NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Hari yang melelahkan

Begitu Nala melangkah keluar dari studio, lorong LYNX yang sudah hampir sepi menyambutnya dengan cahaya pucat lampu langit-langit. Setiap langkahnya memantul lembut di lantai marmer, menciptakan gema kecil yang terasa menenangkan setelah seharian penuh tekanan.

Ia menggenggam map catatan di dada, seperti berusaha menjaga sesuatu yang lebih dari sekadar kertas—entah semangatnya, atau mungkin rasa tanggung jawabnya yang masih muda dan rapuh.

Udara malam Seoul menyapa lembut begitu ia keluar dari gedung. Dingin, tapi menenangkan. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak.

“Demi apa, jam segini masih baru keluar dari studio hanya untuk mendengarkan demo?” Nala menggerutu pelan, tangan kirinya menepuk setir dengan ritme kesal.

Lampu lalu lintas berganti merah di depannya, dan ia memutar kepala sambil mendengus.

“Tadi katanya hanya lima menit, tapi lima menitnya Yoohan-ssi itu lima belas lagu, ya Allah tabahkan lah aku…” Ia mengetuk-ketuk kemudi lagi, wajahnya letih tapi matanya tetap awas.

Seoul di malam hari berkilau, tapi untuk Nala, semua cahaya itu hanya membuat nya semakin  pusing. Dia berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah, pikiran nya melayang sebentar menatap kosong pada kendaraan yang juga berhenti di kanan kiri nya.

“Kapan ya aku bisa kembali ke Indonesia? Aku benar-benar rindu suasana di sana," ujar Nala sedikit lirih.

Di sini meskipun dia sudah mulai bisa beradaptasi tapi belum bisa sepenuhnya banyak hal yang masih menjadi culture shock di negara yang dahulu dia anggap sempurna, terutama untuk nya yang seorang muslim, sangat sulit mencari makanan di restoran yang kehalalan nya benar benar terjamin, hal itu memaksa dia terus memasak sendiri meskipun itu menambah rasa lelahnya.

Setelah dia bekerja di LYNX Entertainment dia juga harus tetap mengurus berbagai hal untuk keberlangsungan kontrak nya dengan orang film, karena Novel nya sudah terlanjur akan di filmkan, hal itu juga yang kadang membuat Nala benar benar kelelahan, dia harus membagi waktu nya untuk keberlangsungan proses film, kadang menulis di waktu luang nya, hingga pekerjaan nya di LYNX Entertainment yang benar benar menguras pikiran nya.

Begitu lampu berubah hijau, Nala melajukan mobilnya lagi. Tapi bukannya langsung pulang, Nala malah berbelok ke arah supermarket 24 jam.

Sesuai dengan tujuan awalnya, sambil menarik napas berat, dia menatap daftar kecil di ponselnya. Ayam fillet halal, beberapa sayuran, dan juga nasi instan yang tinggal di panaskan di microwave, dia juga akan membeli beberapa camilan, dan juga minuman. Dia turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di parkiran supermarket itu. Sembari menatap gedung itu dia hampir ketawa sendiri, ternyata dewasa tidak menyenangkan itu.

“Apapun itu aku harus cepat, aku tidak mau mati kelaparan, ” katanya pelan sambil mendorong troli.

Setiap kali membuka kulkas di lorong pendingin, Nala memeriksa kemasannya dengan teliti. Bahasa Korea di label produk terkadang membuat nya salah baca — dan dia paling tidak ingin mengambil risiko.

Setelah tiga kali bolak-balik antara rak sayuran dan bagian daging, dia akhirnya dapat semuanya. Tapi lelah nya baru benar-benar terasa saat berdiri di kasir.

“Ah, kalau aku tidak makan, bisa pingsan besok di kantor, tapi kalau aku masak, aku juga bisa  pingsan karena mengantuk. Pilihan yang indah sekali, Nala Aleyra.” desahnya, memasukkan belanjaan ke kantong kain.

