“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: REUNI TAK TERDUGA DAN CAHAYA HARAPAN
Suasana di dalam ruang kantor mewah Tulip Jewelry seketika membeku. Jarum jam yang berdetak di dinding seolah terdengar seperti hantaman palu di telinga Rimba. Kakek Jayadi, sang legenda hidup industri permata, menatap Rimba dengan mata yang berkaca-kaca, napasnya tersengal seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu.
"Astaga... jadi kau benar-benar Rimba? Anak dari Brian yang selamat dari kecelakaan maut belasan tahun lalu itu?" tanya Kakek Jayadi dengan suara bergetar hebat.
Rimba terdiam sejenak, menelan ludah sebelum menjawab dengan suara rendah namun mantap. "Iya, Kakek. Itu saya."
Mendengar konfirmasi itu, Kakek Jayadi mencoba bangkit dari kursi rodanya meskipun gagal, lalu ia memberi isyarat agar Rendi mendorongnya mendekat ke arah Rimba. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan kini tampak memancarkan rasa penyesalan sekaligus kebahagiaan yang mendalam.
"Brian dan Maharani... mereka bukan sekadar rekan bisnis bagi kami, Rimba. Mereka adalah teman dekat keluarga ini," ujar Kakek Jayadi sambil menyentuh tangan Rimba. "Selama bertahun-tahun, ayahmu adalah sumber utama batu mulia dan kristal berkualitas tinggi bagi Tulip Jewelry. Kerja sama kami bukan hanya soal uang, tapi soal kepercayaan."
Kakek Jayadi menghela napas panjang, mengenang masa-masa itu. "Ibumu, Maharani, adalah wanita yang sangat tertutup mengenai masa lalunya. Dia tidak pernah menceritakan dari mana asal kampung halamannya. Saat kecelakaan tragis itu terjadi, kami sekeluarga hancur. Kami sering datang ke rumah sakit untuk membesukmu saat kau masih dalam keadaan kritis. Kami ingin memastikan kau mendapatkan perawatan terbaik."
Ia kemudian menatap langit-langit ruangan seolah memutar kembali memori pahit tersebut. "Suatu hari, kami kecolongan. Saat kami datang ke rumah sakit, pihak medis bilang kau sudah dibawa pulang oleh keluargamu. Kami mencoba mencari, bertanya ke sana-kemari, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu ke mana kau dibawa. Kami sempat berpikir mungkin keluarga Brian membawamu pulang ke Amerika untuk rehabilitasi."
Rimba mendengarkan dengan saksama. Ia baru tahu bahwa ada orang-orang di luar desa yang peduli padanya saat ia kecil dulu.
"Pencarian kami terhenti karena takdir berkata lain," lanjut Kakek Jayadi sambil melirik ke arah putranya, Om Toni. "Tak lama setelah kau menghilang, aku dan Toni juga mengalami kecelakaan hebat. Itulah yang membuat kami lumpuh dalam pencarian. Kami menghabiskan waktu bertahun-tahun di rumah sakit."
Ia menunjuk ke kakinya sendiri yang layu di atas kursi roda. "Kau bisa melihatku sekarang, Rimba. Aku kehilangan kemampuan berjalanku. Dan lihatlah Toni," Kakek Jayadi menunjuk bahu kanan putranya yang tampak naik sebelah dan kaku. "Bahu kanannya rusak permanen, dia bahkan kesulitan menoleh ke arah kanan. Kami memang lebih beruntung dari orang tuamu karena masih hidup, tapi hidup dalam cacat seperti ini sungguh menderita."
Air mata mulai mengalir di pipi sang kakek. "Maafkan kami, Rimba. Maafkan kami karena tidak lebih keras mencarimu. Kami sungguh merasa berdosa membiarkan anak sahabat kami terlunta-lunta sendirian."
Rimba tersentuh melihat ketulusan pria tua di hadapannya. Ia segera menggenggam tangan Kakek Jayadi dengan lembut. "Kakek tidak usah meminta maaf. Kakek tidak salah sedikit pun. Saya hidup tenteram dan damai di Desa Kenanga bersama kakek dari garis ibu. Beliau merawat saya dengan sangat baik, meskipun beliau baru saja berpulang dua bulan yang lalu."
