Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Terbayang
"Aku tak tahu apa yang lebih menakutkan, kehilanganmu dulu, atau kau tahu kini aku berpura-pura bahagia tanpa benar-benar bisa melupakan."
...***...
Mentari pagi menyinari taman dengan lembut, menciptakan lukisan alam yang indah. Rayna duduk di antara hamparan bunga warna-warni, dengan kanvas di hadapannya. Kuas menari-nari di atas kanvas, menciptakan replika pemandangan yang memanjakan mata.
Suara burung berkicau riang, berpadu dengan gemericik air danau yang tenang, menciptakan simfoni alam yang menenangkan jiwa. Di tengah kedamaian itu, tiba-tiba sebuah suara memecah lamunan Rayna.
"Rayii..."
Rayna tertegun. Suara itu... suara yang sangat familiar, suara yang sangat dirindukannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
"Vando?" bisiknya tak percaya.
Sosok itu berdiri di sana, di bawah naungan pohon rindang. Vando. Pria yang selama ini menghantui mimpinya, pria yang sangat dicintainya. Tanpa berpikir panjang, Rayna bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri pria itu. Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipinya.
"Vando, aku kangen banget sama kamu," ucap Rayna, suaranya tercekat oleh haru.
Ia memeluk Vando erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Ia membenamkan wajahnya di dada Vando, menghirup aroma tubuh pria itu yang sangat dirindukannya.
"Akhirnya aku bisa meluk kamu lagi, Vando," bisik Rayna, air matanya semakin deras mengalir.
Vando membalas pelukan Rayna dengan erat, seolah tak ingin membiarkannya pergi lagi. Ia mengusap lembut rambut Rayna, mencoba menenangkan wanita yang sangat dicintainya.
"Iya, Rayna. Aku juga kangen banget sama kamu, makanya aku segera nemuin kamu," balas Vando, suaranya penuh dengan kehangatan dan cinta.
Rayna menarik napas pelan, suaranya bergetar di antara desir angin sore.
"Vando, kamu tahu gak… setiap hari aku selalu mikirin kamu," ucapnya lirih. "Kangen banget. Rasanya kayak ada yang hilang gitu."
Ia tersenyum samar, menatap taman yang mulai diselimuti cahaya jingga.
"Aku sering banget ke taman ini," lanjutnya, "setiap kali berharap kamu tiba-tiba muncul. Kamu tahu gak, Vando? Waktu aku harus pindah ke sini… rasanya berat banget. Aku janji bakal nungguin kamu, tapi…"
Kata-kata itu terhenti di ujung bibirnya. Rayna menunduk, menatap tanah seolah mencari sisa keberanian yang hilang di sana. Sunyi. Hanya suara dedaunan yang bergoyang pelan.
"…banyak hal yang terjadi," bisiknya akhirnya.
Dan ketika ia kembali mengangkat wajahnya, sepasang mata itu, mata yang sudah lama hanya hidup dalam ingatannya, menatapnya dari jarak beberapa langkah.
"Dan sekarang, kamu di sini." Suaranya bergetar, hampir tak percaya. "Beneran kamu, kan? Aku gak mimpi, kan?"
Air bening menggenang di pelupuknya. Rayna mendongak, menatap Vando dengan mata berkaca-kaca.
"Aku seneng banget kamu dateng," ujarnya sambil tersenyum, meski suaranya hampir patah. "Beneran seneng…"
Rayna masih terisak dalam pelukan Vando, air matanya membasahi kemeja pria itu. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya seolah melumpuhkan semua logika dan kewaspadaannya.
"Rayna, kamu udah menjadi bagian dari hidup aku. Sejauh apapun jarak kita, kita akan bersatu lagi," ucap Vando, suaranya lembut dan menenangkan.
Rayna mendongak, menatap wajah Vando dengan mata sembab. "Vandoooo, kamu janji ya, gak akan pergi lagi?"
Vando terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Pergi? Aku pergi? Bukannya kamu yang mencoba pergi dari hidupku?" Nada bicaranya tiba-tiba berubah, menjadi dingin dan menusuk.
Rayna terkejut. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Vando dengan bingung. "Maksud kamu?"
"Kamu pergi secara tiba-tiba dan gak pernah bisa dihubungi," jawab Vando, matanya menyorotkan kekecewaan dan amarah. "Aku mencari-cari kamu, Rayna. Tapi kenyataannya apa? Kamu sudah bertunangan dengan orang lain."
Rayna terkejut mendengar tuduhan itu. "Maksud kamu apa?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Kamu sudah mengkhianati janji kita, Rayna," desis Vando, wajahnya mengeras.
"Vandoooo, maafkan aku," lirih Rayna, air matanya kembali mengalir.
"Kamu sudah menyakiti hati aku, Rayna. Kamu jahat," ucap Vando, suaranya semakin meninggi. "Kamu jahat, Rayna. Aku benci kamu."
"Aku benci kamu... aku benci kamu... kamu jahat... aku benci kamu..." Suara Vando terus terngiang di telinga Rayna, semakin lama semakin keras, semakin menyakitkan.
"Enggaaa... engga, Vandoo... enggaaaaa!"
ARRGGHHHH!
Rayna terbangun dari mimpinya, napasnya terengah-engah, tubuhnya bermandikan keringat. Ia terduduk di tempat tidur, jantungnya berdegup kencang. Semua itu hanyalah mimpi. Pertemuan dengan Vando, pelukan hangatnya, tuduhan dan amarahnya... semuanya hanya ilusi yang diciptakan oleh alam bawah sadarnya.
Mama Rayna mendengar teriakan Rayna dan segera berlari ke kamar putrinya. "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya panik.
