Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.
Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.
Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.
Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.
Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?
Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. MENJALANKAN HAK SERTA KEWAJIBAN BERSAMA DENGAN IKHLAS
Aisyah telah menyajikan hasil masakannya di atas meja serta telah menyendokkan bubur ke dalam mangkuk. Sedangkan Bibi membantu Aisyah mencuci alat masak serta membersihkan dapur.
Sebelum sarapan, Aisyah pun pergi ke kamar Papa Narandra, dia ingin memberikan bubur tersebut serta memberikan obat.
Bibi mengatakan jika kesehatan Narandra hari tampak lebih baik hingga membuat Aisyah senang.
Berarti usahanya untuk merawat sang mertua, tidaklah sia-sia.
Aisyah mengetuk pintu, lalu setelah dipersilakan masuk, diapun mengucap salam juga selamat pagi.
Benar kata Bibi, kini wajah Narandra tampak berseri. Beliau pun sudah mandi serta terlihat rapi.
"Pa, sarapan dulu ya, biar bisa minum obat."
"Kalian sudah sarapan?"
"Belum Pa, Mas Satria masih pergi jogging."
"Oh, terimakasih ya Syah, kamu telah perhatian dan merawat Papa. Yusuf memang pantas diacungi jempol, dia berhasil mendidik kamu menjadi gadis baik, meski tanpa peran almarhum ibumu."
"Itu memang sudah tugas anak Pa, kapan lagi kami anak akan mengabdi kepada orangtua."
Narandra terdiam, mentelaah omongan Aisyah. Dia tidak memungkiri jika sebenarnya beruntung telah mendapatkan menantu seperti Zahra maupun Aisyah.
Saat Aisyah sudah memegang sendok akan menyuapinya, diapun berkata, "Biar Papa makan sendiri saja Syah, Papa sudah sehat kok. Kamu temani saja Satria untuk sarapan. Sebentar lagi dia pasti pulang."
"Baiklah Pa. Ini obatnya di minum sekalian ya Pa. Aisyah pamit dulu, mau cek Mas Satria sudah pulang atau belum."
Belum lagi Aisyah bergerak ternyata Satria sudah muncul dari balik pintu. Dia senang melihat papanya kembali sehat.
"Nah itu orangnya muncul!" ucap Narandra sembari menunjuk ke arah pintu."
"Papa sudah sembuh?"
"Alhamdulillah, berkat kesabaran istrimu Sat," jawab Narandra.
Satria tersenyum memandang Aisyah, lalu diapun berkata, "Sekarang Papa sudah sembuh, tapi masih ada yang sakit lho Syah, yang juga butuh perhatian serta perawatan dari kamu."
"Memangnya siapa lagi yang sakit Mas?"
"Aku!" jawab Satria sambil menunjuk dirinya dan tanpa rasa malu.
"Dasar anak nakal!" ucap Narandra.
"Pergilah Syah, ada bayi besar yang membutuhkan perhatian mu. Oh ya, apa kalian tidak ngantor?"
"Kami libur Pa. Mau istirahat, sudah lama tidak ambil cuti."
"Oh, ya sudah. Pergilah sana makan!"
"Iya Pa, kami tinggal dulu ya Pa."
Narandra pun mengangguk, sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Sementara Satria dan Aisyah pun menuju ke ruangan makan.
Aisyah mengambilkan sarapan untuk Satria, lalu untuk dirinya sendiri. Kemudian mereka pun makan dengan lahap.
Bibi tidak mau diajak makan bareng, karena beliau tidak ingin mengganggu keakraban majikannya.
Setelah selesai makan, Aisyah membereskan meja, lalu menyusul Satria untuk menyiapkan pakaian gantinya.
Satria sedang mandi, sedangkan Aisyah telah memilihkan baju ganti dan meletakkan di atas tempat tidur.
Saat Aisyah hendak keluar, Satria yang baru keluar dari kamar mandi memanggil, "Mau kemana Syah? Tolong bantu mengeringkan serta menyisir rambutku?"
Mendengar hal itu, Aisyah menoleh, dan dia melihat tubuh kekar sang suami yang hanya berbalut handuk saja.
Aisyah menelan ludah, baru kali ini dia melihat dengan jelas bentuk tubuh Satria. Dan dengan rambut yang masih setengah basah, Satria terlihat lebih tampan serta seksi di mata Aisyah.
Dengan perasaan tidak karuan dan dengan tangan gemetar Aisyah mendekat, dia mengambil handuk kecil untuk membantu mengeringkan rambut.
