NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

​Di tengah jeritan histeris dan isak tangis yang memenuhi ruangan, suara derit pintu yang terbuka dengan tegas mengalihkan perhatian semua orang. Ceklek!

​Seorang dokter muda bertubuh gagah dengan jubah putih yang rapi melangkah masuk. Wajahnya yang tampan memancarkan ketenangan, namun tatapan matanya sangat tajam dan berwibawa. Ia adalah Arkan Argantara, dokter spesialis yang juga menjadi mentor Sheila selama menjalani praktik kuliah kedokteran.

​"Sheila! Saya mohon tenang, ya. Kamu baik-baik saja di sini, saya akan jamin itu," ucap Arkan dengan suara bariton yang tenang namun mengintimidasi siapa pun yang berniat mengusik pasiennya.

​Arkan langsung menghampiri ranjang Sheila. Ia tidak memperhatikan Devano yang berdiri terpaku di balik pintu, ataupun Bunda Rini yang masih kebingungan. Fokusnya hanya pada Sheila. Ia memegang tangan Sheila yang gemetar dengan profesional, menyalurkan kekuatan yang membuat napas Sheila perlahan mulai teratur.

​"Dokter... Arkan..." lirih Sheila. Ketakutan di matanya sedikit memudar saat melihat sosok yang selama ini ia kagumi karena integritasnya di dunia kedokteran.

​"Ssst... Jangan banyak bicara dulu. Saya yang memegang kendali medis di sini. Tidak akan ada kamera, tidak akan ada orang asing, dan tidak akan ada siapa pun yang bisa menyentuhmu tanpa izin saya!" ucap Arkan sambil memberikan tatapan dingin ke arah celah pintu, seolah ia tahu bahwa Devano sedang menguping di sana.

​Devano merasakan amarah dan cemburu yang bergolak saat melihat kedekatan Arkan dengan Sheila. Ia hendak melangkah masuk, namun Arkan berbalik dengan cepat, menghadang langkah Devano tepat di ambang pintu.

​"Tuan Muda Narendra," ucap Arkan dengan nada sinis. "Sebagai dokter penanggung jawab, saya meminta Anda menjauh dari pasien saya. Kehadiran Anda hanya menyebabkan trauma psikologis yang membahayakan nyawanya!"

​"Saya suaminya! Saya ayah dari anak yang Sheila lahirkan dan saya berhak ada di sini!" geram Devano sambil mengepalkan tangan.

​"Di mata medis, Anda adalah pemicu serangan panik," balas Arkan tanpa gentar. "Jika Anda benar-benar mencintainya, pergilah. Biarkan dia pulih tanpa bayang-bayang Anda... Dan oh ya, Anda yakin suami dari Sheila?" cibir Arkan.

​Sheila menarik ujung jubah Arkan, mencari kepastian. "Dokter... bayi saya... bagaimana keadaannya?"

​Arkan kembali berlutut di samping ranjang Sheila, tatapannya melunak. "Anakmu adalah pejuang, Sheila. Dia sedang berada di bawah pengawasan tim saya di ruang NICU. Kondisinya kritis, tapi selama dia masih bernapas, saya tidak akan menyerah untuknya!"

​Hiks! Hiks! Hiks!

​Mendengar itu, tangis Sheila kembali pecah, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena secercah harapan. Arkan menoleh ke arah Bunda Rini. "Ibu, tolong temani Sheila. Saya akan memastikan keamanan di depan ruangan ini diperketat. Tidak boleh ada siapa pun yang masuk ke sini!"

​Devano terpaku di koridor, melihat bagaimana Arkan begitu sigap melindungi Sheila—sesuatu yang gagal ia lakukan selama ini. Ia merasa dirinya sangat kecil dan tak berarti. Arkan adalah segala sesuatu yang tidak bisa ia berikan untuk Sheila: rasa aman.

​"Aku tidak akan menyerah, Arkan. Tapi untuk sekarang... aku akan menjaga mereka dari kegelapan," batin Devano sambil melangkah pergi dengan hati yang hancur.

Kini Arkan dengan penuh perhatian menjaga Sheila lebih dari sekadar seorang pasien dan dokter. Tanpa Sheila ketahui, Arkan sudah lebih dulu mengagumi kecerdasan dan ketegaran Sheila sejak pertama kali mereka bertemu di kampus. Ia menghargai status Sheila yang baru saja melahirkan, namun rasa peduli itu tidak bisa ia bendung lagi.

​"Bagaimana keadaannya sekarang, Sheila?" tanya Arkan dengan nada suara yang sangat lembut, sambil memeriksa aliran infus di tangan Sheila.

​"Sudah lebih baik, Dok! Terima kasih banyak," ucap Sheila tulus. Untuk pertama kalinya sejak kejadian kelam itu, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang pucat. Kehadiran Arkan memberikan rasa aman yang selama ini ia rindukan.

​Arkan tersenyum balik sambil mengambil sebuah apel dari meja. Dengan tangan yang sangat terampil, ia mulai mengupas kulit apel itu tanpa putus.

​"Tidak perlu berterima kasih, karena kamu adalah pasien sekaligus mahasiswa terbaik saya. Saya pikir kamu sibuk karena tidak ikut di acara seminar saya minggu lalu, ternyata kamu sedang berjuang di sini," jelas Arkan sambil memberikan potongan apel itu kepada Sheila.

​Sheila tertegun sejenak, merasa tersentuh karena mentor sehebat Arkan sampai menyadari ketidakhadirannya. "Maafkan saya, Dok. Banyak hal yang terjadi di luar kendali saya."

