NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan dalam Kebohongan

Pagi hari Selasa itu terasa seperti mimpi buruk yang lambat. Matahari baru mulai naik, sinar kuning pucat menyusup lewat celah gorden tipis di dapur kontrakan. Shadiq berdiri di depan kompor gas kecil, wajan sudah panas dengan minyak goreng sisa kemarin. Ia ceplok telur ke wajan, suara **sizzz** mengisi ruangan sunyi. Telur mengembang pelan, gelembung-gelembung kecil muncul di pinggir. Ia taburkan sedikit garam dari botol plastik, lalu tambahkan potongan cabai merah segar yang ia iris kasar tadi. Bau cabai goreng menusuk hidung, tapi perutnya masih mual dari malam tanpa tidur.

Setelah beberapa saat, ia coba balikkan telur dengan spatula kayu reyot. Tapi ternyata sudah gosong sebelah—hitam kecokelatan seperti arang. “Sial,” gumamnya lirih. Ia pun mengecilkan api kompor, tombol putar berderit pelan. Sambil nunggu telur matang, Shadiq ambil piring enamel lusuh dari rak, sendok nasi dingin sisa semalam ke piring, letakkan di depan kipas angin meja yang berputar lambat. Angin sepoi menusuk nasi, biar agak dingin.

Ia kembali ke wajan, angkat telur dengan spatula. Kini telur hampir gosong total—hitam di kedua sisi, seperti dibakar api neraka. Ia taruh di atas nasi, duduk di meja makan kecil, melirik kursi kecil Irva yang kosong di sebelah. Kursi kayu mini itu masih ada boneka dinosaurus Irva di atasnya, seperti hantu kecil mengingatkan ketiadaan anaknya.

Shadiq coba habiskan nasi dan telur gosong itu. Setiap suap terasa seperti batu mengganjal tenggorokan. Rasa gosong pahit menusuk lidah, tapi ia paksa telan. Selesai makan, ia buka ponsel jadul, layar retak di sudut. Buka kontak Arva. Ia lihat Arva sedang online—titik hijau kecil berkedip.

Ia ketik pelan: “sayang . Pulanglah”

Lalu tambah: “aku benar-benar minta maaf, aku sudah sadari salahku . Aku tidak akan lagi berjanji akan pulang tepat , tapi aku akan berusaha jadi ayah yang baik untuk Irva .”

Kirim.

Loading…

Terkirim.

Arva balas cepat.

“kemarilah, katakan pada orang tuaku jika kamu serius. Biarkan mereka tau buruknya dirimu . Agar Suatu hari mereka tidak akan terkejut jika kita benar-benar berpisah.”

Shadiq terkejut, dada seperti dihantam. Jari gemetar, ia langsung telpon Arva.

Arva angkat setelah nada ketiga. Suaranya dingin, tapi lelah.

“aku nelpon jarang ke angkat, pesan ga kebales. Giliran Udah ga ditunggu malah kirim pesan , eh tiba-tiba nelpon”

Shadiq suara memohon, mata panas. “sayang maaf. Aku..... Ngaku , aku bukan ayah yang baik. Tapi sayang aku mohon kasih aku kesempatan lagi , aku mohon ”

Arva diam sebentar, napas terdengar berat. “bang , kalo aku ga kasih kamu kesempatan lagi , kita udah ga ada status,tapi sekarang pikirkan kamu sama aku masih tetap suami istri ”

Shadiq mata basah. “makasih sayang . Makasih banget. Aku kangen kamu . Dan aku ga tau apa jadinya jika kamu tinggalin. Kapan kamu pulang, apa Irva masih sekolah ”

Arva suara naik sedikit. “aku balik ke rumah kamu? Jangan kamu tunggu , karna aku yang nunggu. Aku akan tunggu Abang sampe Abang bener-bener bisa balikin kepercayaan ku lagi ,kalo ga ?. Ga bakalan balik, biarin Irva ku gedein sendiri . Ada atau enggak nya kamu ? Sama aja . Karena tugas seorang bapak itu bukan cuma kerja , tapi jadi bapak itu jadi orang yang jaga anak sama istri ”

Telepon mati. Nada tut-tut menggema di telinga Shadiq seperti vonis akhir.

