NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 ENKRIPSI TRAUMA DAN ARSITEKTUR FASISME

[02:15 AM] KLINIK BAWAH TANAH SEKTOR 4

Kesunyian di dalam klinik bawah tanah Dr. Aria terasa lebih berat daripada biasanya. Di atas meja bedah berbahan baja antikarat yang kini dialihfungsikan sebagai meja kerja, sebuah laptop dengan layar monitor yang memancarkan pendaran cahaya kebiruan menyinari wajah pucat Dr. Saraswati.

Saraswati menatap layar hitam yang hanya menampilkan satu baris teks berkedip: MASUKKAN KATA SANDI (1 KESEMPATAN TERSISA).

Di sebelahnya, cip enkripsi tingkat militer berwarna hitam legam—hadiah dari Orion, Direktur Operasi Eksekutif Aegis Vanguard—telah terhubung ke dalam pembaca kartu memori. Cip itu adalah Barzakh digital, sebuah alam perantara yang memisahkan ketiadaan data di luar dengan rahasia terdalam para penguasa metropolis di dalam.

Kata-kata Orion di labirin cermin Galeri Nasional terus bergema di dalam tengkoraknya, berulang-ulang seperti kaset rusak: "Kata sandi untuk membuka cip itu adalah nama gadis kecil yang bersembunyi bersamamu di dalam lemari dua puluh tahun lalu."

Selama dua dekade, Saraswati membangun rasionalitas Apollonian-nya, menciptakan struktur logika Aristotelian yang kaku untuk menjelaskan setiap kepingan realitas. Ia meyakini bahwa di dalam lemari itu hanya ada dirinya dan Kala. Namun, psikoanalisis Sigmund Freud memiliki hukum besi: apa yang paling menyakitkan bagi Ego tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya ditekan ke dalam jurang terdalam Id melalui mekanisme represi ekstrem.

Tangan kiri Saraswati yang gemetar melayang di atas keyboard. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Mekanisme pertahanan psikologisnya meronta, mencoba mencegahnya membuka pintu yang selama ini ia segel.

Gadis kecil itu.

Sebuah memori yang hancur berkeping-keping tiba-tiba menyatu dalam sekejap. Bau kayu lapuk. Hujan deras. Kala yang melepaskan tangannya dan berlari keluar untuk mengalihkan perhatian Abimanyu. Dan... suara isak tangis yang tertahan di sebelahnya. Ada tangan lain yang menggenggam gaun tidurnya malam itu. Tangan yang lebih kecil. Tangan adiknya.

Savitri.

Saraswati memejamkan matanya rapat-rapat saat gelombang rasa sakit yang jauh melampaui luka fisik di bahunya menghantam dadanya. Ia telah melupakan adiknya. Otaknya menghapus eksistensi Savitri karena rasa bersalah sebagai penyintas (survivor's guilt) terlalu absolut untuk ditanggung oleh anak berusia tujuh tahun. Savitri yang ditarik keluar dari lemari itu setelah Kala ditangkap. Savitri yang darahnya memercik ke wajah Saraswati.

Kompulsi pengulangan (repetition compulsion) Saraswati selama ini bukan hanya tentang memburu monster; itu adalah upaya bawah sadarnya untuk mencari Savitri yang tak pernah bisa ia selamatkan.

Namun, mengutip Friedrich Nietzsche, Amor Fati menuntut manusia untuk tidak sekadar menanggung takdirnya, melainkan mencintainya—merangkul seluruh kengerian dan rasa sakit itu untuk mengubahnya menjadi kekuatan pendorong menuju Übermensch (Manusia Unggul). Ia tidak akan membiarkan masa lalunya menghancurkannya lagi.

Saraswati membuka matanya. Tatapannya kini setajam pisau bedah. Ia menekan tuts keyboard dengan kecepatan metronomik.

S-A-V-I-T-R-I

Layar berkedip hijau. Kunci enkripsi tingkat militer itu hancur.

Tembok-tembok represi Freudian telah runtuh, digantikan oleh banjir data rahasia milik Konsorsium Aegis Vanguard. Berkas-berkas, cetak biru militer, aliran dana gelap, dan yang paling penting: profil psikologis lengkap dari Jenderal Ares, pemimpin faksi radikal yang ingin membumihanguskan jutaan kelas pekerja kota.

Saraswati mulai membaca.

