Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SUARA DI TENGAH MALAM
Malam itu, rumah keluarga Anantara terasa seperti kuburan. Setelah makan malam yang penuh dengan sindiran tajam dari Mama Luna, Alsya mengunci diri di kamar. Dia diperintahkan untuk belajar, tapi matanya terus tertuju pada tumpukan buku di pojok ruangan. Di sela-sela buku tebal itu, dia menyembunyikan ponsel pemberian Samudera.
Setelah memastikan lampu di lorong rumah sudah mati dan tidak ada lagi suara langkah kaki Papa Saga, Alsya mengambil ponsel kecil itu. Jarinya dengan gemetar menekan tombol panggil pada satu-satunya kontak yang ada di sana.
Hanya dua kali nada sambung, suara berat itu terdengar.
"Belum tidur, Sya?" tanya Samudera. Suaranya terdengar jauh lebih lembut lewat telepon, membuat dada Alsya berdesir.
"Belum bisa. Gue... gue takut ketahuan, Sam. Rumah gue lagi dijaga banget. Papa bahkan nyuruh satpam depan buat lapor kalau ada motor yang berhenti kelamaan di depan gerbang," bisik Alsya sambil menutupi kepalanya dengan selimut agar suaranya tidak keluar kamar.
"Tenang aja. Gue nggak bakal ke sana kalau situasinya nggak aman. Loe lagi apa sekarang?"
"Lagi di bawah selimut. Kayak buronan aja, kan?" Alsya tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak dia rasakan di rumah ini.
"Loe emang buronan, Sya. Buronan hati gue," sahut Samudera datar, tapi Alsya tahu cowok itu sedang menggodanya.
"Sam! Gombal banget sih, nggak cocok sama muka loe yang galak itu!" Alsya memukul bantalnya pelan, wajahnya memanas di balik kegelapan selimut.
Mereka terdiam sejenak. Keheningan itu terasa nyaman, seolah jarak di antara mereka tidak lagi berarti.
"Sya," panggil Samudera tiba-tiba.
"Ya?"
"Loe percaya nggak kalau suatu saat nanti, loe bakal bisa keluar dari rumah itu tanpa rasa takut? Loe bakal bisa jadi Alsya yang loe mau, bukan Alsya yang Papa loe mau."
Alsya menarik napas panjang. "Gue pengen percaya, Sam. Tapi setiap kali gue di rumah ini, gue ngerasa kayak nggak punya tenaga buat mimpi setinggi itu."
"Kalau loe nggak punya tenaga, gue yang bakal jadi tenaga loe. Gue janji, suatu hari nanti gue bakal bawa loe pergi ke tempat di mana loe bisa ketawa lepas tanpa perlu mikirin Eliza atau Revaldi," ucap Samudera dengan nada yang sangat serius.
Hati Alsya menghangat. Selama ini, orang tuanya hanya menuntutnya menjadi sempurna, tapi Samudera justru menawarkan kebebasan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di depan pintu kamar Alsya. Klek. Gagang pintu dicoba dibuka dari luar, tapi untungnya terkunci.
"Alsya? Sudah tidur kamu? Kenapa lampunya mati tapi kamu belum menjawab Mama?" suara Luna Ayunda terdengar tajam di balik pintu.
Alsya panik. Dia segera mematikan sambungan telepon dan menyelipkan ponsel itu di bawah bantal. "Udah tidur, Ma! Tadi lagi pake earphone dengerin musik!"
"Buka pintunya, Mama mau cek ponsel lama kamu yang mungkin masih kamu sembunyikan!"
Alsya langsung pucat pasi. Dia buru-buru menyembunyikan ponsel pemberian Samudera ke dalam sarung gulingnya yang paling dalam, lalu membuka pintu dengan wajah pura-pura mengantuk.
Luna masuk dan menggeledah meja belajar serta tas sekolah Alsya dengan kasar. Dia tidak menemukan apa-apa.
"Ingat ya, Alsya. Jangan coba-coba membohongi Mama. Sekali saja Mama tahu kamu masih berhubungan dengan cowok itu, Mama tidak akan segan-segan mengirim kamu ke asrama di luar pulau," ancam Luna sebelum akhirnya keluar dan mengunci pintu kamar Alsya dari luar.
Alsya terduduk di lantai setelah ibunya pergi. Dia gemetar hebat. Penjara ini semakin sempit. Dia mengambil kembali ponsel dari dalam guling dan melihat sebuah pesan masuk.
Samudera: Gue denger semuanya tadi. Jangan takut. Besok di sekolah, kita cari jalan keluar. Loe harus kuat, Sya.
Alsya memeluk ponsel itu di dadanya. Dia tahu, mulai sekarang, setiap detik adalah perjuangan. Tapi selama ada Samudera di ujung telepon, dia merasa masih sanggup untuk bertahan.
Ketegangan di rumah makin parah! Mama Luna bener-bener posesif.
Bersambung....