Ia taruh ponsel di meja, kepala di tangan. Ruangan terasa lebih sunyi tanpa Irva berlari atau Arva di dapur. Hanya kipas angin berputar lambat, hembus angin sepoi membawa bau telur gosong.

Tiba-tiba pintu depan terbuka pelan tanpa ketuk. Shadiq angkat kepala cepat, insting bertarung bangkit. Pria dengan tas gantungan kelinci perak masuk rumah seperti pemilik, langkah santai tapi tegas. Rambut gelombang ke belakang sedikit panjang, jas hitam rapi, mata dingin seperti pembunuh profesional.

Shadiq bangun cepat, memasang kuda-kuda bertarung—kaki lebar, tangan siap pukul. “Lo siapa? Keluar sekarang!”

Pria itu nggak peduli, langsung duduk di meja ruang tamu Shadiq seperti tamu undangan. Dua pria lain masuk mengikuti—satu langsung duduk di sofa reyot, tangan di lutut, tatap Shadiq tanpa ekspresi. Satu lagi ambil gelas kopi Shadiq yang masih setengah di sebelah televisi, minum pelan seperti di rumah sendiri, lalu nyalakan televisi. Suara berita kencang—mungkin biar pembicaraan mereka hanya terdengar di dalam rumah, tak bocor ke tetangga.

Shadiq suara tegas. “Apa maumu?”

Pria dengan gantungan tas pinggang kelinci perak tersenyum tipis, kaki silang. “Gue mau AK punya lo. Mendingan lo kasih gue, sebelum Farhank ambil paksa dari lo. Tau sendiri kan, kayak apa Farhank sama Agung?”

Shadiq mata menyipit. “Barang itu punya gue. Jangan coba-coba.”

Pria kelinci perak ketawa kecil, suara seperti ular mendesis. “Waw-wow-nicee. Mau main catur, pake hitam atau putih? Kayaknya lo ga gampang di rayu. Ya gak!!??”

Shadiq tak mundur, tatap pria itu tajam. “Sebenarnya kalian siapa? Apa maksud kelinci perak di tas mu? Cincin kelinci perak di jari rekan Agung? Dan apa hubungan mu dengan kontainer yang hilang? Apa tujuanmu dengan barang ku?”

Pria dengan gantungan tas kelinci perak tertawa lepas, suara menggema di ruangan kecil.

Salah satu pria di sofa menyahut, suara dingin. “Tajam juga mata tikus ini. Inikah kelebihan binatang pengerat?”

Pria gantungan tas kelinci perak angkat tangan, hentikan tawa. “Apa lo ga penasaran soal yang lain? Penasaran siapa itu Farhank? Penasaran siapa itu Agung? Siapa Taplo, dan Harman? Kenapa malah lebih penasaran pada kami?”

Shadiq suara naik. “Agung pelanggan Farhank. Farhank pedagang biasa, pedagang barang gelap. Tapi kalian, katakan sekarang juga siapa kalian!”

Pria dengan tas gantungan kelinci perak tersenyum tipis lagi, mata menyipit. “Salah. Agung cuma babu, Farhank cuma kurir. Kurir dan babu yang nakal. Tanyakan pada mereka barang siapa yang mereka jual-beli kan.”

Shadiq dada berdegup. Kebohongan dalam kebohongan. Farhank bukan dalang. Agung bukan bos besar. Semua lapisan dusta.

“Kalau begitu… kalian yang punya?”

Pria kelinci perak angkat bahu. “Pintar. Tapi terlambat. Kasih AK itu, atau gue ambil paksa.”

Shadiq mundur selangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!