NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Sampai ke Indonesia

Suara langkah para penumpang beradu lembut dengan dentingan roda koper di lantai bandara. Udara di dalam pesawat terasa sejuk dengan aroma khas kabin—paduan antara wangi desinfektan dan kopi hangat yang disajikan pramugari.

Nala menatap kursi jendelanya, baris 23A, tempat yang selalu ia pilih setiap kali terbang. Ia suka duduk di sisi itu—karena dari sana, ia bisa melihat langit lebih dekat.

Setelah menyimpan tas di kompartemen atas, ia duduk dengan rapi dan menatap jendela. Di luar, hujan tipis yang tadi menggantung kini perlahan reda, meninggalkan titik-titik air di kaca.

Pesawat berguncang ringan saat bersiap mundur dari gate. Lampu kabin meredup, menggantikan hiruk-pikuk bandara dengan ketenangan yang anehnya terasa menyentuh hati.

“Cabin crew, please prepare for take-off.”

Suara pilot menggema lembut, menandai awal perjalanan pulang Nala—perjalanan yang sudah tujuh bulan ia tunggu. Tujuh bulan bekerja di negeri orang, menyesuaikan diri dengan ritme yang kadang terlalu cepat, dan malam-malam panjang yang ia habiskan dengan menulis cerita yang tak selalu miliknya.

Kini, dengan izin cuti tujuh hari di tangan, ia akhirnya bisa pulang. Meski hanya sebentar, rasanya seperti kesempatan kecil untuk bernapas di tengah hidup yang terus berlari.

Nala menarik sabuk pengaman dan memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan degup yang entah kenapa terasa lebih berat pagi itu.

Begitu pesawat mulai melaju, deru mesin bergabung dengan desis angin, dan dalam beberapa detik tubuh mereka terangkat dari tanah—meninggalkan Seoul yang kini tampak hanya sebagai gugusan lampu di bawah sana.

Nala menatap keluar jendela. Kota itu semakin mengecil, hingga hanya tersisa warna oranye dan putih di antara kabut. Di dadanya, ada sesuatu yang tertinggal—bukan hanya kenangan, tapi juga kehangatan seseorang yang ia tahu sedang menatap langit yang sama dari tempat berbeda.

Ia tersenyum kecil, kemudian membuka hoodie abu-abu yang ia bawa dalam tas. Ditariknya kain itu ke pangkuan, membiarkan aroma lembut yang masih tersisa menenangkan pikirannya.

“Junho…” gumamnya hampir tanpa suara.

Waktu berjalan lambat di udara. Lampu kabin diredupkan, sebagian besar penumpang sudah terlelap. Nala hanya memandangi layar kecil di kursinya yang menampilkan peta digital—garis biru panjang membentang dari Seoul ke Jakarta.

Ia membuka laptop sebentar, mencoba menulis sesuatu, tapi jarinya berhenti di tengah kalimat. Setiap kata yang muncul di layar terasa seperti potongan dari dirinya yang masih tertinggal di apartemen kecil itu, di antara tawa dan pelukan Junho semalam.

Lelah akhirnya menenangkan pikirannya. Ia menutup laptop dan menyandarkan kepala di sandaran kursi. Di antara suara mesin yang konstan dan cahaya lembut dari jendela, Nala perlahan tertidur—masih memeluk hoodie itu erat seperti seseorang yang memeluk janji.

☾ ── ❖ ── ☾

Pagi berganti siang saat pesawat mulai menurunkan ketinggian. Di luar jendela, awan putih berlapis-lapis berganti dengan langit biru tropis dan pemandangan hijau luas di bawah sana.

“Ladies and gentlemen, we are now approaching Soekarno-Hatta International Airport, Jakarta. Please fasten your seatbelts…”

Suara pramugari membangunkan Nala dari tidur singkatnya. Ia membuka mata perlahan, lalu menatap keluar. Sinar matahari Indonesia terasa berbeda—lebih hangat, lebih riuh, dan entah kenapa membawa perasaan campur aduk antara rindu dan nostalgia.

Begitu roda pesawat menyentuh landasan, guncangan halus membuat Nala tersenyum lega. Ia sudah pulang. Meski hanya untuk tujuh hari, tapi tanah ini tetap terasa seperti tempat di mana semuanya bermula.

Di pintu kedatangan, udara lembap khas tropis langsung menyapa kulitnya. Suara orang memanggil, tawa, roda koper, dan aroma khas bandara Indonesia yang ramai menyatu jadi satu.

