❗DILARANG BOOM LIKE❗
plis yah! nanti author nangis nih🙏
bantu like, komen, dan gift bunganya ya🥰
Bella adalah seorang yatim piatu yang di besarkan oleh sang paman, orang tuanya meninggal karena kecelakaan sewaktu dirinya masih kecil. Dirinya di jodohkan dengan pria yang tidak dia kenali demi melunasi hutang-hutang perusahaan milik pamannya.
akankah pernikahan Bella bisa bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
panggilan baru
Saat ini Bella tengah berkutat di dapur membuat nasi goreng seafood permintaan Devan. Bella tidak habis pikir, bagaimana bisa orang yang sedang sakit ini merepotkan orang lain. Padahal pak Sam sudah membuatnya, tetapi kenapa malah tidak mau, kan sama saja rasanya. Begitu yang ada di pikiran Bella.
Setelah selesai, Bella memasukkan nasi goreng itu ke dalam kotak makanan. Dia tidak ingin Devan terlalu lama menunggu.
"Pak Sam, sudah selesai. Siapa yang akan mengantarnya?" tanya Bella.
"Pak Arip yang akan mengantarnya, nona," jawab pak Sam.
"Ini pak." Bella menyodorkan kotak itu pada pak Sam.
Setelah semuanya beres, Bella langsung memasuki kamarnya.
Pak Sam membawa kotak makanan itu ke depan untuk di serahkan pada sopir yang akan mengantarkan ke rumah sakit.
"Sudah jadi pak?" tanya pak Arip saat melihat pak Sam berjalan mendekat.
"Sudah pak, ini buatan nona Bella. Aromanya bikin ngiler," kata pak Sam.
"Iya pak, saya jadi lapar hehe," sahut pak Arip.
"Nona benar-benar sempurna, sudah cantik, baik, sopan, pintar masak pula. Tuan beruntung mendapatkan nona yang paket komplit," puji pak Sam.
"Iya ya pak, ya sudah pak sini biar saya antar. Nanti kalau kelamaan tuan muda bisa marah," pinta pak Arip.
"Ini pak." Pak Sam menyodorkan kotak makanan itu.
Pak Arip segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran mansion, menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, pak Arip segera masuk ke ruang rawat Devan.
Sedang Devan yang melihat makanan favoritnya datang langsung duduk dan meminta Jo untuk menyiapkannya. Dia sudah tidak sabar ingin menikmatinya.
Devan langsung menyambar makanan yang sudah Jo siapkan, rasanya sama seperti yang dia bayangkan. Devan makan dengan lahap tanpa mempedulikan Jo yang menatapnya keheranan. Pasalnya Devan makan seperti orang yang tidak makan selama sebulan, sangat rakus.
"Tadi katanya tidak suka sama orangnya, giliran masakannya anda makan dengan lahap," ledek Jo.
"Apa maksud mu Jo?" sinis Devan memasang wajah garang.
"Tidak bermaksud apa-apa sih, saya hanya bicara sendiri," sahut Jo cuek.
"Ck, keluar kau. Menganggu saja!" usir Devan sadis.
Selepas kepergian Jo, Devan kembali melahap makanannya hingga habis tak bersisa. Rasanya benar-benar sempurna di banding buatan pak Sam tadi.
......................
Pagi ini Devan tengah menikmati sarapan Sandwich buatan Bella yang di antar oleh pak Arip tadi. Kondisi Devan sudah semakin membaik, luka di tubuhnya juga sudah mulai mengering. Dokter sudah memperbolehkan Devan pulang siang ini, dengan syarat harus rajin check up setiap minggunya. Jo mengabarkan hal ini pada Bella, jika Devan akan pulang siang ini.
Bella begitu senang mendengar jika Devan akan pulang, dirinya mengabarkan pada seluruh pelayan untuk menyiapkan acara penyambutan tuan muda devan. Bella begitu antusias mendekor ruangan sedemikian rupa.
Hari sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, Devan saat ini tengah bersiap-siap untuk pulang. Jo sedang mengemas barang-barang Devan. Suster sudah datang dengan membawa kursi roda. Dengan menaiki kursi roda, Devan di antar sampai masuk ke mobilnya.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit, Devan ingin segera pulang karena dirinya sudah sangat bosan berada di rumah sakit.
