NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Pesona Istri Galak

Transmigrasi: Pesona Istri Galak

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:551k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.

Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.

“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.

Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suara Yvaine terdengar dingin dan tenang, namun cukup untuk memecah keheningan yang sempat menggantung di ruang makan.

“Apakah sarapan sudah siap?”

Seolah tersentak dari lamunan, para pelayan langsung bereaksi. Beberapa hampir menjatuhkan peralatan yang mereka pegang sebelum buru-buru menunduk.

“I-ini segera siap, Nyonya!”

Tanpa berani menunda lebih lama, mereka bergerak cepat, langkah-langkah mereka terdengar tergesa namun teratur, dipenuhi kehati-hatian agar tidak kembali menarik perhatian wanita itu.

Yvaine tidak berkata apa-apa lagi. Ia berjalan menuju kursi utama dan duduk dengan tenang, Joy masih berada dalam gendongannya, seolah itu adalah tempat paling alami bagi anak itu untuk berada.

Tak lama, satu per satu hidangan mulai tersaji di atas meja. Uap hangat dari bubur yang baru dimasak perlahan naik ke udara, diikuti aroma lembut roti kukus dan berbagai hidangan pendamping lainnya yang tertata rapi.

Pandangan Yvaine menyapu meja itu sekilas.

Dalam diam, ia menghela napas.

'Dunia ini benar-benar berbeda. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti sarapan pun terasa seperti jamuan mewah yang hanya bisa ia lihat di kehidupan sebelumnya dari kejauhan.'

Namun sebelum pikirannya melayang lebih jauh..

“Grrr…”

Suara kecil itu terdengar begitu jelas di tengah suasana yang tenang.

Yvaine menoleh dan mendapati Joy yang tengah menunduk, wajahnya memerah, kedua tangannya masih mencengkeram pakaian Yvaine dengan erat, seolah berharap suara itu tidak terdengar oleh siapa pun.

Yvaine tidak bisa menahan tawa kecilnya.

“Kamu lapar?” tanyanya ringan.

Joy mengangguk pelan, jelas merasa malu.

Senyum Yvaine pun melembut. Ia meraih semangkuk bubur hangat, mengaduknya sebentar sebelum meniup pelan agar tidak terlalu panas, lalu mengangkat sendok itu ke arah Joy.

“Ayo, makan.”

Joy membuka mulutnya dengan patuh.

Gerakan Yvaine tenang dan sabar, seolah ia sudah melakukan hal ini berkali-kali sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, Joy tiba-tiba menatapnya.

Matanya berbinar, lalu ia mengangkat tangan kecilnya, meraih sendok yang dipegang Yvaine.

“Mom..” suaranya lembut, hampir berbisik. “Kamu juga makan.”

Gerakan Yvaine terhenti.

Untuk sesaat, ia hanya menatap anak itu, seolah kata-kata sederhana itu membawa sesuatu yang lebih dalam dari yang terlihat.

Lalu, perlahan, senyumnya berubah menjadi lebih hangat.

“Baik,” jawabnya pelan. “Mommy juga akan makan.”

Para pelayan yang menyaksikan hanya bisa terpaku pada pemandangan yang terasa begitu asing itu.

Di sudut ruangan, kepala pelayan tua berdiri diam. Tatapannya tidak lepas dari mereka, dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.

***

Setelah sarapan selesai, meja segera dibereskan.

Suasana kembali tertata rapi, meski sisa kehangatan itu seolah masih tertinggal di udara.

Kepala pelayan tua melangkah maju, membawa sebuah dokumen di tangannya. Ia berhenti beberapa langkah dari Yvaine, lalu menunduk hormat.

“Nyonya, tuan muda meminta saya menyerahkan ini kepada Anda.”

Yvaine mengangkat alisnya sedikit.

“Dari suami yang bahkan belum pernah kutemui?” ucapnya santai.

Ia menerima dokumen itu tanpa banyak ekspresi, lalu mulai membukanya. Halaman demi halaman dibalik dengan tenang, hingga akhirnya matanya berhenti pada isi utama.

Alisnya terangkat tipis ketika membaca Perjanjian perceraian.

Dalam hati, ia hampir tertawa. 'Oh.. jadi ini penyebab semuanya?'

'Pemilik tubuh ini sampai mengakhiri hidupnya… hanya karena ini?'

Ketika sampai di halaman terakhir, ia melihat tanda tangan pihak Tobias sudah tertera rapi.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Sepertinya dia cukup tidak sabar untuk bercerai,” gumamnya.

Ia menutup dokumen itu perlahan, lalu mengangkat pandangannya.

“Selain ini, apa lagi yang dia katakan?”

Kepala pelayan sempat ragu, namun akhirnya menjawab, “Beliau mengatakan bahwa selama Nyonya bersedia bercerai, permintaan apa pun akan dipenuhi.”

“Permintaan?” ulang Yvaine pelan.

Tatapannya berubah, menjadi lebih tajam.

