Lha terus, apa urusannya denganku?"
"Kakak nggak mau jadi pacarnya?"
"Ish apaan, masa' cuma karena dia ganteng?"
"Ganteng, baik, sopan.... "
"Sisi, jangan godain kakakmu!" Tegur mama.
"Iya iya, ma."
Sultan baru saja sampai di rumah. Hari ini ia tidak pergi ke rumah jalanan karena hatinya sedang gelisah. Ia memberitahu Lukman agar menghandle anak-anak untuk belajar hari ini.
Sultan membuka situs internet untuk mencari tahu soal ciri-ciri orang jatuh cinta untuk memastikan apa yang dia rasakan saat ini. Karena sampai saat ini ia masih belum yakin akan perasaannya. Padahal ia sudah mendapat jawaban dari istikharahnya.
"Masa' iya sesingkat itu aku jatuh cinta kepadanya? Lalu bagaimana caranya aku mengungkapkan? Aku tidak ingin dia mengetahui statusku yang sebenarnya. Belum saatnya." Gumamnya.
Keesokan harinya.
Riri sangat senang karena hari ini ia diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Sekitar jam 10 pagi, setelah semua administrasi selesai, Riri bersama mama dan adiknya meninggalkan rumah sakit. Riri memesan go car menuju tempat kost-nya. Karena adik dan mamanya masih ada keperluan untuk membeli beberapa barang di Surabaya, jadi mereka tidak langsung balik ke Lombok. Riri pun menyewakan kamar kost untuk mereka selama tiga hari. Kamar kost tersebut masih milik ibu kost tempatnya. Jadi nanti hitungan bayarnya per hari.
Sultan sedang berada di kantor. Ia baru saja selesai menandatangani berkas. Saat memegang handphone androidnya, ia tidak sengaja melihat story Riri yang ternyata sudah pulang dari rumah sakit. Tanpa berpikir panjang, Sultan pun langsung mengirim chat kepadanya.
"Alhamdulillah kalau mbak Riri sudah sehat dan bisa pulang. Semoga seterusnya sehat."
Mata Riri langsung berbinar saat menerima chat tersebut. Ia pun langsung membalasnya.
Leo seperti kambing congek berdiri di depan meja Sultan sambil melihat bosnya itu senyum-senyum sendiri.
"Sepertinya boa sedang jatuh cinta. Apa aku laporin saja ta sama bos ummi. Biar bos ummi nggak khawatir kalau anak bujangnya masih normal." Batin Leo.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar