Clara Adelin, seorang gadis bar bar yang tidak bisa tunduk begitu saja terhadap siapapun kecuali kedua orangtuanya, harus menerima pinangan dari rekan kerja papanya.
Bastian putra Wijaya nama anak dari rekan sang papa, yang tak lain adalah musuh bebuyutannya sewaktu sama sama masih kuliah dulu.
akankah Clara dan Bastian bisa bersatu dalam satu atap? yuk simak alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak tik Bima 2
Malam ini Bima sedang malas keluar rumah, dia menunggu kedatangan Alisa dan Bagas yang rak kunjung datang, dia ingin melihat live pertengkaran antar pecundang itu di rumahnya.
"sedang apa Bim?." sapa Marina yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa kue kesukaan Bima, tak lupa ia juga membawakan jus apel, minuman favorit Bima.
"nggak ada ma." jawab Bima yang sedang asyik berbalas chat dengan salah satu temannya.
"ini mama bikinkan kue kesukaan kamu, mama perhatikan akhir akhir ini kamu jarang makan di rumah Bim, kenapa?."
(betul juga kata Andre, untung aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan untuk menepis kecurigaan mama.) batin Bima sambil tersenyum tipis.
"Bima sibuk akhir akhir ini ma, jadi maaf nggak bisa makan bersama keluarga." jawab Bima yang langsung saja mencomot potongan kue buatan Marina.
Mbok tun yang dari tadi mengawasi gerak gerik Marina langsung menutup mulutnya saat melihat Bima tengah memakan kue buatan Marina.
(loh den Bima kok memakan kue itu? Gawat ini!.) wanita tua itu terlihat panik.
Sementara Bima menikmati potongan kue buatan mamanya tanpa rasa ragu lagi, dia bahkan meminum jus apel yang memang di sediakan untuk dirinya.
"tumben mama ingat dengan makanan dan minuman favoritku, aku masih ingat, kapan terakhir kali mama membuat kue seperti ini untukku." ucap pria tampan itu tanpa melihat kearah sang mama.
"yaa... Kebetulan mama nggak ada kesibukan, papamu sedang ada urusan kerjaan diluar kota, jadi untuk mengisi waktu mama buat kue itu." jawab Marina.
"oh, jadi suami mama kerja sekarang?."
"ya, kami berencana membuka sebuah rumah makan, sekarang dalam tahap pembangunan."
Bima manggut manggut lalu mengambil tissue untuk membersihkannya tangannya.
Sedangkan Marina tampak tersenyum puas saat sepotong kue dan setengah gelas jus sudah berpindah ke perut Bima.
(bagus! Jika aku berhasil membuat dia mengonsumsi makanan yang mengandung racun ini terus menerus, tidak lama lagi dia akan menyusul papanya!) Marina membatin sembari tersenyum manis ke Bima.
"ma, boleh kue ini aku bawa keatas." pinta Bima yang sepertinya hendak kembali ke dalam kamarnya.
"tentu saja nak, ambil dan habiskan ya, ini kan spesial buat kamu." dengan senang hati Marina menyodorkan tempat kue tersebut ke anaknya.
Bima segera berlalu pergi meninggalkan Marina yang sedang duduk sambil memperhatikan langkah Bima menaiki anak tangga.
"seandainya kamu mau mengalah Bim, mama tidak akan melakukan hal yang sama seperti ke papa kamu!." gumam Marina.
Sementara itu di luar rumah terjadi perdebatan sengit antara Alisa dan Bagas yang baru saja turun dari mobil masing masing, Alisa yang tidak mau kebobrokannya terendus Marina dan Bima, terus merayu Bagas agar tutup mulut.
"minggir! Aku capek!." bentak Bagas yang merasa besar kepala karena berhasil mendapatkan kartu as sang istri.
"Bagas! Aku belum selesai bicara!." panggil Alisa yang mulai ketar ketir, wanita itu mengejar bagas yang tak menghiraukan teriakannya.
"loh kalian sudah pulang?." sapa Marina dengan nada lembut saat melihat Alisa dan Bagas masuk ke dalam ruang keluarga.
"iya ma, maaf Bagas langsung ke kamar dulu." sahut Bagas yang terus berjalan menuju kamar.
"oh iya iya." Marina manggut manggut, dia juga memperhatikan Alisa yang seperti sedang panik.
"perkiraanku meleset! Harusnya mereka ribut di hadapan mama, biar mama tahu siapa anak tirinya itu!." gumam Bima yang tengah mengintip dari atas.
"oke, jika kalian berlomba lomba menutupi kebusukan kalian masing masing, aku masih ada cara lain." Bima tersenyum penuh arti sambil mendorong pintu kamarnya.
