Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 16
***
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Alisa, Adit adik Danu mengirimi ia pesan menanyakan kapan ia akan datang ke Solo.
Tanpa berpikir lama Alisa membalas pesan itu dan mengatakan bahwa ia menunggu hari libur untuk bisa melihat keadaan Danu.
Danu berdiri pada sebuah kursi teras, memasang pandangan kosong ia mencoba mengingat hal-hal selama ini yang sudah ia lewati.
“Mas, ini teh hangat, diminum ya?” ucap Adit meletakkan secangkir teh pada meja kecil disamping Danu duduk.
“Iya,” Danu menjawab singkat.
Adit duduk disebelah Danu,
“mas, kemarin sore ada teman mas Danu yang menelpon namanya Alisa, mas Danu ingat tidak dengan Alisa?” ucap Adit menatap kakaknya.
Danu menatap Adit bingung
“Alisa?” ucapnya lirih.
Ia tidak menjawab pertanyaan Adit,
“ mas Danu kalo belum ingat dengan Alisa, sudah jangan dipaksa mas. Oh ya, Alisa akan datang ke Solo mas, dia ingin bertemu denganmu. Hanya saja, ia harus menunggu libur kerja untuk bisa datang kesini”. Ucap Adit sedikit putus asa.
“Tehnya diminum mas, aku tinggal kedalam ya mas mau bantu ibu siapin sarapan” ucap Adit beranjak dari kursi dan berjalan masuk kedalam menuju dapur.
“Masmu dimana dit?” tanya ibu
“ada diteras bu” jawab Adit.
"Kenapa tidak disuruh masuh kita sarapaan dulu sebelum berangkat check up" ujar ibu.
“Adit bantu ibu dulu ya nanti kalo sudah siap semua Adit panggil mas Danu” ucap Adit mengambil empat piring dan peralatan lainnya.
“Sudah dit, sana panggil bapak dan mas Danu,” perintah ibu.
“Nggih bu.” Sahut Adit berjalan keruang tamu.
Ayah, ibu, adit dan Danu menyantap menu sarapan pagi ini, tiada obrolan yang mereka bicarakan.
Tiba-tiba tamu mengetuk pintu,
“permisi?” panggil suara seseorang dari depan rumah.
“Le, lihat siapa yang didepan?” ucap Ibu. Adit berjalan keluar keteras depan.
“Iya, oh mas Diki sudah jadi motornya?” ucap Adit pada seorang montir bengkel.
“Iyo iki dit, sepurone mbe tak terke motore masmu,” ucap Diki seorang montir bengkel yang tidak jauh dari rumah Adit sembari menyerahkan kunci motor.
“Iya, ndak papa mas. Suwon iki mas sudah diantar kerumah motornya” balas Adit menyambut kunci motor pemberian Diki.
“Iyoes dit, aku pamit yaa” pamit Diki.
“Hlo mas kok buru-buru, ikut sarapan dulu mas didalam” ucap Adit.
“ Iyo dit suwon, melas bocah-bocah nang bengkel tak tinggal. Yoes dit pamit yo?!” ucap Diki melajukan motornya yang diantar oleh teman kerjanya.
Adit menuntun motor kedalam teras, “mas Danu, motornya sudah bagus lagi sekarang” gumam Adit menyilangkan tangan di dadanya.
Ia kembali masuk kedalam dan melanjutkan sarapannya.
“Tukang bengkel to le?” tanya ibu,
“iya bu, nganterin motor mas Danu” jawab Adit sambil melahap nasi gorengnya.
Dua puluh menit berlalu, ibu membereskan meja makan dibantu oleh Adit. Ayah bersiap untuk pergi kesekolah. Ayah Adit adalah salah satu pengajar pada sebuah sekolah Negeri dikota Solo. Dan ibu membuka sebuah toko didepan rumah mereka. Akan tetapi hari ini, ibu harus sendiri mengantar Danu untuk check up.
Danu jalan menuju kamarnya, ia mencari ponsel miliknya.
“Mas Danu ini ponselnya, maaf tadi aku meminjamnya hehe” ucap Adit sembari tersenyum.
Danu hanya tersenyum dengan ucapan Adit.
Adit bersiap untuk berangkat kesekolah, ia pergi bersama beberapa orang teman yang menghampirinya.
Danu membuka ponsel miliknya dan men-scrool up chat whatsapp, ia membuka chat Alisa. Ia menatap dan merenungi siapa Alisa, ia merasa dekat dengan Alisa tetapi ia belum bisa mengingat tentang gadis itu.
“Danu, le ayo berangkat” panggil ibu mengetuk pintu kamar.
“Iya bu,” Danu segera bergegas menghampiri ibu.
***
Dilain tempat Jefan yang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Yogya untuk menemui Alisa, ia sedikit lega karena situasinya sekarang ia sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Viona. Ia tidak tahu bahwa Viona sudah menemui Alisa lebih dulu.