Ia menarik koper besar miliknya, menatap sekeliling mencari dua sosok yang sudah berjanji menjemputnya.

Tak butuh waktu lama sampai suara nyaring khas seseorang yang ia kenal memenuhi udara.

“NALAAAAA!!!”

Rani melambaikan tangan dari kejauhan dengan gaya berlebihan seperti biasa—kaos santai, jeans, dan tas selempang besar yang hampir menabrak orang di sekitarnya.

Di sebelahnya, berdiri seorang pria berwajah tenang dengan kemeja lengan digulung dan headphone menggantung di leher: Davin, si editor perfeksionis yang kini tersenyum kecil melihat kekacauan itu.

“Rani, jangan teriak di sini, ini bandara bukan pasar,” omel Davin sambil menggeleng pelan, meski bibirnya menahan tawa.

Rani malah makin keras tertawa.

"Terserah aku, lagipula aku merindukan sahabat ku," ujar nya sembari berlari cukup cepat untuk memeluk sahabatnya itu.

Nala tak bisa menahan senyum. Ia mempercepat langkah, lalu memeluk Rani erat begitu mereka berhadapan. Ada sesuatu yang hangat di dada—pelukan sahabat yang tulus setelah sekian lama.

“Gila, kamu kurusan, Nal! Tapi masih saja manis seperti dulu,” kata Rani setengah berteriak di telinganya.

“Kurang tidur, ternyata dunia entertainment di Korea tidak seindah drama.” Nala terkekeh, melepaskan pelukannya.

Davin yang sejak tadi memperhatikan, menatap Nala dengan lembut sebelum akhirnya merentangkan tangan menunggu pelukan nala.

“Selamat datang kembali, Nala. Senang melihatmu pulang dengan selamat,” Nada suaranya sederhana, tapi ada kehangatan yang sulit dijelaskan.

Nala langsung memeluk Davin dan mengangguk sambil tersenyum, lalu menjawab.

“Terimakasih, Mas. Rasanya... lega juga bisa kembali pulang, aku rindu pada orang tuaku,” ujar Nala yang membuat Davin mengangguk lalu melepaskan pelukannya.

"Masih ada banyak waktu di sini, setelah acara launching event selesai pulanglah ke Sukabumi, orang tua mu pasti sangat senang melihat mu kembali," ujar Davin yang membuat Nala mengangguk, Rani dengan cepat meraih koper Nala.

"Yasudah Nala, ayo pulang. Kamu pasti lelah kan? Ke apartemen ku saja ya, daripada menginap di hotel," ujar Rani yang membuat Nala mengangguk.

Sebelumnya Nala memang memiliki apartemen nya sendiri di Jakarta, tapi karena dia memutuskan untuk bekerja di LYNX dia sengaja menyewakan unit nya itu, daripada tidak ada yang menempati.

"Terimakasih ya, maaf merepotkan," ujar Nala yang membuat Rani memukul lengan nya pelan.

"Sekali lagi kau bilang seperti itu, kau akan menyesal," ujar nya menatap tajam setengah mengancam.

Dia tidak suka ketika Nala terlihat asing pada nya, padahal persahabatan mereka berjalan sangat lama, Nala yang mendengar itu hanya terkekeh geli.

Dalam perjalanan keluar dari bandara, sinar matahari menyapa wajahnya dengan lembut. Jakarta tampak ramai seperti biasa—macet, penuh suara, tapi justru itulah rumah. Dan di antara semua kebisingan itu, Nala tahu satu hal: tujuh hari ini akan menjadi jeda yang berarti.

Tapi di sisi lain bumi, ada seseorang yang mungkin sedang menatap langit Seoul, mengingat aroma yang sama dari hoodie abu-abu yang kini melingkari pelukan Nala, sebelum landing Nala memang sengaja memakai hodie tersebut.

Dan tanpa perlu kata, hati mereka saling berbisik dalam jarak ribuan kilometer seolah meminta langit menyampaikan rindu yang terbentuk dari beberapa jam perpisahan:

Aku sedang menunggumu.

Langit Jakarta siang itu berwarna cerah, memantulkan kilau lembut di kaca jendela mobil yang membawa mereka dari bandara menuju apartemen Rani.

