Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28.
Pagi itu keluarga William menyelesaikan sarapan bersama mereka dengan hangat dan lebih riang. Tapi, tidak dengan Kanny dan Lusy. Pasangan itu tertangkap lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Keduanya memendam perasaan geram pada interaksi yang Cakra dan Yubie perlihatkan.
Bahkan saat Lusy mengantar suaminya, Kanny ke mobilnya. Mereka kembali melihat kedekatan Cakra dan Yubie, di mana Cakra tengah menjahili sang istri.
Srekkk!
"Cakra!" Yubie terkesiap ketika Cakra menarik syal yang berusaha ia pasang di lehernya. Wanita itu melotot dan membulatkan mata pada suaminya. Suaranya yang memekik terkejut semakin menarik perhatian dua pasang mata yang sedari tadi sudah membara di sudut halaman.
Selesai sarapan tadi, Yubie sempat meminta bantuan asisten rumah tangga untuk mengambil syal di kamarnya sebelum ia pergi bekerja. Yubie ingin menutupi jejak cinta yang Cakra tinggalkan.
Namun, saat ia memasangnya seraya berjalan menuju mobil, Cakra dengan gerakkan cepat sudah lebih dulu merebutnya.
Pria itu terkekeh ringan melihat raut wajah Yubie yang terlipat. Tampaknya membuat sang istri kesal kini adalah hobi baru Cakra. "Jangan tutupi hasil karyaku," kata Cakra sambil melilitkan syal Yubie di tangannya.
"Jangan aneh-aneh, Bie! Aku akan jadi perhatian para karyawan di kantor nanti." Yubie berkata tegas. Teramat kesal karena Cakra mencegah usahanya yang berusaha menutupi jejak cinta yang Cakra tinggalkan. Susah payah Yubie menarik kerah blousenya, namun tak terlalu berarti untuk menutupi bekas merah yang tercetak begitu jelas.
"Biarkan saja," pinta Cakra jauh lebih serius. "Aku ingin seluruh orang tahu, kalau kau itu sudah ada pemiliknya. Ini adalah tanda kepemilikanku, Bie." Cakra mengedipkan satu mata yang malah semakin membuat Yubie terbelalak merasa kian kesal bahkan langsung menimpuk lengan suaminya itu dengan tasnya.
Alih-alih menghindar, Cakra malah menangkap tas istrinya, menariknya cepat hingga Yubie terseret dan seketika masuk ke dalam dekapan suaminya.
Sebuah adegan yang tanpa Cakra dan Yubie sadari semakin membuat pasangan lain yang tengah memperhatikan mereka terbakar rasa cemburu luar biasa. Lusy dan Kanny sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan mereka, meskipun apa yang ada di depan mata saat ini teramat lah mengganggu penglihatan. Mereka seakan terpaku pada kedekatan yang Cakra dan Yubie tengah pertontonkan.
Apalagi posisi Cakra saat ini tampak kian menunduk dan menempelkan wajahnya di sisi telinga sang istri, pria itu berbisik, terlihat sangat mesra karena wajah Yubie yang seketika merona dengan gerakan reflek langsung memukul lengan suaminya. Entah apa yang barusan Cakra katakan, tapi wajah Yubie memperlihatkan sebuah kebahagiaan.
Kanny merasa tidak nyaman menonton itu semua, tanpa melirik ke arah istrinya lagi, pria itu memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil dan beranjak pergi dari sana meninggalkan halaman keluarga William yang pagi hari ini terasa begitu gerah.
Lusy yang masih menatap ke arah Cakra dan Yubie dengan mata yang menyala seketika menoleh saat melihat mobil suaminya sudah berlalu begitu saja, meninggalkan dirinya tanpa kata, tanpa berpamitan padanya.
Lusy tersenyum sinis, tangannya mengepal erat dengan netra tajam yang kini langsung berpindah pada pasangan yang masih saja asik berpelukan. Sikap dingin Kanny padanya tadi, itu semua gara-gara Yubie!
"Kalian ini, ya... mulai tidak tahu tempat." Tuan William tiba-tiba datang menyusul, ia berjalan mendekat seraya geleng-geleng kepala menegur Cakra dan Yubie yang terlihat tidak canggung mempertontonkan kemesraan mereka. Tapi, wajah pria paruh baya itu tersenyum, menggambarkan kebahagiaan yang juga ikut ia rasakan
Di belakangnya ada Nyonya Mei Lin, yang tak berhenti mengukir senyuman saat melihat bagaimana hangatnya hubungan Cakra dan sang putri, sekalipun pasangan tersebut lebih sering memperlihatkan pertengkaran-pertengkaran kecil mereka yang entah mengapa terasa begitu manis menurutnya.
"Cakra, Dad! Dia selalu saja membuatku kesal." Yubie lekas mendorong dada suaminya itu.
"Siap salah, Tuan Putri!" Cakra terkekeh saat lagi-lagi kena timpuk oleh Yubie.
"Hari ini kau akan mulai datang ke perusahaan 'kan, Cak?" tanya Tuan William tiba-tiba yang membuat Cakra seketika berhenti tertawa. Ia menoleh pada Tuan William dan sesaat menatap istrinya.
Cakra sempat terdiam, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu. "Ya, Dad. Aku akan ke perusahaan."
Tuan William tampak langsung mengangguk puas. Ia menepuk pelan pundak Cakra. "Maaf jika Daddy merepotkanmu, Cak," ujarnya lagi.
Yubie yang mendengar pertanyaan ayahnya itu pun langsung bertanya. Sebelumnya ia sudah pernah bertengkar tentang hal ini dan menuding Cakra sesuka hati.
"Ada apa sebenarnya, Dad. Apa ada yang tidak aku ketahui?" Yubie menatap ayahnya dan Cakra secara bergantian. Tatapan yang begitu penuh dengan rasa curiga sekaligus penasaran.
"Biar suamimu saja yang akan menjelaskannya padamu. Kalian kan akan pergi bersama." Tuan William menjawab seraya mengedarkan pandangan di sekitar halaman. Tidak ada siapapun yang terlihat di sana selain mereka berempat.
Walaupun kecewa, tapi Yubie tetap memberikan anggukan pada ayahnya. Yubie langsung masuk ke dalam mobil dengan tangan yang lebih dulu menyambar cepat jaket hitam milik Cakra di saat suaminya itu tengah bicara serius dengan Tuan William.
Cakra hanya menggeleng kecil melihat tingkah Yubie. Istrinya segera mengenakan jaket itu dan mengancingkannya hingga menutupi lehernya.
Cakra masuk ke dalam mobil menyusul istrinya setelah selesai bicara dengan Tuan William. Kendaraan itu langsung melaju ke perusahaan William Group sebagai tempat tujuan mereka.
Tidak ada satupun yang menyadari kehadiran orang lain di sana yang sudah mendengar semua percakapan mereka.
"Aku tidak bisa membiarkan ini," gumam Lusy dengan tangannya yang terkepal erat di balik pilar bangunan. Ia tersenyum sinis bercampur miris saat mendengar percakapan ayahnya pada Cakra. "Mereka merencanakan ini tanpa memberi tahuku!"
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/