NovelToon NovelToon
Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ren cuma pegawai kantoran biasa.

Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.

Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:

"Tidak Melakukan Apapun."

Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.

Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Gelap. Hancur. Dingin. Seolah dingin itu akibat dari pembusukan.

Ren melangkah melewati batas dimensi itu dengan perasaan was-was yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya. Rasanya seperti berjalan menembus selaput air yang terbuat dari bensin. Lengket dan membuat bulu kuduk berdiri.

Di hadapannya, "dunia" tidak lagi bisa dibilang normal—Lebih tidak masuk akal dari lingkungan tandus yang ia hadapi kemarin.

Langit di dalam Rift adalah pusaran awan yang saling memangsa, sementara daratannya terdiri dari bongkahan beton melayang dan sisa-sisa ekosistem yang sudah membusuk.

Lalu, di sana ia berdiri. Sosok kolosal Kategori 3 yang tadi hanya terlihat cakarnya saja.

Bentuknya menyerupai perpaduan antara kera raksasa, serangga, berpadu dalam satu mineral kristal warna obsidian. Enam lengannya menjuntai, masing-masing dengan kuku yang lebih panjang dari tiang listrik. Matanya yang berjumlah puluhan berkedip secara tidak beraturan, semuanya terfokus pada titik kecil di bawahnya: Ren.

"Sial ... ia benar-benar besar," gumam Ren.

Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin lari, tapi kakinya tetap bergerak maju. Instingnya mengatakan bahwa jika ia menunjukkan rasa takut, ruang di sekitarnya akan langsung menghimpitnya sampai hancur.

Raungan monster itu menggetarkan realitas. Gelombang suara yang dihasilkannya cukup kuat untuk menghancurkan gendang telinga manusia normal.

Tapi saat gelombang itu menghantam Ren, suaranya mendadak mati. Seperti tombol hening yang ditekan paksa.

Ren hanya merasakan angin sepoi-sepoi yang memainkan helai rambutnya.

"Intinya, aku tidak perlu melakukan apapun, serangan itu tidak akan sampai," simpul Ren dalam hati.

Monster itu, mulai merasa tersinggung. Bagaimana mungkin seekor semut tanpa armor bisa bertahan dari auman mautnya?

Satu lengan raksasanya menghantam bumi. Lokasi Ren berdiri meledak. Tanah terangkat, menciptakan kawah sedalam tiga meter.

Ren tetap berdiri di tempatnya semula. Secara teknis, ia seharusnya berada di dasar kawah, tapi ia justru melayang di udara, tepat di posisi koordinatnya sebelum tanah itu hilang.

Ia tidak jatuh. Karena jatuh adalah sebuah aktivitas. Dan Ren sedang tidak melakukan aktivitas apa pun.

"Jadi, efeknya cukup random," ucapnya lirih, ia mulai terbiasa dengan serangan tidak efektif mereka, meskipun serangan tadi hampir membuat dirinya tersandung.

Di sekelilingnya, monster-monster kelas rendah—Kategori 1 yang bentuknya mirip anjing tanpa kulit—mulai mengerumuni. Mereka melompat serentak.

Pemandangannya konyol.

Ada yang terpental jauh seolah menabrak dinding beton tak kasat mata. Ada yang melewati tubuh Ren begitu saja, seakan-akan Ren adalah hologram yang tidak nyata. Bahkan ada seekor monster yang berakhir menggigit ekor temannya sendiri karena serangannya mendadak bergeser.

Ren menatap tangannya yang sedikit gemetar. "Aku harus mulai mencoba sesuatu. Kalau cuma diam, aku akan terjebak di sini selamanya."

Apa yang harus ia lakukan? Solusi apa agar ia bisa keluar dari situasi ini. ia tenggelam dalam pikirannya.

Lalu.

"Tidak melakukan Apapun ..."

Ia teringat sebuah analogi sederhana. Sebuah apel yang dipotong dengan pisau.

Biasanya, ada proses: Kau mengambil pisau, menggerakkan tangan, dan membelah apelnya.

"Bagaimana kalau aku ingin apel itu terbelah, tapi aku malas menggerakkan tangan?" pikirnya.

