Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Mendatangi mantan besan
“Ya… di situ… turunin lagi…”
“Di sini?”
“Hm, iya. Pijit yang lebih kuat.”
Tangan Devi bergerak lembut di punggung bawah Revan. Jemarinya naik turun dengan cekatan, menekan otot-otot yang masih tegang sejak kejadian tadi. Revan memejamkan mata, napasnya terdengar berat.
“Mmmh…” erangnya pelan.
Pijatannya benar-benar bikin candu.
Setelah terpeleset dan tersiram air kotor oleh Alina, Revan langsung berdiri sambil mengumpat kesal. Tanpa pikir panjang, ia menelepon kekasihnya agar datang ke kantor. Untung ponselnya masih aman meski tubuhnya basah kuyup.
“Awas aja lo, Alina,” gerutunya dalam hati, teringat jelas wajah puas perempuan itu sebelum kabur meninggalkannya begitu saja.
“Udah, yang,” ucap Revan saat rasa nyeri mulai berkurang.
“Oke. Aku cuci tangan dulu,” jawab Devi sambil bangkit dan melangkah ke wastafel di sudut ruangan.
Revan merebahkan tubuhnya lagi di sofa panjang. Ia menghela napas lega—pinggangnya terasa jauh lebih enakan.
“Makasih,” katanya saat Devi kembali dan duduk di sampingnya.
“Sama-sama. Sekarang cepat pakai kemejamu.”
“Yang…”
“Hm?”
“Yang bawah nggak mau dipijitin juga?” godanya, senyum jahil terukir di wajahnya.
“Hah?”
“Ck.” Revan sedikit mengangkat tubuhnya, dagunya mengisyaratkan sesuatu ke arah bawah perutnya.
“Ini… yang bawah.”
Pandangan Devi mengikuti arah yang ditunjuk dan seketika ia paham maksudnya.
Plak!
Satu tepukan keras mendarat di paha Revan.
“Ih! Mesum!” protes Devi, wajahnya langsung memerah—antara malu dan geli.
“Nanti kalau udah nikah, aku tagih,” balas Revan sambil mengedipkan mata nakal.
“Cepet pakai baju. Kalau ada yang lihat gimana?” omel Devi, meski rona merah masih jelas di pipinya.
Revan meraih kemeja bersih yang tersampir di sandaran sofa, lalu menyerahkannya pada Devi.
“Pakein.”
Devi mendecak sebal sambil merebut kemeja itu. Tapi saat berdiri dekat, matanya sempat terpaku. Tubuh Revan yang masih tanpa atasan—dengan otot yang terbentuk jelas—membuatnya gugup sendiri.
“Ih… ini mah sengaja minta dipegang,” batinnya.
Satu per satu kancing ia pasangkan.
“Udah. Ganteng,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Revan menghela napas panjang.
“Gara-gara perempuan itu, aku jadi basah kuyup,” keluhnya.
“Mungkin dia cuma mau meluapin kekesalannya,” kata Devi santai.
“Kamu juga suka nyolot duluan.”
“Dia sadar nggak sih aku bos di sini? Aku bisa pecat dia sekarang juga,” suara Revan kembali dingin.
Devi menggeleng pelan.
“Jangan. Kasihan. Nanti dia makan apa?”
“Lagian dia punya anak.”
Nama itu langsung membuat Revan terdiam. Aeris. Anak Alina. Wajah bocah itu tiba-tiba terlintas di benaknya.
“Gimana caranya aku bisa dapet rambut atau darah Aeris?” gumamnya.
“Ya kamu deketin Aeris,” jawab Devi ringan.
“Tapi aku nggak tahu rumahnya.”
“Makanya cari biodatanya. Atau cara paling gampang—ikutin aja Alina pas pulang kerja.”
Revan mengangguk pelan.
•
•
“Bwa!!”
Afkar yang lagi asyik scroll ponsel langsung tersentak saat seseorang dari belakang tiba-tiba mengagetkannya.
“Ck, apaan sih, Cik?” keluhnya kesal.
“Kamu yang apaan! Ngapain liatin cewek-cewek cantik? Udah bosen sama aku, ya?”
“Terus kenapa?”
“Itu juga kenapa kamu kasih like?”
“Lah, emangnya salah? Like doang kok. Bukan berarti ngasih hati.”
“Ya sama aja! Like itu kan simbol hati!”
Cika manyun, lalu berbalik masuk ke dapur, menghampiri Kamelia yang sedang sibuk dengan adonan kue.
“Cika, brownies-nya ditaruh di etalase ya. Nanti sore Afkar yang nganter,” ujar Kamelia.
“Iya, Bi,” jawab Cika menurut.
“Kok dia cemberut begitu?” tanya Kamelia ketika Afkar ikut masuk ke dapur.
“Nggak tahu, Bi. Padahal aku cuma nge-like foto temen cewek. Bukan siapa-siapa,” Afkar menjelaskan.
“Itu namanya cemburu,” sahut Kamelia santai.
“Dia takut kamu berpaling.”
“Giliran aku ajak nikah, sekarang malah bilang belum mau,” keluh Afkar.
Kamelia tersenyum kecil lalu menatap Afkar.
“Fokusin yang sekarang aja dulu. Kalau jodoh nggak bakal ke mana,” katanya lembut.
“Daripada buru-buru nikah tapi mental belum siap, ujungnya malah cerai,” lanjut Kamelia, matanya sedikit menerawang—teringat masa lalu putrinya, Alina, yang dulu dijodohkan terlalu muda.
“Bibi!!” seru Cika sambil berlari kecil ke dapur.
“Ada apa, Cik?”
“Ada yang nyari Bibi. Sepasang suami istri, kelihatannya orang berada,” lapor Cika cepat.
