NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Telepon dari "Markas Besar"

Lampu ruang tengah apartemen sudah dipadamkan, menyisakan pendar temaram dari dapur. Di atas meja kayu minimalis, dua mangkuk mi instan kuah rasa ayam bawang dengan telur ceplok yang masih mengepulkan uap panas menjadi santapan mewah mereka malam ini. Dinara, dengan rambut sebahu yang tergerai bebas—sebuah kemewahan yang hanya bisa ia nikmati di dalam ruang privat apartemen bersama suaminya—baru saja akan menyuap mi pertamanya saat ponsel Dimas di atas meja bergetar hebat.

Layar ponsel itu menampilkan nama yang cukup untuk membuat adrenalin siapa pun meningkat drastis: Ibu Blitar.

Dinara yang tadi hendak makan, langsung meletakkan sumpitnya. Matanya membulat, menatap ponsel itu dengan ekspresi ngeri. "Mas, Ibu telepon. Jam segini?" bisiknya pelan.

Dimas menghela napas panjang, menatap mi instan di depannya dengan tatapan penuh duka cita, lalu menatap Dinara dengan senyum yang dipaksakan. "Tenang, Dek. Wes, lanjutno mangan (Lanjut makan saja), biar Mas yang urus."

Dimas menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Assalamualaikum, Bu. Nggih, baru saja mau istirahat."

"Waalaikumsalam. Dim, kamu sudah makan belum? Istrimu masak apa malam ini? Jangan bilang kamu beli makan di luar terus. Itu gizi kamu gimana, Nak?" suara Bu Subroto di seberang sana terdengar nyaring bahkan tanpa perlu loudspeaker.

Dimas melirik Dinara yang sedang duduk membeku dengan mangkuk mi di depannya. Ia berdeham, menenangkan suaranya agar terdengar seolah ia baru saja menyantap hidangan kelas bintang lima.

"Alhamdulillah, Bu. Ini tadi Dinara baru saja masak rendang kesukaan Dimas. Baunya masih nempel di dapur, harum banget, Bu. Bumbunya meresap sampai ke serat dagingnya," jawab Dimas lancar tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Dinara menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa yang meledak saat melihat suaminya berakting dengan begitu totalitas, sementara di depannya hanya ada mi instan dengan irisan cabai rawit.

"Oalah, kok tumben masak rendang? Pakai santan peras sendiri apa instan? Dinara itu jangan sering-sering masak yang berlemak, nanti kolesterolmu naik," lanjut Bu Subroto panjang lebar, memberikan instruksi kuliner yang detail.

"Nggih, Bu. Dinara pakai santan segar kok, tadi dia ke pasar pagi-pagi sekali demi cari daging sapi yang paling empuk," sahut Dimas lagi, kali ini ia memberikan kode tangan kepada Dinara agar segera memakan minya sebelum dingin.

"Ya sudah kalau begitu. Kamu harus puji masakan istrimu, Dim. Jadi istri itu harus telaten urusan dapur. Jangan sampai kamu makan asal-asalan di sana," pesan Ibunya sebelum akhirnya menutup telepon dengan salam.

Dimas meletakkan ponselnya, lalu mengembuskan napas panjang. Ia mengambil sumpitnya dan mulai menyeruput mi instan dengan nikmat.

"Rendang, Mas?" bisik Dinara dengan nada menggoda.

"Rendang ayam bawang, Dek," jawab Dimas santai sambil mengunyah telur ceploknya. "Namanya juga strategi pertahanan rumah tangga. Kalau Ibu tahu kita makan mi instan dua malam berturut-turut, bisa-bisa Ibu mengirimkan kargo beras dan bumbu dapur dari Blitar sampai apartemen ini. Mas cuma mau kita tenang, nggak perlu kena ceramah soal gizi setiap malam."

Dinara menggeleng-gelengkan kepala. "Mas ini kalau bohong kok rapi banget. Nggak takut dosa?"

"Bohong demi kebaikan itu namanya diplomasi, Sayang," Dimas terkekeh, lalu menatap rambut Dinara yang terurai berantakan. "Lagi pula, Mas lebih bangga kalau kamu sibuk baca buku hukum daripada sibuk mengulek bumbu rendang. Lagian, rendang asli Blitar itu susah dibuat, masakannya Ibu saja butuh waktu dua hari. Kalau kita masak rendang sekarang, bisa-bisa kita baru makan pas sudah jadi nenek-kakek."

