NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Takdir

Sang Pewaris Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: BigMan

~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]

Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.

Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.

Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 - Riak Air dan Cinta yang Tumbuh

...----------------...

Sinar matahari pagi memantul di permukaan air danau, menciptakan kilauan keemasan yang berpendar di antara riak kecil. Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa aroma segar dari dedaunan dan tanah basah. Suara tawa anak-anak bergema di tepi danau, mengisi udara dengan keceriaan yang polos.

Di antara mereka, Sora berdiri dengan celana digulung hingga lutut, kakinya terbenam dalam air yang jernih. Ia memegang jaring kecil, matanya penuh semangat saat menatap ikan-ikan kecil yang berenang di antara batu-batu licin di dasar danau.

“Cepat, Sora! Aku lihat ikan besar di sana!” teriak seorang anak laki-laki berbadan kecil dengan rambut acak-acakan.

Sora mengangguk, lalu perlahan melangkah lebih dalam, menyiapkan jaringnya. Namun, sebelum ia bisa bergerak lebih jauh—

“Sora! Hati-hati!”

Suara lembut namun penuh perhatian itu datang dari seorang gadis yang berdiri di tepi danau, tangannya mencengkeram rok sederhana yang dikenakannya. Matanya yang besar dan bersinar menatap Sora dengan cemas.

Namanya Emi.

Ia adalah salah satu teman bermain mereka, seorang gadis yang lembut dan penuh perhatian. Sejak kecil, ia selalu menunjukkan perhatian lebih kepada Sora dibanding teman-teman yang lain—sesuatu yang tak pernah luput dari ejekan teman-teman laki-laki mereka.

Sora menoleh, tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Emi! Lihat, airnya tidak dalam!”

Namun, Emi tetap menggigit bibirnya, matanya masih khawatir. “Tapi kalau kau terpeleset…!”

“Haha! Lihat, Sora punya pengawal pribadi!” seorang anak lain berseru, tertawa sambil menunjuk Emi.

“Benar! Emi selalu peduli pada Sora! Mungkin dia ingin jadi istrinya nanti?” seru yang lain, diikuti gelak tawa yang riuh.

Pipi Emi langsung memerah. “T-Tidak! Aku hanya tidak ingin ada yang terluka!” katanya dengan gugup, tetapi suaranya malah terdengar semakin lucu di telinga anak-anak yang lain.

Sora terkekeh kecil. “Hei, jangan mengejek Emi seperti itu.”

Namun, kata-katanya malah semakin membuat teman-temannya bersorak.

“Ohhh, lihat itu! Sora membela Emi!”

“Ya ampun, Sora dan Emi! Pasangan sempurna!”

Emi semakin menunduk, wajahnya kini merah seperti apel matang. Namun, di antara rasa malunya, ada secercah kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan.

Sora hanya menggeleng kecil, lalu kembali fokus ke air di depannya. Ia menunggu saat yang tepat, lalu—

Cebur!

Dalam satu gerakan cepat, ia mencelupkan jaringnya dan mengangkatnya kembali. Seekor ikan berukuran lumayan besar berkelebat di dalamnya, ekornya memercikkan air ke segala arah.

“Aku dapat!” Sora berseru dengan penuh kemenangan.

Anak-anak lainnya bersorak, berlari mendekatinya untuk melihat tangkapannya. Emi pun ikut mendekat, matanya berbinar.

“Itu ikan yang besar, Sora!” katanya dengan kagum.

Sora tertawa kecil, merasa bangga. “Tentu saja! Aku kan kuat!”

Emi tersenyum, tetapi ia tetap mengeluarkan saputangan dari sakunya dan mengelap air yang menetes dari tangan Sora. “Tapi kau tetap harus mengeringkan tanganmu. Jangan sampai masuk angin.”

Anak-anak lain yang melihatnya langsung tertawa lagi.

“Hahaha! Lihat! Emi benar-benar seperti ibu untuk Sora!”

