menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
BAB 18: Duel Dingin di Kota Cahaya
Paris di musim dingin adalah kanvas abu-abu yang romantis, namun bagi Hana Asuka, kota ini hanyalah medan perang berikutnya. Hotel The Peninsula Paris menjadi saksi bisu transformasi total sang putri Jepang. Di dalam Presidential Suite yang menghadap langsung ke Menara Eiffel, kesibukan luar biasa terjadi.
Empat asisten pribadi yang direkrut Hana dari firma keamanan dan manajemen elit berdiri tegak di sudut ruangan. Mereka bukan lagi sekadar pelayan; mereka adalah perisai manusia yang menjaga "The Blue Diamond" dari gangguan dunia luar.
Hana duduk di depan cermin besar, wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Rambutnya disanggul modern dengan tusuk konde perak berbentuk kelopak mawar yang tajam—sebuah simbol dari masa lalunya yang kini ia jadikan senjata. Ia mengenakan gaun couture berwarna biru malam yang pekat, dengan potongan leher tinggi yang memberikan kesan tak tersentuh. Jubah transparan berbahan sutra tipis menjuntai dari bahunya, memberikan siluet yang megah namun dingin.
"Nona Asuka, limosin sudah siap. Delegasi dari Jerman dan keluarga Hohenzollern baru saja tiba di Grand Palais," lapor kepala asistennya, seorang wanita ketat bernama Sarah.
Hana berdiri. Ia menatap pantulannya sekali lagi. Di lehernya melingkar kalung berlian biru yang ia beli dengan hasil keuntungan murni Asuka Group bulan lalu. Ia tidak lagi membutuhkan emas dari ayahnya atau perlindungan dari Kaito.
"Ayo berangkat," ucap Hana. Suaranya tidak lagi memiliki nada ragu. Dingin, jernih, dan tajam seperti kristal yang pecah.
Grand Palais bermandikan cahaya emas. Karpet merah membentang luas, dikerumuni oleh jurnalis ekonomi dan paparazzi kelas atas dari seluruh dunia. Saat pintu limosin hitam Hana terbuka, suasana mendadak hening.
Hana melangkah keluar. Ia tidak tersenyum pada kamera. Ia berjalan dengan punggung tegak, dikawal oleh empat asisten pribadinya yang membentuk formasi berlian di sekelilingnya. Setiap langkah hak sepatunya di atas marmer terdengar seperti detak jam menuju ledakan.
Di dalam aula utama yang megah, di bawah kubah kaca raksasa, perhatian massa terpusat pada satu titik: Aurelius Renzo von Hohenzollern dan tunangannya, Sophia.
Aurelius tampak seperti dewa perang yang terjebak dalam pakaian aristokrat. Setelan jas hitamnya begitu sempurna hingga tampak tidak nyata. Di sampingnya, Sophia menggandeng lengannya dengan posesif, mengenakan gaun perak yang berkilauan, memamerkan cincin pertunangan raksasa di jarinya. Mereka sedang dikelilingi oleh para menteri dan konglomerat Eropa.
Hana berjalan lurus ke arah mereka. Kerumunan orang secara naluriah terbelah, memberikan jalan bagi wanita Asia yang memancarkan aura es yang luar biasa kuat.
Aurelius merasakan kehadiran itu sebelum ia melihatnya. Aroma parfum Hana—campuran melati dan hujan yang selalu ia ingat—menusuk indra penciumannya. Ia mengeraskan rahangnya, mengubah wajahnya menjadi topeng baja yang tak tertembus.
Hana berhenti tepat tiga langkah di depan pasangan itu.
"Tuan Muda Aurelius," suara Hana membelah kebisingan ruangan. Begitu tajam hingga beberapa orang di sekitar mereka menahan napas. "Sudah cukup lama sejak terakhir kali Anda 'meminjam' aset dari keluarga saya di Tokyo."
Aurelius menatap Hana. Matanya tidak lagi menunjukkan kelembutan Ren si mekanik. Ia menatap Hana dengan kedinginan seorang kaisar yang sedang melihat saingan bisnisnya.
"Nona Asuka," sahut Aurelius, suaranya berat dan berwibawa, tanpa sedikit pun nada keakraban. "Aku melihat kau telah berhasil membersihkan sisa-sisa kotoran di perusahaanmu. Prestasi yang lumayan untuk seseorang yang hampir bangkrut beberapa bulan lalu."
