NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 AKAR

Mendengar perkataan Jeno, jantung Kael seketika terhenti sejenak. Ia menatap Kael lekat lekat, tatapannya kosong beberapa detik seolah otaknya tak sanggup mencerna kenyataan bahwa gadis selembut dan sepolos Seyna disiksa oleh para manusia biadab.

"J… Jen, kamu yakin?" suara Kael bergetar meski ia berusaha menyembunyikannya.

Jeno menatap temannya itu, wajahnya serius.

"Kael, lebam-lebam itu bukan jatuh sekali dua kali. Itu bertahun-tahun seseorang memukulinya tanpa ampun. Kalau dia terus diperlakukan begitu, aku nggak bisa jamin tubuhnya akan kuat. Luka yang terus-terusan kena pukul bisa infeksi. Kamu ngerti kan?kalau tidak cepat ditangani bisa membahayakan Seyna".

Kael mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam tapi bukan karena amarah. Tetapi rasa kecewa dan kasihan, karena gadis sepolos itu harus merasakan kesakitan. Ia marah pada kenyataan. Pada orang-orang yang tega menginjak gadis itu.

"Gila…" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.

"Mereka pikir Seyna itu apa? Boneka?"

Jeno menepuk bahu Kael dengan pelan. "Untuk pertama kalinya gue bilang gini ke kamu Kael, lindungi dia. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Anak itu butuh tempat aman."

Ucapan itu menembus langsung ke dada Kael. Seolah perasaan yang ia coba tutup erat keterikatan yang mulai muncul dipaksa keluar ke permukaan.

"Aku bakal jaga dia," gumam Kael, suaranya rendah namun penuh tekad.

"Mulai sekarang nggak ada yang boleh nyentuh Seyna seenaknya."

"Btw terimakasih,info ini Jen. Aku pergi duku," ucap Kael tegas.

Jeno hanya mengangguk lalu mempersilahkan Kael untuk keluar dari ruangannya. Kael berbalik cepat dan melangkah keluar dari ruang dokter. Langkahnya besar, tegas, penuh kemarahan yang ia tahan agar tidak meledak. Zidan yang menunggu di luar langsung berdiri tegap.

"Tuan, bagaimana kondisi nona Seyna?"

Kael menatap Zidan dengan sorot mata tajam bukan pada Zidan, tapi pada dunia yang telah menyakiti gadis itu.

"Zidan," panggilnya perlahan namun tegas.

"Aku ingin kamu cari tahu semuanya. Keluarga Damar, kondisi mereka, reputasi mereka, keuangan mereka semua. Termasuk hal yang publik nggak tau. Aku mau laporan lengkap, Sekarang juga!"

Zidan sempat ragu. "Semuanya… sampai akar-akarnya, Tuan?"

"Ya."

Kael mendekat sedikit, suaranya rendah namun mengancam.

"Aku mau tau apa alasan mereka memukul Seyna. Siapa yang melakukannya. Seberapa parah. Dan kalau ada sesuatu yang mereka sembunyikan aku mau jadi orang pertama yang mengetahuinya."

Zidan menelan salivanya, lalu mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya akan kumpulkan semuanya secepat mungkin."

Kael menarik napas dalam, berusaha menata amarah yang membuncah. Sosok Seyna yang pucat, lemah, tersenyum kecil padanya. Dan kini ia tahu gadis itu menyembunyikan rasa sakit yang jauh lebih besar daripada yang ia lihat.

"Aku nggak akan biarin mereka sentuh dia lagi," gumam Kael pelan kepada dirinya sendiri.

Setelah meminta Zidan untuk pergi, Kael segera masuk kembali ke ruangan Seyna disana sudah ada Bi Surti dan Risa yang sedang menemani Seyna.

"Kalian keluar dulu," pinta Kael kepada Risa dan Bi Surti.

Bi Surti dan Risa hanya mengangguk, mereka tidak menolak permintaan dari Kael. Saat ruangan itu sepi hanya terdengar sura napas Seyna dan Kael, Seyna dengan cepat memecah keheningan.

"Kenapa kakak, menatapku seperti mau menangis?"tanya Seyna dengan polosnya.

Kael hanya menghela napas lalu mendekat tanpa banyak bicara. Nafasnya berat, tatapannya fokus pada wajah pucat Seyna. Tanpa meminta izin, ia perlahan meraih lengan Seyna dan menggulung sedikit lengan baju rumah sakitnya.