Aisyah mencium aroma khas tubuh Satria, dia seperti terhipnotis, ingin berlama-lama di dekat suaminya itu.
Satria memegang tangan Aisyah yang masih gemetaran saat memegang handuk, lalu dia meremas serta mencium punggung tangan Aisyah sembari berkata, "Maafkan aku Syah, jika aku membuatmu takut. Aku janji akan menebus kesalahanku."
Aisyah melepaskan tangannya, lalu mengalihkan perhatian Satria dari masalah itu.
"Oh ya Mas, Mbak Zahra kapan pulang? Sudah hampir sebulan kan? Mbak Zahra kan janji hanya 3 minggu saja di sana."
"Entahlah Syah, belakangan dia jarang telepon dan ponselnya susah dihubungi."
"Malah tadi pagi, masuk pesannya, jika dia masih lama di sana, karena ayah dan ibu mengajak Zahra ke kampung halaman nenek untuk nyekar."
"Kampung halaman nenek terletak di daerah pegunungan yang sulit signal."
"Oh gitu ya Mas."
"Kalau sampai 2 dua bulan dia tidak pulang juga, aku akan menjemputnya Syah. Tidak baik kan suami istri berpisah terlalu lama. Lagipula ayah dan ibu pasti curiga."
"Iya Mas. Aku jadi merasa tidak enak dengan Mbak Zahra. Pasti itu semua karena aku. Mbak Zahra jadi berlama-lama pulang."
"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, pernikahan ini terjadi juga karena kemauan dia. Jadi semuanya tidak ada yang perlu di sesali."
"Apa Mas tidak menyesal?"
Satria menatap Aisyah, lalu dia berkata sembari menangkup wajah cantik dan sendu itu, "Aku tidak pernah menyesal Syah, semua ini sudah takdir dan mungkin ini, memang jalan yang dipilihkan Tuhan untuk kita."
"Mas jujur aku takut, tolong jangan baik kepadaku. Aku takut jadi egois dan tidak ingin melepaskan Mas pada saatnya nanti."
"Kita jalani saja Syah, takdir apa yang akan terjadi pada pernikahan ini. Jika memang Zahra dan kamu adalah jodohku, kita pasti tidak akan terpisah."
"Sebenarnya jika harus jujur, aku mencintai kalian berdua. Aku pun tidak tahu sejak kapan jatuh hati padamu, Syah."
Aisyah menatap manik mata Satria, dia ingin mencari kebenaran ucapannya di sana. Aisyah tidak pernah menyangka jika akhirnya akan terjerat hubungan cinta segitiga.
Satria yang ditatap seperti itu menjadi gemas, lalu dia mendaratkan sebuah ciuman ke bibir ranum Aisyah.
Kali ini ciuman itu sangat lembut dan hangat, tidak seperti tadi malam yang panas dan tentu saja memaksa.
Aisyah pun terlena, hati dan pikirannya hendak menolak, tapi bahasa tubuhnya mengatakan lain.
Keduanya saling menikmati hingga menuntut ke hal yang lebih.
Satria yang rindu layanan istri akhirnya tidak bisa menahannya lagi, kali ini dia sadar dan ingin melakukannya bersama Aisyah.
Tapi sebelumnya, Satria telah meminta izin, apakah Aisyah bersedia memberinya hak untuk mendapatkannya lagi atau tidak.
Aisyah mengangguk, kali ini dia juga menginginkannya. Dia ingin meraih surga bersama sang suami.
Mata keduanya semakin berkabut dan setelah mendapatkan persetujuan, Satria pun menggendong tubuh Aisyah, membawanya ke peraduan mereka.
Di sanalah Satria dan Aisyah kembali memadu kasih, bertempur dengan penuh cinta hingga keduanya kelelahan, saling peluk lalu tertidur.
Zahra menelepon tapi ponsel keduanya tidak aktif. Lalu dia menelepon Bibi, untuk menanyakan di mana Satria serta Aisyah saat ini.
Bibi awalnya ragu tapi karena desakan dari Zahra, akhirnya Bibi pun terpaksa mengatakan semuanya.
Jika saat ini Satria dan Aisyah sedang beristirahat di kamar karena mereka cuti bekerja.
Kemudian sambil menahan tangisnya, Zahra pun menanyakan bagaimana hubungan antara Aisyah dengan Satria sekarang.
Bibi kembali mengatakan sejujurnya, jika beliau melihat sudah ada cinta di antara keduanya.
Setelah menutup ponselnya, Zahrapun menangis, separuh hatinya hilang dan kini telah menjadi milik Aisyah.
Bersambung....