Dinara tersenyum, menyandarkan dagunya di atas meja. "Tapi beneran, Mas. Lain kali, sekali-kali kita masak yang beneran, ya? Biar kalau Ibu telepon lagi, Mas nggak perlu bohong soal rendang."

"Siap, Bu Hakim. Besok Sabtu, kita belanja yang niat. Mas temani kamu masak, asal kamu yang jadi koki utamanya, Mas yang bagian jadi quality control alias tukang cicip," Dimas mengedipkan sebelah mata.

Kejadian sederhana seperti telepon dari "Markas Besar" ini sudah menjadi bumbu harian mereka. Di Surabaya, hidup terasa seperti petualangan yang mereka jalani berdua, terpisah dari ekspektasi kaku orang tua, namun masih terikat dengan rasa hormat yang mendalam. Mereka tahu, kebohongan kecil soal rendang tadi adalah perlindungan bagi mereka untuk tetap memiliki privasi.

"Mas, menurut Mas, kenapa Ibu harus segitunya ya sama menu makanan kita?" tanya Dinara tiba-tiba, suaranya melembut.

Dimas menghentikan makannya. Ia menatap Dinara dengan pandangan serius. "Ibu itu dibesarkan dengan standar bahwa seorang istri harus melayani suami lewat meja makan. Baginya, itu cara terbaik menunjukkan kasih sayang. Beliau nggak bermaksud jahat, cuma cara pandangnya saja yang berbeda. Mas bukannya mau melawan, tapi Mas tahu kamu punya tanggung jawab lain yang lebih besar. Mas ingin kamu jadi hakim, jadi wanita berpendidikan, bukan cuma jadi penguasa dapur."

Dinara merasa terenyuh. Dimas memang selalu menjadi perisai baginya, bahkan dalam hal yang dianggap sepele oleh orang lain. Pria ini memahami beban intelektual yang sedang ia emban, dan ia tidak membiarkan beban itu ditambah dengan urusan domestik yang merampas waktunya.

"Terima kasih ya, Mas. Sudah jadi suami yang paling mengerti Dinara," ucap Dinara tulus.

"Sama-sama, Sayang. Sekarang, ayo habiskan mi instan 'rendang' ini. Habis ini, Mas mau dengar kamu cerita soal mata kuliah Hukum Internasional tadi. Mas penasaran, apa di hukum internasional ada aturan soal suami yang harus jujur soal menu makan malam," Dimas tertawa lagi.

Mereka melanjutkan makan malam dalam keheningan yang nyaman. Di apartemen kecil itu, di tengah kota besar yang tak pernah tidur, mereka menemukan kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan yang tidak diukur dari seberapa mewah hidangan di atas meja, melainkan dari seberapa jujur mereka berbagi tawa, bahkan di tengah kebohongan-kebohongan kecil demi menjaga kedamaian hati keluarga di Blitar.

Setelah mangkuk-mangkuk kosong itu disingkirkan, Dimas kembali ke meja kerjanya, sementara Dinara kembali tenggelam dalam bukunya. Sesekali, Dimas akan menoleh, memandangi wajah istrinya yang fokus, lalu kembali mengetik dengan semangat baru. Ia tidak butuh rendang untuk merasa kenyang; kehadiran Dinara di ruangan ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi segala rasa puasnya.

"Dek," panggil Dimas pelan tanpa menoleh.

"Nggih?"

"Jangan lupa besok kita jadwalnya shalat Subuh berjamaah, terus habis itu baca buku masing-masing. Jangan sampai kalah sama rasa malas, ya?"

"Siap, Mas."

Malam itu berakhir dengan tenang. Tidak ada lagi telepon yang mengganggu, tidak ada lagi interogasi soal menu makanan. Yang ada hanyalah suara ketikan yang ritmis, menemani mimpi-mimpi besar yang sedang mereka bangun di kota yang penuh harapan ini. Dan di suatu tempat di Blitar, Ibu mungkin sedang merencanakan resep rendang apa lagi yang harus diajarkan kepada menantunya, sementara di Surabaya, Dimas dan Dinara sudah cukup bahagia dengan mi instan dan rencana-rencana masa depan yang mereka susun bersama.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!