[04:30 AM] MEMBEDAH SANG LEVIATHAN

Dr. Aria masuk ke dalam ruangan membawa secangkir kopi hitam dan pil antibiotik, meletakkannya di samping laptop Saraswati. Mantan detektif itu tidak tidur sedetik pun. Matanya terus menyerap ribuan halaman data dengan kecepatan pemrosesan kognitif yang abnormal.

"Kau menemukan kelemahannya?" tanya Dr. Aria, melihat grafik analisis psikologis yang rumit di layar.

"Aku menemukan lebih dari sekadar kelemahan. Aku menemukan anatomi keterasingannya," jawab Saraswati, menggeser layar untuk menampilkan foto Jenderal Ares. Pria itu memiliki perawakan seperti patung dewa perang Yunani—rahang persegi, mata tanpa emosi, dan seragam militer dengan lusinan medali.

"Nama aslinya adalah Bima Cokro," Saraswati mulai menjabarkan deduksinya, mengawinkan logika Aristoteles dengan sosiologi Karl Marx. "Aegis Vanguard memungutnya dari daerah konflik perbatasan saat ia berusia sepuluh tahun. Ia adalah produk murni dari militer-industrial kompleks. Dalam teori Marxis, Jenderal Ares adalah bentuk paling tragis dari alienasi manusia. Ia dipisahkan dari keluarga, dari empati, dan dari esensi kemanusiaannya (Gattungswesen). Korporasi mengubahnya menjadi komoditas mesin pembunuh. Ia tidak memiliki identitas di luar peran yang diberikan oleh modal."

Saraswati membuka fail rekam medis kejiwaan rahasia milik sang jenderal.

"Tapi sebuah mesin pembunuh biologis selalu memiliki cacat di tingkat Id," lanjut Saraswati, membedah pria itu dengan pisau analisis Freud. "Lihat riwayat pertempurannya. Ia selamat dari penyergapan brutal lima belas tahun lalu, di mana seluruh peletonnya dibakar hidup-hidup. Dia satu-satunya yang selamat karena dia bersembunyi di bawah tumpukan mayat anak buahnya sendiri. Sejak saat itu, ia membangun Ego hiper-maskulin dan mengembangkan fasad kedisiplinan Apollonian yang ekstrem. Ia memuja keteraturan dan pemusnahan massal karena di alam bawah sadarnya, ia sangat ketakutan pada kekacauan tak terduga (Dionysian). Kebutuhannya untuk mengotomatisasi militer dengan kecerdasan buatan (AI) dan membantai jutaan rakyat miskin bukanlah strategi militer; itu adalah fobia patologis. Ia ingin menyingkirkan elemen manusiawi karena manusia bisa terluka dan berdarah."

Dr. Aria mengernyitkan dahi, merasa ngeri dengan implikasi tersebut. "Jadi, Orion ingin kau memicu PTSD-nya? Membuatnya terlihat gila di depan Dewan Direksi agar dia kehilangan jabatannya?"

"Orion ingin aku menjadi instrumennya. Menjadi Sang Liyan yang membersihkan jalannya menuju takhta," Saraswati menyesap kopi hitamnya, rasa pahitnya membersihkan palet mulutnya. "Tapi aku bukan budak Orion. Simone de Beauvoir berkata bahwa perempuan yang merdeka tidak akan membiarkan tindakannya didikte oleh narasi laki-laki. Aku akan menghancurkan Jenderal Ares. Tapi aku akan melakukannya dengan cara yang akan membuat seluruh fondasi Aegis Vanguard retak dari dalam. Aku akan menggunakan ketakutan Ares untuk membongkar kebohongan Orion."

Saraswati menutup laptopnya, mencabut cip tersebut, dan menyembunyikannya kembali ke dalam sakunya.

"Jadwalkan pertemuanku dengan Orion hari ini di markas besar Aegis," perintah Saraswati seraya berdiri. "Sudah waktunya sang hantu kembali ke dunia orang hidup."

[13:00 PM] MENARA AEGIS, PUSAT DISTRIK FINANSIAL

Menara Aegis adalah monumen kaca dan baja hitam setinggi seratus lantai yang menusuk langit, menyerap cahaya dan tak memantulkan apa pun. Ia berdiri sebagai kuil modern bagi kapitalisme privat yang telah menggantikan fungsi negara.