“Tunggu aku Alisa, beri aku kesempatan Alisa” gumam Jefan mengancingkan jacket denimnya.
“Oi Je, mau kemana kamu kok sudah rapi, mau pergi jauh?” tanya kakak Jefan.
“Mbak, aku mau ke Yogya nanti minta tolong pamitin ke ibu ya” ucap Jefan mengangkat tas dan helm.
“Hey anak ini, kebiasaan pergi tanpa pamitan dulu dengan ibu” gerutu kakak Jefan.
“Kan ada mbak Nia,hehe” jawab Jefan yang telah siap melajukan motornya.
Jefan Tiga bersaudara, ia anak terakhir dan memiliki satu orang kakak laki-laki, dan satu orang kakak perempuan.
Jefan berlalu jauh dari pandangan kakaknya yang masih melihat adik laki-lakinya pergi,
“Jefan mau kemana dek?” tiba-tiba kakak pertama Jefan datang.
“Ke Yogya katanya mas,” jawab Nia.
“Itu anak, mau sampai kapan main terus” gerutu mas Bima.
“Biarin mas, nanti kalo sudah sadar juga berhenti main-mainnya” ucap Nia masuk kedalam rumah.
“Mas Bima sendiri, haikal tidak ikut?” tanya Nia sambil berjalan kearah dapur.
" Haikal baru bangun tadi, jadi aku tinggal saja sama ibunya dirumah” jawab Bima yang berjalan dibelakang Nia.
Bima, kakak Jefan sudah menikah empat tahun silam dan sekarang telah memiliki anak laki-laki berumur dua tahun lima bulan.
Sedangkan Nia, yang sudah 4 tahun lulus dari perguruan tingginya dan sekarang bekerja pada sebuah Bank Swasta di Solo.
***
Jum’at pagi, Alisa segera membangunkan Anita yang masih tertidur.
“An bangun, katanya mau interview hari ini” ucap Alisa sembari menggoyangkan tubuh Anita.
“Iya Lis, duh masih ngantuk,” suara serak Anita khas bangun tidur.
“Tadi jangan tidur lagi harusnya setelah sholat subuh,” ucap lirih Alisa.
“Alisa, tunggu aku ya kita berangkat bersama nanti” ucap Anita mengucek matanya.
” Mana ada, arah kita berbeda” jawab Alisa.
“Eh iyaa hehehe” sahut Anita tertawa kecil.
“Sudaah, buruan mandi nanti kamu kesiangan. Baru juga interview masa kesiangan bisa gagal kamu An” perintah Alisa menarik tangan Anita untuk bergegas mandi.
Membiarkan Anita bersiap-siap, Alisa telah menyiapkan sarapan pagi ini. Ia hanya menyiapkan nasi putih dengan telur dadar, maklum anak kost masak seadanya.
Beruntung dikost disediakan dapur umum jadi penghuni kost bisa memasak jika ingin.
“An, sarapan dulu ya jangan tidak sarapan” ucap Alisa yang baru memasuki kamar sembari membawa piring berisi dua buah telur dadar.
“Alisa, kenapa kamu repot-repot, kamu tidak perlu kok masak pagi-pagi seperti ini, aku jadi tidak enak merepotkanmu lis” ucap Anita berjalan kearas Alisa.
“Tidak repot An, karena besok kalo aku main ke Magelang kamu juga harus seperti ini hahaha...” ucap Alisa tertawa.
“ahahahaa… iya iyaa pasti Alisa” balas Anita merespon tawa Alisa.
“Tapi maaf ya An, hanya seperti ini makannya maklum anak kost” ucap lirih Alisa mendekati telinga Anita.
“Hahaha…ini sudah nikmat Alisa” sambut Anita.
“An, semoga interviewnya hari ini lancar ya dan semoga kamu diterima kerjanya. Jadi kita bakal sering bareng…” ujar Alisa sembari mengambil nasi.
“Aamiin,,, terima kasih Alisaa” senyum Anita.
Dua puluh menit mereka sarapan dan saling bercerita, Anita pamit lebih dulu. Alisa mengunci kamarnya.
“Alisa….kita berangkat bareng saja” teriak Risa yang juga mengunci kamarnya.
Alisa menoleh dan tersenyum..”Risa..” panggil lirihnya.
“Lis, mas Jefan sudah disini lagi, apa dia sudah menghubungimu?” tanya Risa setengah teriak karena bising suara kendaraan.
“Belum” jawab Alisa.
“Sudahlah Ris, jangan bahas kakak sepupumu itu lagi” ujar Alisa.
“Ayolah Alisa, beri mas Jefan kesempatan” sahut Risa yang menatap wajah Alisa dari cermin spion motornya.
Bersambung….
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU