NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mister Lie

15 jam sebelumnya di vila megah Tuan Tanah.

"Pak Edward, bapak baik-baik saja?" tanya Anteng setelah selesai memasak sup ayam jahe di dapur.

Edward mengangguk lesu. Wajahnya terlihat lebih merah daripada sebelumnya.

"Sepertinya bapak sakit." Anteng terlihat khawatir.

Edward hanya menggelengkan kepala. "Makanannya sudah siap, Teng?"

"Sudah, Pak. Saya ambilkan makanannya sekarang." Anteng kembali ke dapur. Menyendok sup ayam jahe, menaruhnya di dalam mangkuk. Lalu mengambil sepiring nasi putih hangat di rice cooker.

Anteng berharap setelah makan masakannya, Edward lebih bertenaga, tidak lesu lagi. Demam yang menyebabkan wajah Edward memerah juga akhirnya turun.

Anteng segera menyajikan masakannya di meja makan. Mengamati Edward yang makan dengan lahap. Syukurlah tuan muda kedua ini suka dengan makanan kampung masakannya.

"Terimakasih, Teng." Edward mengucapkannya setelah selesai makan.

Anteng kembali memperhatikan wajah rupawan putra kedua tuan tanah.

"Pak Edward, kok wajahnya masih merah ya? Bahkan bertambah lebih merah daripada sebelum bapak makan, Pak. Bapak sakit ya?" tanya Anteng panik.

Edward menggelengkan kepalanya. "Setelah minum obat, aku akan sembuh, Teng. Jangan khawatir."

"Tapi ... Wajah bapak sekarang mirip kepiting rebus, Pak. Lebih baik saya turun ke puskesmas dan menjemput Dokter Hans." Anteng berusaha mencari pertolongan.

Edward menghela nafas panjang teringat perlakuan Dokter Hans tadi siang. Dokter Hans lebih percaya ucapan warga desa daripada ucapan Lyodra. Dokter Hans juga terlihat cemburu, tidak suka padanya.

Jadi, jangan lagi cari masalah dengan Dokter Hans. Bisa-bisa dia disuntik obat hingga tak sadarkan diri seperti Pak Sewot.

"Tidak usah, Teng. Jangan merepotkan Dokter Hans. Setelah mandi dan istirahat, semua akan beres."

"Baiklah, Pak Edward. Saya akan segera pulang setelah ini." Anteng akhirnya menyerah.

"Ya, terimakasih, Teng." Edward segera naik ke lantai dua.

Anteng kembali ke dapur untuk cuci-cuci peralatan masak yang dipakainya memasak. Membereskan dapur lalu segera pergi dari vila.

Anteng buru-buru pergi mencari dokter Hans di puskesmas.

Puskesmas nampak sepi. Hanya seorang perawat yang berjaga di sana. Dokter Hans tak nampak batang hidungnya.

Anteng masih diliputi rasa panik. Mandat dari kepala desa untuk mengurus tuan muda kedua tuan tanah harus dijalankan dengan baik. Kalau sampai ada apa-apa dengan tuan muda kedua kan rempong.

Bisa-bisa ia dipecat secara tidak hormat. Padahal bekerja di rumah kepala desa itu sangat menyenangkan. Pak Wicak dan istrinya sangat baik. Jarang sekali ada majikan sebaik mereka.

"Wajahnya makin merah dan masih lesu setekah makan. Sepertinya Pak Edward sedang demam tinggi karena lukanya infeksi." Anteng akhirnya memilih untuk pergi ke rumah Lyodra.

Padahal Edward hanya alergi debu setelah ikut bantu bersih-bersih rumah.

Setelah mandi keramas, menggelontor semua debu dengan air pegunungan dingin yang segar, kulit yang memerah dan wajah lesu Edward akan bugar kembali seperti semula.

Edward tersenyum.

"Baiklah, Anteng sudah pergi, sekarang aku punya waktu untuk menelepon dan membicarakan hal penting."

Edward berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Ruang kerja bergaya vintage. Memadukan furniture tradisional dengan ornamen-ornamen klasik. Lampu antik jatuh di lantai kayu. Lemari kayu antik terbuka dengan isinya yang berhamburan di mana-mana.

Edward hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah rampok yang ugal-ugalan menggasak rumah mewah peninggalan ayahnya.

Edward berjalan mendekati meja kayu panjang berwarna hitam. Ada banyak laci di meja itu. Namun, bagian meja sebelah kiri menjadi pusat perhatiannya.

Jemari Edward meraba sisi samping atas meja. Ada bagian yang tidak rata. Sedikit lebih kasar.

Tak!

Edward menyentak bagian itu dan papan meja bagian kiri terbuka.

Edward tersenyum kecil.

"Meja ini mirip dengan meja ayah di Singapore. Termasuk laci rahasianya juga ada di tempat yang sama."

Di dalam laci rahasia ada sebuah brankas berukuran sedang. Brankas besi berwarna hitam. Kokoh dan kuat. Tidak bisa dibuka sembarangan. Jika salah memasukkan nomor sandi atau dibongkar secara paksa, brankas ini akan terkunci selamanya. Ahli pembuka brankas pun akan kesulitan untuk membukanya.