Kakek Jayadi mengangguk-angguk kecil, mencoba menghapus air matanya. "Aku senang... aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Melihatmu tumbuh sebesar ini, gagah dan tampan seperti Brian. Aku yakin orang tuamu di atas sana sedang tersenyum bangga melihatmu sekarang. Semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya."
---
Keheningan melankolis menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat, hingga tiba-tiba ponsel di saku Rimba bergetar singkat. Sebuah notifikasi muncul di layar. Akun banknya baru saja mendapatkan suntikan dana sebesar 47 Miliar Rupiah.
Rimba melihat ke arah Rendi yang berdiri di samping ayahnya. "Terima kasih, Bang Rendi. Dananya sudah masuk," ucap Rimba sopan.
Rendi mengangguk mantap. "Itu sudah menjadi hakmu, Rimba."
Rimba segera mengirim pesan melalui ponselnya kepada Lara di Dimensi Independen. "Ra, suruh Aether mengumumkan di website bahwa lelang resmi ditutup. Pemenangnya telah ditentukan dengan penawaran tertinggi 47 Miliar."
Hanya dalam hitungan detik, jawaban singkat muncul di ponselnya. "Oke."
Rimba menyeringai tipis. Lara memang kadang singkat dan padat, sebuah kontras yang menarik dengan kepribadian dirinya yang sedikit cerewet kalau sedang bersama dengan Lara.
Om Toni, yang sejak tadi mengamati dalam diam, akhirnya memecah kesunyian. "Jadi, Rimba, setelah ini apa rencanamu? Dengan uang sebanyak itu, kau bisa melakukan apa saja."
Rimba tersenyum tulus. "Saya akan menetap di kota ini untuk sementara, Om. Saya baru saja diterima di Universitas Buana Cakrawala jurusan IT melalui jalur beasiswa. Saya ingin menuntaskan pendidikan saya terlebih dahulu."
Mendengar hal itu, mata Om Toni berbinar. "Oh! Itu universitas yang bagus. Mengapa tidak tinggal di rumah kami saja? Rumah kami besar dan sepi, kau akan punya banyak ruang di sana. Meskipun jaraknya agak jauh dari kampus, tapi itu bukan masalah. Kami bisa membelikanmu mobil untuk transportasi harian."
"Terima kasih atas tawaran baiknya, Om," jawab Rimba halus. "Tapi biarkan saya mengurus pendaftaran ulang dan administrasi kampus terlebih dahulu. Mengenai tempat tinggal, nanti kita bisa bicarakan lagi."
---
Sambil berbincang, Rimba secara diam-diam mengaktifkan kemampuan Visi Asura-nya. Matanya menajam, seolah sinar laser yang mampu menembus pakaian, kulit, hingga ke jaringan saraf Kakek Jayadi dan Om Toni. Di dalam pandangan batinnya, Rimba melihat jalur meridian yang tersumbat parah pada kaki Kakek Jayadi akibat trauma saraf tulang belakang. Sementara pada Om Toni, terdapat dislokasi tulang dan peradangan kronis pada jaringan ligamen bahu yang tidak menyatu dengan benar pasca operasi.
Dengan ilmu pengobatan yang ia pelajari dari perpustakaan mental dan bimbingan Lara, Rimba tahu ia bisa menyembuhkan mereka. Tapi ia harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak terlihat terlalu mencolok.
"Maaf Kakek," tanya Rimba dengan nada peduli. "Tadi Kakek bilang sudah tidak bisa berjalan sejak kecelakaan. Apakah benar-benar tidak ada dokter yang sanggup mengobatinya?"
Kakek Jayadi mendesah pasrah. "Sudah tak terhitung jumlah dokter spesialis dari Singapura, Jerman, hingga Amerika yang kami datangi. Kami sudah mencoba berbagai terapi, namun saraf motorikku dinyatakan mati total. Tidak ada lagi harapan."
Rimba menatap mata kakek itu dengan dalam. "Bagaimana jika saya katakan bahwa saya bisa mencoba untuk memperbaikinya? Apakah Kakek dan Om akan percaya pada saya?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Rendi, Om Toni, dan Kakek Jayadi menatap Rimba dengan pandangan tidak percaya.
"Kau... mengerti ilmu pengobatan?" tanya Kakek Jayadi dengan mata terbelalak. "Di mana kau belajar hal seperti itu, Nak?"
