Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 19》
Bekerja adalah sesuatu yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus seperti halnya yang dilakukan oleh Albert, setiap hari ia akan bangun pagi mempersiapkan diri lalu pergi ke kanto dan akan pulang di sore hari atau hampir malam.
Mulai hari ini Emily juga akan melakukan hal yang sama bersama pria itu, ia sudah memakai setelan formal dan naik ke mobil untuk pergi ke kantor bersama dengan Albert.
Dalam perjalanan tidak banyak percakapan yang mereka buat karena lelaki itu sibuk melihat dokumen pekerjaan.
Sopir hanya melirik mereka berdua.
Setibanya di sana, Emily dapat melihat tatapan dari beberapa karyawan kepadanya, mungkin karna ini adalah pertama kalinya ia ikut ke sana dengan pakaian formal sehingga mereka berspekulasi bahwa gadis itu akan bekerja.
"Selamat pagi Albert, ini aku buatkan kopi, di minum ya.." ternyata Clara sudah berada di depan ruangan sambil memegang secangkir kopi.
"Saya sudah katakan untuk memakai bahasa formal ketika di kantor," Albert berjalan memasuki ruangan tanpa melirik Clara yang berpakaian sexy itu.
Emily yang melewati Clara sempat melihat matanya dan mendapati tatapan mengejek dari gadis itu.
"Albert, aku disini bukan hanya bekerja, tapi ingin menggodamu, jadi aku tidak akan memakai bahasa formal!," Ucap Clara bersih keras, ia mendekati meja Albert lalu menaruh kopi di sana sambil mengedipkan mata.
Emily tak percaya gadis itu bisa datang dengan kemeja ketat yang sepertinya sangat sesak di bagian kancing atas sehingga dadanya terlihat akan keluar, bukan hanya itu rok pendeknya berada di atas lutut.
"Terserah kamu, cepat siapkan berkas rapat untuk hari ini dan taruh di ruang rapat sebelum di mulai," pinta Albert, baru datang ke kantor tapi kepalanya sudah pusing hanya dengan melihat dandanan Clara yang di luar ekspetasinya.
"Albert, aku akan pergi bantu Clara dulu ya"
Emily menyusul gadis itu dan mendapatinya di depan mesin fotocopy, kakinya menendang mesin itu, mungkin sedang rusak.
"Hei, sini biar ku bantu," Karna Clara memutuskan berbicara tidak formal, jadi Emily juga akan mengimbanginya.
"Nah, ini kertasnya sudah habis, aku akan menambahnya dulu"
Emily menundukkan untuk memasukkan kertas dalam mesin, setelah itu ia tersenyum pada Clara.
"Apa?," tanya Clara melihatnya.
"Sudah jadi, kau boleh lanjut fotocopy berkasnya.."
Emily hendak pergi dari sana namun gadis itu mencegahnya dan berkata, "Kau saja yang buat!"
"Tapi.."
Clara sudah pergi meninggalkan tugas itu padanya, gadis itu hanya bisa menghela nafas, Clara benar-benar menguji kesabarannya.
Akhirnya Emily mengerjakan tugas itu, setelah selesai memfotokopi, ia segera pergi ke ruang rapat dan menaruhnya di sana sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia.
Biasanya jumlah kursi sudah di sesuaikan dengan jumlah peserta rapat.
Ia singgah ke kamar mandi sebentar dan mendapati Clara yang sedang memakai make up di wajahnya.
"Udah selesai ngerjain tugasnya ha?," tanya Clara padanya.
"Hmm," Emily masuk ke bilik kamar mandi, sedangkan gadis itu sudah tidak mengoceh padanya lagi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Emily sudah melihat karyawan yang berjalan memasuki ruang rapat, tiba-tiba beberapa memori masa lalu dari tokoh Emily dalam Novel masuk ke dalam ingatannya.
Bagaimana tokoh itu yang selalu melakukan segala tugas dengan baik, sampai akhirnya mengundurkan diri karna lelah dengan senioritas di kantornya, itu juga bertepatan dengan tawaran menjadi istri pura-pura Albert.
