NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Kecil Di Rumah Sakit

"Kau tidak Papa Nak?" tanya Amara langsung berlutut dan membantu anak kecil itu, Dia melihat anak kecil itu dengan iba.

"Nona Adara, tuh kan udah di bilangin jangan lari-lari, jadi jatuhkan," ucap seorang suster saat melihat anak kecil itu terluka.

"Maaf Suster, abis nya suster maksa Aku makan udang sih, Aku kan gak suka, alergi," jawab anak kecil itu sambil cemberut.

Tiba-tiba langsung bersembunyi di belakang punggung Amara.

"Tante tolong Aku yah, suster itu menyeramkan," bisik Anak kecil itu tepat di telinga Amara, membuat wanita itu langsung berdiri.

"Dokter Amira, anak ini memang nakal jangan di ladenin yah," ucap Suster itu hendak menangkap tubuh gadis kecil itu, namun anak kecil itu terus bersembunyi di belakang Amara.

"Sudah hentikan, Suster biarkan Dia memilih apa yang Dia inginkan," ujar Amara merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, membuat Suster itu akhirnya pergi karena merasa tidak ingin memaksa.

"Kalo begitu, biar Tante bantu obatin lutut mu yah?" tutur Amara berusaha untuk membujuk.

"Oke Tante Amira," jawab Anak kecil itu sambil tersenyum tipis, membuat Amara mengerutkan keningnya heran, tampak nya anak kecil itu sudah akrab dengan Amira pikir nya.

Setelah sampai di ruangan UGD, Dengan telaten Amara mengobati lutut anak kecil itu yang mengeluarkan sedikit darah.

"Siapa namamu?" tanya Amara mencoba untuk membuka obrolan.

"Adara,Tante lupa yah? Kadang-kadang Ayah manggil Aku Ara sih kalo dia tidur?" ucap gadis kecil itu berceloteh panjang lebar, menatap Amara dengan bingung.

"Ha-ha-ha iya yah, Tante kebanyakan pikiran jadi pikun." Amara tertawa kecil, untuk menghindari kecurigaan.

"Di mana orang tua mu? Kenapa suster yang jagain?" lanjut Amara setelah selesai mengobati lutut anak kecil itu, Dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Ayah lagi operasi pasien nya, tadi di titipkan ke suster, tapi susternya galak dan pemaksa," jawab anak kecil itu panjang lebar.

'Anak kecil ini mengingat ku pada Zelin, mungkin jika Zelin masih hidup bakal sebesar anak ini,' Batin Amara yang tiba-tiba teringat anak nya yang meninggal bahkan sebelum melihat dunia.

"Ibu mu memang nya kemana?" tanya Amara menatap anak kecil itu penasaran, membuat Anak kecil itu tertunduk, namun belum sempat menjawab tiba-tiba ruangan itu di buka menampilkan wajah Suster yang panik.

"Dokter Amira, pasien itu sudah mau melahirkan, dokter cepetan tolongin deh," ucap seorang suster merasa sangat begitu panik, membuat Amara mau tak mau akhirnya meninggalkan, anak kecil itu, padahal Dia sangat penasaran di mana ibu dari anak kecil itu, mengapa sepertinya anak kecil itu sudah akrab dengan Amira.

Akhirnya mau tak mau, Amara menjadi dokter kandungan, Dia tidak tahu metode persalinan, tapi mengingat dulu pernah menjadi ibu hamil dia menggunakan pengalaman nya yang pernah di ajarkan dokter saat ikut kursus ibu hamil, gimana teori saat mau melahirkan.

"Tarik nafas panjang, hembusan, ulangi beberapa kali," ucap Amara berusaha untuk terlihat profesional, padahal tangan nya sudah gemetar.

Walaupun sering memegang senjata, tapi kalau soal bayi dia tidak seberani itu, apa lagi harus menyaksikan orang melahirkan itu membuat nya menjadi tidak nyaman.

"Dokter baik-baik saja?" tanya Suster sambil membantu mengelap keringat Amara.

"Gak papa, cuma panik dikit," jawab Amara berusaha untuk melawan ketakutan nya.