Jalanan ramai seperti biasa—penuh dengan suara klakson, obrolan dari trotoar, dan deru kendaraan yang seolah tak pernah berhenti khas Indonesia. Nala menatap pemandangan itu dari balik jendela, matanya menerawang jauh, seolah mencari sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

“Masih sama, ya, Jakarta?” gumamnya pelan, Rani yang sedang duduk di sampingnya melirik sebentar sambil tersenyum.

“Masih. Hanya  mungkin sekarang kamu yang udah berubah,” ujar nya yang membuat Nala menoleh, sedikit terkejut.

“Berubah?” tanya Nala bingung, dan Rani mengangguk pelan.

“Ya. Kamu kelihatan lebih… tenang, tapi juga lebih berat. Seperti orang yang membawa banyak hal dalam kepalanya,” ujar nya.

Davin yang duduk di kursi depan ikut menimpali tanpa menatap, suaranya datar namun lembut.

“Itu karena dia sudah lihat dunia lain, Ran. Hidup di negeri orang selalu meninggalkan sesuatu,” ujar nya, Nala hanya tersenyum samar, tidak menyangkal.

Ia tahu benar maksud kalimat itu. Korea telah mengubah banyak hal dalam dirinya—caranya berpikir, menulis, bahkan mencintai. Tapi di saat yang sama, tempat itu juga meninggalkan ruang kosong yang belum sempat ia pahami.

"Itu benar, awal-awal aku bekerja rasanya seperti masuk ke dunia lain," ujar Nala yang membuat Rani terkekeh siap menggoda.

"Tentu saja, karena setiap hari kau harus menahan diri berhadapan dengan idola mu langsung kan? Itu pasti menyebalkan, saat di mana kesempatan itu ada di depan mata tapi tetap saja tidak bisa berinteraksi dengan semestinya," ledek nya yang membuat Nala menggeleng.

"Bukan hanya soal itu, tapi soal sistem kerja yang benar-benar ketat. Aku sempat terlambat dan gaji ku di potong seperempat nya," ujar Nala yang membuat Rani terkekeh.

"Apa orang sana lebih kejam soal itu?" Tanya nya penasaran seperti anak kecil yang menunggu cerita dari ibu nya.

"Tidak sekejam itu, tapi seimbang. Di sini kita sering mendapatkan gaji tidak layak dan jam kerja yang seenaknya tapi pekerjaan kita lebih fleksibel. Jika di sana mereka menuntut kita bekerja cepat, dan menghindari kesalahan sekecil apapun, tapi gaji layak dan jam kerja lebih teratur," ujar Nala yang membuat Davin menyela.

"Itu bedanya negara maju dan berkembang," sela nya di sertai kekehan ringan.

"Jadi selama kau di sana, apa kau bertemu dengan idolaku juga?" Tanya Rani matanya berbinar-binar menunggu tanggapan Nala.

"Tentu..." Nala berhenti sejenak sebelum melanjutkan "Tidak," sambung nya yang membuat Davin tergelak tapi Rani mengerucutkan bibirnya pertanda kesal.

"Kau jangan bercanda, tujuh bulan di Korea mana mungkin tidak bertemu dengan Lee Min Ho," ujar nya masih menuntut jawaban jujur tapi Nala tetap menggeleng.

"Tidak... Kau pikir semudah itu bertemu dengan aktor papan atas seperti dia? Lagipula aku bekerja di agency music bukan orang yang punya akses khusus bertemu siapapun yang aku suka," ujar nya yang membuat Davin kembali bicara.

"Kau pikir Nala di Korea untuk mengamati idola mu," sindir nya yang membuat mereka tertawa bersama, tapi Rani menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kan... Kupikir, tapi kau bertemu dengan SOLIX dan Junho kan?" Tanya Rani lagi yang membuat Nala mengangguk.

"Kalau dengan mereka aku bertemu, karena aku bekerja di Creative Writing & Concept di bawah tim Conceptual Storyline, di bawah arahan  Min Yoohan-ssi, Junho-ssi, dan Hoseung-ssi. Mereka lah yang mengatur concept utama sebelum kami kembangkan," ujar nya yang membuat Rani menatap lekat sejenak.

Sementara itu di luar mobil terus melaju membelah padatnya lalu lintas ibukota, melewati deretan gedung tinggi dan papan iklan yang berpendar di bawah sinar matahari.

Di dalam kabin, udara dingin dari pendingin ruangan berpadu dengan tawa yang mengisi ruang sempit itu—tawa dua sahabat yang sudah terlalu lama tak saling bertemu.