“Uang, saham, properti.. Apa pun itu,” lanjut kepala pelayan.

Yvaine terkekeh pelan. Ia melempar dokumen itu ke atas meja tanpa ragu.

“Kalau begitu..” katanya santai, “bagaimana jika aku menginginkan semuanya dari keluarga Raguel?”

Seisi ruangan langsung membeku.

Wajah para pelayan berubah pucat, sementara kepala pelayan tua terlihat jelas terkejut.

“Nyonya.. Anda..”

“Apa?” potong Yvaine, suaranya dingin.

Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, namun aura yang ia pancarkan justru semakin menekan.

“Bukankah itu syaratnya?” lanjutnya. “Jika aku harus membayar harga, maka aku juga berhak menentukan imbalannya.”

Bibirnya melengkung tipis.

“Sekarang tinggal lihat saja.. apakah tuan mudamu mampu membayarnya.”

Kepala pelayan itu terdiam. Ia tahu, permintaan itu tidak masuk akal, namun entah mengapa.. ia juga tidak mampu membantahnya.

Melihat reaksi itu, Yvaine hanya tersenyum tipis. Ia kembali mengalihkan perhatian pada Joy, memainkan jari kecil anak itu dengan santai, seolah percakapan barusan tidak berarti apa-apa.

Beberapa saat kemudian, ia mendengus pelan.

“Sudahlah,” katanya ringan. “Aku juga tahu.. bahkan jika Tobias setuju, dia tidak akan mampu melakukannya.”

Nada suaranya terdengar santai, namun setiap perkataannya begitu tajam.

“Katakan padanya,” lanjutnya, “jika dia tidak punya kemampuan, jangan membuat janji kosong. Itu hanya membuatnya terlihat memalukan.”

Kepala pelayan itu tertegun.

Itu bukan sekadar komentar, itu adalah sindiran yang halus, namun menusuk.

Namun Yvaine sudah tidak peduli. Ia berdiri, menggendong Joy kembali, lalu berbalik menuju tangga.

Langkahnya tenang.

Seolah semua itu sudah selesai.

“Nyonya..”

Suara itu menghentikannya.

Yvaine berhenti, namun tidak langsung menoleh.

“Apa lagi?” tanyanya singkat.

Kepala pelayan menarik napas dalam.

“Sebenarnya bukan tidak mungkin bagi Tuan Tobias untuk bersikeras bercerai.”

Kali ini, Yvaine menoleh.

Tatapannya tajam, seolah langsung menangkap maksud tersembunyi di balik kalimat itu.

“Lalu?” ujarnya pendek.

Kepala pelayan itu tampak ragu, namun sebelum ia sempat menjelaskan lebih jauh..

Yvaine berbicara lebih dulu.

“Aku ingin Joy.”

Kalimat itu begitu tegas.

Ia berbalik sepenuhnya, berdiri di atas tangga, posisinya lebih tinggi dari semua orang di ruangan itu. Tanpa perlu meninggikan suara, auranya langsung berubah dingin, dominan, dan tidak bisa ditentang.

Semua orang terdiam.

Bahkan udara terasa menegang.

“Tambahkan satu klausul lagi,” lanjutnya perlahan. “Setelah perceraian ini, Joy harus tetap bersamaku.”

Kepala pelayan membeku, ia tidak menyangka bahwa hal itulah yang akan diminta olehnya.

Yvaine menatapnya lurus.

“Jika Tobias menyetujuinya,” katanya pelan namun pasti, “maka aku akan menandatangani perjanjian itu.”

1
Erni andi arifuddin
lalu apa gunanya semua pengawal dr mantan suaminya kl cuma melihat tampa membantu
Anonim
kok lama2 jadi bosen dh baca’a ya
awesome moment
gotcha
awesome moment
yvaine jd mak yg baik buat bocil
lestari budirahayu
yah Thor kok udahan sih
tobias dg cintanya blm kelar
nasib fania dan Yosep gimana blm ada kisah lanjutan ?

ayo Thor semangat /Pray/
Evi Goenharto
kok tamat
Evi Goenharto
bener kata org, benci ama cinta itu beda tipis ya thor
Rossa Miati
yahhh sdh selesai, padahal belum liat sepak terjangnya vaine diperusahaan ...😊, perjuangan tobias utk kembali dng mantan istrinya 😁
Ds Phone
ada lagi musuh meraka
Ds Phone
tak bolih buat apa kena turut
Ds Phone
bagus macam tu dari pad didenki selalu
falea sezi
kata katanya bkin q pusing thor
Ds Phone
dia sebab ada wanita itu
falea sezi
kebanyakan tokoh nya thor😒
Ds Phone
orang tua nya tak ada guna nya
falea sezi
nunggu kau nyesel🤣🤣 ini Sofia kayak jalang aja ya
Ds Phone
fikiran nya lagi laju
Ds Phone
atok nya lebih memahami
Ds Phone
datok nya datang
Ds Phone
ada apa yang jadi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!