Ia menatap Raksasa itu. Makhluk itu sedang bersiap melakukan hantaman dua tangan yang bisa meruntuhkan gunung.

Ren membayangkan sebuah adegan. Ia membayangkan kaki monster itu tersandung. Hanya itu. Tanpa ia perlu menjulurkan kaki atau memasang jebakan.

Brak!

Tanpa ada angin atau hujan, lutut monster raksasa itu menekuk dengan sudut yang mustahil. Bunyi tulang patah menggema seperti ledakan dinamit.

Si Raksasa tersungkur. Kepalanya menghantam sisa bangunan mall yang melayang, menciptakan kembang api debu yang megah.

Ren mengerjapkan mata. "Hah? Benaran bisa?"

Ia mencoba lagi. Kali ini ia membayangkan sebuah pukulan keras mendarat di rahang monster itu.

Ia tetap diam. Tangannya masih di dalam saku jaket kusamnya.

BOOM!

Rahang bawah raksasa itu hancur. Cairan hitam menyembur keluar. Monster itu terpental ke belakang, menabrak ribuan anak buahnya sendiri hingga lumat.

"Oke, ini gila. Tapi ada batasnya," gumam Ren. Napasnya mulai memburu.

Ia bisa merasakan kepalanya mulai berdenyut. Kekuatan ini bukan tanpa bayaran. Mengabaikan hukum sebab-akibat itu melelahkan secara mental.

Ia mencoba membayangkan agar semua monster di hadapannya—ribuan jumlahnya—mendadak lenyap. Ia ingin mereka semua terpental kembali ke lubang terdalam dimensi ini.

Tidak terjadi apa-apa.

Raksasa itu bangkit kembali. Meskipun rahangnya miring dan kakinya pincang, regenerasinya mengerikan. Luka-lukanya menutup dalam hitungan detik dengan suara daging yang menjahit dirinya sendiri.

"Hanya bisa efek kecil atau tunggal, ya? Tidak bisa massal," analisis Ren.

Setidaknya itu sudah cukup untuk menahan mereka.

Raksasa itu kini tidak lagi menyerang secara fisik. Ia menyadari ada yang salah dengan hukum fisika di sekitar Ren. Monster itu membuka mulutnya, mengumpulkan energi ungu pekat yang berkilat-kilat.

Sebuah bola energi spatial. Serangan yang tidak hanya menghancurkan benda, tapi menghapus keberadaan partikel di jalur tembaknya.

Ren menatap bola energi itu dengan keringat dingin. "Kalau yang ini kena ... apa aku masih bisa bilang 'tidak melakukan apa-apa'?"

Bola itu ditembakkan. Sinar ungu raksasa menelan segalanya.

Para prajurit di luar Rift yang melihat melalui sensor energi pasti sudah menganggap Ren menjadi abu.

Di dalam sana, Ren hanya menutup mata. Ia membayangkan dirinya adalah bagian dari udara. Udara tidak bisa hancur oleh energi. Udara hanya ... berpindah.

Sinar itu melewati Ren. Bukan menabrak, tapi seolah-olah Ren adalah ruang hampa yang memang seharusnya dilewati oleh cahaya.

Namun, tanah di belakangnya lenyap total. Sebuah garis kehampaan terbentuk sepanjang satu kilometer.

"Dua puluh menit," bisik Ren, melihat jam digital di tabletnya yang retak. "Ayo, sedikit lagi."

Pertarungan pun mulai berbalik perlahan. Bukan lagi dua kubu yang tak bisa saling menyerang. Tapi keanehan absurd kekuatan Ren yang membuat monster-monster itu frustrasi.

Setiap kali Raksasa itu ingin melangkah maju, tanah di bawahnya mendadak terasa licin seperti es. Saat ia ingin mencakar, kukunya mendadak tumpul seperti karet.

Ren terus melakukan "ketidakmampuannya" yang disengaja.

Ia berdiri di tengah lautan monster bagai sebuah tiang pancang yang tak tergoyahkan. Setiap monster yang mendekat akan mengalami nasib sial yang tidak logis. Ada yang mendadak pingsan, ada yang saling tabrak, bahkan ada yang meledak sendiri karena "lupa" bagaimana cara bernapas.

