sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Aku tidak akan melupakan malam pertama bertemu dengannya . Jangan lihat penampilannya , karena kalian akan tertipu menyangkanya hanya seorang laki-laki separuh baya pengangguran , yang lebih suka duduk melamun dan tidak peduli sekitar . Salonga menemuiku di tempat berlatih keluarga tong . Dia menatapku tidak peduli sambil menggaruk rambut yang berantakan . Kemudian dia melemparkan Sepucuk pistol padaku . Di seberang kami , terpisah empat langkah dariku , sebuah tiang kayu telah berdiri dengan papan melintang di atasnya . Di atas papan itu ada 6 botol kosong .
"namamu Kenzy, bukan?" suara Salonga terdengar serak, menggunakan bahasa inggris.
Aku mengangguk.
"dengarkan aku baik baik. Ada dua peluru di dalam pistolmu, Kenzy. Latihanmu malam ini mudah. kau harus menjatuhkan enam botol kosong di depanmu dengan dua peluru itu." Salonga kemudian beranjak duduk di belakangku. Tidak peduli.
Dua peluru, enam sasaran. Aku menelan ludah. Bagaimana caranya? Aku menoleh ke arah kopong yang ikut menemaniku berlatih. Kopong mengangkat bahu, berbisik, lakukan saja, Kenzy.
Malam itu, aku berlatih logika menggunakan pistol paling mendasar. Jarakku dengan enam botol itu dekat, hanya dua meter, mudah sekali bagiku menjatuhkan botol kosong itu. Tapi dengan dua peluru di pistol, maka hanya itu saja yang berhasil kujatuhkan. Dua botol itu pecah berhamburan saat terkena peluru. Empat sisanya tetap berdiri di atas papan.
"bodoh!" Salonga memakiku.
Aku menoleh-menelan ludah, tidak menyangka akan dimaki.
"kau kusuruh menjatuhkan enam botol dengan dua peluru. Berapa yang kau jatuhkan hah? Atau kau bahkan tidak bisa berhitung. Pasang lagi botol lainnya, isi pistolmu dengan dua peluru."
Malam itu, hanya itu yang latihan yang kulakukan. Setiap kali aku menembak dua botol, Salonga memakiku. Kemudian menyuruhku memasang botol kosong baru-ada banyak botol kosong di dalam kotak kayu-lantas memasukkan dua peluru ke dalam pistol, mengulangi lagi latihan tersebut.
1 jam berlalu dan aku tetap tidak bisa menjatuhkan 6 botol dengan Dua peluru , wajahku merah padam karena kesal . Bagaimana cara agar aku bisa melakukannya ? tidak mungkin . Aku butuh enam peluru , maka semua botol baru bisa dijatuhkan .
Kopong yang berdiri di sebelahku mengusap wajahnya , juga tidak mengerti .
2 jam berlalu . Salonga berdiri , lalu meraih paksa pistol dariku .
"kau lihat, Kenzy!" Salonga mendengus, "pelurumu hanya dua, sedangkan ada enam botol didepanmu. apa yang kusuruh?, jatuhkan enam botol itu. Lihat! perhatikan baik baik, bodoh!"
Tangan Salonga teracung kedepan. Pistol tidak terarah ke botol manapun melainkan ke bawahnya . Salonga menembak tiang kayu . Satu tembakan terdengar , tiang kayu hancur separuh Sisi , Masih Berdiri meski sudah bergetar . Satu tembakan lagi meletus , maka tiang kayu itu pun Patah Menjadi Dua . 6 botol jatuh ke lantai serempak . Pecah berhamburan .
"pistol ini hanya benda mati, Kenzy! Tidak bisa berpikir. Tidak bisa menembak sendiri. Yang berpikir adalah orang yang memegangnya. Tidak ada yang menyuruhmu menembak langsung botol botol itu, kau hanya diminta menjatuhkannya. Itulah pemegang pistol yang bodoh. Tapi pemegang pistol yang pintar, dia fokus pada misinya. Kau paham, hah?"
Aku terdiam. Juga kopong di sebelahku.
"pelajaran malam ini cukup. aku bosan melihat wajah anak ini. Dia sama bodohnya seperti penembak lain. Dia butuh waktu lama sekali hingga bisa mendengar pistol di tangannya. Entah apa yang tauke pikirkan saat menjadikan anak ini anak angkatnya. Bodoh sekali." Salonga melangkah meninggalkanku dengan muka masam.
Aku sungguh terdiam kali ini. Dalam satu tarikan nafas, Salonga sudah menyebutku bodoh dua kali.
"jangan kau masukkan ke dalam hati, Kenzy."
kopong menepuk pundakku, berusaha menghibur, "dia memang suka marah marah sejak aku membawanya dari Filipina. Dia mungkin masih sakit hati atas pengkhianatan kliennya di sana."
Aku menggeleng. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku justru sedang bersemangat. Aku sudah menemukan guru terbaik berikutnya.