Saraswati melangkah melewati pintu detektor logam di lobi utama. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna abu-abu arang dengan potongan tajam yang memancarkan otoritas intelektual. Postur tubuhnya tegak sempurna, menyembunyikan setiap indikasi cedera fisik.

Dua orang tentara bayaran elit bersenjata lengkap mengawalnya menuju lift khusus eksekutif. Tidak ada borgol. Tidak ada todongan senjata. Secara resmi, ia telah dimasukkan ke dalam daftar "Konsultan Analisis Perilaku Khusus" dengan tingkat izin merah atas otorisasi Orion.

Lift melesat naik menuju lantai 95—ruang konferensi eksekutif.

Saat pintu lift terbuka, Saraswati melangkah ke dalam sebuah ruang mahaluas berdinding kaca yang menyajikan pemandangan kota metropolis dari atas awan. Dalam konsep mistik Ibnu Arabi, ini adalah ruang yang memosisikan dirinya dalam ranah Tanzih—transenden, berjarak, terlepas dari darah dan kotoran penderitaan di jalanan bawah sana. Para direksi ini menganggap diri mereka dewa.

Di tengah ruangan, sebuah meja bundar raksasa dari batu marmer hitam menjadi pusat tata surya ruangan ini. Di ujung meja, duduk Orion dengan senyum tipisnya yang penuh perhitungan. Di seberangnya, duduk sesosok pria berbadan tegap dengan seragam militer tanpa lencana—Jenderal Ares. Di sekitar meja, duduk lima anggota dewan direksi lainnya.

Seluruh percakapan di ruangan itu terhenti saat Saraswati melangkah masuk. Tatapan merendahkan, kebingungan, dan permusuhan langsung mengunci tubuhnya.

Simone de Beauvoir menganalisis fenomena ini dalam The Second Sex. Ketika seorang wanita memasuki ruang kekuasaan absolut laki-laki, kehadirannya selalu dilihat sebagai sebuah invasi, sebuah anomali tubuh (immanence) yang mengganggu ruang intelektual (transcendence) kaum pria. Mereka memindai Saraswati dari atas ke bawah, mencoba memosisikannya kembali ke dalam kotak subordinat.

"Tuan-tuan," Orion memecah keheningan dengan suaranya yang karismatik, berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Saraswati. "Perkenalkan, konsultan analisis forensik baru kita, Dr. Saraswati. Negara mungkin telah mendeklarasikannya sebagai buronan mati, namun bagi Aegis, ia adalah aset intelektual yang tak ternilai."

Jenderal Ares mendengus kasar. Suaranya menyerupai gemuruh batu yang bergesekan. "Ini lelucon, Orion? Kau membawa seorang psikolog wanita buangan ke dalam ruang rapat strategis tingkat tinggi? Kita sedang berada di tengah operasi pembersihan sektor sipil, bukan sesi terapi kelompok."

Ares mencoba mereduksi Saraswati. Ia menyerang identitas gendernya dan statusnya sebagai pelarian, memposisikannya sebagai Sang Liyan yang tak relevan.

Saraswati tidak menunggu Orion membelanya. Kebebasan eksistensial menuntut seseorang untuk mengafirmasi subyektivitasnya sendiri. Ia berjalan perlahan mengitari meja bundar itu, sepatu hak tingginya menghasilkan ketukan metronomik yang mendominasi frekuensi suara di ruangan itu.

"Jika Anda menganggap pembersihan sektor sipil sebagai operasi militer, Jenderal, maka Anda telah kalah sebelum menembakkan satu peluru pun," ucap Saraswati, suaranya tenang namun memotong udara seperti silet.

Ia berhenti tepat di belakang kursi Ares.

"Pendekatan Anda adalah mengirim ribuan prajurit untuk membumihanguskan Sektor 3 dan Sektor 4. Anda menggunakan nalar mekanis bahwa kekuatan yang lebih besar akan menghancurkan perlawanan. Itu bukan strategi. Itu adalah kepanikan," Saraswati mengelilingi ruang intelektual sang Jenderal. "Karl Marx mengatakan bahwa tekanan fisik terhadap kelas pekerja hanya akan mempercepat solidifikasi kesadaran kelas mereka. Semakin keras Anda menekan mereka, semakin radikal mereka akan memberontak. Anda tidak sedang memadamkan api, Anda sedang menyiramkan bensin ke dalamnya."

