Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.
Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. persiapan ke Latvia
Jeslin mulai sibuk dengan segala persiapan untuk ke Latvia. Novel miliknya dilirik oleh salah satu rumah produksi dan akan di angkat ke layar kaca. Itu adalah prestasi terbaik yang pernah ia raih selama ini. Bagi Jeslin, menulis novel adalah salah satu bentuk melarikan diri dari dunia. Meraih apa yang tidak bisa di raih, dan membentuk sebuah kehidupan yang bisa ia atur semaunya. Jeslin adalah Tuhan di dalam novelnya sendiri. Entah nantinya akan berakhir bahagia atau berakhir menderita, hanya Jeslin yang mengetahuinya. Walau pada akhirnya ada setiap luka dan air mata pada semua novel yang ia tulis. Terutama perihal perpisahan. Entah dipisahkan oleh kematian atau dipisahkan oleh keadaan.
Seumur hidup, Jeslin belum pernah berpacaran. Jeslin terlalu tertutup dalam urusan cinta. Walau tidak jarang, banyak teman sebaya yang menaruh hati padanya. Bagi Jeslin, jatuh cinta bukan hal mudah yang bisa ia atur begitu saja. Nyatanya dia belum pernah merasakan cinta itu sendiri. Tapi justru dia sangat mahir bermain perasaan di dalam novelnya.
"Paket!" jerit suara pria yang memasuki ruang bagian produksi. Di ruangan itu ada banyak karyawan yang bekerja. Mereka hanya diberi pembatas di antara meja satu ke meja lainnya. Sekat tersebut pastilah hanya sebuah formalitas. Sekat yang tingginya hanya se-dada orang dewasa membuat setiap karyawan dapat dengan mudah melihat ke penjuru ruangan.
Berkali-kali petugas pengantaran barang datang. Pengiriman naskah, dan beberapa barang memang membutuhkan kurir pengantaran, dan hal itu sudah biasa terjadi di sini. Tidak hanya itu juga, setiap karyawan yang hendak memesan makanan tentu akan lebih mudah memesan via online, dan mereka tidak perlu keluar dari kantor, karena kurir yang akan mengantarkan.
Jeslin sedang sibuk dengan tumpukan naskah. Bukan miliknya, melainkan milik penulis lain yang harus dia teliti. Proses mencetak novel digital menjadi sebuah novel konvesional, memang memerlukan proses panjang. Dari pemilihan naskah yang layak. Tata bahasa dari segi PUEBI, alur cerita, semua membutuhkan ketelitian dari editor untuk merevisi bagian mana dari bab novel tersebut yang masih kurang baik dan tepat. Nantinya penulis akan disuruh untuk memperbaikinya lagi, lalu dikirim ke penerbit. Proses revisi tentu membutuhkan waktu yang lebih banyak.
Jeslin harus menyelesaikan pekerjaan itu sebelum dia pergi ke Latvia. Tanggung jawab sebagai seorang editor tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Kini dia harus lembur untuk pekerjaan tersebut.
"Paket, Non." Suara seorang pria tidak membuat perhatian Jeslin teralih dari layar datar di hadapannya.
"Taruh di meja aja, Pak," sahut Jeslin sedikitpun tidak melirik sosok tersebut.
"Nona Jeslin, kan?"
"Iya."
"Silakan diterima paketnya. Tolong tanda tangannya juga, ya."
"Paketnya mana?"
Sebuah buket bunga tiba tiba muncul di hadapannya. Bunga mawar putih dengan aroma khas yang membuatnya segera menatap benda tersebut dan meraihnya.
"Dari siapa?" tanya Jeslin lalu melihat ke kurir tersebut. Dia lantas melotot begitu tau kalau pria yang sejak tadi berlagak menjadi kurir ternyata Ben. "Loh kamu ngapain di sini?" tanya Jeslin bingung.
"Antar paket. Tolong tanda terimanya, Nona," pinta Ben memberikan pena lalu menyodorkan telapak tangannya ke Jeslin.
Jeslin tentu bingung. Akhirnya Ben meraih tangan kanan Jeslin, agar memegang pena nya. "Tanta tangan."
"Hm?"
"Buruan, tanda tangan sebagai bukti diterima."
"Diterima apanya?"
"Ya bunganya lah."
Jeslin menatap Ben beberapa saat lalu geleng geleng kepala. Tapi dia pun menuruti permintaan pemuda itu dengan membubuhkan tanda tangannya di telapak tangan kiri Ben.
Selesai Jeslin menorehkan tanda tangan, Ben menatap telapak tangannya lekat lekat. Dia tersenyum. Tapo dahinya berkerut. "Ada yang lupa," kata Ben, kembali menyodorkan tangannya.
"Apa?" Jeslin tentu bingung.
"Emojinya mana?"
"Emoji apa?"
"Tanda hati."
"Hah? Tanda hati? Maksud kamu?"
"Ih nggak ngerti juga! Yang gini nih," kata Ben lalu menyodorkan jari telunjuk dan jempol yang di kaitan membentuk hati. "Nah, taruh di sini," pinta Ben menunjuk ruang kosong di samping tanda tangan Jeslin tersebut.