“Jadi kau benar-benar satu ruangan dengan mereka? Junho-ssi, Yoohan-ssi, dan Hoseung-ssi?” ulang Rani dengan nada takjub, seolah masih berusaha mencerna pernyataan Nala barusan.

Nala hanya tersenyum tipis, menatap keluar jendela.

“Secara teknis, ya. Tapi bukan berarti kami sering berbincang atau berdekatan seperti yang kau bayangkan, Ran.” Nala mengatakan apa adanya, meskipun ada sesuatu yang besar yang jelas dia simpan rapat-rapat.

“Ah, jangan terlalu merendah! Aku tahu kau pasti punya kisah rahasia yang tidak boleh diceritakan ke publik. Ayolah, sedikit saja—aku tidak akan menyebarkan, sungguh!” sahut Rani cepat, matanya berkilat seperti anak kecil yang sedang mendengar dongeng.

Davin yang sedari tadi fokus pada kemudi hanya mendengus kecil.

“Nala itu orangnya terlalu disiplin, Rani. Kalau kontrak kerja bilang ‘jangan bicara’, ya dia benar-benar tidak akan bicara selama nya, trust me,” kekeh nya yang membuat Rani menggeleng pelan.

“Ya Tuhan, bahkan aku iri dengan caramu menjaga rahasia,” gumam Rani sambil bersandar, dramatis. “Kalau aku di posisimu, mungkin aku sudah pingsan tiap kali Junho lewat di depanku,” lanjut nya yang mana ucapan itu membuat Nala tak tahan untuk tertawa.

“Kau pikir aku tidak gugup? Tapi lama-lama terbiasa. Dunia kerja di sana sangat profesional, bahkan satu tatapan berlebihan bisa dianggap tidak sopan,” ujar nya yang membuat Rani mendengus tidak puas.

“Tetap saja. Kalau aku yang di sana, mungkin aku akan pura-pura jatuh supaya bisa ditolong. Aku sungguh penasaran bagaimana rasanya digendong oleh artis-artis yang punya badan atletis itu,” ujarnya sembari memejamkan mata, seolah tengah membayangkan sesuatu dalam heningnya.

Davin tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Rani.

“Lalu kau dipecat sebelum sempat berdiri,” ujarnya, yang membuat tawa mereka pecah serempak di dalam mobil.

Rani menepuk paha Nala dengan gemas, sementara Nala hanya bisa menunduk, menahan geli. Rasanya seperti kembali ke masa-masa sebelum semuanya berubah—masa ketika obrolan mereka hanya berkisar pada drama, novel, dan mimpi-mimpi yang terasa begitu jauh.

“Eh, tapi serius, Nal,” Rani kembali bicara setelah tawanya mereda, “aku bangga sekali padamu. Kau dulu cuma gadis yang suka menulis di kamar sempit sambil mendengarkan lagu SOLIX, dan sekarang… kau benar-benar menulis untuk mereka. Perubahannya luar biasa—dari penulis biasa di Sukabumi, lalu dikenal di Jakarta, dan sekarang menjadi otak di balik lagu idolamu sendiri,” ujarnya. Kata-kata itu membuat suasana sejenak hening.

Nala menatap sahabatnya dengan senyum lembut—senyum yang menyimpan begitu banyak kisah di baliknya.

“Itu bukan karena keberuntungan, Ran. Hanya karena waktu mempertemukan kita dengan tempat yang tepat. Bahkan segelas air pun akan dihargai mahal jika disimpan di tempat yang tepat. Jika kita belum dihargai sekarang… mungkin kita belum berada di tempat yang seharusnya,” ujarnya tenang.

Rani mendengus kecil.

“Tetap saja, aku tidak bisa berhenti iri. Aku terus menulis, tapi novelku tidak ada yang meledak seperti punyamu,” keluhnya.

Nala menggeleng pelan.

“Dante Alighieri saja harus diusir dan dipisahkan dari keluarganya sebelum Divine Comedy dikenang dunia. Gustave Flaubert butuh bertahun-tahun sampai orang mengerti kenapa Madame Bovary begitu penting. Lalu Leo Tolstoy… bahkan sempat berhenti menulis karena merasa tulisannya tidak berguna karena tidak populer. Tapi ketika akhirnya ia sadar bahwa satu-satunya yang membuat manusia abadi adalah jejaknya, ia kembali—tertatih menulis jalannya sendiri, meskipun tanpa dipandang orang.”