"Maaa... Rayna mimpi buruk, Maa... hiks hiks," jawab Rayna, memeluk mamanya erat-erat.
"Kamu kenapa tiba-tiba begitu, Nak?" kata mamanya sambil memeluk Rayna dan memegang jidatnya. "Ya ampun, badan kamu panas sekali, Rayna. Kamu demam."
"Maa, Rayna takut, Maa. Hati Rayna sakit, Maa. Rayna takut ditinggalin," lirih Rayna, air matanya tak berhenti mengalir.
"Enggak, sayang. Kamu gak ditinggalin. Ada Mama di sini, ada Ben. Kamu gak sendirian," hibur mamanya, mengusap lembut rambut Rayna.
"Hiks hikss, Rayna takut, Maa..."
Rasa bersalah Rayna semakin kuat. Ia sangat khawatir pada perasaan Vando.
Mimpi itu menghantuinya. Apakah Vando benar-benar membencinya?
Ia ingin tahu keadaannya, tapi takut. Takut Vando tak mau bicara, takut segalanya jadi lebih buruk.
Setelah Rayna agak tenang, mamanya berkata, "Yaudah, kamu istirahat aja ya. Hari ini gak usah masuk sekolah. Mama siapin sarapan dulu buat kamu." Rayna hanya terdiam, pikirannya melayang entah ke mana.
Sementara mama menyiapkan sarapan di dapur, sekitar pukul 06.57, ponsel Rayna berdering.
TRING TRING
Terlihat nama Ben di layar. Mama segera mengangkatnya.
"Halo, Tante. Tante, Rayna telat ya? Maaf ya, Tante, Ben gak jemput Rayna, jadinya dia telat deh," ujar Ben dari seberang.
"Oh, enggak kok, Ben. Rayna hari ini gak masuk dulu, dia lagi demam," jawab mama.
"Hah? Rayna demam, Tante? Apa mungkin gara-gara kemarin Ben gak anterin Rayna pulang ya, Tante? Ben minta maaf ya."
"Gapapa, Ben. Bukan salah kamu kok. Mungkin emang udah waktunya demam aja. Tadi Rayna sampe mengigau dan nangis-nangis, katanya mimpi buruk. Tante jadi khawatir sama Rayna."
"Emm, kalau gitu nanti pulang sekolah Ben izin jenguk Rayna ya, Tante?"
"Boleh, Ben, silahkan aja. Mungkin kalau ada kamu, Rayna juga jadi happy."
"Baik, Tante. Kalau gitu udah dulu ya, Ben sekolah dulu, Tante."
"Iya, Ben," jawab mama, lalu sambungan telepon terputus.
Sepulang sekolah, Ben langsung bergegas ke rumah Rayna.
Tok tok tok
Mama Rayna membuka pintu. Terlihat Ben membawa beberapa buah dan cemilan.
"Ben, Raynanya di kamar. Kamu langsung ke sana aja. Tadi dia diem aja, gak ada semangat-semangatnya," kata Mama.
"Oke, Tante, Ben langsung masuk ya." Ben langsung menuju kamar Rayna dan masuk. Rayna sontak menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat kedatangan Ben.
"Ben, lo ngapain di sini?" tanya Rayna.
"Jenguk lo. Nyokap lo bilang lo sakit," jawab Ben.
"Gue kan udah bilang sama lo, gue gamau ketemu lo dulu," kata Rayna ketus.
"Jadi ini alasan lo sakit dan gak masuk sekolah? Karena gamau ketemu gue?" Ben balik bertanya.
"Ga gitu juga. Ya mana gue tau kalau gue bakal sakit," elak Rayna.
"Yaudah lah, ini gue bawa buah-buahan dan roti keju buat lo," kata Ben sambil menyodorkan bungkusan yang dibawanya.
Mendengar kata "roti keju", Rayna terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke masa lalunya dengan Vando, saat mereka selalu membeli roti keju setiap hari tanpa terlewatkan. Tanpa terasa, air mata sedikit demi sedikit menetes. Melihat itu, Ben bukannya iba, ia malah usil.
"Lo ngapain nangis? Terharu ya gue bawain makanan?" goda Ben.
Tangisan Rayna pun pecah mendengar celotehan Ben. "Geer banget sih lo, Ben!" serunya sambil terisak.
"Ya habis setelah gue ngomong gitu lo langsung nangis. Lo terharu kan punya pasangan yang perhatian kaya gue," balas Ben, masih dengan nada bercanda.
"Ihhh, nyebelin banget sih lo! Udah ah, gue mau sendirian. Lagian gue mau istirahat. Sana, sana lo keluar!" usir Rayna.
"Gamau! Nyokap lo bilang gue harus nemenin lo," tolak Ben.
"Engga engga, lo keluar sekarang!" Rayna berusaha mengusir Ben.
"Gamauuu, wleee!" kata Ben sambil menjulurkan lidahnya, membuat Rayna semakin kesal.
Rayna menangis. Bukan hanya karena demam, tapi rasa bersalah dan rindu pada Vando. Ia tertekan harus bersama Ben, yang tak ia cintai.
Namun, Ben selalu membawa ceria. Meski menyebalkan, ia selalu menghibur Rayna.
Rayna menatap Ben yang menjulurkan lidah.
"Ben," lirihnya.
Ben berhenti. "Kenapa? Mau es krim?" candanya.
Rayna menggeleng. "Makasih ya, Ben," ucapnya tulus.
Ben mendekat. "Makasih untuk?" ujarnya lembut.
"Makasih untuk kelakuan lo yang nyebelin!" jawab Rayna, berusaha tersenyum.
"Udah ah, gue mau tidur," lanjutnya sambil membalikkan badan, memunggungi Ben.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget