Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pertaruhan di Tengah Badai
Ketakutan kehilangan Lili akhirnya mengalahkan semua pertahanan yang telah kubangun. Aku bisa menerima kebencian Arvino, aku bisa menerima penghinaan Mama, tapi aku tidak bisa menerima ancaman bahwa Arvino akan mencari kenyamanan sejati dengan Clara—seorang wanita yang bisa memberikan Arvino alasan kuat untuk menceraikanku tanpa melanggar ancaman Papa.
Aku harus bergerak.
Aku tahu jadwal Arvino. Dia akan makan siang dua kali seminggu dengan Clara di sebuah kafe butik dekat galeri seni Clara. Hari ini adalah salah satunya.
Aku mengambil cuti tiga jam dari Rumah Sakit Merdeka, memberitahu atasan bahwa ada urusan keluarga mendesak. Aku meninggalkan Lili yang sedang tidur siang di rumah, di bawah pengawasan ketat Sus Rini.
Aku mengenakan setelan kerjaku—blus sutra berwarna maroon dan celana panjang hitam, memberikan kesan profesional namun elegan. Aku tidak ingin terlihat seperti istri yang cemburu, melainkan sebagai partner bisnis yang sedang menegaskan batas.
Saat aku tiba di kafe butik itu, aku melihat mereka.
Arvino dan Clara duduk di sudut yang semi-privat. Arvino tampak lebih rileks dari biasanya, bahkan tertawa kecil saat Clara menceritakan sesuatu. Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang dibebani duka; dia terlihat seperti pria yang sedang kasmaran. Pemandangan itu, meskipun menyakitkan, justru memicu dingin yang tajam dalam diriku.
Aku berjalan menuju meja mereka.
"Maaf mengganggu," sapaku, berdiri tegak di samping meja mereka.
Baik Arvino maupun Clara terkejut. Tawa Arvino seketika hilang. Wajahnya yang tadi hangat langsung berubah menjadi dingin.
"Aluna? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arvino, nadanya penuh peringatan.
Clara tersenyum manis, senyum yang tidak pernah kusukai. "Hai, Aluna. Kau pasti ada janji temu, ya? Kebetulan sekali."
Aku mengabaikan Clara, mataku terpaku pada Arvino.
"Aku hanya ingin mengambil kunci mobil Kakak," kataku, membuat alasan cepat. "Lili mendadak harus divaksinasi. Aku butuh mobil Kakak karena mobilku sedang di bengkel."
Arvino mengerutkan kening. "Lili vaksinasinya minggu depan. Aku sudah mencatatnya."
"Jadwalnya maju," balasku cepat, berbohong. "Lili demam ringan kemarin malam. Aku ingin memastikan dia sehat sebelum aku meninggalkannya."
"Kau berbohong," desis Arvino.
Aku tersenyum tipis. "Aku dokter, Kak. Aku tidak akan main-main dengan kesehatan Lili. Cepat berikan kuncinya. Aku harus buru-buru."
Arvino memasukkan tangan ke saku jasnya, mengambil kunci mobil, dan melemparkannya ke meja. Kunci itu berdentang keras, memecah keheningan singkat di meja mereka.
Aku mengambil kuncinya, lalu menatap Clara.
"Senang bertemu denganmu lagi, Kak Clara," kataku, suaraku terdengar ramah. "Aku harap Kakak bisa terus memberikan 'kenyamanan' pada suamiku. Dia sangat sensitif belakangan ini. Terutama... tentang statusku."
Clara mengangkat alisnya yang rapi. "Statusmu? Kenapa statusmu?"
"Ya," aku mengangguk. "Kakak tahu, statusku di mata hukum sekarang adalah istri sah Arvino, pewaris Rumah Sakit Hardinata, dan ibu kandung legal Lili. Aku punya semua hak atas semua itu. Sedangkan Kakak..."
Aku mencondongkan tubuh sedikit, menurunkan suaraku menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"...Kakak hanyalah Mantan Kekasih yang datang terlambat dua tahun setelah Mbak Sarah tiada. Posisimu di sini hanyalah selingan yang bisa hilang kapan saja. Jangan terlalu banyak memberikan nasihat, Kak. Itu bisa menjadi bumerang."
Clara terkesiap. Wajahnya yang tadi manis berubah seketika menjadi penuh amarah dan terkejut.
Arvino, yang sedari tadi diam, berdiri dengan cepat, membuat kursinya bergeser ke belakang.
"Aluna! Berhenti! Apa-apaan ini?!" bentak Arvino.
Aku berbalik. "Aku harus pergi, Kak. Lili menunggu. Selamat menikmati makan siang kalian yang santai."
