Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 SUARA SAPAAN DI PAGI HARI
Keesokan harinya...
Malam berganti pagi, Anita Tumbler menggeliat pelan di atas pembaringan.
Sinar Matahari menyeruak masuk ke dalam ruangan kamar hotel VVIP dimana Anita Tumbler dan dua anak kembar itu sedang berbaring di atas ranjang tidur.
Anita Tumbler membuka kedua matanya perlahan-lahan sembari merenggangkan kedua tangan ke atas.
"Ughhh... !"
Ketika Anita Tumbler menoleh ke samping, betapa kagetnya dia saat melihat seseorang yang tak asing baginya.
"Adrian Wilson..."
Gumam Anita Tumbler, loading, sedetik kemudian dia mulai sadar jika Adrian Wilson sedang tidur bersamanya.
Anita Tumbler melirik dengan kedua mata melotot tajam ke arah tangan Adrian Wilson yang menangkup di atas kedua bukit indahnya.
Seketika Anita Tumbler berteriak histeris.
"YYAAAAAAAWWW... !!!"
Teriak Anita Tumbler sehingga membangunkan seisi hotel di lantai VVIP ini.
"YYAAAAAWWWW... !!!"
Sekali lagi Anita Tumbler berteriak kencang, sedangkan Adrian Wilson hanya membuka salah satu kelopak matanya sembari melirik ke sampingnya.
Melihat Anita Tumbler terbangun dan berteriak kencang lalu menendangnya dari atas ranjang tidur luas itu.
"Bruaaak... !!!"
Seketika Adrian Wilson terjatuh ke lantai dalam posisi duduk sembari memeluk bantal, baru laki-laki itu sadar bahwa dia telah membuat suatu kekeliruan yang fatal terhadap Anita Tumbler.
"Kenapa kau tidur bersama kami, apa yang kau lakukan padaku ? Hah ?"
"Aku ???"
Adrian Wilson masih terlihat linglung sembari berpikir serius dengan kejadian yang terjadi pada malam kemarin namun dia tidak mengingat apa-apa sebab dia hanya tahu bahwa dia jatuh tertidur lelah.
"Astaga, kau tidak mengambil keuntungan dariku kan ???"
"A-aku, ti-tidak, tidak..., sama sekali tidak, aku tidak melakukan apa-apa karena yang aku tahu kalau aku tak sengaja jatuh tertidur semalam..."
"Oh, yah, benarkah itu, kau pikir aku bisa tertipu dengan rayuan gombalmu itu ???"
"Aku berkata benar, untuk apa aku menipumu, tidak ada maksud seperti itu kepadamu, Anita."
"Mama Anita..."
Terdengar suara Alana kecil memanggil Anita Tumbler sembari menyentuh lengan Anita Tumbler, sehingga Anita terpaksa tidak melanjutkan ucapannya lagi.
"Mama Anita..."
"Ya, Alana, ada apa sayang ?"
Sikap Anita Tumbler seketika berubah lembut kepada Alana kecil dibanding sikapnya kepada Adrian Wilson baru saja.
"Kenapa mama Anita berteriak ?"
"Oh, ehk, yah, itu ???"
"Papa nakal pada Anita, jadinya dia marah pada papa kita, Alana..."
Suara Azka menyahut pelan dari arah ujung kaki Anita Tumbler, sepertinya bocah laki-laki itu tertidur di sana.
"Papa ? Mana papa, aku tidak melihatnya, Azka ?"
"Tuh... !"
Azka mengarahkan ujung jari telunjuknya ke arah bawah tempat tidur dimana Adrian Wilson berada di lantai.
Serentak pandangan Alana kecil beralih kepada Adrian Wilson, dia menengok dari atas ranjang tidur luas itu ke arah bawah, dilihatnya sang ayah sedang duduk setengah mengantuk sembari memeluk bantal besar.
"Papa..."
"Ya, sayangku..."
"Kenapa papa bisa ada di lantai ?"
"Sebab papa tidak sengaja menggelinding ke bawah, Alana sayang ?!"
Adrian Wilson menjawab seraya melirik hati-hati ke arah Anita Tumbler yang memasang wajah masam kepadanya.
"Bangunlah papa, Alana bantu, ya, papa !"
"Oh, tidak perlu, papa suka berada di lantai sini, rasanya sangat nyaman daripada di atas ranjang tidur..."
Benarkah itu papa ?"
"Yup, benar !"
Adrian Wilson tersenyum lebar sehingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi seraya mengangguk cepat lalu beranjak berdiri dari atas lantai kamar hotel kelas VVIP ini.
"Sebaiknya papa kembali ke kamar papa sebab kita harus segera pulang ke New York."
Adrian Wilson menatap serius kepada Anita Tumbler lalu duduk di sampingnya sehingga wanita abadi itu sempat menggeser letak posisi duduknya.