Raksasa itu meraung marah. Ia merasa dipermainkan oleh makhluk yang bahkan tidak mengeluarkan senjata.

Namun, intensitas energi dari Rift mulai stabil. Ren bisa merasakannya. Tekanan udara yang tadinya berat mulai menipis.

Suara frekuensi tinggi terdengar dari arah belakangnya—dari luar Rift.

"Spatial Stabilizer," ucap Ren dengan nada lega. "Pas tiga puluh menit."

Ia menoleh ke arah Raksasa yang kini terlihat sangat kacau. Salah satu tangannya hilang, kepalanya benjol di sana-sini, dan beberapa matanya pecah tanpa sebab yang jelas.

"Dengar, Aku sebenarnya malas melakukan ini," ucap Ren pada monster itu, meskipun ia tahu makhluk itu tidak mengerti bahasanya. "Tapi kalau Kau tetap di sini, waktu istirahat akhir pekanku akan berakhir karena harus mengurusmu."

Ren membayangkan satu hal terakhir. Sebuah "dorongan" kecil pada eksistensi Raksasa itu.

Monster kolosal itu mendadak tersedot ke belakang, seolah-olah gravitasi di belakangnya menjadi jutaan kali lebih kuat. Ia terseret masuk kembali ke dalam celah dimensi yang lebih dalam, diikuti oleh ribuan monster kecil lainnya yang ikut tersapu seperti sampah plastik di hari minggu.

Ren menghela napas panjang. Kakinya lemas.

Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju tirai cahaya ungu yang mulai menutup. Langkahnya tetap kecil, tetap kikuk, seperti orang yang baru saja menyelesaikan shift malam yang melelahkan.

Saat ia melangkah keluar dari Rift, ia disambut oleh keheningan yang memekakkan telinga.

Ratusan moncong senjata masih mengarah ke arahnya. Para Awakened kelas A berdiri mematung. Ketua AFC di dalam layar drone hanya bisa membuka mulut tanpa suara.

Ren berjalan melewati mereka semua. Ia mengabaikan tatapan bingung yang dilemparkan padanya.

Ia berhenti di depan Kapten regu yang tadi berteriak menyuruhnya mundur.

"Anu," Ren berdeham, memecah kecanggungan. "Ada yang bisa kubantu?"

Si Kapten hanya berkedip. Tangannya yang memegang pedang energi turun perlahan.

Ren tidak menunggu jawaban. Ia terus melangkah menuju arah kota, tangannya sibuk mengotak-atik tabletnya. Sementara tatapan orang-orang masih tertuju jelas.

1
Filan
benda yang bakal memutar balikan keadaankah?
Ironside: Enggak sih, konteksnya sesuai judul cerita ini.
total 1 replies
Filan
kayaknya sekarang Ren bakal dapat kekuatan
Filan
satu Bab nya pendek juga ya.
Ironside: Legenda Penapak Langit
total 3 replies
Filan
ahli artefak dia...
Ironside: Iya, dia admin pemerintah/AFC soalnya. Jadi tahu banyak soal artifak, atau ... hal lain juga /Doge/
total 1 replies
Filan
untung ditepuknya ga kenceng ya 😅
Ironside: Kalau kencang, bisa remuk. xixixi 😆
total 1 replies
Filan
kalau langit-langit itu dalam bahasa Indonesia plafon.
Liu Bang Xie Lit (Hiastus)
sudah 28 chapter dan tidak ada insect, kecewa...
hiat: berakkkkk aja dia mah
total 6 replies
Became of Patung Berhala
Tikus Besar/Proud/
Ironside: Collosal Rat /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
cepet banget abis kak/Curse/
Ironside: Memang pendek-pendek chapternya Kak /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
keren banget kak semangat!😍
Aoooo
Insectnya mana kak/Curse/
Ironside: Tidak ada insect Kak /Curse/
total 1 replies
fernan Do
semangat thor
hiat
PoV 3 omnicient?
Ironside: /Scowl/, Hentikan /Curse/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!