Aku berjalan cepat meninggalkan kafe itu. Aku tidak menoleh ke belakang, tapi aku bisa merasakan tatapan membunuh Arvino dan tatapan marah Clara yang menusuk punggungku.
Aku masuk ke mobil Arvino, tangan yang memegang kunci gemetar hebat. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu aku telah melewati batas. Aku telah bertindak seperti istri yang cemburu, bukan seperti partner bisnis. Tapi itu perlu.
Aku perlu mengingatkan Clara dan, yang lebih penting, Arvino, bahwa di mata hukum dan di mata Papa, aku adalah pemain utama. Dan aku tidak akan menyerahkan posisi itu.
Malam itu, badai sesungguhnya tiba.
Arvino pulang pukul sembilan. Dia tidak membawa Lili, karena Lili sudah tidur dengan Sus Rini. Arvino langsung masuk ke kamar utama.
Pintu dibanting keras.
Aku sedang menyeterika pakaian kerja Arvino untuk besok. Aku sengaja melakukannya di kamar agar dia tidak punya alasan untuk menyuruhku tidur di lantai.
"Beraninya kau!" raung Arvino, berjalan mendekat.
Aku meletakkan setrika panas itu di meja, membalikkan badan dengan tenang. "Berani apa, Kak? Mengambil kuncimu? Memastikan Lili sehat?"
"Kau mempermalukan aku di depan Clara! Kau bersikap seperti istri yang cemburu! Kau merusak momenku! Kenapa kau harus membuat keributan itu?!"
"Aku membuat keributan?" Aku tersenyum sinis. "Kakak yang membuat keributan! Kakak yang membuat orang lain berpikir aku hanyalah pembantu rumah tangga yang tidak penting, sehingga mereka merasa bebas untuk datang dan mencoba merebutmu!"
"Clara tidak merebutku! Dia memberiku dukungan emosional yang tidak pernah kuterima darimu! Kau hanya bisa memberiku jadwal vaksinasi dan tatapan menghakimi!"
"Tentu saja aku tidak bisa memberimu dukungan emosional, Kak! Karena setiap kali aku mencoba mendekat, Kakak mendorongku dan memanggilku 'pembunuh'! Bagaimana mungkin aku bisa menghibur orang yang menuduhku membunuh kakakku sendiri?!" Aku balas berteriak.
Kami berdiri berhadapan, napas kami sama-sama memburu.
"Aku lelah dengan ini, Kak Vino!" kataku, suaraku kembali rendah namun penuh emosi. "Aku lelah dengan kebencianmu! Aku lelah dengan dinding yang kau bangun! Kalau Kakak ingin hidup bahagia dengan Clara, ceraikan aku sekarang! Jangan gunakan aku sebagai tameng dari ancaman Papa! Jangan gunakan Lili sebagai alat penyiksaan!"
Arvino terkejut mendengar tantanganku. Dia tidak menyangka aku akan meminta cerai.
"Cerai?" Arvino menggeleng, matanya menyala. "Tidak semudah itu. Aku tidak akan membiarkanmu menang. Aku tidak akan membiarkanmu bebas dan hidup bahagia dengan martabat barumu, sementara aku terikat oleh janji Sarah."
"Aku tidak akan hidup bahagia, Kak! Aku hanya akan melanjutkan hidupku sebagai dokter! Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Dan aku akan membawa Lili bersamaku!"
"Tidak!" raung Arvino. Dia mencengkeram lenganku, cengkeraman yang menyakitkan. "Lili akan tetap di sini! Dan kau juga! Kau akan tetap di sini, menjadi istriku yang sah, melihatku bahagia dengan orang lain, dan kau tidak akan bisa berbuat apa-apa!"
Air mataku jatuh. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan yang meluap.
"Kau jahat, Kak Vino. Kau kejam!"
Arvino melepaskan cengkeramannya, lalu mundur. Wajahnya tampak kacau, ada penyesalan singkat, namun kembali ditutupi oleh kebencian.
"Aku akan tidur di kamar tamu," katanya dingin. "Dan aku akan bertemu Clara lagi besok. Kau tidak punya hak untuk melarangku. Karena kau, adalah istri tanpa cinta, hanya sebuah kontrak."
Arvino berbalik dan pergi, membanting pintu.
Aku berdiri sendiri di kamar itu, dengan uap panas dari setrika yang mendingin dan aroma parfum mahal Clara yang samar-samar menempel di udara. Aku tahu pertempuran untuk mendapatkan hatinya (atau setidaknya, untuk mendapatkan respeknya) baru saja dimulai, dan taruhannya adalah Lili.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️