Seyna terkejut saat Kael menggenggam tangan Seyna.

"Ja—jangan!" ucapnya cepat sambil berusaha menarik tangannya kembali.

Tapi Kael sudah melihat apa yang mau ditutupi oleh Seyna. Sebuah Lebam besar keunguan, bekas pukulan lama yang sudah memudar, dan garis memar yang baru semuanya terpampang jelas. Bukan satu. Bukan dua. Tapi begitu banyak hingga dada Kael seperti diremas.

"Seyna…" suara Kael parau.

"Ini siapa yang melakukan ini? Kenapa…"

Seyna buru-buru menutupi lengannya dengan tangan lain, wajahnya memerah bukan karena malu, tapi takut.

"Aku… aku cuma jatuh, kak. Seyna tidak apa apa."

"Jangan bohong." Nada suara Kael meninggi tanpa ia sadari.

"Ini bukan jatuh! Kamu pikir aku nggak tau? Ini jelas dipukul! Disiksa!"

Seyna tersentak. Tubuhnya menegang. Matanya mulai berair ketakutan bukan karena Kael, tapi karena terbiasa disalahkan dan diancam jika ketahuan. Ia menggeleng cepat, berulang kali.

"Aku… aku nggak… bukan siapa-siapa… aku cuma ceroboh… aku jatuh, kak… aku janji aku nggak apa-apa… jangan marah" Nada lirih itu menampar perasaan Kael.

Seketika Kael sadar Seyna ketakutan. Dan ia lah penyebab dari hal itu.

"Hey… hey, Seyna…" Kael langsung mendekat, meraih tubuh mungil itu dan menariknya dalam pelukan hangat.

Sebuah pelukan lembut, hati-hati, seperti memeluk sesuatu yang rapuh. Seyna menegang beberapa detik, lalu perlahan meleleh dalam pelukan itu. Tubuhnya bergetar.

"Maaf," bisik Kael di dekat telinganya.

"Maaf karena aku bikin kamu takut aku cuma… aku nggak tahan lihat kamu kayak gini."

Ia mengelus rambut Seyna pelan, lembut, jarinya menyibak helai demi helai seakan ingin menenangkan badai kecil dalam diri gadis itu.

"Aku cuma mau jawaban yang jujur" lanjut Kael, nadanya jauh lebih lembut sekarang.

"Seyna, kamu disakitin, ya?Ga apa apa bilang saja kepadaku, aku akan melindungimu."

Seyna tak menjawab. Ia hanya diam, wajahnya menempel di dada Kael, tangannya memegang baju Kael seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan. Diam yang terlalu jelas. Diam yang menyimpan cerita panjang.

Kael menutup mata. Hatinya seperti ditusuk berkali-kali. Ia menahan diri agar tidak meledak, agar tidak menakut-nakuti gadis yang sudah terlalu sering dibentak orang.

"Kamu nggak harus cerita sekarang," bisiknya tepat di telinga Seyna.

"Selama kamu ingat satu hal mulai hari ini, kamu aman. Kamu sama aku. Nggak ada yang boleh sentuh kamu lagi."

Seyna menggigit bibir, mencoba menahan tangis.

"Beneran aman kak?" tanyanya lirih, seperti anak kecil yang ragu untuk bisa memercayai dunia.

Kael mempererat pelukannya. "Ya. Aku jamin," jawabnya tegas.

"Selama aku masih berdiri, orang yang nyakitin kamu nggak akan bisa tidur tenang."

Seyna tidak membalas. Tapi ia menyandarkan tubuhnya lebih dekat ke Kael, seolah hanya itu caranya menunjukkan bahwa ia percaya sedikit saja. Dan bagi Kael, itu sudah cukup.

"Terimakasih Kael, sudah percaya kepadaku. Sekarang aku sudah punya pion untuk mulai melawan keluarga Damar," ucap Seyna di dalam hatinya.

"Terimakasih kak," ucap Seyna setelah sekian lama diam.

Kael hanya tersenyum dan mempererat pelukan itu, di dalam hatinya ia berjanji akan mencari tahu hal apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Damar dan kenapa gadis polos ini bisa di siksa sedemikian rupa.

.....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!