"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Sera!
Drrrrttt....
Drrrrttt....
Suara getar ponsel itu seperti palu kecil yang menghantam suasana tegang di dalam toko kue milik Valeria. Aroma roti panggang dan vanila yang biasanya menenangkan, mendadak terasa menyesakkan.
Valeria dan Anne saling menatap.
Nama di layar ponsel Rodrigo menyala jelas.
Sera.
Tunangan Rodrigo.
Mata Rodrigo berkedip pelan. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia menekan tombol jawab.
Klik.
“SAYANG, KAU DI MANA? KENAPA KAU TIDAK MEMBERI KABAR KEPADAKU?”
Suara Sera yang melengking terdengar sampai ke telinga Valeria. Rodrigo refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
Ia menelan ludah. “Aku sedang sibuk!”
“Sibuk apa?” Suara di seberang terdengar curiga.
“Aku sibuk dengan pekerjaanku Sera.”
Valeria pura-pura sibuk merapikan etalase, tapi tangannya berhenti lebih lama dari seharusnya pada satu nampan croissant.
Tatapannya kosong. Hatinya tidak.
Anne menyikut pelan lengan Valeria. Berbisik, “Sepertinya aku harus kembali ke apartemenku. Akan ada perang dingin sebentar lagi.”
Valeria mendengus kecil. “Berhenti menggodaku!”
Tapi Anne benar.
Setelah panggilan itu berakhir, suasana berubah. Rodrigo menyimpan ponselnya perlahan. Saat ia mendongak, Valeria sudah berdiri tegak dengan ekspresi datar, terlalu datar.
Dingin. Bukan dingin seperti udara sore musim gugur di luar London, melainkan dingin yang sengaja dibangun sebagai dinding.
Langit keabu-abuan menggantung rendah di atas jalanan kota kecil di pinggir London. Daun-daun kecokelatan berterbangan ditiup angin. Toko-toko mulai tutup satu per satu.
Valeria mematikan lampu etalase.
“Aku bantu,” ujar Rodrigo pelan.
Tanpa menunggu izin, ia mulai mengangkat kursi-kursi kayu ke atas meja. Gerakannya masih terbatas, luka tusukan di perutnya jelas belum benar-benar pulih. Setiap ia sedikit membungkuk, wajahnya menegang menahan nyeri.
Valeria melihatnya. Ia tahu pria itu kesakitan. Tapi ia tidak bertanya.
“Tidak perlu memaksakan diri,” katanya akhirnya, suaranya datar.
Rodrigo menoleh. “Aku tidak memaksakan diri.”
“Luka itu belum kering.”
“Tidak separah yang kau kira.”
Valeria menutup laci kasir sedikit lebih keras dari biasanya. “Aku tidak mengira apa-apa.”
Hening. Angin di luar berdesir melewati kaca toko. Rodrigo melangkah mendekat.
“Kau marah?” tanyanya santai.
Valeria terkekeh kecil, tawa tanpa hangat. “Untuk apa?”
Rodrigo menyandarkan tubuhnya pada meja, pura-pura tenang. “Entahlah. Mungkin karena Sera menelepon.”
Valeria menatapnya sekilas. Tatapan yang hanya sepersekian detik, tapi cukup dalam untuk menusuk.
“Itu bukan urusanku.”
“Benarkah?”
“Rodrigo,” ia menghela napas, “kau tunangan orang. Jangan bertingkah seolah aku punya hak untuk merasa apa pun.”
Ucapan itu terdengar dewasa. Terkontrol.
Tapi tangannya menggenggam kain lap terlalu erat.
Rodrigo melihatnya. Ia selalu tahu kebiasaan kecil Valeria saat menahan emosi. Ia tahu rahangnya yang sedikit mengeras. Ia tahu cara napasnya berubah lebih pendek.
Ia tahu. Dan itu sangat menyebalkan.
Rodrigo tersenyum tipis. “Kau cemburu?”
Valeria menatap tajam. “Jangan terlalu percaya diri.”
“Kalau tidak cemburu, kenapa jadi sedingin ini?”
“Aku memang seperti ini kan?”
“Tidak,” Rodrigo menggeleng pelan, “kau tidak seperti ini kemarin.”
Kalimat itu seperti percikan api kecil.
Valeria mendekat satu langkah. “Memang aku bagaimana kemarin? Aku biasa saja, menurutmu saja itu!”
Rodrigo terdiam sejenak. Angin kembali berembus di luar. Senja semakin gelap.
“Aku tidak memilih dipanggil begitu,Sera yang memanggil begitu!” katanya akhirnya.
“Maaf itu bukan urusanku.”
Nada suara Valeria masih tenang. Itulah yang membuatnya terasa lebih tajam.