Setelah selesai dengan semuanya  Nala akhirnya keluar dari supermarket, udara malam menyambutnya. Seoul terasa jauh lebih sepi daripada sebelumnya. Lampu jalan menyorot wajahnya yang letih tapi keras kepala — ekspresi orang yang tidak punya pilihan selain terus bertahan. Dia membuka pintu mobil, menaruh kantong di kursi penumpang, dan tersenyum miris.

“Kerja keras, makan halal, hidup sendiri. Not bad, Nala,” bisiknya pelan sebelum menyalakan mesin dan melaju pulang.

Tidak butuh waktu lama bagi Nala untuk sampai ke apartemennya karena jarak dari LYNX hanya lima belas sampai dua puluh menit tergantung lalu lintas. Saat sampai, ia memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen tersebut dan langsung menaiki lift menuju lantai dua puluh, tempat unitnya berada.

Begitu sampai, Nala langsung keluar dari lift. Ia menempelkan kartu aksesnya dan menutup pintu apartemennya. Setelah itu, Nala menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan bunyi “dug” kecil yang menggema lembut di ruang luas itu.

Sepatunya sudah terlempar ke satu sisi, tasnya tergantung di lengan sofa, dan ekspresinya—wajah khas seorang wanita yang baru pulang lembur: letih, tetapi masih harus menjadi manusia fungsional.

“Demi semua hal yang bernama pekerjaan… Yaallahh... andai sulap benar benar ada, aku mungkin tidak perlu repot memasak,” gumamnya, menarik napas panjang sebelum akhirnya menyeret diri ke dapur.

Kantong belanja diletakkan di meja, satu per satu bahan ia keluarkan—ayam fillet halal, beberapa batang daun bawang, kentang, dan sekotak nasi instan. Kompor menyala dengan suara lembut klik-click-woosh—dan seperti ritual yang tak pernah gagal, gerutuan kecil mulai keluar dari bibirnya.

“Katanya hanya ‘dengar sebentar’, tapi ujungnya ikut evaluasi demo berjam-jam. Yang lucunya, aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang mereka ucapkan,” ujarnya sambil mengaduk ayam di wajan.

Gerakannya sedikit pelan dan lemah karena, jujur saja, jarinya masih terasa perih akibat tergores pecahan kaca tadi. Seketika pikirannya melayang pada Junho yang sempat terlihat sedikit khawatir. Ia tidak tahu apakah itu kekhawatiran yang tulus atau sekadar formalitas saja.

Namun, walaupun masih bingung, Nala sedikit tersenyum. Tepat saat itu, ponselnya bergetar di meja makan. Nama Rani muncul di layar.

Senyum langsung tersungging—karena siapa pun yang mengenal Nala tahu, Rani adalah teman sekaligus terapi gratisnya.

“Hallo, perempuan paling sibuk di Seoul,” suara Rani menyambut dengan tawa di ujung sambungan.

“Dan halo, perempuan paling halu di Indonesia,” balas Nala sambil tertawa kecil.

“Wah, lihat siapa yang berani bicara soal halu. Ini yang tiap minggu nonton fancam SOLIX sampai hafal ekspresi Junho tiap ganti baris lagu, kan?” tanyanya mengejek di seberang sana.

“Setidaknya aku tidak sampai mencari tahu suhu udara di lokasi syuting idolaku hanya karena takut dia kepanasan, Ran,” ujarnya sembari terus fokus membalikkan masakannya.

“Tapi itu bentuk perhatian! Kau tidak akan mengerti jika belum mencintai Lee Min Ho dengan ketulusan semesta,” sergah Rani cepat.

Nala tertawa keras hingga centong di tangannya hampir jatuh.

“Kau benar-benar tidak berubah. Sejak 2015, masih juga menuhankan Min Ho Oppa,” ujarnya, yang membuat Rani terkikik di seberang sana.

“Dan kau? Masih juga menyembah SOLIX. Kita sama saja, jadi jangan sok suci, Nona Aleyra,” jawab Rani dengan nada menggoda.

Mereka sama-sama tertawa, dan untuk sesaat rasa lelah yang tadi memenuhi dada Nala perlahan menguap bersama aroma ayam yang mulai matang di dapurnya.

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu hari ini, penulis konsep terkenal Seoul? Kau pasti bahagia, kan, bisa bertatap muka langsung dengan idolamu itu?” Rani melanjutkan.