Rimba tersenyum tipis, mencari alasan yang masuk akal. "Kakek saya di desa adalah seorang ahli pengobatan tradisional yang cukup dikenal. Beliau mengajari saya sedikit demi sedikit tentang titik meridian dan ramuan herbal. Saya ingin mencoba mengaplikasikannya jika Kakek dan Om bersedia."
Kakek Jayadi dan Om Toni saling berpandangan. Ada secercah harapan yang muncul di tengah keputusasaan bertahun-tahun. "Kami sudah mencoba segala cara yang logis dan medis, Rimba. Jika kau ingin mencoba, kami tentu tidak keberatan. Siapa tahu tanganmu membawa keajaiban," jawab Kakek Jayadi mantap.
"Baiklah. Apakah Kakek dan Om tinggal di gedung ini?" tanya Rimba.
"Tidak, di sini hanya kantor dan galeri," jawab Om Toni. "Rumah kami ada di pinggiran kota bagian utara. Kenapa kau bertanya?"
"Karena proses pengobatan ini akan sangat menguras tenaga kalian. Sebaiknya dilakukan di tempat tidur masing-masing, karena setelah terapi berakhir, Kakek dan Om akan langsung tertidur pulas sampai besok pagi untuk proses pemulihan saraf," terang Rimba dengan nada profesional.
"Kalau begitu, ayo kita pulang sekarang juga!" ajak Om Toni penuh semangat.
---
Mereka berempat segera beranjak menuju lobi dan area parkir. Rendi mendorong kursi roda kakeknya dengan gesit. Di depan pintu masuk, sebuah sedan mewah Rolls-Royce sudah menunggu.
"Rimba, kamu ikutlah di mobil Rendi," ajak Om Toni saat hendak masuk ke mobil.
"Tidak usah, Om. Saya tadi datang memakai motor. Biar saya mengikuti kalian dari belakang," jawab Rimba sambil menunjuk ke arah parkiran.
Om Toni menoleh ke arah yang ditunjuk Rimba. Di sana, di samping sebuah BMW seri 7 milik Rendi, terparkir sebuah Harley Davidson Fat Boy hitam yang tampak sangat gahar dan dominan.
"Walah! Pantas kamu tidak mau naik mobil!" seru Om Toni sambil tertawa kagum. "Motormu keren sekali, Rimba. Sangat cocok dengan postur tubuhmu yang tinggi besar itu. Baiklah, ayo berangkat!"
BMW Rendi memimpin jalan, diikuti Rolls-Royce kakeknya, dan Rimba berada di barisan paling belakang. Raungan mesin Harley-nya memberikan irama yang sangar di jalanan kota. Rimba menunggangi motor itu dengan santai, kemeja flanelnya berkibar diterpa angin, menjadikannya pusat perhatian pengguna jalan lainnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka memasuki sebuah kawasan perumahan eksklusif yang sangat tertutup. Setelah melewati gerbang baja besar yang dijaga ketat, mereka masih harus menempuh jarak sekitar lima ratus meter menyusuri jalan aspal mulus di antara pepohonan rindang sebelum akhirnya sampai di depan sebuah bangunan megah.
Rimba memarkir motornya di samping BMW Rendi. Ia turun dan menatap rumah di hadapannya. Bangunan itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah mansion bergaya klasik modern yang sangat elegan. Pilar-pilar besar penyangga atap, jendela kaca setinggi langit-langit, dan taman yang tertata rapi menunjukkan kelas sosial keluarga ini.
"Selamat datang di kediaman Jayadi, Rimba," ucap Rendi sambil merangkul bahu Rimba.
Rimba mengangguk kagum. "Rumah yang luar biasa, Bang."
Mereka masuk ke dalam, disambut oleh deretan asisten rumah tangga yang sangat profesional. Interior rumah itu didominasi oleh kayu mahoni dan marmer Italia, memberikan kesan hangat namun mewah. Rimba berjalan di belakang kursi roda Kakek Jayadi, matanya terus mengamati aliran energi di dalam rumah tersebut. Ia tahu, hari ini ia bukan hanya akan menyembuhkan fisik dua orang ini, tapi ia juga sedang membangun pondasi keluarga baru di kota yang asing ini.
"Mari, Rimba. Kita ke kamar Eyang dulu," ajak Om Toni. Rimba mengangguk, menyiapkan energi Qi di dalam tubuhnya untuk memulai sebuah pengobatan yang akan mengguncang logika medis dunia.