"Bentuknya persis dengan brankas milik ayah di Singapore. Semoga nomer sandinya juga sama."

Edward segera memasukkan 10 digit nomer sandi seperti nomer sandi brankas Singapore.

Tak!

Brangkas terbuka.

"Isinya masih utuh belum tersentuh tangan serakah perampok."

Pecahan mata uang asing yang jumlahnya milyaran dan kepingan logam mulia berkilo-kilo masih tersimpan rapi di sana.

Namun, Edward tidak mengambilnya. Jemari tangan Edward memilih mengambil ponsel satelit yang tergeletak di dalam brankas. Ponsel yang dapat dipakai di area yang susah dijangkau sinyal sekalipun.

Edward menekan tombol nomer satu. Ponsel langsung aktif dan memanggil sekertaris ayahnya. Mister Lie.

"Hallo, selamat malam, Tuan Muda Kedua." Suara Mister Lie terdengar begitu sopan di telinga Edward.

"Malam, Mister Lie." Edward membalas salam Mister Lie dengan sopan.

"Apakah anda baik-baik saja, Tuan Muda Kedua? Kenapa anda baru menelepon sekarang? Apakah terjadi sesuatu?" Suara Mister Lie terdengar khawatir.

"Seseorang berusaha membunuhku. Dia meminta supir untuk mengotak-atik sistem GPS di mobil sehingga mobilku jatuh ke sungai. Untunglah aku selamat. Seorang gadis menolongku. Lekas bantu aku menyelidiki, siapa orang yang ingin membunuhku."

"Baik, Tuan Muda Kedua. Apakah anda sudah menemukan orang yang anda cari di desa?" tanya Mister Lie penasaran.

"Seperti hasil penyelidikanmu, Ibu sudah meninggal lima tahun yang lalu. Dan aku bertemu seseorang gadis yang wajahnya begitu mirip dengan ibu (Aster). Tapi ...." Suara Edward terhenti.

"Ada apa, Tuan Muda Kedua?"

"Ada kesalahpahaman dengan warga desa. Mereka menuduhku berbuat mesum dengan gadis itu. Semuanya runyam. Aku khawatir warga desa tidak mau memberikan informasi tentang ibu padaku. Jadi, jalan satu-satunya adalah aku terpaksa mengeluarkan cincin ibu agar kepala desa tidak memintaku menikahi gadis itu dan mau menceritakan peristiwa 25 tahun yang lalu."

"Berbuat mesum? Menikah? Separah itu kesalah pahamannya?" Mister Lie tersentak kaget.

"Sangat parah. Bahkan sekarang mereka malah menduga kalau aku dan dia adalah saudara kembar." Suara Edward terdengar kecewa.

"Saudara kembar? Bagaimana mungkin?" Mister Lie tak percaya.

Harta waris Tuan Tanah untuk tua muda kedua berupa berhektar-hektar lahan pertanian di desa, sudah dibekukan, tidak bisa dijual. Padahal tuan muda kedua ingin menjualnya untuk modal membuka bisnis baru.

Menurut penyelidikan Mister Lie, tuan muda pertamalah (Edgar) yang membekukannya. Karena ada dugaan bahwa tuan muda kedua bukan putra sah Tuan Tanah.

Oleh karena itu, Edward akhirnya datang ke desa untuk mencari tahu apa yang terjadi 25 tahun yang lalu. Agar harta warisan itu bisa segera cair.

"Mister Lie, kami lahir di hari yang sama. Pantas saja jika mereka menduga kami seayah dan seibu," jelas Edward.

"Saya akan menyelidikinya lebih dalam, Tuan Muda Kedua." Mister Lie tak lagi mendebat Edward.

"Baiklah. Besok aku akan ke kota besar bersamanya untuk tes DNA. Agar semuanya jelas. Kami adalah saudara kembar atau bukan. Aku juga sudah menyimpan gelas minum teh yang dipakainya. Besok aku akan membawanya ke kota besar."

Edward mengambil plastik klip berisi gelas kertas warna putih.

"Baik, Tuan Muda Kedua. Saya juga sudah menyimpan cangkir minum kopi milik Tuan Muda Pertama. Malam ini, saya akan mengirim mobil untuk menjemput anda. Besok pagi, mobil sudah sampai di vila."

"Baik. Terima kasih banyak, Mister Lie."

"Ada yang perlu saya kerjakan lagi, Tuan Muda Kedua?" tanya Mister Lie sebelum menutup pembicaraan.

"Ehm ... Di sini berantakan, sepertinya habis dirampok. Tolong kirimkan orang untuk berbenah. Beberapa lukisan, aksesoris dan peralatan makan hilang. Ganti yang lebih cocok dengan selera anak muda jaman sekarang. Dan tolong berikan aku satu ponsel baru. Ponselku hilang, hanyut di sungai."

"Baik, Tuan Muda Kedua."

"That's all. Selamat malam, Mister Lie."

"Selamat malam, Tuan Muda Kedua."

Edward memutus hubungan telepon dengan Mister Lie. Mengembalikan lagi telepon satelit ke tempatnya. Lalu menutup laci rahasia itu dengan cermat.

Edward mengganti perbannya dengan perban anti air lalu mandi keramas hingga semua debu itu menghilang dari tubuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!