“Ah, tolong, jangan sebut aku terkenal. Aku hanya manusia yang disuruh lembur tanpa gaji tambahan. Ini benar-benar melelahkan, Ran. Rasanya jika otakku bisa bicara, dia sudah minta berhenti sejak tadi,” ujar Nala lagi.

“Tapi lembur bersama idol? Itu gaji emosional, sayang. Banyak orang rela lembur kalau di dekat Junho atau member SOLIX lain,” ujarnya, yang membuat Nala mengangguk setuju walaupun rasa lelahnya tak benar-benar hilang.

“Kalau kau tahu betapa kerasnya mereka bekerja, kau mungkin justru sedih, bukan halu.” Nala menurunkan api kompor sedikit. “Tadi aku lihat bagaimana Yoohan-ssi dan Hoseung-ssi membicarakan lagu-lagu mereka. Semuanya serius, penuh tekanan. Rasanya berat, Ran.”

Suasana di ujung telepon mendadak hening. Di seberang sana, Rani terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berujar pelan.

“Tapi kau seharusnya bangga. Kau bisa melihat sisi yang tidak semua orang lihat.”

Nala tersenyum kecil.

“Mungkin. Tapi tetap saja, aku hanya staf kecil. Bahkan kalau besok aku hilang, mungkin mereka tak akan sadar,” ujarnya, yang membuat Rani mendengus kecil.

“Jangan merendahkan diri, Nona Aleyra,” Rani menimpali cepat. “Ingat, bahkan lampu kecil pun membuat panggung besar terlihat hidup.”

Kata-kata itu membuat Nala terdiam. Matanya menatap panci di depan, dan untuk sesaat wajahnya melunak, seolah memikirkan sesuatu.

“Kau benar juga. Aku hanya… masih berusaha menyesuaikan diri. Dunia mereka terlalu besar. Kadang masih banyak juga yang membuatku bingung,” ujarnya pelan, yang membuat Rani mengangguk di seberang sana.

“Dan kau akan cocok di dalamnya. Kau hanya belum sadar betapa pantasnya dirimu di sana. Sudahlah, tersenyumlah. Banyak orang yang mendambakan posisimu sekarang, Nona. Ngomong-ngomong, kau sedang apa?” ucap Rani mantap.

“Memasak. Cacing di perutku sudah unjuk rasa sejak tadi,” ujar Nala.

Rani tertawa terbahak-bahak. Suaranya pecah di speaker ponsel, ringan dan lepas. Nala yang mendengar itu ikut tersenyum sebelum akhirnya kembali bicara.

“Ran,” panggilnya pelan.

"Hm?" gumamnya sembari berusaha menghentikan tawanya, meskipun masih terdengar tertahan di sela napasnya.

“Terima kasih. Kau memang raja halu, tapi setidaknya halumu menghangatkan,” ujarnya, yang membuat Rani mengangguk di seberang sana.

"Sudah pasti,” sahut Rani sambil tertawa kecil. “Sekarang ayo makan. Aku juga baru selesai nonton drama Min Ho Oppa. Aku sumpah dia makin tampan, Na,” lanjutnya yang membuat Nala menggeleng cepat.

"Dan aku sumpah, kau makin gila” jawabnya sembari menuangkan masakannya ke piring. Aroma ayam yang baru matang mengepul pelan, memenuhi dapur kecil apartemen itu dengan wangi gurih yang menenangkan.

“Ya sudah sana makan. Oh ya, bagaimana progres film mu, Nala?” tanyanya, yang membuat Nala mengangguk pelan.

“Bagus… Aku dengar proses syutingnya berjalan cepat dan lancar. Aku harap tidak ada masalah yang akan membuat otakku yang mungil ini jadi overheat,” ujarnya yang membuat Rani tertawa lagi.