Ruangan rapat begitu tenang, tak ada yang saling bercerita.
"Jadi bangunannya sudah 50 persen selesai?," tanya Albert pada seorang karyawan pria yang baru selesai mempresentasikan laporan pembangunan salah satu gedung.
"Iya pak," jawabnya.
"Kalau begitu besok saya akan pergi melihatnya, rapat kita sampai di sini saja, silahkan keluar" ucap Albert.
Seluruh karyawan mulai berdiri dan beranjak keluar dari sana, namun Emily bisa melihat Clara tidak berjalan menuju pintu keluar melainkan ke arah Albert yang masih membaca berkas laporan.
"Albert, besok aku ikut ke sana ya.."
Clara mengelus tangan Albert, membuat pria itu risih lalu menatap Emily seolah memberi kode agar ia menyingkirkan gadis itu dari sana.
"Clara! Apa kau suka ice cream?, ayo kita pergi membelinya"
Emily menyeretnya keluar dari sana tanpa menunggu jawabannya.
"Lepasin gak! Ganggu amat sih," marah Clara padanya.
"Eh, nyadar dong.. Pak Albert lagi sibuk, mendingan kamu pergi jahit baju, tuh lihat, kancing bajunya gak muat"
Emily menunjuk bagian dadanya lalu tersenyum mengejek, gadis itu sedikit merasa malu jadi ia pergi dari sana.
Emily kembali fokus dengan aktivitasnya meski lebih banyak berdiam diri karna Albert tidak memberikannya pekerjaan, lagi pula ada Clara di sana.
Meski tadi pagi Clara menunjukkan seolah ia malas mengerjakan tugas, namun Emily dapat melihat bahwa ia rajin, sepertinya memang skill magister berbeda dengannya, tapi tidak papa, ia disini untuk mengikuti Albert serta meyakinkan orang bahwa mereka harmonis.
"Albert, kita mau makan siang dimana?," tanya Emily, sebentar lagi sudah waktu istirahat karyawan, terlebih lagi ia juga sudah merasa lapar.
"Albert, kamu ikut aku aja makan di restoran kakak," Clara menyela pembicaraan mereka.
"Lah? Kok kamu, aku istrinya, jadi dia makan sama aku," jawab Emily menantang, kedua gadis itu adu mulut tentang siapa yang akan makan bersama Albert, membuat pria itu meletakkan berkas dan merapihkan pakaiannya lalu berdiri.
"Diam!, kita makan sama-sama saja," Albert keluar dari ruangan, keduanya juga mengikutinya dari belakang.
Albert memang tidak suka dengan Clara namun gadis itu memiliki hubungan dekat dengan keluarganya, jadi tidak mungkin ia berlaku kasar terhadapnya.
Mereka pergi ke restoran Cina yang beberapa waktu lalu Albert datangi bersama Emily, suasananya masih sama, namun kini Albert meminta ruangan sendiri, bukan makan di meja outside.
"Besok saya akan pergi ke tempat konstruksi bangunan, lebih baik kalian berdua tinggal saja," ucap Albert di sela makan siang itu.
"Emily aja yang tinggal, aku mau ikut kamu Albert," Suara Clara terdengar manja, membuat Emily ingin memukulnya jika bisa.
"Huft"
Albert menghela nafas panjang dan memijat keningnya, lagi-lagi kedua gadis itu saling berdebat untuk hal sepele.
Ia sudah tidak sanggup mendengarnya, jadi ia keluar dan menghisap rokok di depan restoran.
Emily dan Clara kini sudah tenang dan berusaha menghabiskan makanan mereka.
Sejujurnya Emily tidak mau pergi ke area konstruksi, lebih baik ia tinggal di rumah dan bersantai, tapi ia tersulut emosi karna perkataan Clara yang tajam, sehingga ia berencana ikut ke sana besok.
Albert sudah selesai merokok, ia segera memeriksa apakah kedua gadis itu sudah selesai makan, lalu berkata, "Ayo kita balik ke kantor"