Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan masa lalu
DISTRICT CORNER, mereka adalah musuh bebuyutan geng SHADOW VIPERS. Mereka selalu terlibat kontak fisik di area balapan maupun saat berpapasan di jalan. DISTRICT CORNER dipimpin oleh Lionel, senior Faisal di sirkuit yang merasa terusik dengan bakatnya di dunia balapan. kejadian puncaknya terjadi saat malam tahun baru, dimana DISTRICT CORNER dan SHADOW VIPERS memperebutkan daerah kekuasaan melalui balapan. Lionel yang tak terima dikalahkan oleh Faisal juniornya, merasa malu. Ia datang menghampiri Faisal dan memukulnya. Baku hantam pun tak terhindarkan lagi, Yadi dan anggota lainnya berhasil mengalahkan anggota geng DISTRICT CORNER, sedangkan Faisal terlihat kesulitan menghadapi Lionel yang menguasai beberapa teknik bela diri. Faisal terlihat kalah telak dari Lionel, tapi saat Lionel hendak memukul Faisal yang sudah terkapar lemas. Ia melihat sekitar, anggotanya telah habis. Lionel pun bergegas menuju motornya dan meninggalkan Faisal.
" URUSAN KITA BELUM SELESAI, AWAS KALIAN! " teriak Lionel.
Sejak saat itu, DISTRICT CORNER dan SHADOW VIPERS menjadi musuh bebuyutan hingga sekarang.
.......
Faisal menoleh ke arah spion, rahangnya mengeras. Sial, itu Lionel. Ucapnya dalam hati.
" Ganti Jalur, Sal. Jangan lewat sini!' tegas Aruna.
" Terlambat sayang, mereka udah di belakang kita. " balas Faisal.
Tiba tiba, 3 motor yang dicat serba hitam menyalip mereka dari sisi kanan dan kiri. Motor pertama langsung memotong jalur Faisal, memaksa Faisal untuk mengerem mendadak. Aruna hampir terhuyung kedepan.
" WOY, HATI HATI KALO BAWA MOTOR! " teriak Faisal, mencoba menjaga emosinya agar tidak meledak.
Benar saja, pengendara motor yang memotong jalur Faisal itu adalah Lionel, seorang pemuda bertubuh kekar, membuka full facenya, terlihat beberapa tato di lehernya. Lionel menatap Faisal dengan tatapan meremehkan.
" Faisal,..... Si binatang buas dari SHADOW VIPERS, masih inget gua bro? " Ucap Lionel menganggukan kepala sambil diiringi senyum licik.
" Lionel, Gue ga punya urusan sama Lo, mending Lo cabut sana."
" Cabut? Ini jalan gue, seharusnya Lo ga lewat sini." ucap Lionel. Suara nya serak dan intimidatif.
" Eh Bangs*** ini jalan umum. Kita cuma mau lewat." Sahut Faisal, tangannya sudah mengepal.
Lionel turun dari motornya dan menghampiri Faisal.
" Jalan umum? Kaya nya lo salah! "
Segerombolan motor vintage datang dari kejauhan menghampiri Faisal.
" WOY, SIALAN! JANGAN GANGGU TEMEN GUE! ATAU LO BAKAL TAU AKIBATNYA APA!"
Lionel menoleh ke arah suara itu, ia terkejut.
" Itu Yadi, gak mungkin....... CABUT! " ajak Lionel kepada dua temannya.
Lionel bergegas pergi meninggalkan Faisal, Lionel sadar dia kalah jumlah.
" Yadi ...... " Ucap Faisal.
Yadi hanya menoleh sepersekian detik. " KITA KEJAR MEREKA!" Teriak Yadi kepada gengnya.
Yadi melaju sangat cepat diikuti beberapa anggota gengnya dibelakang.
Tatapan itu menghantam Faisal seperti pukulan keras.
" pegangan yang kuat, aku takut mereka balik lagi! " seru Faisal.
Aruna mengangguk, raut wajahnya menunjukan kesedihan. Ia tahu, Yadi menjauhi Faisal karena dirinya.
Mesin motor meraung, mengeluarkan asap tebal dari knalpotnya. Faisal menoleh kebelakang, ia merasa ada yang janggal dengan Aruna.
" Kamu gapapa kan, Na? " tanya Faisal. ' Apa kita mau langsung pulang aja? "
" Gapapa, lanjutin aja." jawab Aruna lemas.
Mereka tiba dijalan raya utama, suasana berubah total. Klakson mobil, lampu jalan yang mulai menyala, dan keramaian pengguna jalan langsung menyambut mereka.
setelah sampai di tujuan, Faisal memarkirkan motornya. Ia mematikan mesin, dan keheningan terasa memekakkan telinga. Aruna tak berbicara apa apa, dia diam seperti ada yang sedang disembunyikan.