​"Saya tahu. Dan mulai sekarang, biarkan saya yang mengendalikan hal-hal berat itu untukmu. Fokuslah pada pemulihanmu dan bayimu," balas Arkan dengan tatapan mata yang penuh makna, membuat jantung Sheila berdesir karena perhatian yang begitu hangat.

​Di luar ruangan, Devano berdiri mematung menatap pemandangan itu melalui celah kecil di pintu. Dadanya terasa terbakar melihat bagaimana Arkan dengan mudah membuat Sheila tersenyum—sesuatu yang bahkan tidak bisa ia lakukan meski telah memberikan segalanya.

​Devano mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia ingin sekali mendobrak pintu itu dan menjauhkan Arkan dari Sheila, namun ia teringat kata-kata Risma: kehadirannya adalah racun.

​"Aku yang harusnya ada di posisi itu, Sheil! Aku yang harusnya mengupas apel untukmu dan menjaga anak kita!" bisik Devano pilu. Ia merasa seperti orang asing di kehidupan wanita yang ia cintai.

​Tiba-tiba, ponsel Devano bergetar. Sebuah pesan dari tim keamanannya masuk:

"Tuan Muda, ada pergerakan mencurigakan dari tim hukum Tuan Besar Narendra. Mereka sedang menuju rumah sakit membawa dokumen rahasia."

​Wajah Devano kembali menjadi dingin dan kejam. Ia menatap Sheila untuk terakhir kalinya lewat kaca sebelum berbalik dengan langkah lebar. "Biarlah dokter itu menjagamu dengan senyumnya, Sheila. Aku akan menjagamu dari singa yang sedang menuju ke sini!"

​Devano melangkah menuju lobi utama, bersiap untuk menghadang siapa pun yang ingin merampas hak asuh anaknya atas perintah ayahnya. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Sheila menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca. Kerinduan seorang ibu untuk memeluk buah hatinya terasa begitu menyesakkan dada. Ia ingin melihat wajah kecil itu, memastikan bahwa anaknya masih berjuang untuk hidup.

​"Apakah saya bisa menemui anak saya, Dok?" tanya Sheila dengan suara bergetar penuh harap.

​Arkan meletakkan pisau buah dan menatap Sheila dengan tatapan penuh simpati namun tetap profesional. Ia memegang bahu Sheila dengan lembut untuk memberikan ketenangan.

​"Untuk sekarang belum bisa, Sheila. Bayimu berada di ruang steril yang sangat ketat. Kondisinya masih sangat rentan terhadap infeksi. Lebih baik kamu fokus segera pulih terlebih dahulu. Jika kamu kuat, kamu akan punya energi lebih untuk menjaganya nanti," jelas Arkan dengan nada suara yang menenangkan.

​"Baiklah, Dok..." jawab Sheila lirih sambil menunduk, mencoba menelan kekecewaannya demi kebaikan sang bayi.

​Sementara itu di lobi rumah sakit, suasana menjadi sangat mencekam. Dua orang pengacara berjas rapi suruhan Tuan Narendra baru saja tiba. Mereka membawa map dokumen merah yang berisi surat penyerahan hak asuh anak dan dokumen pengusiran Sheila dari kota itu.

​"Kami ingin bertemu dengan wali dari pasien atas nama Sheila Putri," ucap salah satu pengacara dengan nada angkuh di meja informasi.

​"Wali pasien sedang tidak bisa diganggu," sebuah suara dingin dan berat menyahut dari belakang mereka.

​Kedua pengacara itu berbalik dan menemukan Devano berdiri dengan tangan masuk ke saku jaket. Matanya menatap mereka bagai predator yang siap menerkam. Aura kejam sang pewaris Narendra kini kembali keluar sepenuhnya.

​"Tuan Muda Devano, Ayah Anda meminta kami untuk—"

​"Saya tidak peduli apa yang Papa saya minta!" potong Devano sambil merebut map merah itu dengan kasar. Tanpa ragu, ia merobek dokumen-dokumen penting itu menjadi serpihan kecil di depan wajah mereka.

​"Kembali ke Papa saya dan katakan padanya: jika dia mengirim orang lagi ke sini, saya sendiri yang akan membawa seluruh skandal gelap perusahaan Narendra ke meja hijau! Jangan main-main dengan nyawa anakku!" gertak Devano dengan kilat mata yang begitu mengerikan hingga kedua pengacara itu mundur selangkah karena takut.

​Di dalam ruangan Sheila, Arkan melihat Sheila yang kembali termenung menatap jendela. Ia tahu bahwa luka Sheila bukan hanya fisik, melainkan trauma mental yang dalam akibat ulah keluarga Narendra.

​"Sheila," panggil Arkan lembut. "Setelah kamu pulih, saya ingin kamu kembali fokus pada studimu. Kamu adalah mahasiswi kedokteran yang berbakat. Jangan biarkan kejadian ini menghancurkan masa depanmu. Saya akan ada di sini sebagai mentormu... dan sebagai seseorang yang siap mendukungmu."

​Sheila mendongak, menatap Arkan dengan perasaan yang campur aduk. "Kenapa Dokter begitu baik pada saya?"

​"Karena seseorang sepertimu berhak untuk bahagia, bukan untuk dipenjara oleh ketakutan," jawab Arkan tegas.

​Di luar pintu, Devano kembali menyaksikan momen itu. Ia mengetahui bahwa kini musuh terbesarnya bukan lagi papanya, melainkan kehilangan kepercayaan dari Sheila dan kehadiran Dokter Arkan yang mulai mengisi kekosongan di hati wanita itu.

1
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
Ani Suryani
Vano orang baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!