NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13. Aku memang jahat

Happy Reading

Lipstik yang ada di tangan Sinta itu langsung meluncur ke bibir Aily. Dia membentuknya seolah-olah Aily adalah badut.

Aily sama sekali tidak bisa memberontak karena kedua tangannya dipegang kuat oleh Riska, dan dia hanya bisa pasrah.

"Woi. Ini keterlaluan! Gue gak bisa diem kali ini!* Teriak Bima.

Walau begitu, sayangnya itu semua hanyalah sebatas ucapan belaka. Bima tidak bisa bereaksi saat Alderza dan Rafa datang.

"Lo mau babak belur lagi?" Tanya Rafa mengancam, sementara Alderza melotot melihat wajah Aily yang berantakan.

"Ini keterlaluan!"

"Jadi cowok gak usah banyak bacot!" Teriak Alderza kencang sampai membuat seisi kantin menatapnya.

Tentu saja Bima terdiam, apalagi melihat mata Alderza yang menyala seperti monster hidup. Apakah lebih baik, dia cari aman saja daripada harus babak belur sampai masuk rumah sakit seperti dulu?

"Mending lo pergi sekarang, sebelum gue bener-bener ngabisin lo!" Balas Alderza sambil mencengkram bajunya.

Jantung Bima seketika berdetak kencang. Dia sangat ketakutan dan benar-benar ingin pergi dari sana. Keringat dingin terus membasahi tubuhnya.

Akan tetapi, moralnya menyuruhnya untuk tetap di sini. Dia benar-benar tidak tahan melihag Aily yang ditindas seperti ini.

"Lo pikir gue takut?" Balas Bima dengan gemetar sembari memegang tangan Aldersa yang mencengkram kerahnya.

"Oh, udah mulai berani lo ya!"

Tanpa basa-basi, Alderza langsung menghantam wajah Bima dengan keras. Itu membuat Bima terpental cukup jauh.

"Udah Bima, kamu pergi aja! Makasih udah mau bantu aku!" Ucap Aily yang tidak tahan melihat Bima dipukuli oleh Alderza.

"Ni cewek ganjen masih aja goda cowok lain ya!" Kesal Riska sambil meremas kuat tangan Aily yang membuatnya tidak berdaya.

Melihat itu, Bima ingin bangkit lagi. Tapi kemudian terhenti ketika melihat ekspresi Aily yang seakan memintanya untuk pergi agar tidak terluka lebih parah.

"Huh, oke gue pergi." Ucap Bima pasrah.

"Maaf Aily."

Bima melihat Aily sekali lagi sebelum pergi. Ia melihat senyuman di wajah Aily yang ditunjukan kepadanya. Itu membuatnya semakin merasa bersalah sebelum akhirnya meninggalkan kantin.

Saat ini, wajah Aily sudah acak-acakan penuh dengan lipstik. Wajah cantiknya tertutupi dengan coretan merah, bahkan bajunya pun ikut kotor karena ketumpahan saus.

Seisi sekolah dapat melihat Aily. Ada yang menertawainya. Ada juga yang merasa kasihan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ini cewek ganjen gue dandanin. Biar dia gak kecentilan kayak tadi." Ucap Sinta dengan keras sampai memekakkan seisi kantin.

Aily tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak mau dipermalukan di depan umum. Aily sadar betapa lemahnya dia sekarang. Bagaimanapun itu, dia selalu salah, hal memalukan selalu mereka lakukan untuk menjatuhkannya. Aily yang tidak pernah menangis di depan orang lain pun kini tidak tahan lagi.

Air mata itu seolah pecah dari bendungan yang dia tahan selama ini, air mata itu mengalir deras turun membasahi pipinya.

Aily hanya bisa spontan menutupi wajahnya dengan kedua tangan tak berdaya itu. Spontan Sinta dan Riska bersorak gembira.

"Wah, seorang Aily nangis nih." Ucap Riska meledek.

"Ah, paling caper doang itu." Balas Sinta sambil tertawa kencang.

Namun, Alderza tidak bisa begitu. Entah apa yang terjadi kepadanya, hatinya tidak bisa berbohong bahwa apa yang dilakukan oleh sahabatnya keterlaluan. Apalagi sampai di tempat umum dan dilihat seluruh siswa.

Dalam hati, dia hanya bisa berkata bahwa perbuatannya dan sahabatnya itu salah, tetapi di dunia nyata sebaliknya. Dia berusaha untuk berhenti, tetapi tidak bisa.

Saat Aily menangis, Bintang datang. Dengan mata yang amat menyala, dia membubarkan semua orang yang berada di kantin. Teriakannya menggema ke seluruh kantin samoai membuat siapapun yang mendengarnya tersentak kaget.

"Apa sih manfaatnya nyiksa orang? Tanya Bintang sembari menatap ke arah Sinta, Riska, Rafa, dan terutama Alderza.

"Njing, kalo berani jangan keroyokan. Kalo berani jangan sama cewek!" Balas Bintang pada Alderza.

