Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain dengan Api
Ketegangan di ruang kerja Pak Bramantyo mendadak membeku. Cahaya lampu meja yang remang hanya menyinari separuh wajah Vino, membuat senyum sinisnya terlihat lebih mengancam. Kenzo merasakan adrenalin berdesir di nadinya; ia berdiri di antara rahasia besar yang bisa menyelamatkan sekolah dan sepupu yang siap menusuknya dari belakang.
Kediaman Dirgantara – Pukul 20.00 WIB
Kenzo dengan tenang memasukkan ponselnya ke saku celana, gerakannya sangat halus seolah ia baru saja mengecek jam. Ia bersandar di meja jati ayahnya, melipat tangan di dada, mencoba meniru ketenangan Pak Bramantyo yang biasanya.
"Buku ekonomi makro Ayah. Aku butuh referensi untuk tugas sekolah," jawab Kenzo datar. Matanya menatap Vino tanpa emosi. "Sejak kapan kamu hobi jadi bayangan orang, Vin? Aku kira kamu masih sibuk menghabiskan uang paman di Singapura."
Vino melangkah masuk ke dalam ruangan, tangannya menyisir rambut klimisnya. Ia berjalan mengelilingi meja, matanya memindai setiap sudut dengan teliti. "Ayahmu memintaku mengawasimu, Ken. Katanya, kamu sedang 'tersesat' karena seorang gadis kaku dari OSIS. Tapi melihatmu ada di sini, di ruang kerja yang terlarang ini... sepertinya kamu lebih dari sekadar tersesat."
Vino berhenti tepat di depan map "Proyek Garuda Mas". Tangannya terangkat hendak menyentuh dokumen itu, namun Kenzo lebih cepat. Ia menyambar sebuah buku tebal di dekatnya dan membantingnya di atas map tersebut.
"Keluar dari sini, Vin. Sebelum aku lupa kalau kita punya hubungan darah," desis Kenzo.
Vino tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam. "Jangan galak-galak. Kita punya musuh yang sama, Ken. Aku juga benci bagaimana Ibu Aris mengatur-atur bisnis keluarga kita. Kalau kamu punya 'sesuatu', mungkin kita bisa negosiasi."
Kenzo tidak menjawab. Ia hanya menatap Vino sampai sepupunya itu akhirnya angkat tangan dan keluar dari ruangan sambil bersiul. Namun Kenzo tahu, Vino tidak akan diam begitu saja.
Gerbang Belakang Sekolah – Selasa, Pukul 06.30 WIB
Reina sudah menunggu di tempat biasa. Wajahnya terlihat lelah; lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia menghabiskan malam dengan membedah laporan keuangan OSIS untuk menghadapi audit.
"Ken, kamu berhasil?" bisik Reina saat Kenzo mendekat.
Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyerahkan ponselnya ke tangan Reina. Saat Reina melihat foto-foto dokumen tersebut, wajahnya mendadak pucat pasi. Tubuhnya lemas hingga ia harus bersandar pada tembok.
"Apartemen... Mereka mau meratakan SMA Garuda untuk beton?" suara Reina bergetar. "Sarah, Ibu Aris, petisi itu... semuanya cuma pengalih perhatian agar kita sibuk bertengkar di dalam, sementara mereka menghancurkan sekolah dari luar."
"Kita harus sebarkan ini, Rein. Biar semua orang tahu," ujar Kenzo mantap.
"Jangan! Belum saatnya," Reina menahan tangan Kenzo. "Kalau kita sebarkan sekarang tanpa bukti otentik, mereka akan menuntut kita atas pencemaran nama baik. Mereka punya pengacara, Ken. Kita cuma punya nyali. Kita harus buat mereka mengaku sendiri di depan publik."
Aula Pertemuan – Pukul 10.00 WIB
Hari penghakiman tiba. Seluruh pengurus OSIS dan perwakilan kelas berkumpul di aula. Di atas panggung, Sarah berdiri dengan angkuh, memegang mikrofone seolah itu adalah tongkat kekuasaan.
"Hari ini, kita akan melakukan voting mosi tidak percaya terhadap Reina Calista," seru Sarah. "Seorang pemimpin yang lebih mementingkan perasaan pribadinya daripada stabilitas organisasi tidak layak memimpin kita!"
Reina berdiri dari kursinya. Ia tidak terlihat hancur. Justru, ia melangkah ke atas panggung dengan martabat yang luar biasa. Ia menatap Aris yang duduk di barisan depan, lalu beralih ke seluruh siswa.
"Kalian boleh mencopot jabatanku hari ini," suara Reina menggema tenang. "Tapi sebelum kalian melakukannya, tanyakan pada diri kalian: Mengapa yayasan begitu terburu-buru ingin mengganti kepemimpinan OSIS tepat saat sekolah kita sedang dipuji karena festival kemarin?"
Sarah tertawa sinis. "Jangan mencoba mengalihkan isu dengan konspirasi, Reina!"
"Ini bukan konspirasi, Sarah. Ini soal kenyataan," Reina melirik ke arah pintu masuk aula.
Tepat saat itu, Kenzo masuk dengan langkah tegap, tanpa kruk. Di belakangnya, ia membawa beberapa orang yang tidak terduga: Para pedagang kantin dan warga sekitar sekolah. Mereka membawa spanduk bertuliskan: PENGURUS SEKOLAH JANGAN JUAL RUMAH KAMI.
Suasana aula mendadak riuh. Ibu Aris yang sedang memantau dari balkon atas langsung berdiri dengan wajah tegang.
Di tengah kericuhan, sebuah suara asing terdengar dari pengeras suara aula, memotong semua kegaduhan.
"Terima kasih atas dramanya, tapi sepertinya kalian melupakan satu hal kecil."
Vino berdiri di pojok ruangan, memegang sebuah remote control. Layar proyektor besar di belakang Reina menyala, namun bukan menampilkan dokumen apartemen, melainkan rekaman CCTV saat Kenzo menyelinap masuk ke ruang kerja ayahnya semalam.
"Sepupuku tercinta baru saja melakukan tindak pidana pencurian data," ujar Vino sambil tersenyum lebar. "Jadi, pertanyaannya adalah: Apakah kalian akan mendengarkan seorang pencuri dan kekasihnya?"
Reina menatap Kenzo. Kenzo menatap Vino. Di balkon, Ibu Aris tersenyum puas. Perangkap yang disiapkan ternyata jauh lebih dalam dari yang mereka duga.