Aruna turun dari motor, wajahnya ditekuk. Ia menggandeng tangan Faisal, air matanya tumpah karena merasa bersalah.
" Maaf ya,Sal. mungkin gara gara aku, kamu jadi jauh sama temen temen kamu!"
Faisal melepaskan genggaman tangan Aruna. Lalu memegang bahu Aruna erat, ia menatap serius.
" Perpisahan pasti bakal terjadi, kapanpun itu. Gak peduli kita siap atau ngga, perpisahan pasti datang. Kamu gausah ngerasa bersalah. "
Sore itu dibawah lampu jalan, mereka tidak hanya berhasil menyelamatkan diri. Tetapi juga mengukuhkan janji, bahwa mereka akan selalu berjuang bersama, melawan bayangan hitam dibalik roda gila.
....….....
Langit diatas sekolah itu selalu berwarna kelabu bagi Faisal. Bukan karena cuaca, tapi karena hidupnya sendiri. Jam dua siang, bel pulang berdering nyaring. Dan Faisal sudah duduk diatas motornya, diparkiran belakang dekat markasnya dulu. Sebatang roko terselip diantara jemarinya. Asapnya mengepul, membawa aroma pemberontakan.
Saat Faisal hendak menghisap rokok untuk yang terakhir, suara yang lembut memecah keheningan.
" Kamu ngerokok lagi? "
Faisal menoleh, Aruna berdiri tak jauh dari belakangnya.
Faisal buru buru mematikan rokoknya diaspal menggunakan ujung sepatu.
" Cuma satu, ini yang terakhir hari ini."
Aruna tidak tersenyum, kekecewaan terlintas dimatanya. Ini terasa lebih menyakitkan dari pukulan.
" Janji itu bukan tentang kuantitas. Tapi tentang komitmen. Sekarang, terserah kamu."
Faisal turun dari motor, merasa harga dirinya menciut. Ia tahu, Aruna adalah satu satunya orang yang ia punya saat ini. Dia adalah alasan Faisal mencoba melepaskan diri dari dunia kelamnya.
" Na, aku minta maaf. Aku.... Cuman lagi stres sama apa terjadi belakangan ini."
Aruna menghela nafas. Dia melangkah maju dan meraih tangan Faisal.
" Aku tau..... Aku tau ini ga gampang buat kamu. masa lalu kamu berat, tapi kamu harus memilih. Mau terus terperangkap disana, atau berjuang untuk masa depan yang kita impikan? " Aruna menatapnya lurus. " aku ga minta kamu jadi orang lain. Aku cuman minta kamu jadi versi terbaik dari diri kamu sendiri. Versi yang pantas untuk kita berdua. "
Kata kata ' kita berdua ' selalu berhasil meluluhkan hati Faisal. Faisal memegang tangan Aruna erat erat.
" Aku janji, aku bakal buktiin. Aku bakal belajar, aku bakal berhenti merokok, dan aku bakal berubah untuk masa depan kita. "
Janji itu diucapkan dibawah langit sekolah yang kini terasa lebih cerah. Namun tiba tiba, disudut jalan sebuah motor vintage melaju pelan, pengendaranya tak asing. Ia melepaskan masker yang menutupi wajahnya dan tersenyum tipis, itu Yadi.
-Bayangan Masa lalu tak pernah semudah itu dilepaskan.
Malam ini, adalah malam yang dingin dan membosankan bagi Faisal. Faisal sedang duduk diatas tembok pembatas bangunan rumahnya dengan tetangga, tempat favoritnya untuk melamun. Tatapannya kosong, menengadah. Pikirannya melayang pada Aruna dan konflik yang terjadi dengan sahabatnya.
apakah aku harus benar benar memilih antara sahabat atau pacar? - batin Faisal.
Keesokan nya pukul 14.30. Bel pulang berbunyi. Faisal memutuskan untuk menunggu Aruna di gerbang utama, Faisal memilih memotong jalan lewat sisi koridor perpustakaan yang sepi. Saat melintasi deretan jendela kaca, pandangannya terhenti oleh sebuah pemandangan si sudut perpustakaan.
Faisal berhenti mendadak, udara serasa menipis. Diantara rak rak tinggi yang dipenuhi buku, terlihat samar, Aruna sedang berdiri, ia tidak sendiri, ada seorang pria yang tak Faisal kenal didepannya. Mereka terlihat sangat akrab, saling melempar senyum satu sama lain. Membuat dada Faisal terasa sangat sesak.