Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Gangguan Pertama di Area Terpisah
Malam pun akhirnya berakhir berganti pagi yang datang bersama dengan embun tipisnya.
Di area terpisah saat ini terlihat tidak ada teriakan latihan sama sekali, bahkan idak ada suara langkah kaki.
Angin tipis bergerak pelan di antara tebing rendah yang mengelilingi dataran itu.
Udara di sekitarnya terasa dingin dan menekan.
Saat ini, terlihat sosok Yuda sudah berdiri di tengah lingkaran tanah sejak sebelum matahari terbit sepenuhnya.
Ia memejamkan matanya dan mengatur napas sesuai perintah Guruh.
Tarik napas perlahan, tahan lalu lepaskan sedikit demi sedikit.
Tenaga di dalam tubuhnya tidak mau diam. Alirannya tidak stabil, bergerak seperti arus deras yang terus mencari celah untuk keluar dari tubuhnya
Tara yang duduk di atas batu datar tidak jauh darinya sedari tadi juga mengamati.
Ia juga tidak tidur semalaman hanya untuk menemani Yuda.
"Hei bocah bebal, jangan terlalu menahannya." ucap Tara memberitahu.
"Jika terus seperti itu, tubuhmu sendiri yang akan lebih dulu rusak, dasar bocah bebal." lanjut Tara dengan sedikit berteriak.
Mendengar itu, Yuda pun langsung membuka matanya
"Tapi, jika ini tidak ku tahan dan kulepas sedikit saja, maka mereka akan merasakannya," jawabnya dengan lemas.
"Ya mau bagaimana lagi, itu juga sudah pasti," kata Tara acuh.
Yuda kembali memusatkan perhatian kedalam tubuhnya.
Keringat tipis mulai perlahan muncul di dahinya.
Sedangkan lingkaran tanah di bawah kakinya terasa lebih keras dari biasanya, seolah menyerap getaran tenaga yang keluar dari tubuhnya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan.
Lalu tanah di sisi timur lingkaran terlihat mulai bergetar ringan.
Getaran itu hanya sesaat, namun cukup jelas untuk dirasakan.
Yuda langsung membuka mata sepenuhnya kembali dan menoleh ke arah sumbernya.
"Itu bukan Guru Guruh," gumamnya lirih kepada Tara.
"Umm... Benar," jawab Tara mengangguk.
Dan saat itu juga, seketika terlihat dua sosok muncul dari balik batu besar di sisi timur.
Pakaian mereka gelap dan sederhana.
Tidak ada lambang klan atau kerajaan yang menempel pada pakaian mereka.
Sedangkan wajah mereka tertutup kain tipis.
Dengan gerakan mereka yang tenang, dan terlihat tidak terburu-buru, itu menunjukkan pengalaman bertarung yang nyata.
"Target ada di sini!" teriak salah satu dari mereka.
"Dan masih hidup," jawab yang lain melanjutkan.
Nada suara mereka datar, tanpa emosi.
Melihat itu, Yuda langsung melangkah mundur setengah langkah dan mengubah posisi kakinya.
"Kalian siapa?" tanyanya dengan wajah yang tenang namun sedikit khawatir.
Namun sayangnya tidak ada jawaban dari pertanyaan itu.
Seketika sosok pertama langsung bergerak.
Jarak beberapa langkah ditembus dalam sekejap.
Serangan diarahkan ke bagian dada, cepat dan lurus.
Yuda pun dengan sigap langsung menangkis dengan lengan dan memutar tubuh untuk menjaga jarak.
Benturan terasa berat dan membuat lengannya mati rasa sesaat.
"Hei bocah, sepertinya mereka bukan pembunuh biasa," kata Tara.
"Mereka sepertinya pencoba, mereka ingin tahu batasmu." lanjut Tara dengan tatapan tajam.
Sosok kedua menyerang dari sisi kanan.
Gerakannya lebih rendah dan licin.
Sedangkan Yuda terlihat sudah terlambat menghindar.
Dan akhirnya ujung senjata tajam sosok asing itu menggores bahunya.
Seketika keluar darah mengalir tipis dan terasa panas dari bahunya.
Merasakan perih yang tajam, Yuda hanya mampu mengatupkan giginya.
"Tara, aku sudah tidak bisa terus menahannya," ucap Yuda dengan sedikit gemetar
"Aku tahu itu, tapi jangan lepaskan semuanya, apa kau bisa?" jawab Tara yang masih mengawasi.
Ia memang sengaja tidak ikut campur, karena kucing buntal itu juga penasaran dengan tubuh dan kekuatan Yuda.
