Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Panas mendengar sindiran penghuni-penghuni kost, Nindi memilih keluar di hari liburnya. Yang pertama Nindi lakukan adalah mencari makan dulu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Awal Nindi pindah kost, penghuni di sana menyambut Nindi dengan hangat, namun Nindi membalas sambutan mereka dengan dingin, belum lagi sikap Nindi yang tak pernah mau, walau hanya sekedar menyapu lantai di depan kamarnya, membuat penghuni lain menjadi geram dan sering menyindir Nindi.
Nindi sebenarnya sudah tak betah, namun untuk pindah belum tentu ada kostan yang murah lagi. Nindi yang merasa berbeda level dengan mereka, enggan bergaul dengan penghuni lain yang rata-rata hanya sebagai pelayan toko atau pekerja pabrik.
Pernah menikah beberapa tahun dengan orang berada, membuat Nindi lupa, jika dulu dia bukan apa-apa.
Bukan restoran mewah yang menjadi tujuan Nindi, uangnya harus benar-benar dihemat agar bisa sampai ke hari gajian berikutnya.
Nindi menuju warung nasi pinggir jalan, memesan nasi hanya telur dan sayur capcay. Asal perutnya terisi, nggak apa-apa sekarang susah, nanti setelah menikah dengan Yuda, hidupnya pasti akan terjamin lagi.
Nindi sangat memgenal Yuda sebagai laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Dulu sewaktu berpacaran, apapun akan Yuda usahakan untuk membuat Nindi tak kesusahan.
Selesai makan, Nindi bingung harus pergi kemana. Selama ini, Nindi tak mempunyai teman dekat, teman-teman dikantornya yang sekarang belum ada yang sangat dekat dengannya, karena memang Nindi sendiri yang selalu menjaga jarak dengan teman-teman kerjanya.
Lama berfikir, Nindi memilih pergi lagi ke rumah Yuda, Nindi masih penasaran kebenaran kabar pindahnya Yuda dan Afifah. Segera Nindi mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online.
Kali ini Nindi turun agak jauh dari rumah Yuda. Nindi tak ingin bertemu dengan tetangga Yuda. Nindi memperhatikan dari jauh, mungkin saja ada aktivitas dari rumah Yuda yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Tak ada yang berubah, rumah Yuda tetap sepi. Dua jam berlalu dan Nindi mulai bosan, dia memutuskan pulang, dan berjanji akan kembali di lain hari.
Hari sudah siang, tapi Nindi belum ingin kembali ke tempat kost-annya. Akhirnya Nindi pergi ke sebuah taman untuk menyendiri, menenangkan pikirannya untuk mencari ide mendekati Yuda kembali.
Nindi memperhatikan pengunjung taman, Nindi tersenyum miris, kebanyakan mereka kemari dengan keluarganya, ada juga beberapa pasangan muda, entah masih pacaran atau sudah menikah.
Pandangan Nindi lurus ke depan, ke arah pintu masuk taman. Nindi melihat orang-orang yang baru memasuki taman, semuanya berwajah ceria.
Lama Nindi termenung, sampai pandangannya tak sengaja melihat orang yang paling ingin dia hindari. Nindi segera bangkit dari duduknya, memutarkan badan, dan langsung melangkah menuju pintu keluar lainnya.
¤¤FH¤¤
Yuda dan Afifah kembali ke rumah mamah Ajeng saat sore hari. Keduanya pulang dengan membawa perasaan bahagia.
Karena esok hari harus terpisahkan, dan saling merindu, mereka terus mengisi sisa waktu mereka dengan menciptakan kebahagiaan.
Afifah mulai mengecek lagi barang bawaan Yuda, jangan sampai ada yang tertinggal. Tak lupa Afifah memasukan bingkai poto pernikahan mereka, untuk Yuda letakkan nanti di kamarnya.
Yuda dan Afifah tadi juga mampir ke toko buku, membeli beberapa buku panduan merawat orang sakit. Yuda tipe yang cepat sekali menangkap pengetahuan, Afifah yakin, Yuda akan cepat beradaptasi dengan pekerjaan barunya.
Keduanya masih terjaga, mata seolah enggan terpejam, Yuda menarik tubuh Afifah dalam dekapan, di usap rambut panjang Afifah, d kecup ubun-ubunnya, dihirup perlahan, bau tubuh ini yang akan Yuda rindukan nanti.
Malam sudah beranjak larut, saat keduanya tertidur, dengan Afifah masih dalam dekapan Yuda.
¤¤FH¤¤
Yuda langsung bersiap begitu pulang dari mesjid, ini hari pertamanya kerja, Yuda ingin memberikan kesan yang baik nanti.