"aku harus segera membawa kue ini ke Andre, kita lihat apa yang mama berikan ini aman atau masih dengan rencana busuknya!."
Bima bergegas memasukkan kue tersebut ke dalam paperbag lalu segera bersiap untuk pergi, namun saat membuka pintu kamar, pria tampan itu di kejutkan dengan kehadiran mbok tun.
"astaga mbok! Bikin Bima kaget saja!." pekik Bima pelan, hampir saja paperbag di tangannya terlepas dan jatuh.
"den, kenapa den Bima memakan kue buatan nyonya tadi? mbok melihat nyonya memasukkan sesuatu ke adonan kue itu den!." ucap mbok tun setengah berbisik.
"masuk dulu mbok, nanti ada yang denger!." Bima memegangi lengan mbok tun pelan lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
"mbok tun tenang saja, aku aman memakan makanan di rumah ini asal porsinya kecil, aku sudah melindungi diriku dari racun itu." jelas Bima.
"tapi den... Tolong jangan terlalu sering makan apapun makanan buatan nyonya, si mbok khawatir."
Bima tersenyum lalu merangkul pundak mbok tun yang sudah begitu baik dan setia terhadapnya itu.
"mbok tun gak perlu khawatir, jika aku tidak makan sama sekali mereka justru akan curiga, mbok tun tenang ya! Aku punya kenalan yang handal soal racun meracun." terang Bima agar mbok tun tidak khawatir.
"tapi benar kan den Bima gak apa apa?." wajah mbok tun masih terlihat tegang.
"aman mbok, aku sudah mengonsumsi obat untuk menetralisir racun tersebut, eehmm... Mbok yakin tadi melihat mama memasukkan sesuatu ke kue buatannya ini?." Bima menaikkan paperbag di tangannya yang berisi kue tadi.
"iya den, setelah itu beliau kembali mengantongi botol kecil itu, makanya si mbok khawatir."
"oke kalau begitu aku nggak jadi pergi deh karena informasi dari mbok sudah cukup akurat." ujar Bima seraya berjalan mendekati meja lalu meletakkan paperbag tadi.
Sementara di kamar lain Alisa terus memohon agar Bagas tidak membocorkan rahasianya.
"aku janji setelah kita menguasai harta kekayaan Bima, aku akan membagikan harta tersebut untuk kamu gas."
Bagas tersenyum menyeringai sambil duduk di sofa empuk, pria mokondo yang berasal dari keluarga pas Pasan dan gemar berjudi itu sangat puas telah berhasil membuat Alisa kelabakan.
"asal aku yang pegang kendali perusahaan itu, rahasiamu aman Alisa!." ucapnya seraya menyesap rokok di tangannya.
"iya aku janji!."
"bagus!." balas Bagas dengan seringai lebar.
"sudah berapa lama kamu main api di luaran sana?." tanyanya sembari menatap Alisa yang masih berdiri karena takut.
"a-aku... sudah sering." jawab Alisa.
"hahh! Jadi kamu nggak puas kalau hanya denganku?."
"kamu tau sendiri kebutuhanku gas, kamu juga mencari kepuasan di luar rumah kan? Jadi impas dong!."
"aku seorang pria, Alisa! Wajar dong aku melakukan itu, apalagi di rumah aku cuma kamu jadikan budak! Aku juga ingin merasakan kelembutan dari seorang wanita, bukan pemuas yang harus bekerja keras seorang diri, kamu itu egois diatas ranjang!." bentak Bagas.
"oke oke! Aku dan kamu sama sama bebas melakukan hal itu, asal kita sama sama bisa memegang rahasia ini!."
"gitu dong! Tapi jangan lupa apa yang harus kamu lakukan agar rahasiamu aman."
"tapi kamu nggak ada hati kan sama wanita tadi? Aku jauh lebih cantik dan menarik dari dia gas!."
"tentu saja tidak! Aku cuma ingin merasakan kelembutan seorang wanita, itu saja!."
"oh ya, aku butuh duit 10 juta, tolong transfer besok pagi." imbuh Bagas.
"untuk apa lagi gas? Bukankah baru kemarin aku berikan?." mata Alisa melotot tajam.
"oke...! Aku akan sebar video kamu yang merengek rengek ke aku ini!." Bagas memutar video dimana Alisa meminta agar rahasianya tidak di sebar luaskan.
"Bagas!."
"10 juta atau aibmu meluas?." ancam Bagas.
"oke oke!." Alisa langsung mentransfer uang sesuai yang di inginkan oleh Bagas dengan perasaan dongkol.
"nah gitu dong daripada ribut ribut!." Bagas tersenyum licik sambil mengantongi ponselnya.
(sial! bisa bisanya dia memeras istrinya sendiri! Awas kamu nanti, aku tidak akan tinggal diam!.) geram Alisa dalam hati.