"Ayo mengejan Bu, kepala nya sudah terlihat," lanjut Amara berusaha untuk menyemangati ibu hamil itu, hingga akhirnya seorang bayi laki-laki berhasil Amara keluarkan, membuat Amara merasa terharu melihat bayi itu, lagi-lagi Dia jadi mengingat anaknya yang meninggal.

"Selamat Ibu, bayi nya lahir dengan normal, berjenis kelamin laki-laki," ucap Amara sambil menggendong bayi itu, lalu menyuruh suster untuk membersihkan nya.

Amara yang bingung harus ngapain setelah suster itu membawa bayi itu, kini merasa menjadi tegang Dia melirik ke arah Suster lain yang berada di samping nya.

"Aku tidak bisa menjahit, bisakah di lanjutkan dokter lain," bisik nya membuat suster itu heran.

"Tangan ku tiba-tiba tremor," lanjut nya membuat Suster itu paham, lalu membiarkan Amara pergi dari ruangan itu dan di lanjutkan dokter lain, walaupun pada kebingungan tapi karena posisi Amara yang merupakan direktur rumah sakit jadi tidak di permasalahkan.

Sedangkan di bagian ruangan lain, tampak seorang pria terburu-buru saat keluar dari ruangan operasi dia merasa khawatir saat tahu putri nya terluka dan berada di UGD.

"Adara, kau tidak papa?" tanya pria itu saat melihat putri nya sedang duduk di ranjang pasien dengan selonjoran.

"Aku baik-baik saja Ayah, hanya gak jalan hati-hati," jawab Anak kecil itu berusaha untuk meyakinkan.

"Untung ada Tante Amira, yang nolongin Aku tadi," lanjut nya sambil tersenyum tipis.

"Tante Amira? Kemana Dia?" mendengar nama Amira pria itu tampak terkejut, Dia masih mengingat saat berada di pesta pernikahan dan masih gak percaya kalo wanita itu adalah Amira.

"Dia tadi ada pasien," jawab gadis itu apa adanya.

"Sayang,Tante dengar-dengar kamu jatuh yah?" Suara seseorang membuat pria itu mendengus, karena kedatangan wanita itu selalu tidak pernah di inginkan nya.

"Iya Tante Amera, tapi udah baikan kok," jawab Adara sambil tersenyum semrik, Dia tahu Ayahnya tidak suka dengan wanita itu, tapi Adara tidak peduli karena bagi Adara setidaknya Amera tidak jahat padanya, cuma cara menyukai Ayahnya saja yang buat Adara tidak suka.

"Ngapain ke sini segala sih? Apa gak punya kerjaan sampai repot-repot ke sini?" ketus pria itu menatap wanita itu dengan dingin.

"Aku cuma pengin nemuin Adara, apa itu salah?" jawab Amera tidak sedikitpun marah dengan sikap dingin pria itu karena sudah terbiasa.

"Adara pengin Eskrim, bisa gak kita ke sana?" rengek anak kecil itu menatap Ayahnya dengan permohonan, Dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan kedua orang itu yang suka bertengkar.

"Ayo, Tante Amera, ajak ke sana," ucap Amera dengan antusias, sedangkan pria itu merasa keberatan.

"Ayah, Adara ingin, please," gadis itu merengek-rengek dengan mata yang tampak hendak menangis, membuat pria itu menjadi tidak tega.

"Oke deh, Ayah ke ruangan Ayah sebentar yah," putus pria itu pada akhirnya, membuat Adara tersenyum sumringah, begitu pula dengan Amera yang merasa mendapat angin segar.

Setelah pria itu kembali dari ruangan nya untuk melepaskan jas dokter nya, kini mereka bertiga berjalan beriringan dengan Adara yang tampak bahagia, sedangkan dua orang itu seperti musuh, Amera dengan antusiasme nya pria itu dengan wajah dingin nya.

Sementara Amara yang sudah menenangkan diri nya, tanpa sengaja melihat ketiga orang itu berjalan beriringan, hal itu membuat wanita itu merasa terkejut Dia merasa tidak menduga nya bahwa anak kecil itu adalah anak mantan suaminya dan sepupunya.

'Jadi anak kecil itu? anaknya Amera dengan nya?' Batin Amara sambil tersenyum getir menatap ketiga orang itu dengan tatapan lain.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!