Rodrigo mengusap pelan perutnya yang berbalut perban. Rasa nyeri berdenyut samar. Namun, senyumnya tidak hilang.
“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau begitu aku akan pergi.”
Valeria terdiam.
Ada jeda.
Satu detik.
Dua detik.
Rodrigo melangkah ke arah pintu. Tapi langkahnya sedikit goyah. Wajahnya memucat sepersekian detik sebelum ia menahannya.
Valeria melihatnya.
Sial.
“Berhenti.”
Satu kata itu keluar lebih cepat dari yang ia inginkan.
Rodrigo berhenti. Perlahan ia menoleh, pura-pura bingung. “Kenapa?”
“Kau bahkan belum bisa berjalan lurus,” ujar Valeria ketus.
“Aku bisa.”
Baru saja ia berkata begitu, tubuhnya sedikit oleng saat rasa perih menusuk. Ia menahan napas. Desisan pelan keluar dari bibirnya.
Valeria mendecak pelan, kesal—pada dirinya sendiri karena masih peduli.
“Duduk,” perintahnya.
Rodrigo tersenyum samar. “Kupikir kau ingin aku pergi.”
“Aku memang ingin kau pergi.”ujarnya.
“Tapi?” Valeria menatapnya lama. “Aku tidak ingin ada pria mati di depan toko ku karena keras kepala.”
Rodrigo terkekeh pelan. “Jadi ini murni rasa kemanusiaan?”
“Ya.”
“Kau tidak peduli padaku?”
Valeria terdiam. Hanya suara jarum jam kecil di dinding yang terdengar.
Rodrigo mendekat lagi, kali ini lebih pelan. “Kalau kau tidak peduli, kau tidak akan memintaku berhenti.”
Valeria mendongak, menatapnya tepat di mata. “Jangan menguji kesabaranku.”
Rodrigo tersenyum tipis. Menyebalkan. Tenang. Seolah ia memegang kendali.
“Lukaku belum sembuh,” katanya pelan.
“Lalu?”
“Apartemenku jauh dari sini. Tidak ada yang bisa mengganti perbannya setiap hari, jika aku di sana.”
Valeria sudah tahu arah pembicaraan ini. “Rodrigo.”
“Aku bisa tinggal disini kan sampai sembuh, seperti katamu kemarin.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau punya tunangan.”
“Dan?”
“Dan itu tidak pantas.”
Rodrigo menatapnya dalam. “Aku tidak mencintainya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Valeria membeku sepersekian detik sebelum kembali memasang ekspresi dingin. “Itu bukan masalahku.”
“Tapi kau masih mencintaiku.”
Napas Valeria tercekat. Namun ia cepat memalingkan wajah. “Kau terlalu percaya diri.”
Rodrigo melangkah lebih dekat. Kali ini jarak mereka hanya beberapa senti. Aroma parfum maskulin bercampur dengan wangi gula dan kayu manis.
“Kalau tidak, kenapa matamu berubah setiap kali namanya disebut?”
Valeria membeku. Ia benci bahwa pria ini masih bisa membacanya. “Aku lelah,” katanya pelan. “Aku ingin menutup tokoku dan segera beristirahat.”
Rodrigo terdiam. Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan kesan main-main.
“Aku selalu ingin seperti ini! Menikah denganmu, kembali denganmu dan hidup berdua bersamamu.”
Deg!
“Kau sudah tidak waras. Kau sudah mempunyai tunangan Rodrigo.”
Itu tamparan yang lembut tapi nyata.
Hening panjang. Akhirnya Rodrigo menghela napas pelan, lalu duduk perlahan sambil meringis tipis menahan nyeri.
“Baik,” katanya lirih. “Anggap saja aku egois. Tapi untuk kali ini saja, biarkan aku dirawat di sini. Sampai lukaku sembuh.”
Valeria menatapnya ragu. “Setelah itu?” tanyanya.
“Aku akan pergi.”
“Kembali pada tunanganmu?”
Rodrigo menatapnya lama. “Aku akan menyelesaikan semuanya.”
Jawaban itu tidak jelas. Dan itu membuat hati Valeria semakin tidak tenang. Namun saat ia melihat noda darah samar merembes di balik perban, pertahanannya runtuh sedikit.
“Kau tidur di kamarku,” katanya akhirnya, suaranya kembali profesional. “Aku hanya merawat lukamu. Tidak lebih.”
Senyum tipis kembali muncul di wajah Rodrigo. “Tidak lebih,” ulangnya.
Tapi sorot matanya mengatakan sesuatu yang berbeda. Di luar, lampu jalan mulai menyala satu per satu di kota kecil pinggiran itu. Angin semakin dingin.
Dan di dalam toko kue kecil yang hangat itu, dua hati keras kepala kembali terjebak dalam jarak yang terlalu dekat dan terlalu berbahaya.