Ia penasaran bagaimana bocah bebal itu akan menyelesaikan pertempuran ini.
Yuda akhirnya mengatur napas dan mengalirkan tenaga dalam namun dengan jumlah yang terbatas ke kedua kakinya.
Seketika itu juga, tubuhnya terasa lebih ringan, dan langkahnya menjadi lebih cepat.
Ia kemudian bergerak memutar dan menghantam balik dada sosok pertama dengan telapak tangannya.
Benturan itu cukup keras untuk melemparkan tubuh lawan ke belakang, sosok itu jatuh dan tidak bangkit lagi.
Melihat sosok pertama tidak ada gerakan lagi, sosok kedua langsung berhenti sejenak.
"Target terlihat tidak stabil," teriaknya kepada sosok lain yang ada jauh di belakang mengamati
"Segara catat dan kembali." jawab sosok kedua lalu melompat menghindar mengambil tubuh sosok pertama dan melompat pergi.
Ia melompat mundur dan menghilang di balik batu tanpa ragu, seolah pertarungan ini memang hanya untuk uji coba.
Keheningan pun kembali menyelimuti area terpisah itu.
Brukk...
Terlihat Yuda langsung berlutut dan menarik napas panjang, ia memegangi bahunya yang terasa perih.
Sedangkan aliran tenaga di dalam tubuhnya masih bergejolak.
Tara yang mengamati itu, akhirnya melompat dari batu dan menghampir Yuda lalu menjilati luka yang ada di bahunya dengan diam tanpa sepatah katapun, tidak seperti sebelumnya.
Yuda yang melihat itu hanya diam dan menahan perih yang mulai memudar.
Beberapa saat kemudian, Guruh muncul dari jalur sempit di sisi barat. Tatapannya langsung tertuju pada bekas pertarungan dan darah di tanah.
"Ternyata mereka sudah berani masuk sejauh ini," ucapnya pelan dengan tatapan tajam dan tenang.
Yuda hanya menatapnya dengan diam, namun beberapa saat kemudian ia mulai membuka suara.
"Guru, jadi apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanyanya dengan penasaran.
Mendengar itu, Guruh tidak langsung menjawabnya.
"Sepertinya kau tidak bisa lagi disembunyikan, Yuda," jawabnya kemudian.
"Mulai sekarang, setiap langkahmu akan memancing reaksi pihak lain." lanjutnya dengan menatap tajam ke arah batu besar.
Setelah berkata, Ia langsung berbalik dan melangkah pergi.
"Bersiaplah, karena mereka sepertinya hanya ingin mencoba kekuatanmu, dan ingin mengetahui perkembanganmu. " ucapnya bersamaan dengan langkah kepergiannya.
Guruh berhenti sejenak lalu memutar kepalanya menatap Yuda kembali.
"Ingatlah, selanjutnya nanti mungkin mereka tidak akan memberimu waktu untuk belajar dengan aman, dan mungkin juga bisa membunuhmu disini." ucapnya kembali lalu akhir berbalik dan melangkah pergi lagi.
Yuda yang mendengar perkataan Guruh hanya diam tidak menjawabnya sembari menatap kepergian Guruh.
"Jadi, meskipun aku ada di sini, ini tetap berbahaya untukku, hmmm" gumamnya lirih dengan wajah yang ingin tertawa.
Seolah ia ingin menertawakan dirinya sendiri yang terlalu bodoh mempercayai orang lain.
Tara yang melihat itu hanya mendengus pelan, dan menggelengkan kepalanya.
"Hmmm.. Sepertinya kau sudah sadar akan kebodohanmu sendiri, bocah bebal, hihihi meow-.." gumam Tara lirih menggoda.
"Diamlah, dasar kucing buntal jelek." jawab Yuda dengan kesal.
Mereka berdua pun akhirnya kembali ke gubuk untuk beristirahat, sembari memulihkan lukanya.
"Ternyata air liurmu berguna juga ya Tara, hahaha.. kucing bebal, uhh-.." ucap Yuda dengan mencubit pipi Tara karena gemas.
"Heii bocah bebal, hentikan, bodoh, kau membuatku geli." jawab Tara mencoba melompat dari tangan Yuda.
Wajah kucing itu terlihat kesal dengan taring panjang di mulutnya, namun sebaliknya, reaksi wajah Tara malah membuat Yuda semakin ingin tertawa dan mencubit keras di pipi kucing putih kecil yang buntal itu.
Mereka hanya tertawa, seolah sudah melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Meskipun begitu, Yuda tetap lebih waspada, bahkan saat ini ia hanya mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.
......................