Afifah sudah menyiapkan segala keperluan Yuda, dan barang-barang yang akan Yuda bawa. Dari rumah mamah Ajeng, Yuda langsung ke rumah tuan Andi.
Meskipun berusaha ditahan, air mata Afifah tetap keluar saat Yuda berangkat.
Yuda mencium punggung tangan mamah Ajeng.
"Mah... Yuda pamit. Yuda nitip Afifah!"
"Iya, Nak. Nak Yuda jaga kesehatan, selalu jaga sholat dan ngajinya. Insya Alloh kami di sini selalu mendoakan nak Yuda."
Yuda beralih pada Afifah. Afifah mencium punggung tangan Yuda dengan takdzim. Semoga masih banyak kesempatan untuk Afifah bisa mencium punggung tangan Yuda lagi.
Yuda membalas dengan memeluk dan mencium kening Afifah cukup lama.
"Dek... Mas berangkat ya. Selalu doain, mas! Adek jaga diri dan kesehatan!"
Afifah tak sanggup menjawab, hanya anggukan kepala yang dapat diberikan. Yuda segera menaiki sepeda motornya, setelah mengucapkan salam, yuda mulai menjalankan kendaraannya.
Afifah tahu Yuda masih melihatnya melalui kaca spion, Afifah melambaikan tangan dan tersenyum. Senyum yang selalu Yuda sukai dari Afifah.
Padahal bukan pertama Yuda meninggalkan Afifah untuk urusan kerja, tapi perpisahan ini terasa lebih mengaduk emosi keduanya. Mungkin karena hampir satu setengah bulan kebelakang selalu mereka lalui berdua, bersama.
Yuda menjalankan kendaraannya dengan penuh kehati-hati, karena hari masih sedikit gelap. Sebelum menuju jalan utama, Yuda mampir dulu ke rumah ibu dan bapaknya, untuk meminta doa dan restu dari keduanya.
Mamah Ajeng merangkul pundak Afifah, mengajak Afifah masuk ke dalam rumah, setelah dilihatnya Yuda tak terlihat lagi. Udara masih cukup dingin terasa di kulit.
Mamah Ajeng, mengerti perasaan Afifah. Semoga keadaan segera kondusif, agar Afifah bisa segera menyusul suaminya.
¤¤FH¤¤
Yuda sampai tepat waktu, malah masih ada sekitar satu jam, sebelum waktu yang di tentukan. Karena sudah dua kali datang, pak Sukri, penjaga rumah tuan Andi, langsung mempersilahkan Yuda masuk.
Bu Lina langsung menyambut Yuda, begitu diberitahu jika Yuda sudah datang. Bu Lina bahkan menawarkan sarapan karena hari masih pagi, bu Lina yakin jika memang Yuda belum sarapan saat berangkat dari rumahnya.
Yuda menerima ajakan bu Lina untuk sarapan, meski tadi sebelum berangkat sudah sarapan, tapi Yuda merasa lapar lagi setelah melakukan perjalanan cukup jauh.
Yuda di ajak bu Lina ke ruang makan yang cukup luas, tempat makan khusus untuk semua pekerja di rumah tuan Andi, di sana terlihat beberapa pekerja yang sepertinya baru sarapan juga.
Setelah selesai sarapan, Yuda di antar ke kamar yang sementara akan di tempatinya. Nanti jika Afifah sudah pasti ikut, Yuda diperbolehkan untuk pindah ke paviliun samping rumah utama. Yuda juga diberi seragam khusus seperti pekerja yang lainnya.
Rumah tuan Andi memang sangat luas, ruang belakang sepertinya dikhususkan untuk para pekerja, ada sekitar 13 pekerja yang bekerja di rumah tuan Andi.
Setelah berganti pakaian, Yuda diantar bu Lina menemui tuan Andi. Ini kedua kalinya Yuda dipertemukan dengan tuan Andi. Pertama kali Yuda hanya melihat dari kejauhan, seorang laki-laki yang duduk di atas kursi roda, menghadap jendela yang mengarah ke taman belakang.
Sekarang posisi tuan Andi tetap sama, Yuda berdiri di samping tuan Andi, diperkenalkan secara langsung. Tuan Andi tak memberi respon apapun tetap diam.
Bu Lina meninggalkan Yuda untuk memulai pekerjaannya. Yuda telah diberitahu apa saja yang harus dia kerjakan dalam merawat tuam Andi.
Yuda berdoa dalam hati, memulai pekerjaannya dengan membaca basmalah. Semoga tuan Andi bisa bersahabat dengannya.
BERSAMBUNG.
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.