Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuntutan Keluarga Wijaya
Di saat Zevanya sedang berjuang memberikan napas pertamanya untuk Arsen adistira di rumah sakit sederhana,
di belahan kota yang lain,
ketegangan meluap di kediaman mewah keluarga Mahendra.
Ruang tamu yang megah itu terasa sesak di penuhi oleh ambisi dan tuntutan.
Clarissa Wijaya tidak bisa lagi membendung keresahannya.
Sudah berbulan-bulan sejak perjodohannya dengan Arkananta Mahendra diumumkan,
namun jangankan pelaminan, pertunangan pun tak kunjung terlaksana.
Didampingi orang tua angkatnya, Hendra dan Siska Wijaya,
Clarissa datang menagih janji kepada Baskara Mahendra.
"Om Baskara, sampai kapan aku harus menunggu?"
Clarissa memulai dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Sudah berbulan-bulan aku bersabar, tapi sikap Arkan tetap dingin padaku.
Dia selalu menghindar setiap kali aku membahas rencana pernikahan kita!"
Baskara menghela napas panjang, mencoba tetap tenang di hadapan hendra sahabat lamanya.
"Sabarlah, Clarissa. Tidak mudah membujuk Arkan. Dia pria yang keras kepala, tapi Om janji akan bicara serius padanya nanti."
Hendra Wijaya, yang sejak tadi duduk dengan rahang mengeras, akhirnya menyahut dengan nada mengancam.
"Iya, Baskara. Keluarga kami sudah menunggu terlalu lama. Apa kau berniat mempermainkan kehormatan keluarga Wijaya dan merusak persahabatan kita?"
Baskara menatap Hendra dengan tatapan memohon.
"Sabar, Hendra. Saya butuh waktu sedikit lagi untuk meyakinkan Arkan agar segera menikahi clarissa.
Kamu tahu sendiri kan, saya juga sudah sangat tidak sabar ingin menimang cucu dari darah daging Arkan."
"Kami sudah memberimu waktu yang lebih dari cukup, Baskara!" potong Hendra dengan suara meninggi.
"Jika Arkan terus-menerus mengulur waktu, lebih baik batalkan saja perjodohan konyol ini!"
"Ayah! Tidak!" Clarissa teriak histeris.
Matanya berkilat penuh obsesi. "Jangan dibatalkan! Aku hanya ingin menikah dengan Arkananta Mahendra. Tidak ada pria lain!"
Baskara mencoba menenangkan situasi yang mulai memanas.
"Tenang, Hendra Wijaya. Bukankah sejak dulu kita sudah sepakat bahwa anak-anak kita akan kita jodohkan setelah mereka dewasa?"
Siska Wijaya, yang sejak tadi hanya mengamati,
akhirnya angkat bicara dengan nada dingin.
"Kesepakatan tanpa realisasi hanyalah omong kosong, Baskara.
Clarissa, putriku, butuh kejelasan status. Dia bukan wanita sembarangan yang bisa digantung seperti ini."
Hendra berdiri, diikuti oleh Siska dan Clarissa.
"Cepat urus anakmu itu, Baskara. Sebelum kesabaran kami benar-benar habis. Kami pamit!"
Setelah keluarga Wijaya pergi, Baskara terduduk lemas di sofa mewahnya.
Ia memijat pelipisnya yang berdenyut.
Dengan tangan gemetar karena amarah dan tekanan darah yang meninggi,
ia meraih ponselnya dan menekan nomor putranya arkan.
Di kantornya, Arkan sedang menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham perusahaan yang fluktuatif.
Konsentrasinya pecah saat ponsel di meja kerjanya bergetar hebat. Nama "Baskara" berkedip di layar.
Arkan menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. "Ya, ada apa?"
"Pulang sekarang, Arkananta!" suara Baskara berteriak dari seberang telepon,
tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
"ayah tidak mau dengar alasan rapat, klien, atau proyek luar kota. Pulang ke rumah detik ini juga!"
Arkan menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga. "Ada apa,yah? Aku sedang sibuk—"
"Keluarga Wijaya baru saja dari sini!" potong Baskara dengan nada tajam.
"Hendra sudah habis kesabaran. Dia mengancam akan membatalkan perjodohan ini.
ayah sudah berjanji pada mereka, Arkan.
kamu harus segera menetapkan tanggal pernikahanmu dengan Clarissa!"
Baskara tidak tahu bahwa di saat ia desak arkan untuk memberikan cucu melalui Clarissa,
"Benih Mahendra" yang asli justru baru saja lahir dari rahim seorang wanita yang bersembunyi dalam kemiskinan—Zevanya adistira.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