"Nah, liat kan. Gara-gara ni cewek genit, Bintang jadi lebih belain dia dibandingkan gue!" Ucap Riska kesal dengan wajah yang memerah.

Tidak bisa dimungkiri bahwa Riska dan Bintang lebih dekat dari yang lainnya. Itu membuat Riska memiliki hak atas Bintang. Riska tidak suka Bintang memperhatikan cewek lain, meskipun dia tahu bahwa Bintang adalah kadal yang luar biasa ganasnya.

Riska menangis mendengar ucapan Bintang yang terkesan lebih memilih Aiky dibandingkan sahabat-sahabatnya yang selalu menemaninya saat suka dan duka.

Sinta tersenyum sinis melihat akting Riska yang luas biasa keren. Mereka berdua memang selalu pandai bersandiwara untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Padahal, yang paling terluka di sini adalah Aily, bukan mereka.

Wulan berlari kencang mendengar semua orang membicarakan Aily. Dia berlari secepat mungkin untuk menghampiri sahabatnya yang sudah ia tunggu sejak 15 menit yang lalu. Dia pikir Aily tidak masuk, tetapi ternyata genk Alderza sedang membuat kekacauan.

"AILY!" Teriak Wilan sembari memeluknya erat.

"Kenapa gak langsung ke kelas?" Tanya Wulan syok melihat penampilan sahabatnya yang kacau.

Jika dia di posisi Aiky, tentu saja dia akan menghajar mereka semua. Tunggu saja pembalasan darinya. Kali ini, Wulan tidak akan tinggal diam, terutama kepada Sinta, Riska, dan Alderza.

Aily sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak mau berdiam diri dan terus dipermalukan di depan umum.

Aily langsung membereskan bukunya, lalu pergi meninggalkan kantin. Bukan untuk pergi ke kelas, melainkan meninggalkan sekolah untuk hari ini.

Hati, fisik, dan seluruh harinya sudah hancur. Dengan kejadia barusan, Aily yakin seisi sekolah hanya akan menertawainya.

"Papa, kenapa hidup Aily hancur kayak gini?" Batin Aily.

"Aily." Panggil Alderza di depan gerbang.

Aily sama sekali tidak menatap Alderza. Tapi, meski Aily tidak menatapnya, Alderza langsung tahu amarah dan rasa sakit yang terpendam selama ini keluar melalui mata Aily yang menatap ke arah lain. Alderza menundukan kepalanya menyesal.

"Gue-"

"Makasih untuk yang kemarin, Alderza. Dan makasih juga untuk hari ini."

Sebelum Alderza melanjutkan kata-katanya, Aily langsung menginterupsinya tanpa jeda. Menyebalkan. Kenapa mulut cowok itu terasa kaku. Cowok itu tidak bisa berkata apa pun apalagi menatap Aily.

"Tadinya aku pikir kamu baik, Alderza. Meskipun kamu udah nyakitin aku beberapa kali, aku tetep sabar karena aku yakin kamu gak sama kayak mereka." Aily menghela napas kesal.

"Tapi aku salah. Aku salah udah liat kamu dari sisi yang berbeda. Kamu sama sekali gak ada bedanya sama mereka semua." Aily melanjutkan ucapannya sembari menatap ke arah Alderza.

Ada apa denga Alderza? Kenapa rasanya sakit saat Aily berkata bahwa dia sama saja dengan mereka. Ya, tentu saja Alderza sama dengan mereka. Bukankah mereka sahabatnya? Kenapa harus merasa sakit?

Aily langsung pergi begitu saja, tapi Alderza langsung menahan tangan Aily untuk yang kedua kalinya.

"Gue anterin lo pulang ya."

"Buat apa? Karena kamu udah bikin aku kayak gini, jadinya kamu gak enak sama aku?" Tanya Aily tidak ragu sedikitpun.

Alderza menghela napas. Kali ini Aily membuatnya tak berkutik sama sekali. Biasanya selalu dirinya yang paling andal untuk membuat Aily menutup mulut dan membuat wajah ketakutan itu muncul. Namun, kenapa sekarang malah sebaliknya.

"Lepas. Jangan pegang-pegang!"

"Ada masalah kalo gue pegang-pegang lo?"

Dengan napas tersengal-sengal, Aily berpaling. Dia menangis tiada henti sambil berkata. "Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu, Alderza."

"Kata-kata itu tentu membuat Alderza bingung setengah mati. " Maksud lo?"

"Jangan pegang tangan aku, Alderza!" Ucap Aily dengan tegas sembari menariknga kencang sampai membuat Alderza kaget.

Meskipun Aily diam selama ini, bukan berarti Aily bodoh dan tak mengerti situasinya. Apalagi atas apa yang dilakukan Alderza selama ini. Dengan sikapnya yang sedingin es, lalu tiba-tiba berubah sepanas api. Aily sangat mengerti.

Tidak perlu orang pintar untuk memahami situasi seperti ini. Orang paling bodoh di dunia pun dapat mengetahuinya, bahwa Alderza malu kepada Aily.

