NovelToon NovelToon
Akbar Muhammad Alfattah

Akbar Muhammad Alfattah

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: camamutts_Sall29

Bayangin kalo kamu jadi Aku?

Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?

penasaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasyid pulang bersama kami

 Angin sore di halaman rumah Abi Rehadi berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan wangi melati yang khas. Di atas hamparan tikar sederhana, aku dan Hamdan duduk bersisian. Tidak ada dekorasi mewah, hanya kami berdua—menikmati "me time" singkat tanpa rengekan anak-anak yang biasanya memenuhi hari kami.

​"Barakallahu fii umrik, Mas," bisikku pelan sambil menyandarkan kepala di bahunya. Ia hanya tersenyum, menggenggam tanganku erat, seolah kata-kata tidak lagi cukup untuk mewakili rasa syukur di antara kami.

​Suasana berubah menjadi lebih ramai saat Abi Rehadi dan Bunda Syana bergabung. Sebuah tumpeng nasi kuning yang kokoh berdiri di tengah meja kayu.

 Sesuai tradisi, Abi memimpin doa dengan suara bariton yang menenangkan, mendoakan keselamatan dan keberkahan untuk rumah tangga kami.

​"Potong tumpengnya, Hamdan. Kasih ke istrimu dulu," goda Bunda Syana dengan kerlingan jenaka.

​Tawa pecah saat Hamdan dengan canggung memotong bagian puncak tumpeng. Ritual sederhana itu berlangsung hingga azan Isya berkumandang. Kami menyempatkan diri berjemaah di masjid pesantren, merasakan ketenangan yang meresap hingga ke relung hati sebelum akhirnya berpamitan.

Perjalanan Pulang

​Kini, hanya ada suara mesin mobil yang halus dan instrumen musik yang mengalun rendah. Perjalanan pulang menuju rumah terasa lebih lambat dari biasanya, seolah kami berdua ingin memperpanjang sisa hari ini.

​"Terima kasih ya, Riana," ucap Hamdan tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari aspal di depan. "Piknik kecilnya, nasi kuning Bunda, dan... kamu. Semuanya istimewa."

​Aku tersenyum kecil, mengamati profil sampingnya yang terlihat tulus. Ulang tahun kali ini memang tidak dirayakan dengan pesta besar, tapi di halaman pesantren itu, aku merasa cinta kami baru saja diperbarui.

Kepulangan yang Tak Lagi Sunyi

  ​Aroma bumbu kacang batagor dan uap gurih mie ayam pangsit memenuhi kabin mobil hitam kami. Sore itu, aspal jalanan terasa lebih bersahabat saat kami meninggalkan gerbang Pondok Pesantren Abi Rehadi. Hamdan, suamiku, duduk di balik kemudi dengan sisa-sisa ketenangan yang ia serap dari wejangan Abi tadi.

​"Enak ya, Ri, hawanya di sana? Rasanya seperti mencuci pikiran," celetuk Hamdan sambil sesekali melirikku.

​Aku mengangguk, mencoba mengulas senyum meski ada sedikit beban yang masih mengganjal di sudut hati. "Iya, Mas. Rasanya tenang banget."

​Kami pun terjebak dalam obrolan random—mulai dari tingkah lucu santri yang tadi berebut air wudu, hingga rencana mengecat ulang pagar rumah.

 Hamdan terus bicara, sengaja mengalihkan duniaku agar aku tidak tenggelam dalam lamunan yang gelap.

 Suara tawanya menjadi musik latar yang menemaniku menghabiskan batagor di pangkuan. Tanpa terasa, pagar besi hitam rumah kami sudah melambai di depan mata.

​"Eh, sudah sampai?" aku mengerjap, menyadari mobil sudah berhenti sempurna.

​Namun, begitu mesin dimatikan, keheningan merayap masuk secara perlahan. Aku menarik napas panjang. Begitu pintu terbuka dan kakiku menapak lantai ruang tamu, rasa sepi itu menghantamku kembali. Ruangan ini begitu lengang. Biasanya, ada tangis kecil atau aroma bedak bayi yang menyambut, tapi kali ini hanya ada kekosongan.