Ares memutar kursinya dengan kasar, menatap Saraswati dengan mata membunuh. "Aku tidak butuh ceramah sosiologi dari seorang wanita yang gagal melindungi dirinya sendiri. Rakyat miskin itu hanyalah hama. Mereka mematuhi kekuatan, bukan teori."

"Mereka mematuhi martir, Jenderal," balas Saraswati seketika, tatapannya tak goyah sedikit pun saat berhadapan dengan aura membunuh pria itu. "Jika Anda membantai puluhan ribu orang, Anda akan memberikan mereka narasi epik tentang pengorbanan. Anda akan membuat pemberontakan ini abadi."

Saraswati melirik Orion sejenak, memberikan sinyal bahwa pertunjukan baru saja dimulai. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menyejajarkan wajahnya dengan Jenderal Ares, memutus jarak aman Tanzih dan membawa aura konfrontasi langsung (Tashbih).

"Aristoteles mengajarkan kita bahwa sebuah tindakan harus memiliki proporsi yang tepat untuk mencapai tujuan yang tepat," bisik Saraswati, nadanya berubah intim namun beracun, mulai menginfiltrasi Id sang Jenderal. "Untuk menundukkan mereka, Anda tidak perlu menghancurkan tubuh mereka. Anda hanya perlu menghancurkan harapan mereka."

Anggota dewan direksi lainnya mulai berbisik-bisik. Ketegasan dan rasionalitas dingin Saraswati mulai memecah dominasi Ares di ruangan itu.

Ares mengertakkan giginya. "Dan bagaimana caramu menghancurkan harapan mereka, Dokter?"

Inilah momennya. Puncak dari profil psikologis yang telah Saraswati susun di klinik bawah tanah. Ia harus mengucapkan satu kalimat, satu frasa yang berfungsi sebagai kunci dekripsi untuk membuka trauma masa lalu Ares—memaksa Das Unheimliche (kengerian yang direpresi) meledak ke ruang sadar sang Jenderal.

Saraswati menatap lurus ke dalam iris mata Ares yang kelabu.

"Kita biarkan mereka bersembunyi di bawah tumpukan harapan mereka sendiri," ucap Saraswati dengan tempo yang sangat lambat, mengucapkan setiap kata dengan penekanan fonetik yang spesifik. "Sama seperti seseorang yang harus menahan napas... berbaring diam... bersembunyi di bawah tumpukan daging dan darah saudara-saudaranya yang terbakar... hanya untuk bertahan hidup dari dinginnya malam penyergapan."

Ruang konferensi itu seketika hening. Bagi para direksi lain dan Orion, kalimat itu terdengar seperti metafora puitis yang kejam tentang mengalahkan musuh.

Namun bagi Jenderal Ares, kalimat itu adalah bom nuklir kognitif.

Pupil mata Ares melebar secara instan. Napasnya terhenti. Otot-otot di rahangnya mengejang keras, dan tangan kanannya yang kekar mulai bergetar tak terkendali di atas meja marmer. Kilasan balik (flashback) dari penyergapan lima belas tahun lalu—bau daging terbakar, darah teman-temannya yang menetes ke wajahnya, ketidakberdayaan absolutnya di bawah tumpukan mayat—merobek fasad Apollonian yang telah ia bangun dengan susah payah.

Superego militernya hancur dalam hitungan milidetik, menyisakan seorang anak laki-laki yang ketakutan di dalam tubuh seorang raksasa. Kompulsi pengulangannya dipicu secara paksa oleh Saraswati di hadapan seluruh dewan direksi.

"K-kau..." suara Ares bergetar, memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan. Ia tiba-tiba berdiri dengan kasar, menjatuhkan kursinya ke belakang. Tangan kanannya secara refleks meraba pinggangnya, mencari pistol yang tidak ia bawa ke ruang rapat. Tindakan paranoid yang sama sekali tidak rasional.

"Jenderal Ares? Anda baik-baik saja?" tanya salah satu direktur senior dengan nada curiga, melihat pemimpin militer mereka tiba-tiba menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) akut di ruang rapat.

Orion menyembunyikan senyum kemenangannya di balik cangkir kopinya. Saraswati telah melakukan tugasnya dengan efisiensi yang mengerikan. Ia telah mematahkan sang dewa perang tanpa perlu menyentuhnya.