Dengan sekali gerakan tangan, Adrian Wilson meraih serta menggenggam erat-erat kedua tangan milik Anita Tumbler lalu menatapnya tegas.
Tiba-tiba terdengar suara Adrian Wilson terisak-isak sedih dan pandangannya tertunduk dalam.
Anita Tumbler yang melihat reaksi sedih dari Adrian Wilson sangat terkejut kaget, tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini.
"Adrian Wilson menangis ???"
Gumam Anita Tumbler dalam hatinya seraya menatap serius.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Adrian Wilson memulai sandiwaranya, dia berakting sedih dengan memasang mimik murung sedangkan kedua tangannya masih menggenggam erat-erat tangan Anita Tumbler.
"Aku..., aku tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang ini... Hiks... Hiks... Hiks..."
Alana dan Azka yang terbangun serta terduduk di atas ranjang tidur hotel langsung saling melempar pandangan.
Terdiam ketika menyaksikan sikap ayah mereka yang mulai aneh, dan mereka tahu kalau ayah mereka sedang bersandiwara sekarang ini.
"A-aku mendapatkan panggilan telepon dari New York semalam yang mengabarkan bahwa kakekku sedang sakit parah dan dia di rawat di rumah sakit selama seminggu..."
Alana dan Azka sontak terkejut kaget sembari membelalakkan kedua mata mereka lebar-lebar ketika ayah mereka bercerita bohong kepada Anita Tumbler.
Mereka berdua tahu bahwa kakek mereka sedang sehat-sehat saja di rumah karena sebelum berangkat ke luar kota, Alana dan Azka sempat berpamitan pada kakek mereka yang tinggal di Kota New York.
"Papa... !!!"
Teriak Alana dan Azka kompak sedangkan Adrian Wilson hanya melirik ke arah mereka sembari mengedipkan salah satu matanya secara sembunyi-sembunyi supaya Anita Tumbler tidak melihat tingkah lakunya ini.
Kedua anak kembar yang lucu itu langsung melongo bahkan mereka tak percaya bahwa ayah mereka akan bertindak senekat itu dan berpura-pura dengan mengatakan kalau kakek mereka sakit parah.
Anita Tumbler tidak bereaksi apa-apa, dia hanya terdiam saja sambil menatap bingung kepada Adrian Wilson di hadapannya.
"Dan bagaimana keadaan kakekmu sekarang ?"
Adrian Wilson melanjutkan sandiwaranya seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak tahu bagaimana keadaan kakek saat ini sebab aku hanya mendapatkan panggilan telepon yang memberitahukan padaku bahwa aku harus pulang hari ini..."
"Ka-kalau begitu bersiaplah, kau harus pulang ke Kota New York hari ini, jangan menunda-nunda waktumu lagi, Adrian !"
"Ta-tapi, Anita... !"
Adrian Wilson menarik kedua tangan milik Anita Tumbler lebih dekat ke arahnya lalu menatapnya sedih, dengan kedua mata beruraian air mata palsu, sehingga membuat wanita cantik itu terlihat kikuk serta canggung.
"Aa-apa ???"
"Sebenarnya kakek berpesan padaku di telepon saat dia memintaku pulang ke New York bahwa aku..."
Adrian Wilson menatap sangat serius kepada Anita Tumbler sedangkan wanita abadi itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti dia sedang menunggu kelanjutan ucapan Adrian Wilson.
Tampak Adrian Wilson seperti sedang berpikir serius, terdiam sejenak kemudian menatap kembali kepada Anita Tumbler.
"Sebenarnya..."
"Ya, sebenarnya apa, Adrian ? Katakan saja padaku terus terang, tidak usah ragu-ragu !"
Adrian Wilson menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan-pelan sembari terpejam.
"Sebenarnya pesan kakek juga sangat mendesakku dan hal itu cukup memberatkan diriku..."
"Kenapa bisa begitu, Adrian ?"
"Sebab pesan kakek bukan sebuah pesan biasa namun sebuah permintaan yang luar biasa buatku, dan aku sendiri tidak tahu apakah aku dapat memenuhinya, Anita."
"Permintaan apakah itu, coba kau jelaskan padaku, Adrian !"
"Tapi aku tidak merasa yakin bahwa kamu bisa membantuku untuk memenuhi permintaan kakek yang satu ini, Anita Tumbler..."
"Coba katakan saja, mungkin aku bisa membantu meringankannya, Adrian !"
"Oh, benarkah itu, Anita ???"
Adrian Wilson memandang ke arah Anita Tumbler dengan kedua mata berkaca-kaca penuh rasa terharu.
"Ya, Adrian Wilson, coba kau beritahukan padaku masalah kakek, mungkin aku bisa membantumu, Adrian..."
"Benarkah itu, Anita..."
Anita Tumbler kembali mengangguk tegas seraya mencoba tersenyum agar Adrian Wilson tidak ragu-ragu mencurahkan isi hatinya itu.