Emi langsung menarik tangannya dengan wajah merah padam. “Bukan begitu! Aku hanya—!”

Sora hanya tertawa, membiarkan teman-temannya bercanda. Namun, dalam hatinya, ia merasa sedikit hangat.

Ia tidak sepenuhnya mengerti perasaan Emi, tetapi ada sesuatu yang menyenangkan tentang bagaimana Emi selalu ada di sisinya, memperhatikannya dengan cara yang begitu lembut dan penuh kasih.

Mungkin, jauh di lubuk hatinya, ia pun menyukai perhatian itu.

......................

Tanpa terasa, matahari mulai condong ke barat, menyiram langit dengan semburat oranye dan merah keemasan. Cahaya senja memantul di permukaan danau, menciptakan bayangan yang berkilauan. Angin sore bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan di sekitar tepi danau.

Anak-anak mulai mengemasi barang-barang mereka. Ember-ember kecil berisi ikan hasil tangkapan digendong di tangan, sementara beberapa dari mereka masih mengobrol dan bercanda, menikmati sisa waktu sebelum mereka harus pulang.

Sora menepuk tangannya, menghilangkan sisa air danau yang masih menempel di kulitnya. Ia melirik ke samping dan melihat Emi tengah membersihkan pakaiannya yang sedikit basah.

“Emi, ayo pulang,” katanya.

Emi mengangkat wajahnya, tersenyum lembut. “Iya.”

Beberapa anak lain sudah mulai berlari lebih dulu menuju desa, tetapi Sora memilih berjalan santai bersama Emi. Ia membawa ember berisi ikan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diselipkan ke dalam kantong celananya.

“Rumahmu di bagian timur desa, kan?” tanya Sora.

Emi mengangguk kecil. “Ya… Kau tidak perlu mengantarku kalau tidak mau, Sora. Aku bisa pulang sendiri.”

Sora menoleh dengan alis terangkat. “Kenapa aku tidak mau? Aku sudah ada di sini, jadi kenapa tidak sekalian mengantarmu?”

Wajah Emi memerah sedikit, tetapi ia segera menunduk dan berjalan sedikit lebih cepat untuk menyembunyikan ekspresinya.

Sora hanya terkekeh pelan.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang mengarah ke desa. Cahaya matahari yang melewati celah-celah pepohonan menciptakan bayangan panjang di tanah. Burung-burung kembali ke sarangnya, dan suara jangkrik mulai terdengar dari kejauhan.

Ketika mereka sampai di gerbang desa, Emi menoleh ke arah Sora. “Terima kasih sudah menemaniku.”

Sora mengangkat bahu. “Bukan masalah besar.”

Mereka berjalan sedikit lebih jauh hingga akhirnya tiba di depan rumah Emi. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi tampak hangat dan nyaman dengan dinding kayu yang kokoh dan atap jerami yang terawat baik. Sebuah kebun kecil dipenuhi bunga warna-warni di halaman depan, memperlihatkan sentuhan lembut seorang ibu yang menyukai keindahan.

Saat Sora dan Emi mendekat, pintu rumah terbuka, dan seorang wanita dengan wajah lembut serta senyum hangat muncul di ambang pintu. Rambutnya digelung rapi, dan celemek sederhana melilit pinggangnya. Matanya berbinar saat melihat Emi dan Sora.

“Oh, Emi! Kau sudah pulang.” Ia lalu menoleh ke Sora, matanya penuh kehangatan. “Sora! Senang sekali melihatmu di sini.”

Sora mengangguk sopan. “Selamat sore, Bibi.”

Ibu Emi tersenyum semakin lebar. “Kau mengantar Emi pulang?”

Sora menggaruk kepalanya sedikit, merasa agak canggung. “Ah, ya… Aku hanya kebetulan lewat."