"Rapat ini... rapat ini selesai," Ares tergagap, keringat dingin membasahi dahinya. Tanpa memberikan penghormatan atau alasan logis, ia berbalik dan setengah berlari keluar dari ruang konferensi, melarikan diri dari tatapan Saraswati yang mengulitinya hidup-hidup.

[15:30 PM] ANOMALI DARI DASAR SAMUDERA

Satu jam kemudian, Saraswati berdiri sendirian di balkon observasi pribadi milik Orion di lantai 98, menatap pusaran badai yang masih menyelimuti kota.

Pintu geser di belakangnya terbuka. Orion melangkah keluar, bergabung dengannya di balkon yang diterpa angin dingin tersebut.

"Itu adalah pembunuhan karakter paling elegan yang pernah saya saksikan, Dokter," ucap Orion, berdiri di samping Saraswati. "Dewan direksi langsung mengadakan pemungutan suara darurat begitu Ares keluar. Faksi militernya kehilangan kepercayaan padanya karena ia terlihat tidak stabil secara mental. Ares akan dilengserkan besok pagi, dan departemen militer akan berada di bawah kendali penuh saya. Anda telah memenuhi bagian Anda dari kesepakatan."

Saraswati tidak menoleh. Ia terus menatap jauh ke arah lautan lepas. "Dan kau akan memenuhi bagianmu. Anak-anak panti asuhan itu tidak boleh disentuh. Serta pencabutan status buronanku."

"Semuanya sudah diproses. Anda bebas, Dr. Saraswati," Orion bersandar di pagar kaca balkon. "Tapi saya harap Anda mempertimbangkan untuk tetap berada di sisi saya. Bersama, tidak ada yang tidak bisa kita kendalikan."

"Aku tidak percaya pada kendali absolut, Orion," jawab Saraswati dingin. "Setiap kali kau mencoba mengendalikan manusia seperti mesin, mereka akan meledak menjadi kekacauan. Itu adalah hukum alam."

Orion tertawa pelan. "Kekacauan bisa dikelola, asalkan kita memiliki instrumen yang tepat. Omong-omong soal kekacauan... ada sesuatu yang perlu Anda ketahui."

Saraswati perlahan menoleh, insting eksistensialisnya mendeteksi pergeseran nada dalam suara Orion.

"Saat Anda memicu serangan panik Ares tadi, saya menyadap transmisi komunikasi pribadi sang Jenderal yang melarikan diri ke bunker bawah tanahnya," Orion menatap mata Saraswati dengan intensitas yang baru. "Ares tidak lari untuk mencari obat penenang. Dia lari ke fasilitas interogasi rahasianya di bawah tanah Sektor 1."

Jantung Saraswati berdetak satu kali lebih lambat. "Apa hubungannya denganku?"

"Fasilitas itu adalah tempat Ares mengurung subjek-subjek interogasi tingkat tingginya. Orang-orang yang tidak secara resmi diakui keberadaannya oleh negara," Orion menyunggingkan senyum yang memancarkan rahasia kelam. "Ares berteriak kepada penjaga di sana, menuntut untuk berbicara dengan 'Tahanan Nol'. Tahanan yang berhasil diangkat dari laut oleh pasukan Ares tiga malam yang lalu setelah jatuh dari mercusuar."

Rasionalitas Saraswati serasa dihantam palu godam. Darahnya berdesir hebat.

"Kala..." bisik Saraswati tanpa sadar.

Kala, Sang Pembebas, bayangan dari masa lalunya, Id yang ia kira telah mati tenggelam di alam Barzakh lautan Karang Hitam, ternyata masih hidup. Ares telah menangkapnya. Dan Orion sengaja menggunakan Saraswati untuk melemahkan Ares agar ia bisa merebut aset paling berbahaya di kota ini—Sang Pembebas itu sendiri.

Orion mencondongkan tubuhnya ke arah Saraswati. "Tampaknya, Dokter, percakapan panjang Anda dengan Sang Pembebas belum benar-benar berakhir. Dan kali ini... ia berada di tangan monster yang kehilangan akal sehatnya."

Saraswati mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih. Labirin cermin ini belum berakhir; ia baru saja dijebak ke dalam lingkaran yang lebih dalam. Ketiadaan telah menolaknya lagi, dan realitas menuntutnya untuk turun kembali ke dalam neraka.

Pertarungan melawan leviathan korporat ini baru saja menjadi sangat, sangat personal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!