Nala tersenyum tipis.

“Mereka semua melewati masa ketika tidak ada yang percaya pada karya mereka. Tapi justru di saat itulah, mereka menemukan suara mereka sendiri. Aku juga pernah di sana, Ran—menulis di platform gratis setiap malam, lalu nekat mengirimkan naskah ke penerbit, ditolak berkali-kali, menangis, frustasi, dan kecewa pada diri sendiri. Aku sempat berpikir… mungkin aku memang tidak cukup baik,” ujarnya pelan.

Rani terdiam. Ekspresinya melembut.

“Tapi ternyata,” lanjut Nala, suaranya lebih lirih, “tidak ada penulis yang langsung bersinar. Semua orang mulai dari menulis dalam gelap—berdarah, jatuh, dan dilempar pada kenyataan yang tak pernah terbayangkan. Tapi ketika itu terjadi, mereka bangkit lagi, menulis lagi—berharap ada satu orang saja yang mau membaca, mau mengerti, dan mau menghargai. Dan kadang… satu pembaca itu sudah cukup untuk membuat kita terus menulis.”

Ia menatap sahabatnya, senyumnya hangat, tapi penuh makna.

“Jadi jangan iri, Ran. Sukses itu bukan hasil, tapi perjalanan. Kamu hanya belum sampai di bab yang tepat,” ujarnya.

Rani tertawa kecil, matanya sedikit berkaca.

“Kau selalu bisa membuat kalimat sederhana terdengar dalam sekali, Nal,” ujarnya.

Nala ikut tertawa pelan, dan Davin menyahut dari depan.

“Kau lebih baik berhenti iri dan mulai menabung, supaya kalau nanti SOLIX atau Lee Min Ho datang ke Indonesia, kau bisa beli tiket VIP tanpa harus menggadaikan rumah,” katanya santai.

Rani langsung melotot, seolah tak percaya Davin bisa mengatakan hal seperti itu.

“Tahu apa Mas soal tiket konser?!” ejek nya yang membuat Nala tergelak.

“Lebih dari cukup. Aku pernah lihat Nala begadang hanya untuk membantu teman yang gagal ‘war’ tiket,” balas Davin santai tanpa menoleh, membuat Nala tertawa kecil.

"Dia masih mengingat itu Nala, aku pikir dia menyimpan kenangan sekecil apapun tentang mu," ledek Rani yang membuat Nala menggeleng pelan.

Sementara Davin hanya diam tak menanggapi itu.

Mobil akhirnya berbelok ke arah kawasan apartemen Rani, melintasi deretan pepohonan dan taman kecil yang mulai menguning diterpa matahari sore.

Suasana di luar terasa damai, kontras dengan hiruk pikuk perjalanan mereka sebelumnya. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern di kawasan Tebet. Bangunannya tinggi, tapi suasananya hangat dan nyaman.

“Sudah sampai,” ujar Davin sambil memarkirkan mobil di depan lobi. Ia menoleh sebentar ke belakang. “Kalian berdua, jangan habiskan seluruh malam untuk bergosip. Dan Nala esok kita masih harus ke acara Launching event film mu jangan lupa tidur awal,” ujar nya yang membuat Rani langsung menepuk bahunya dari kursi belakang.

“Santai saja, aku hanya ingin menggali rahasia Korea sedikit. Siapa tahu aku juga dapat inspirasi hidup baru,” ujar nya memasang wajah serius yang membuat Nala terkekeh.

“Inspirasi jadi menantu idol? Atau menjadi idola itu sendiri?” tanya Nala sembari mengangkat alisnya menggoda.

“Kalau bisa, kenapa tidak? Anggap saja aku banting stir daripada terus menulis tapi tak di hargai,” jawab Rani cepat, matanya berbinar.

"Tidak akan ada yang mau menonton apalagi membeli album mu Rani, dan kau pikir Lee min ho mu itu mau padamu," ejek Davin hanya menggeleng sambil menatap Nala dan Rani keluar dari mobil.

"Mas lebih baik diam, namanya juga usaha, tuhan selalu mendengar doa hambanya yang teraniaya," ujar nya yang membuat  dua sahabat itu tertawa bersama, langkah mereka ringan memasuki lobi apartemen yang sejuk sembari mendorong koper.

"Terimakasih mas," ujar Nala melambaikan tangannya dari lobi, Davin mengangguk sebelum benar-benar pergi.