Kening Kamelia langsung berkerut.
“Kamu lanjutin dulu di sini,” katanya sambil menyerahkan pekerjaan ke Cika.
Cika mengangguk patuh. Kamelia pun melangkah keluar, dan seketika langkahnya terhenti.
Di depan toko kue, berdiri Felix dan Jesika.
“Kamelia…” panggil mereka hampir bersamaan.
Sebenarnya Kamelia tak seharusnya terkejut. Nama dan alamat tokonya sudah terpampang jelas di media sosial. Lagipula, Felix dan Jesika memang pernah memesan kue di sini sebelumnya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Kamelia, berusaha setenang mungkin meski dadanya berdebar.
Felix dan Jesika saling pandang sejenak.
“Bisa kita bicara sebentar, Mel?” tanya Jesika dengan nada penuh harap.
“Apa lagi yang mau dibicarakan? Waktu aku terbatas. Pesanan hari ini banyak,” jawab Kamelia dingin.
“Tolong, Mel. Jangan menghindar lagi. Kami butuh kejelasan.”
“Kejelasan apa? Hubungan kekeluargaan kita sudah lama selesai!”
“Kamelia… tolong beri kami kesempatan untuk bicara,” ujar Felix pelan.
Kamelia memejamkan mata, menarik napas panjang.
“Hanya sebentar,” katanya akhirnya, tegas.
•
•
“Ini, silakan diminum,” ujar Cika sambil meletakkan dua gelas jus beserta sepiring brownies di atas meja.
“Terima kasih.”
“Siapa mereka, Mel?” tanya Jesika lagi.
“Anak-anakku.”
“Anak?”
Jesika tampak terkejut.
“Hm.”
“Langsung saja. Apa sebenarnya yang ingin kalian bicarakan?” Kamelia membuka pembicaraan.
Jesika menarik napas panjang, lalu menatap Kamelia tanpa berkedip.
“Selama ini kamu tinggal di sini?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah lama. Aku bahkan sudah tidak ingat.”
Pandangan Jesika kemudian mengarah ke dalam toko, seolah berharap seseorang akan muncul.
“Lalu… Alina?”
“Dia tidak ada di sini,” potong Kamelia cepat.
“Ke mana dia?”
“Putriku tidak tinggal bersamaku. Mungkin kalian terlalu sibuk, sampai tak pernah bertemu dengannya.”
“Jadi Alina tinggal di mana?”
“Aku tidak akan memberi tahu,” jawab Kamelia tegas.
“Mel…” Jesika memanggil lirih, tatapannya memelas.
“Untuk apa kalian mencari putriku?” tanya Kamelia tajam.
“Kami hanya ingin bertemu dengannya… dan juga anaknya. Tolong, beri tahu alamat rumahnya,” pinta Jesika.
Kamelia terlihat ragu—imbang antara ingin menjawab atau tetap diam. Namun akhirnya ia mengambil keputusan.
“Putriku tinggal di Kota B. Kota yang sama dengan kalian,” katanya datar.
“Apa? Sejak kapan? Kami tidak pernah bertemu dengannya.”
“Satu bulan yang lalu.”
Kamelia menghela napas perlahan.
“Dia ke sana bukan untuk menarik perhatian Leon lagi. Dia bekerja. Dan itu atas saranku.”
“Lalu… siapa sebenarnya Aeris? Apa benar dia anak Leon?” tanya Jesika hati-hati.
Kamelia tersenyum sinis.
“Serendah itu pikiran kalian? Sampai mengira Alina mengandung anak Leon?”
“Bukan begitu maksud kami, Mel,” Jesika cepat membela diri.
“Pikirkan sendiri dan cari tahu sendiri,” potong Kamelia.
“Aku tidak akan menjawab apa pun lagi. Kalau masih penasaran, tanyakan langsung pada putriku.”
“Bisakah kamu memberiku alamat Alina?” pinta Jesika lagi.
“Cika.”
“Iya, Bi?”
“Tolong catatkan alamat Alina.”
“Baik,” jawab Cika sigap.
Jesika menunduk sesaat.
“Maafkan aku, Mel. Dulu aku benar-benar kaget saat tahu almarhum suamimu terlilit banyak utang.”
“Dan kenapa kamu tidak pernah datang menemui kami?” sambung Felix.
“Kamu bisa saja meminta bantuan.”
“Aku tidak ingin punya urusan atau berutang budi pada kalian,” jawab Kamelia dingin.
“Apalagi putri dan putra kita sudah lama bercerai.”
“Ini, Bi,” kata Cika sambil menyerahkan secarik kertas.
Kamelia memberikan kertas itu pada Jesika.
“Datangi rumah Alina dan tanyakan sendiri. Tapi tolong, jangan membuat keributan.”
“Terima kasih,” ucap Jesika tulus.
“Kamelia, aku harap hubungan kita tidak benar-benar terputus,” kata Jesika lagi.
“Kapan pun kamu atau Alina ingin datang, pintu rumahku selalu terbuka.”
Kamelia tetap diam hingga pasangan itu berdiri.
“Tunggu,” kata Jesika tiba-tiba.
“Aku ingin memborong semua kue di sini.”
“Untuk apa?”
“Karena aku menyukainya,” jawab Jesika ringan.
“Tapi itu sudah dipesan orang.”
“Kalau begitu, aku tunggu sampai kamu membuatkannya,” kata Jesika santai.
“Kamu mau menunggu berjam-jam di toko kue kecilku ini?” Kamelia mengernyit.
“Tidak masalah,” jawab Jesika sambil tersenyum.
“Ya kan, Mas?” tanyanya pada Felix.
Felix mengangguk pelan.
“Baiklah,” kata Kamelia akhirnya, menyerah.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