Jeslin tampak ragu untuk menuruti Ben." Malas ah! Udah sana. Aku masih kerja. Jangan ganggu!" omel Jeslin.
"Kerja apanya? Jam berapa memangnya sekarang?" tanya Ben.
Jeslin lantas menatap jam di pergelangan tangannya, dan ternyata jam sudah menunjukkan waktu makan siang. "Ben, aku mau tanya deh."
"Tanya apa?"
"Kamu itu nggak kerja, ya? Kenapa sih kamu sering banget muncul gini? Bukannya kamu punya perusahaan? Memangnya siapa yang urus?"
"Kata siapa aku punya perusahaan?"
"Daniel."
"Itu perusahaan orang tuaku. Aku cuma punya sanggar taekwondo aja. Kecil kecilan. Kalau di perusahaan, itu cuma bantuin Papa aja. Jadi nggak harus stay di sana."
Terus kenapa kamu selalu ke sini? Nggak ada kegiatan lain?" tanya Jeslin.
"Enggak. Lagian kamu lupa lagi nih pasti. Kan aku udah janji, bakal ajak kamu makan siang terus. Sekarang aku tepati janji itu."
"Nggak sah repot ah. Aku bisa kok makan siang sendiri. Temen kerjaku sering ajak makan siang. Kayak kemarin."
"Aku nggak repot kok. Ya udah yuk, kita makan siang. Oh iya, bunganya mau ditaruh mana?" tanya Ben sambil tengak tengok, sementara itu Jeslin hanya menarik nafas panjang menghadapi sikap Ben yang tidak perduli dengan segala bentuk penolakannya.
Sesuai dengan janji Ben beberapa waktu lalu, dia benar benar selalu datang ke Jeslin dan mengajaknya makan siang. Tapi kali ini mereka hanya berdua saja. Tempat makan yang mereka pilih pun hanya di kantin dekat kantor. Itu pun adalah pilihan Jeslin karena malas pergi terlalu jauh. Pekerjaannya masih menumpuk, dan dia tidak mungkin bisa menggunakan semua waktu istirahatnya untuk makan siang.
Tapi bagi Ben itu bukan masalah. Karena bukan tempat yang membuatnya merasa senang, tapi dengan siapa dia berada di sana. Ben memang benar benar menyukai Jeslin, sekalipun gadis itu bukan cinta pertama Ben. Tapi Jeslin adalah satu satunya wanita yang membuat semua organ tubuh Ben bergejolak. Ben baru pernah merasakan hal itu. Bahkan pada mantan mantannya yang pernah hadir dalam hidupnya, belum pernah sekalipun Ben merasakan hal yang serupa. Itu lah alasan Ben terus mendekati Jeslin. Curahan hati Ben pada Panji kemarin memang hal sebenarnya. Ben memang selalu ingin melihat Jeslin setiap hari. Dia tidak bisa, jika sehari saja tidak melihat Jeslin. Padahal Jeslin sendiri tidak demikian. Bahkan Jeslin tidak merasakan hal spesial apa pun saat bersama Ben. Kecuali rasa aman. Terbukti saat Ian hendak mendekatinya lagi dan Ben lah yang telah membuat Ian mundur. Setidaknya Jeslin aman dari Ian jika Ben berada di sisinya.
Mereka menikmati hidangan makan siang ditemani cuaca terik di laut sekaligus alunan musik romantis di dalam kantin. Beberapa karyawan di tempat Jeslin bekerja juga makan di tempat ini. Biasanya para karyawan akan makan di kantin saat tanggal mendekati tua. Harga makanan di kantin memang terbilang murah daripada cafe atau restoran lainnya.
"Memangnya kamu kapan berangkat?"
"Ke mana?"
"Latvia."
"Akhir bulan ini. Makanya aku harus selesaikan pekerjaanku dulu di sini sebelum pergi."
"Berapa lama?"
"Eum, kemungkinan satu tahun."
"Harus di sana? Kenapa nggak syuting di sini aja sih?"
"Karena aku mengambil setting latar tempat nya di sana. Bukan di sini."
Ben mendengus sebal. Dia sedikit kecewa karena tau Jeslin akan segera pergi jauh dan cukup lama meninggalkan Indonesia.
"Kenapa?" tanya Jeslin.
"Aku pasti kangen. Kalau aku kangen gimana?"
"Mana aku tau."
"Eh, minta nomor hape kamu," pinta Ben segera mengambil telepon genggamnya dan menatap Jeslin penuh harap.
Jeslin hanya menatap Ben, yang terus menatapnya.
"Sini," pinta Jeslin pada Ben. Ia meraih ponsel Ben dan mengetik nomor miliknya. Setelah itu ponsel kembali diserahkan pada Ben. Pemuda itu tentu sangat senang, tapi tak lama ponsel milik Jeslin berdering. "Nah itu nomorku," kata Ben.
Jeslin hanya menarik satu sudut bibirnya dan mengabaikan hal itu, malah melanjutkan makan siangnya.
______