Sementara itu, Nala dan Rani naik ke unitnya menggunakan lift. Tanpa banyak bicara, mereka akhirnya sampai di lantai tujuan. Tanpa ragu, Rani menempelkan kartu aksesnya.

Terdengar bunyi klik ringan sebagai tanda sistem smart door merespons. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma lavender dari pengharum ruangan langsung menyambut. Rani menepuk tangannya pelan, lalu meletakkan tas di atas sofa.

Nala terkekeh, menatap sekeliling ruang tamu yang tertata rapi dengan sentuhan warna lembut—masih sama seperti dulu. Dahulu, Nala memang lebih sering menginap di apartemen Rani dibandingkan di apartemennya sendiri.

“Kamu masih suka warna tenang rupanya,” ujar Nala sambil ikut duduk di sofa panjang itu.

“Tentu saja. Aku tidak bisa mengkhianati estetika yang menenangkan. Kau duduk dulu, aku ambilkan air. Kau pasti haus setelah penerbangan panjang,” jawab Rani sambil berlalu ke dapur.

Nala mengangguk, duduk tenang di sofa empuk sambil melepaskan tudung hoodie yang tadi menutupi wajahnya. Tubuhnya memang terasa lelah, tetapi ada kehangatan tersendiri saat akhirnya bisa kembali menginjak tanah kelahirannya.

Beberapa menit kemudian, Rani datang membawa nampan berisi dua mangkuk kecil sup ayam, nasi hangat, dan minuman.

“Makan dulu sebelum kau pingsan. Aku tahu kau pasti belum makan dengan layak sejak dari bandara,” ujarnya sambil menata makanan di hadapan sahabatnya.

“Seperti biasa, kau tetap cerewet tapi perhatian,” sahut Nala dengan senyum kecil sambil mengambil sendok.

Rani menatapnya dari seberang meja. Senyum licik perlahan muncul di wajahnya.

“Jadi… ceritakan padaku bagaimana rasanya hidup di negeri drama itu. Kau bekerja di tempat yang sama dengan para idol, dan aku yakin kau punya banyak rahasia menarik,” ujarnya, mengulang pertanyaan sebelumnya yang belum sempat terjawab. Jelas, ia tidak akan menyerah.

“Rani—” Nala mengangkat alis. “Aku terikat NDA, ingat?” lanjutnya mengingatkan. Ia tidak mungkin berani melanggar perjanjian itu, bahkan untuk sahabatnya sendiri. Seolah ada sumpah tak terlihat yang mengikatnya untuk tetap diam.

Rani langsung meringis, tapi tidak menyerah.

“Baiklah, tanpa detail sensitif. Ceritakan saja bagian lucunya. Aku ingin tahu apakah para idol itu benar-benar sesempurna di layar, atau mereka juga manusia biasa yang bisa tersandung saat menari,” ujarnya, membuat Nala terkekeh pelan.

“Mereka manusia, Ran. Sama seperti kita. Mereka juga bisa kelelahan, salah lirik, bahkan marah saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujar Nala sambil menyuapkan makanan dengan tenang.

Rani menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, seolah baru saja mendengar penemuan besar.

“Astaga… jadi Junho-ssi dan Yoohan-ssi juga bisa marah?” tanyanya.

“Semua orang bisa marah,” jawab Nala lembut. “Tapi mereka tetap profesional. Tidak pernah sekalipun aku melihat mereka mempermalukan staf. Paling hanya ekspresi wajahnya yang berubah. Dan kalau situasinya benar-benar kacau… mereka bisa ceramah panjang tentang kesalahan dan integritas kerja,” lanjutnya sambil terkekeh mengingat salah satu momen itu.

Rani langsung meletakkan sendoknya dan bersandar dramatis di kursi.

“Kau benar-benar seperti novelis yang baru kembali dari dunia lain. Aku iri. Dulu idolaku hanya bisa kulihat di layar kaca, tapi kau… kau hidup di dunia mereka!” ujarnya.

Nala menggeleng cepat.

“Dan tetap saja harus bekerja seperti manusia biasa,” balasnya santai.

“Tapi kau punya kesempatan melihat Lee Min Ho, bukan?” tanya Rani cepat, matanya berbinar penuh harap.

Nala hampir tersedak supnya.

“Kenapa harus dia lagi?” tanyanya tidak habis pikir.