Namun, sebelum ia bisa mengatakan lebih banyak, ibu Emi sudah tertawa lembut. “Kau memang anak yang baik, Sora. Masuklah dulu! Bibi baru saja menyeduh teh hangat.”

Emi menatap ibunya dengan sedikit panik. “Ibu! Sora mungkin ingin segera pulang…”

Sora menoleh ke Emi dan tersenyum. “Aku tidak keberatan, kalau memang tidak merepotkan.”

Ibu Emi menepuk tangan sekali dengan gembira. “Tentu saja tidak! Masuklah sebentar.”

Sora melirik langit yang mulai menggelap, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah, hanya sebentar.”

Ia mengikuti Emi dan ibunya masuk ke dalam rumah, di mana aroma teh hangat dan makanan yang baru matang langsung menyambutnya.

Dan di sanalah, di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, Sora merasakan kehangatan yang berbeda—bukan hanya dari teh yang disuguhkan, tetapi juga dari keluarga yang menerimanya dengan tulus.

1
Big Man
seru kok kak.. namnya aja yg jepang kak.. tp story line nya sma kek pendekar2 timur lain.. hnya saja.. gda kultivator .. tp istilahnya berbeda
Big Man: niat blas chat.. mlah ke post di koment.. asem dah
total 1 replies
Ernest T
lnjutttt. kren
Big Man: terimakasih kak /Applaud/
total 1 replies
Desti Sania
belum terbiasa dengan scien jepang
Big Man: Mudah2n cocok ya.. menghibur.. story line nya hmpir sma kok kak sma pendekar2 timur lainnya.. cmn istilahnya aja yang beda dan gda kultivator di sini /Grin/
total 1 replies
Desti Sania
mungkin
Desti Sania
prolog nya dah keren thor,semoga isinya gak membosankan ya
Big Man: amiin.. thanks kak.. semoga menghibur ya
total 1 replies
Bocah kecil
Abirama bukan kaleng2 keknya.. pra pendekar aja tau dan bisa merasakan kekuatan abirama yang tidak biasa.. menarik.. /Kiss/
Aditia Febrian
Aseekkk... Gass lah.. Hajar mereka Abirama!!! /Determined//Determined/
Bocah kecil
Gass lanjoot...!!!
Aditia Febrian
Makin seruu... /Determined//Determined/
Abu Yub
Aku datang lagi thor/Ok/
Big Man: Mksh thor.. /Kiss/
total 1 replies
Abu Yub
sip
Bocah kecil
Ni bocil sumpahna, yang satu baperan, yang satu cuplas ceplos.. /Facepalm/
Aditia Febrian
Tahapan ujian menjadi pendekar sejati:
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?

Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/
Big Man: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Bocah kecil: Bner.. relate sbnrnya..
untuk menjadi org sukses ya slah satunya :
1. Disiplin
2. Kerja keras.
3. Terusin aja sendiri
/Tongue//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Aditia Febrian
Ngakak parah /Facepalm//Facepalm/
Aditia Febrian
Si liliane ceplas ceplosnya ampun dah /Joyful//Joyful/
Aditia Febrian
Mantap.. Sebaik-baiknya ayah, ya Abirama.. lanjut thorrr.. /Determined//Determined/
Momonga
Dramatic skali thor.. keren, salut thor.. up lg thor
Teteh Lia
Per bab na pendek, jadi maaf kalau Aq baca na terlalu cepat 🙏
Big Man: Gpp kak.. mksh udh mampir ya.. semoga ceritanya menarik dn bisa menghibur kka ya..
di Ep 11 ke atas udh di konsisten untuk katanya di min 1000-1500 kata ya kak.. semoga itu bsa mengobati kekecewaan kka ya.. /Hey/
total 1 replies
Abu Yub
lanjut thor .kunjungi novel aku juga thor ./Pray/
Big Man: siap kak.. thanks dukungannya..
total 1 replies
Abu Yub
sip deh /Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!