Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32
Magnus keluar dari celah ventilasi dengan napas yang tersengal, pundaknya terasa seakan hendak copot menahan beban tubuh Paul yang semakin tak berdaya.
Begitu kakinya menginjak aspal area parkir belakang yang basah, pemandangan yang menyambutnya adalah sebuah potret kekacauan yang sempurna.
Langit malam yang hitam kini berubah menjadi jingga kemerahan akibat pantulan api yang melalap sebagian sayap gedung Delphi Hospital
Suasana di luar jauh lebih hiruk-pikuk daripada yang ia bayangkan sebelumnya sirene dari belasan ambulans yang baru tiba meraung-raung, saling bersahutan dengan klakson mobil pemadam kebakaran yang mencoba membelah kerumunan manusia yang panik.
"Medis! Aku butuh tim medis di sini sekarang juga!" teriak Magnus dengan suara parau yang hampir tenggelam dalam kebisingan massa.
Sejurus kemudian, Cade dan beberapa paramedis berlari menghampiri dengan tandu lipat. Mereka dengan sigap mengambil alih tubuh Paul dari rangkulan Magnus.
Paul tampak sangat pucat, matanya terpejam rapat dengan sisa darah yang mengering di pelipisnya.
Di sekeliling mereka, para petugas pemadam kebakaran sedang sibuk mengulur selang-selang raksasa, menyemprotkan air ke arah jendela lantai bawah yang memuntahkan asap pekat. Debu, uap air, dan bau hangus bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada bagi siapa pun yang berada di sana.
Magnus berdiri diam sejenak, mencoba mengatur napasnya sambil menyeka keringat dan debu yang menutupi wajahnya. Ia melihat ke arah gerbang utama, di mana puluhan polisi sedang berjuang keras membentuk barisan pembatas untuk menghalau kerumunan warga dan wartawan yang mulai berdatangan.
Rodi terlihat di tengah kerumunan, wajahnya merah padam saat ia meneriaki beberapa orang yang mencoba masuk kembali ke area gedung untuk mencari barang-barang mereka yang tertinggal.
"Tetap di belakang garis kuning! Mundur! Berikan jalan untuk ambulans!" teriak Rodi sambil mendorong barikade besi dengan sisa tenaganya.
Di sudut lain, Jazz tampak sedang berkomunikasi dengan nada tinggi melalui radio panggilnya, mencoba mengoordinasikan pengalihan arus lalu lintas karena jalanan di depan rumah sakit sudah macet total oleh kendaraan darurat.
Para korban luka ringan tampak duduk berserakan di trotoar, beberapa di antaranya menangis histeris sementara petugas medis lainnya sibuk membalut luka-luka mereka dengan perban darurat.
Suasana benar-benar rusuh; teriakan minta tolong, perintah komandan lapangan, dan deru mesin pompa air menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.
Magnus menatap ambulans yang membawa Paul mulai menjauh dengan lampu biru yang berkedip-kedip menembus asap. Hatinya terasa sangat berat, karena di balik kekacauan luar biasa ini, ia tahu bahwa misinya belum selesai.
Ia melihat kembali ke arah gedung yang terbakar itu, teringat bahwa Lyra masih berada di dalam sana, terjebak dalam kesunyian mematikan di bawah tanah yang tak terlihat oleh kerumunan orang di luar sini.
Di tengah hiruk-pikuk evakuasi massal ini, Magnus menyadari bahwa waktu terus berjalan, dan ia harus segera bertindak sebelum api melahap habis semua harapan yang tersisa di dalam reruntuhan Delphi.
Begitu Magnus memutar tubuhnya untuk menerjang kembali ke dalam gedung, suara dentuman logam yang berat bergema di seluruh area parkir.
Satu demi satu, gerbang besi otomatis, pintu lobi, hingga terali darurat menutup dengan paksa seolah-olah gedung itu memiliki nyawanya sendiri yang sedang mengunci diri dari dunia luar. Magnus mencoba menarik salah satu pintu kaca yang baru saja terkunci, namun sistem hidroliknya telah terkunci mati secara elektronik.
Tiba-tiba, suara denging statis yang nyaring muncul dari speaker-speaker pengumuman yang tersebar di setiap sudut luar rumah sakit, di atas ambulans, dan bahkan dari radio panggil yang tergantung di pundak para polisi.
Suasana yang tadinya bising oleh teriakan perlahan-lahan hening saat sebuah suara yang sangat tenang dan dingin mulai menggelegar, membelah kekacauan malam itu.
"Selamat malam, Detektif Magnus," suara Pharma terdengar begitu jernih, seolah ia sedang berbicara tepat di telinga Magnus.
"Dan selamat malam untuk seluruh aparat yang sedang bersusah payah di luar sana. Saya sangat menghargai antusiasme kalian, namun saya rasa pesta ini harus segera kita batasi."
Magnus mendongak ke arah salah satu kamera pengawas yang bergerak mengikuti posisinya. Di ruang kendali pusat yang aman, Pharma duduk dengan santai di depan puluhan layar monitor, menatap wajah geram Magnus dengan senyum tipis.
"Kalian tidak akan bisa masuk kembali," lanjut Pharma lewat siaran radio tersebut.
"Gedung ini sekarang berada di bawah kendali penuh sistem protokol isolasi total saya. Setiap pintu telah saya kunci dengan enkripsi yang tidak akan bisa ditembus oleh tim Jazz sekalipun dalam waktu singkat. Saya memiliki tamu istimewa di sini seorang gadis pemberani bernama Lyra dan kami masih memiliki beberapa hal medis yang perlu didiskusikan secara pribadi."
Mendengar nama Lyra disebut, rahang Magnus mengeras. Rodi dan Jazz yang berada tidak jauh dari sana langsung mendekat ke arah Magnus dengan wajah pucat.
"Pharma! Lepaskan gadis itu! Kau tidak punya jalan keluar, seluruh gedung ini sudah dikepung!" teriak Magnus ke arah kamera pengawas, berharap suaranya terdengar melalui interkom balik.
Pharma tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan melalui speaker yang bergetar.
"Keluar? Siapa bilang saya ingin keluar? Saya adalah seorang dokter, Magnus. Dan seorang dokter tidak akan meninggalkan operasinya sebelum selesai.Jangan mencoba meledakkan pintu-pintu ini, karena sistem gas medis di dalam telah saya manipulasi. Satu percikan api yang salah dari kalian, dan gedung ini akan menjadi krematorium bagi Lyra dan Loen sebelum waktunya."
Radio itu kemudian mengeluarkan suara statis panjang sebelum akhirnya hening total.
Magnus memukul pintu baja di depannya dengan kepalan tangan, sementara di sekelilingnya, para petugas pemadam dan polisi hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa mereka sekarang hanya bisa menonton dari luar sementara Lyra terperangkap di dalam "benteng" milik sang dokter psikopat.