“Karena dia cinta pertamaku sejak Boys Over Flowers! Jangan bilang kau belum pernah melihatnya meski sekali,” ujar Rani penuh keyakinan.

“Ran, aku tidak pernah berada di lokasi syuting drama. Aku bekerja di agensi musik, bukan dunia pertelevisian,” jawab Nala sabar.

Rani langsung menepuk meja dengan ekspresi kecewa yang berlebihan.

“Sungguh menyedihkan. Aku kira kau akan pulang dengan cerita dia menyapamu di sebuah kafe, lalu kalian saling bertukar pandang… dan akhirnya bertukar nomor,” ujarnya dramatis.

Nala tak bisa menahan tawa.

“Itu terlalu seperti naskah drama buatanmu,” balasnya.

“Kalau begitu, mungkin aku akan menulisnya sendiri, seorang gadis sederhana yang tanpa sengaja bertemu idolanya di Seoul. Judulnya… A Cup of Latte and a Smile from Lee Min-ho.” sahut Rani cepat, hal itu membuat Nala geleng-geleng kepala mendengar ini.

“Baiklah, kau dan obsesimu pada aktor generasi kedua itu,” katanya lembut. Rani menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan tatapan penuh makna.

“Kau memang berbeda sekarang, Na. Lebih dewasa, lebih tenang. Tapi aku tahu di dalam sana, masih ada gadis yang dulu menangis waktu Junho lupa lirik saat konser online,” ujar nya yang membuat Nala tertawa kecil.

“Kau benar-benar masih menyimpan semua itu di kepalamu?” tanya nya yang membuat Rani mengangguk semangat.

“Tentu saja. Itu sejarah!” seru Rani sambil tertawa.

Keduanya larut dalam tawa ringan, obrolan berlanjut dengan cerita-cerita kecil seputar Korea, kebiasaan masyarakatnya, makanan yang sulit ditolak, hingga bagaimana disiplin kerja di sana membuat Nala belajar banyak hal.

Sesekali Rani menyelipkan komentar konyol, sementara Nala menjawab dengan sabar, menjaga agar percakapan mereka tetap ringan dan menyenangkan.

Hingga akhirnya, setelah piring-piring kosong berpindah ke wastafel, malam merambat masuk lewat jendela. Angin Jakarta berhembus lembut, membawa suara kota yang tak pernah benar-benar tidur. Rani menepuk bahu Nala pelan.

“Istirahatlah. Besok kau harus tampil di acara penting. Aku akan bangunkan pagi-pagi dan pastikan penulis terkenal itu tidak kesiangan,” ujar nya yang membuat Nala tersenyum lembut.

“Baiklah, aku menyerah pada perintahmu, Nona Manager.”

“Kau boleh memanggilku begitu tapi jangan lupa kirimkan gaji ku setiap tanggal satu. Sekarang pergilah, kamar tamu sudah kusiapkan, kau bisa mandi lalu tidur, selamat beristirahat Nala. Panggil aku jika butuh apapun,” ujar nya sembari masuk ke kamar nya begitu juga dengan Nala.

Setelah pintu kamar benar benar tertutup Nala duduk di tepi ranjang sambil menatap koper yang belum sempat ia buka. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik pesan singkat.

“Oppa, aku sudah sampai dengan selamat. Jakarta terasa lebih hangat dari yang kuingat. Terima kasih sudah memintaku berhati-hati. Aku akan kabarkan lagi setelah acara besok, ya. Selamat malam.” Ia menatap pesan itu sejenak, lalu menekankan tombol kirim.

Setelah layar ponsel meredup, Nala memeluk badan nya yang masih hoodie abu-abu—aroma lembut khas Junho masih melekat di kainnya.

"Sebaiknya aku mandi sekarang sebelum tidur," ujar nya.

Dan malam Jakarta itu pun menjadi saksi, ketika seorang penulis yang tampak kuat di luar, kembali menjadi gadis yang merindukan rumahnya di balik laut sana.

1
Araya
Thor update yang banyak dung, PENASARAN banget 😭
Devy Mpie
bagus/Good/
Ramapratama
ngakak banget sumpah 😭
Ramapratama
manis banget 🤣
Araya
kayaknya bakal berat banget posisi nala kedepan nya, secara lawan nya juga cewek pilihan orang tua junho sendiri
Araya
Oww junho sweet banget 😭😭😭😭
Ramapratama
ini mah bukan muka dua lagi, tapi cewek ular 😭😭 calon calon plakor kayaknya
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!