NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Ancaman

Amara tersadar dari lamunannya, saat ada ketukan di kaca mobil nya, terlalu banyak melamun menyelam ke masa lalu, tanpa sadar dirinya sudah sampai di pelataran rumah Glen.

Rupanya, Glen lah yang mengetuk kaca mobil nya, pria itu tercengir saat melihat Amara sudah tersadar dari lamunannya.

Sedangkan Amara langsung segera keluar dari mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Biar Aku bawakan," ucap Glen mengambil alih, tas laptop milik Amara.

"Gak usah sok peduli," ketus Amara menatap Glen dingin.

"Harus dong, selama kita masih suami istri," jawab Glen sambil mengikuti istri nya masuk ke dalam.

Di depan pintu, Bu Delima sudah menyambut nya, membuat Glen hanya mengangguk saja, sedangkan Amara hanya diam saja lalu melangkah masuk begitu saja.

"My Istri, gimana hari ini kerja nya? Apa ada yang membuat mu kesal? Sampai mood nya jadi buruk gini?" tanya Glen saat berjalan mengikuti istri nya.

Namun wanita itu hanya diam saja tidak berniat untuk menjawab, karena suasana hati nya sedang buruk.

"Mandi duluan aja sana," ucap Amara setelah sampai di kamarnya, memerintahkan Glen agar pria itu mandi duluan.

Glen yang hendak menjawab, urung karena melihat sorot mata wanita itu yang tidak bersahabat, karena tidak ingin membuat wanita itu kesal akhirnya Glen pun patuh.

Setelah Glen sudah masuk ke dalam kamar mandi, Amara langsung berjalan ke arah pintu balkon, Dia duduk di bangku, lalu menyalahkan sebatang rokok dan menghisapnya, setelah nya membuang asapnya perlahan hingga menyeruak ke udara.

Cukup lama iya duduk di sana, hingga hampir dua batang rokok iya habiskan, membuat nya terbatuk-batuk.

"Kalo gak bisa merokok, gak usah ngerokok, itu gak baik buat kesehatan," ucap Glen yang sudah selesai mandi.

"Kalo lagi kesel itu jangan malah merusak diri, lebih baik tenangin pikiran dengan cara lain," lanjut pria itu duduk di sebelah Amara.

"Tahu apa Lo? Jangan sok deh," ketus Amara melirik Glen dengan dingin.

"Tahu dari ekspresi mu, kalo kamu lagi gak baik-baik saja," jawab Glen sambil tercengir.

"Makan gih, biar gak sakit, atau mau Aku suapin?" lanjut nya yang ternyata sudah membawa nampan berisi makanan, karena pria itu tahu istri nya tidak akan makan jika tidak di paksa.

"Gue gak laper," jawab Amara, namun perutnya justru malah berbunyi membuat Glen terkekeh.

"Udah, gak usah gengsi segala, kalo laper tinggal makan aja, kayak sama siapa aja," goda Glen yang tingkat keusilan nya sudah mulai keluar, namun wanita itu justru malah berekpresi datar tanpa senyum sedikitpun.

"Ayo gih makan, buka mulutnya," Glen menyodorkan sendok yang berisi makanan ke mulut wanita itu, yang tampak terlihat diam saja.

"Gak usah di suapin, Gue bisa makan sendiri," ketus Amara yang akhirnya mengambil alih sendok yang Glen pegang.

Pria itu pun tersenyum tipis, lalu ikut makan bersama istrinya, setelah nya keduanya hening tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok yang terdengar.

"Bagaimana dengan kasus kecelakaan Amira? Sudah di selidiki?" tanya Amara membuka obrolan, setelah selesai makan.

"Sudah dan memang Laura otak dari semua itu, tujuan nya pengin Aku lenyap," jawab Glen sambil mengelap mulutnya.

"Tapi bukti nya belum kuat, karena sepertinya Laura juga menyogok salah satu anggota kepolisian, Dia tidak bisa remehkan," lanjut nya melirik ke arah Amara penuh isyarat.

"Cih, jadi Lo, ingin Gue ikut turun tangan gitu?" cibir Amara menatap Glen dengan mengejek.

"Tepat sekali, soalnya Laura punya Adik yang cukup berpengaruh dan punya banyak koneksi, jadi tidak mudah untuk menjebloskan nya ke penjara," jawab Glen panjang lebar, menceritakan semua keluhan nya.

"Baiklah kalau begitu, kita bisa lanjutkan di dalam," jawab Amara, lalu meneguk air putih karena tadi belum sempat minum.