Tawa mereka kembali pecah, menembus jarak dua jam perbedaan waktu dan ribuan kilometer yang memisahkan mereka. Dua sahabat yang hidup di dunia nyata dengan cara yang paling sederhana—dengan tawa, rasa lelah, dan sedikit halu yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

Dan di tengah malam Seoul yang dingin, Nala menutup sambungan teleponnya dengan senyum hangat. Hidup memang berat. Tapi dengan ayam hangat di piringnya, tawa seorang sahabat di ujung telepon, dan sedikit impian tentang idolanya—malam itu terasa cukup baik untuk diakhiri dengan rasa syukur.

"Baiklah, Nona. Selamat makan dan cepat istirahat. Jangan sampai kau datang ke kantor dengan mata panda itu,” ujarnya yang membuat Nala mengangguk lalu mematikan panggilan video tersebut.

Setelah panggilan video itu berakhir, Nala memilih langsung makan karena perutnya memang benar-benar sudah lapar dan tubuhnya terasa sangat lelah setelah hari yang panjang.

════ ⋆★⋆ ════

Sementara di tempat lain, di tengah gemerlapnya lampu warna-warni sebuah klub malam mewah di pusat kota Seoul, seorang wanita tengah asyik bergoyang dengan gelas alkohol di tangannya bersama beberapa temannya. Sesekali tubuhnya tanpa sengaja bergesekan dengan para pengunjung lain yang memenuhi lantai dansa.

Tubuhnya luwes meliuk-liuk mengikuti alunan bass dari musik DJ yang menggema keras di seluruh ruangan. Lampu neon berputar, memantulkan warna ungu dan biru ke wajah para pengunjung yang larut dalam malam. Tawa orang-orang terdengar samar di antara dentuman musik, hingga akhirnya wanita itu kelelahan dan memilih duduk di salah satu meja VIP bersama teman-temannya yang lain.

“Aigoo… lelah sekali,” ujarnya sembari meneguk minumannya, lalu mulai menyalakan rokok dengan gerakan santai.

“Sudah lama tidak seperti ini, Sooyeon,” ujar salah satu teman prianya bernama Haecul.

“Iya. Padahal dahulu dia selalu jadi orang pertama yang mengajak kita party, jinjja,” ujar Jaejoong sembari terkekeh.

“Tentu saja Sooyeon berubah. Dia kan akan menikah dengan Kim Namjunho. Kau tahu itu,” ledek Ji-eun yang membuat tawa pecah di meja itu.

“Uuu… kau serius? Akan membuang masa mudamu hanya untuk pernikahan?” tanyanya.

Sooyeon hanya menggeleng pelan.

“Sebenarnya tidak. Tapi karena ini Junho, aku tidak masalah. Tapi jujur saja… dia itu sombong bukan main. Jinjja, jual mahal pula,” ujar Sooyeon, mengingat pertemuan pertamanya di rumah keluarga Kim—saat Junho bersikap begitu dingin padanya hingga memaksanya memainkan drama kecil di hadapan keluarganya sendiri dan keluarga Kim.

“Alah… merayu pria itu mudah, Sooyeon-ah,” ujar Haecul.

Sooyeon menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa beludru merah, menghembuskan asap rokok perlahan hingga membentuk lingkaran tipis di udara. Di bawah cahaya lampu neon ungu yang menyorot separuh wajahnya, ekspresinya tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disebut akan dijodohkan dengan idol paling populer di Korea.

“Merayu pria mudah, katamu?” ulangnya pelan, nada suaranya setengah mengejek.

Haecul menyeringai, mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Tentu saja. Semua pria punya titik lemahnya. Tinggal bagaimana kau menekan tombol yang tepat. Arasseo?”

Sooyeon terkekeh kecil, menaruh gelas kristalnya di meja.

“Tombolnya Junho berbeda, Haecul-ah. Dia bukan tipe yang bisa digoda hanya dengan tubuh atau wajah cantik. Ia tipe yang menolak dunia, bukan karena tidak bisa mendapatkannya—tapi karena sudah bosan dengan segalanya.”

“Ah, jadi kau ingin menantang dirimu sendiri?” sela Jaejoong dengan nada main-main, menyalakan rokoknya. “Kau tahu, rumor di industri model sedang ramai soal itu. Semua orang bertaruh kapan Kim Namjunho akan tunduk pada pesonamu.”