"Bagaimana perusahaan Jo?" tanya Devan memecah keheningan.
"Perusahaan saat ini aman, tuan," jawab Jo yang duduk di kursi kemudi.
"Bagaimana penelusuran mu tentang tuan Smith? Apakah kau mendapat informasi lebih?"
"Menurut informasi dari buah kita, tuan Smith tengah menyusun rencana untuk menjebak anda tuan. Tetapi belum di ketahui dalam hal apa? Mereka masih terus memantau," jelas Jo.
"Menjebak ku? Gali terus informasinya, jangan sampai rencana mereka lancar," perintah Devan.
"Baik tuan."
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, mobil yang Devan tumpangi tampak sudah memasuki pelataran mansion. Terlihat suasana mansion yang berbeda dari biasanya, suasananya lebih sejuk.
Devan turun dari mobil, saat sudah sampai di depan pintu utama. Semua pelayan berbaris teratur untuk menyambut kedatangan Devan, Bella juga ikut berdiri di sana.
"Selamat datang kembali tuan," ucap seluruh pelayan secara bersamaan.
Devan tidak menjawab apapun, dia melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di hadapan Bella.
"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat datang pada ku?" tanya Devan dengan nada dingin.
"S-selamat datang kembali suami ku," sapa Bella takut-takut Devan akan marah jika dia memanggilnya begitu.
Bella bingung akan memanggil Devan Dengan sebutan apa, pasalnya papa Andra melarangnya memanggil Devan dengan sebutan tuan.
Sedangkan Devan, pria itu tampak berbunga-bunga di hatinya. Namun wajahnya terus saja menunjukkan ekspresi dingin. Dia masih gengsi mengakui perasaannya.
"Hem," sahut Devan saat sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Anda pasti lelah, sebaiknya anda istirahat saja," usul Bella.
"Ck, tidak usah sok perhatian. Aku bahkan tau bagaimana cara menjaga tubuh ku sendiri," ketus Devan kemudian langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Devan tersenyum tipis saat sudah membelakangi Bella. Hatinya seperti di penuhi oleh ribuan kupu-kupu saat mendengar panggilan dari Bella. Entahlah dia sedang jatuh cinta atau hanya sekedar obsesi saja, karena dirinya selalu menyangkal perasaannya.
Bella juga ikut masuk ke dalam, dirinya akan memasak untuk makan siang. Mengingat sebentar lagi memasuki jam makan siang, dan Devan juga harus meminum obatnya.
Bella tengah melihat bahan makanan di dalam kulkas. Wanita itu memutuskan untuk membuat sup ayam dan cumi goreng tepung.
"Anda akan memasak apa nona?" tanya pak Sam yang siap membantu Bella memasak.
"Saya mau membuat sup ayam dan cumi goreng tepung sepertinya enak, apa tuan Devan suka pak?" tanya Bella meminta saran.
"Untuk menu, tuan Devan tidak pemilih orangnya. Asal rasanya pas dengan seleranya," jelas pak Sam.
"Ah baiklah, kita buat itu saja," kata Bella.
"Biar saya bantu nona," tawar pak Sam.
Mereka memasak dengan cekatan. Pak Sam hanya membantu sedikit saja, karena takut Devan tidak menyukai rasanya.
Setelah selesai, Bella meminta pak Sam untuk menyajikannya di atas meja. Sedang dirinya akan memanggil Devan untuk turun makan siang.
"Pak, tolong tata makanannya di meja ya," pinta Bella.
"Baik nona," sahut pak Sam.
Bella langsung menuju ke atas untuk memanggil Devan. Sesampainya di kamar, Bella melihat Devan tengah berbaring di ranjang dengan mata tertutup tetapi jemarinya bergerak kesana kemari. Entah tidur atau tidak dia sebenarnya.
"M-mas, makan siang sudah siap. Anda harus segera makan dan minum obat," ucap Bella.
Deg deg deg....
Devan langsung membuka matanya, lagi-lagi dia terkejut dengan panggilan dari Bella. Kenapa wanita itu selalu membuat hatinya berdetak tak karuan. Padahal sebelumnya Devan tidak pernah merasa seperti ini.
"Hem," sahut Devan sok cuek.
Semangat Kak:)
jangan lupa mampir di ujian menjadi seorang istri mkasih