Glen pun mengangguk, lalu segera membersihkan bekas makan nya, namun saat hendak berjalan ke dalam tiba-tiba.

Door...

Krayaaak....

"Awas!" Amara dengan sigap menarik tangan Glen menghindar saat ada seseorang yang dengan sengaja ingin menembak Glen, sehingga piring dan gelas yang Glen pegang jatuh dan pecah.

"Sial, berani sekali menyerang dengan terang-terangan begini," umpat Amara saat menoleh ke bawah balkon, Dia melihat sosok berbaju hitam memakai topeng.

Wanita itu sigap naik ke pinggiran balkon, membuat Glen tampak panik dengan tindakan istri nya.

"Mau ngapain kamu?" tanya Glen dengan panik.

"Mengejar pelaku," jawab Amara, sebelum akhirnya melempat ke bawah, dari balkon lantai dua kamar Glen.

"Hah, My istri," teriak Glen dengan panik, namun Dia melihat istrinya sudah di bawah, justru malah lari dengan lincah mengejar pelaku.

"Dia beneran gila, di luar prediksi BMKG," lanjut nya sambil geleng-geleng kepala, lalu segera bergegas masuk ke dalam kamar nya, dan lari ke bawah.

Sedangkan Melani yang sedang menonton televisi, terkejut saat putra nya lari tergesa-gesa bahkan tidak memakai alas kaki.

"Ada apa Glen?" tanya Melani ikutan lari ke depan.

"Ada penjahat ingin membunuh ku," jawab Glen langsung buru-buru ke pintu gerbang, dan melihat istrinya tengah tersengal-sengal tanpa hasil.

"Sialan, penjahat nya berhasil kabur, tadi gak sempat bawa ponsel," umpat Amara dengan tersengal-sengal.

"Istri ku keren." puji Glen tiba-tiba, membuat Amara melirik Glen dengan kesal.

"Dalam situasi seperti ini, Lo masih saja becanda, nyawa Lo hampir melayang tahu, kalo Gue gak sigap menarik Lo tadi," Gerutu Amara sambil berjalan masuk ke dalam.

"Tapi kan ada kamu, yang lindungin Aku," jawab pria itu sambil tercengir, mengikuti istri nya masuk, membuat Amara memutar bola matanya nya malas.

"Apa sudah ketangkap?" tanya Melani yang ikut khawatir.

"Nihel," jawab Glen dengan lesu.

"Lalu gimana? Apa keluarga kita terancam?" tanya Melani merasa khawatir.

"Untuk malam ini sepertinya aman, setelah ketahuan tadi gak mungkin dia kemari lagi," ucap Glen berusaha untuk menenangkan Ibunya.

"Apa di depan ada CCTV?" Amara bertanya karena merasa penasaran dengan otak tersebut.

"Gak ada, cuma bagian dalam saja," jawab Glen dengan lesu.

Amara yang mendengar itu menghela nafas, lalu langsung berjalan ke tangga untuk kembali ke kamar nya, wanita itu memutuskan untuk mandi saja dulu, dan akan mencari pelakunya nanti setelah otaknya sudah fresh.Sedangkan Glen menyuruh Bu Delima untuk membersihkan pecahan beling di balkon tadi.

Malam itu Amara berkutik dengan laptop nya, sangat begitu serius, Dia merasa harus mencari dalang tersebut, apa masih ada hubungan nya dengan Laura atau beda orang lagi.

Sedangkan Glen dengan setia duduk di samping wanita itu, menyaksikan jari lincah istri nya yang bergerak dengan cepat.

Sementara di sebuah Bar ruangan VIP, tampak terlihat pria itu tertunduk merasa bersalah atas kegagalan nya.

"Apa yang terjadi? Haaah?" tanya seorang wanita yang memakai kaca mata hitam, itu dengan nada meninggi.

"Maaf Bos, Saya gagal, tiba-tiba ada wanita yang menangkis dan mengejar, untung nya, Saya berhasil menghindar dan kabur." jelas pria itu panjang lebar sambil menunduk.

"Hanya wanita lemah saja, masa kalah," gerutu wanita itu sambil menampar pipi pria itu dengan marah.

"Dia tidak bisa di remehkan, bahkan Dia bisa melempat, dari balkon lantai dua tanpa terluka," jawab pria itu menjelaskan kronologi nya.

"Glen, kali ini kamu selamat, sampai kapanpun, Aku gak akan biarkan hidup kamu tenang, karena kamu sudah merebut semua nya," geram wanita itu penuh dendam dan ambisi.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!