"Nanti kalau orang lain liat kamu sama aku, derajat kamu bakal turun, temen-temen kamu juga marah. Semua orang bakal nertawain kamu dan nanti kamu malu, Alderza Rajendra!" Balas Aily kencang dengan sorot matanya yang amat tajam, memperlihatkan bahwa kesabaran yang dimilikinya sudah habis.

Alderza menatapnya serius. Aily tidak pernah berkata setinggi itu kepadanya. Apalagi membentak dan mengeluarkan isi hatinya. Karena yang biasa dia lihat adalah sosok Aily yang selalu sabar dan tersenyum.

"Pertama yang harus lo tahu, gue gak malu sama lo!"

Aily menggelengkan kepalanya kesal, tidak ada batas kesabaran lagi di dalam hatinya.

"Kedua, kalo kamu gak malu sama aku. Kenapa waktu bu Asih nanya kamu belajar sama siapa, kamu bilangnya belajar sendiri?"

"Aily, denger-"

"Aku sadar diri kok Alderza. Siapa aku, siapa kamu!"

Aily langsung pergi menggunakan ojek online yang sudah dia pesan. Untunglah, ojek tersebut cepat sampai, membuat Aily bisa lepas dari Aldersa dengan cepat.

"Maaf Alderza. Kesabaran aku udah habis." Ucap Aily di dalam hati.

Alserza menganga. Aily terus memotong ucapannya tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.

Masih terbayang di ingatannya wajah Aily yang cantik, yang selalu tersenyum. Berbeda jauh 180 derajat dengan saat ini yang tengah pergi menjauh darinya.

Tanpa melihat Alderza sama sekali Aily langsung pergi meninggalkan sekolahnya. Meskipun hatinya gundah dan sakit, Aily tetap menahannya. Dia ingin segera tiba di makam ayahnya. Dia ingin menangis sekencang mungkin di sana.

Saat Aiky sampai di makam ayahnya, tubuhnya merosot di atas nisan tepat dia mengadu penderitaannya. Dia sama sekali tidak peduli mau hujan ataupun tidak, yang pasti dia ingin bercerita kepada ayahnya.

"Papa....."

Pertahanan yang dia bangun selama ini runtuh sia-sia. Aily memeluk batu nisan tersebut sambil menangis. Air matanya turun deras. Hatinya begitu tertohok dengan kejadian menyakitkan yang bertubi-tubi.

Lipstik di wajahnya hampir pudar karena air mata. Aily berkata. "Pa, aku pengen cerita semuanya. Aku pengen Papa dengerin aku."

Aily berteriak sendirian di hadapan batu nisan tersebut. Hujan yang turun seolah ikut menangis karenanya. Seolah hujan tahu bahwa hatinya sedang meradang. Hujan mengguyur wajahnya dari atas sana.

Meskipun Aily tahu tidak akan ada jawaban apapun di sini, tetapi setidaknya dia ingin merasa lega dengan mencurahkan isi hatinya. Setidaknya dia masih bisa bercerita di dunia nyata selain pada diary lamanya.

"Aku selama ini sabar, senyum, dan gak pernah marah sama Alderza karena aku tahu dia gak salah. Dia cuma terpengaruh sama temen-temennya. Aku pikir Alderza itu baik, aku pikir Alderza gak sama kayak mereka karena emang sari awal masuk SMA, dia siswa yang baik. Tapi aku salah, Pa. Alderza jahat. Dia sama aja kayak mereka semua yang gak mau liat aku bahagia." Teriak Aily sembari memeluk batu nisan di bawah rintik hujan yang deras.

"Kenapa dunia ini begitu kejam? Kenapa dunia ini gak ngizinin aku buat bahagia sedikitpun. Mereka semua keterlaluan, Pa. Aily gak kuat."

Aily masih tidak peduli dengan bajunya yang basa kuyup, lagipula bajunya sudah kotor.

Saat ini, dia hanya ingin bercerita tentang apa yang dia rasakan terhadap Alderza dan teman-temannya yang sudah merampas kebahagiaannya. Napasnya sudah tak teratur, tangisannya sangat jencang mengalahkan suara hujan badai sekalipun.

"Rasanya sakit banget, Pa. Aily gak salah kan marah sama Alderza? Aily gak salah kan marah sama mereka semua?"

Saat semua isi hatinya sudah tercurahkan, rintihannya yang kencang pun berhenti. Aily menyadari ada seseorang yang tengah melindunginya dari rintik hujan. Tetesan air yang membasahi kepala dan tubuhnya kini berhenti.

Aily langsung memutar badannya dan dia sangat kaget melihat Alderza ada di sini.

Alderza masih tidak menyerah. Dia ada di sini dan melindungi Aily dengan jaketnya agar Aily tidak terkena hujan.

"Lo gak salah sama sekali, lo berhak marah sama gue. Gue emang jahat, Aily."

Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo atau semacamnya, mohon untuk dikoreksi. Love you guys.

1
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!