Sophia menyipitkan mata, merasakan ketegangan yang tidak biasa. Ia mempererat pegangannya pada lengan Aurelius. "Oh, jadi ini Nona Asuka yang legendaris itu? Gadis dari Tokyo yang sering dibicarakan Ayahmu?"
Hana melirik Sophia dengan tatapan meremehkan, seolah wanita di depan adalah pajangan toko yang tidak menarik. Ia kembali menatap Aurelius. "Saya ke sini bukan untuk bernostalgia, Tuan Aurelius. Saya ke sini untuk memastikan bahwa aliansi Anda dengan keluarga perbankan Eropa tidak akan mengganggu ekspansi Asuka Group di wilayah Barat. Saya dengar Anda sedang mencoba memonopoli jalur distribusi kami?"
Aurelius tersenyum tipis—sebuah senyum yang menghina. "Monopoli adalah kata yang kasar, Nona Asuka. Aku menyebutnya 'pembersihan pasar dari pemain yang tidak kompeten'. Jika kau merasa terganggu, mungkin itu tandanya perusahaanmu memang belum siap untuk bersaing di liga utama."
Hana mendengus dingin, bibirnya tersungging membentuk senyum yang tak kalah tajam. "Atau mungkin, Anda hanya takut bahwa tanpa perlindungan bank tunangan Anda, kerajaan Hohenzollern tidak akan sekuat yang Anda sombongkan."
Suasana seketika membeku. Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik panik. Belum pernah ada yang berani menyerang Aurelius secara terbuka seperti itu, apalagi seorang wanita dari Asia.
"Jaga bicaramu, Nona," desis Sophia, wajahnya memerah karena marah.
"Biarkan dia bicara, Sophia," potong Aurelius. Ia melangkah maju satu tindak, membuat jarak antara dirinya dan Hana menjadi sangat dekat. Atmosfer di antara mereka meledak dengan tekanan yang luar biasa. "Nona Asuka tampaknya baru saja mendapatkan sedikit taring dan mengira dia bisa menggigit serigala."
Hana tidak mundur satu inci pun. Ia menatap langsung ke dalam mata gelap Aurelius. "Aku tidak hanya akan menggigit, Aurelius. Aku akan memastikan bahwa saat aku sampai di puncak nanti, tempat yang kau duduki sekarang sudah berubah menjadi abu."
Aurelius menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Di balik mata yang dingin itu, ada kilatan pengakuan. Ia melihat bahwa gadis yang pernah menangis di pelukannya telah mati, digantikan oleh monster yang ia ciptakan sendiri.
"Kalau begitu, berusahalah lebih keras," jawab Aurelius dingin. "Karena di duniaku, air mata tidak akan menyelamatkanmu dari kehancuran."
Aurelius berbalik, menarik Sophia pergi tanpa memberikan salam perpisahan. Hana tetap berdiri di sana, membiarkan punggung pria itu menjauh. Tangannya yang tersembunyi di balik jubah sutranya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" bisik Sarah, asistennya.
Hana menarik napas panjang, menenangkan badai di dalam dadanya. Wajahnya kembali menjadi porselen yang kaku. "Aku baik-baik saja. Acara baru saja dimulai. Mari kita temui delegasi dari Amerika. Kita punya pasar yang harus direbut malam ini."
Hana berjalan ke arah yang berlawanan, membelah kerumunan dengan keanggunan yang mematikan. Di kejauhan, di balkon lantai dua, Julian dan Elara menyaksikan seluruh interaksi itu.
"Kakak benar-benar melakukannya," bisik Julian sambil mengetik sesuatu di tabletnya. "Dia memicu kemarahan Hana agar Hana melampaui batas kemampuannya."
"Tapi itu menyakitkan untuk dilihat, Julian," sahut Elara sedih. "Mereka berdua saling mencintai, tapi mereka sedang saling menikam dengan kata-kata agar bisa bertahan hidup."
Di bawah kubah kaca Grand Palais, perang tanpa darah telah dimulai. Dua jiwa yang pernah menyatu di sebuah bengkel kecil kini berdiri sebagai musuh bebuyutan di mata dunia, namun di balik setiap kalimat tajam yang mereka lontarkan, ada sebuah janji yang hanya dimengerti oleh mereka berdua: Hanya yang terkuat yang bisa memiliki kebebasan.