​Aku terduduk di sofa, menatap pojok ruangan tempat box bayi yang kini kosong. Bayang-bayang kegelapan saat aku mengalami baby blues tempo hari kembali melintas—rasa takut yang tidak rasional, tangisku yang pecah tanpa sebab, hingga keputusanku menitipkan Rasyid ke rumah Mama demi kewarasanku.

​Hamdan meletakkan bungkusan mie ayam di meja, lalu berjongkok di depanku. Ia menggenggam jemariku erat. "Jangan melamun lagi, Sayang. Rumah ini sepi cuma sebentar. Kita perlu istirahat supaya kamu benar-benar pulih."

​Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku ibu yang buruk ya, Mas? Sampai harus memisahkan Rasyid dari ibunya sendiri?"

​"Tidak," potong Hamdan tegas namun lembut. Ia mengusap pipiku. "Kamu hanya sedang sakit, dan orang sakit butuh waktu untuk sembuh. Rasyid aman sama Mama. Fokus ke dirimu dulu."

​Tiga hari berlalu dengan perjuangan yang tidak mudah. Aku merawat diriku dengan telaten. Luka fisik, termasuk lecet pada nipple yang sempat membuatku menjerit tiap kali menyusui, perlahan membaik dan mengering. Seiring dengan sembuhnya fisik, mental pun mulai terasa lebih stabil. Keinginan untuk memeluk Rasyid tak lagi tertutup oleh ketakutan.

​Pagi itu, suara deru mobil Mama terdengar di depan. Jantungku berdegup kencang, antara rindu dan gugup yang membuncah.

​"Assalamualaikum!" suara Mama memecah keheningan pagi.

​Hamdan dengan sigap membuka pintu.

 Di sana, Mama berdiri membawa keranjang bayi berwarna biru. Rasyid, putra kecil kami, sedang tertidur lelap dengan bedong yang membungkus tubuh mungilnya. Begitu Rasyid dipindahkan ke gendonganku, dunia seolah kembali memiliki warna.

​"Halo, Sayang... ini Ibu," bisikku lirih. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung, menetes tepat di punggung tangan mungilnya.

​Aku menoleh ke arah Hamdan. Ternyata, suamiku yang biasanya tegar itu sedang mematung di sampingku. Bahunya bergetar halus. Ia menutup mulut dengan satu tangan, mencoba menahan isak, namun air matanya jatuh menderu-deru melewati pipinya.

​"Mas?" aku menyentuh lengannya.

​Hamdan menggeleng pelan, lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Rasyid dengan sangat lama.

 "Mas... Mas kangen banget sama anak ini, Ri," ucapnya dengan suara serak yang pecah. "Rasanya rumah ini seperti tidak punya nyawa tanpa dia."

​Aku menarik Hamdan ke dalam pelukan, menyatukan kepala kami di atas tubuh mungil Rasyid. Di ruang tamu yang kemarin terasa dingin dan hampa, kini hangat oleh rekonsiliasi emosi. Hamdan terus menitikkan air mata, sebuah luapan kerinduan yang selama ini ia pendam demi terlihat kuat di depanku.

​"Terima kasih sudah bertahan, Riana," bisik Hamdan di sela isaknya.

​Rasyid menggeliat pelan, membuka matanya yang jernih, seolah tahu bahwa kini ayah dan ibunya sudah siap untuk menjaganya kembali. Hari itu, aku sadar bahwa sembuh bukan berarti tidak pernah jatuh, tapi tentang bagaimana kita berani memungut kembali kepingan yang berserakan dan menyatukannya dalam pelukan keluarga.

​Keluarga kecil kami akhirnya lengkap kembali. Tak ada lagi sepi yang menghantui, hanya ada janji untuk saling menjaga di bawah atap yang sama.

 

Sudah di revisi🥰🙏

TBC.

1
LEECHAGYN
sama2🤭
Dania
kayak dah nikah tapi yg tau cuma sebelah pihak aja ,cuma perasaan ku aja yak .
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!