Meskipun jelas itu hanya karangannya, Sooyeon tersenyum tipis—kali ini lebih seperti seringai.

“Dan aku tidak suka kalah dalam taruhan, Jaejoong-ah,” ujarnya penuh ambisi.

Ji-eun yang sejak tadi memerhatikan dengan tatapan tajam ikut bersuara.

“Tapi kau tahu, keluarga Kim tidak main-main soal reputasi. Mereka tidak akan menyerahkan anak bungsu mereka pada seseorang yang masih bermain di tempat seperti ini.” Nada suaranya terdengar seperti menasihati, tapi matanya menyiratkan ejekan samar.

Sooyeon menatapnya datar, lalu terkekeh pelan.

“Kau pikir mereka tahu aku di sini malam ini?” ujarnya, seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa memainkan peran.

“Dengan koneksi mereka? Bukan tidak mungkin,” balas Ji-eun datar.

“Tentu saja tidak,” potong Sooyeon, kali ini dengan nada lebih tinggi dan penuh keyakinan. “Keluarga Kim terlalu sibuk menjaga nama baik mereka di depan media. Mereka buta terhadap hal-hal yang tidak ingin mereka lihat. Lagipula, mereka sudah percaya pada citra yang kubangun.”

Haecul bersandar ke belakang, tertawa pelan.

“Citra apa? Ah, kau maksud foto pemotretan amal itu? Yang seolah-olah kau malaikat penyayang anak-anak?”

“Persis!” Sooyeon mengangkat bahu ringan. “Sekali saja kau memeluk anak kecil berkostum sekolah sambil tersenyum di depan kamera, seluruh media akan menulis ulang siapa dirimu. Dunia mencintai kebohongan yang dibungkus dengan kelembutan.”

“Dan Junho? Kau yakin bisa menaklukkannya dengan citra seperti itu?” tanya Ji-eun pelan.

Sooyeon memutar gelasnya perlahan, menatap cairan bening di dalamnya seperti sedang menatap rencana yang jauh lebih besar dari sekadar permainan malam.

“Junho berbeda. Ia butuh seseorang yang terlihat murni, tapi cukup dewasa untuk memahaminya. Aku akan menjadi keduanya. Gadis baik di depan publik, wanita penuh rahasia di belakang layar. Lambat laun, dia akan menyerah.”

Ia benar-benar yakin bisa menjadi bagian dari hidup Junho—karena mereka memang sudah dijodohkan sejak awal. Lagi pula, apa kunci paling kuat dalam sebuah hubungan jika bukan restu keluarga?

“Dan kalau dia tidak menyerah?” goda Jaejoong.

Sooyeon menatapnya. Senyum itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam.

“Maka aku akan pastikan dia tidak punya pilihan.”

Mereka semua tertawa—tawa ringan namun menusuk, tawa orang-orang yang terbiasa bermain di wilayah abu-abu antara kehormatan dan manipulasi.

Haecul menepuk bahunya pelan.

“Aku suka gaya berpikirmu. Tapi ingat, bermain dengan keluarga Kim bukan permainan ringan. Satu langkah salah, kau bisa hancur.”

“Yang hancur duluan bukan aku,” sahut Sooyeon pelan. “Karena dalam permainan ini, yang kalah adalah yang pertama jatuh cinta. Dan dia akan kubuat mengemis padaku… akan kutarik topeng jual mahalnya itu, untuk kuinjak langsung di hadapannya.”

Ia meneguk sisa minumannya hingga habis, lalu menaruh gelas itu kembali ke meja dengan bunyi lembut namun tegas.

Matanya menatap jauh ke arah lampu klub yang berputar perlahan, seolah melihat bayangan seorang pria bernama Kim Namjunho—dingin, sulit dijangkau, namun justru membuatnya semakin tertantang.

Sementara tawa dan musik kembali menggema di sekitarnya, di dalam diri Sooyeon sudah terbentuk satu niat yang begitu jelas.

Jika dunia tidak memberinya panggung, maka ia akan menciptakan panggungnya sendiri—dan menjadikan Junho pemeran utama di dalamnya.

“Ini baru dimulai, Junho-ssi…” gumamnya dalam hati.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!