NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Kepercayaan yang Ada Batasnya

Siang itu, Pelatih Arwin menahan beberapa pemain setelah latihan berakhir. Bukan untuk evaluasi. Bukan juga tambahan drill.

"Orang tua kalian akan dipanggil," katanya singkat, sambil melirik daftar di tangannya. "Sebentar saja, untuk membahas latihan kita lebih lanjut."

Beberapa pemain saling pandang. Ada yang mengangguk santai, ada yang tampak bingung.

Saat namanya disebut, Keenan mengangkat kepala. Bahunya sempat menegang sepersekian detik... lalu ia mengendur kembali, seolah tak terjadi apa-apa.

Rakha menangkapnya bukan dari ekspresi wajah, melainkan dari jeda kecil sebelum Keenan menjawab, "Iya, Coach."

Mereka dipersilakan menunggu di luar ruang guru. Lorong perlahan dipenuhi anak-anak basket, beberapa duduk di lantai, beberapa berdiri sambil menunduk ke layar ponsel.

Suasananya tidak tegang. Lebih seperti jeda singkat sebelum sesuatu dimulai.

Keenan duduk bersandar di dinding, satu kaki ditekuk. Ponsel di tangannya menyala, tapi tak benar-benar ia perhatikan. Jarinya menggulir tanpa tujuan, layar berganti begitu saja.

Rakha berdiri beberapa langkah darinya.

Kedua tangannya masuk ke saku jaket, bahunya menyentuh tembok. Pandangannya sesekali bergerak ke ujung lorong, lalu kembali kosong—sekadar memastikan waktu berjalan.

Lorong makin terisi. Orang tua berdatangan dari arah parkiran. Suara langkah, percakapan rendah, dan sapaan singkat bercampur, tapi tak satu pun benar-benar menarik perhatian.

Keenan tetap menunduk.

Sampai langkah itu berhenti di depannya.

Ia mengangkat kepala seketika.

Seorang pria berdiri di hadapannya dengan kemeja rapi dan jam tangan sederhana. Wajahnya tenang, rahang tegas. Tidak ragu. Tidak mencari-cari.

Keenan langsung tahu.

Ia berdiri.

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan pembuka. Ayahnya hanya mengangguk kecil, lalu berbalik, mengikuti isyarat singkat pelatih dari kejauhan.

Pintu ruang guru belum tertutup sepenuhnya ketika Rakha menangkap sosok lain di lorong. Ayahnya sendiri.

Mereka sempat saling pandang. Singkat.

Ayah Rakha mengangguk, cukup sebagai tanda tahu. Rakha membalasnya, lalu kembali memalingkan wajah ke pintu ruang guru yang kini menutup perlahan.

Fokus Rakha kembali ke Keenan yang berdiri tak jauh darinya.

"Lu gapapa?" tanyanya pelan.

Alis Keenan terangkat sebelah, sedikit bingung dengan maksud Rakha. Ia mengangguk saja, tanpa niat menjelaskan apa pun.

Rakha menghela napas kecil. Tidak memaksa.

Ia mengalihkan pandangan ke lapangan yang mulai sepi. Angin sore bergerak pelan, membawa suara bola yang masih dipantulkan entah oleh siapa—akrab, tapi kali ini terasa sedikit mengganggu.

Rapat berlangsung tidak lama.

.

.

Di dalam, Pelatih Arwin menjelaskan soal jadwal turnamen lanjutan, izin latihan tambahan, dan komitmen akademik. Bahasanya lugas, tanpa banyak basa-basi.

Ayah Keenan lebih banyak mendengar. Sesekali mengajukan pertanyaan pendek, tepat sasaran.

Tidak ada ketegangan di ruangan itu. Hanya percakapan orang dewasa yang sama-sama paham apa yang sedang dibicarakan.

"Selama nilainya dijaga," kata ayah Keenan akhirnya, setelah jeda singkat, "tentu kami tidak keberatan."

Pelatih Arwin mengangguk. "Itu juga yang kami tekankan."

Rapat pun selesai.

Ayah Keenan berdiri lebih dulu. Ucapan terima kasihnya singkat, formal. Ia membuka pintu.

Keenan sudah menunggu di luar.

Tatapan mereka bertemu. Ayah Keenan sempat melirik Rakha sepersekian detik, cukup untuk menyadari keberadaannya lalu kembali ke Keenan. Dengan satu isyarat kecil, ia mengajak Keenan bergeser menjauh dari kerumunan orang tua yang mulai keluar.

Rakha berdiri di tempat. Senyumnya sempat terangkat, canggung, lalu mengendur sendiri ketika langkah mereka menjauh. Tidak tergesa, tapi jelas punya arah.

.

.

Dirasa sudah cukup jauh dari orang-orang, ayahnya akhirnya menoleh.

Tidak lama. Hanya cukup untuk membuat Keenan paham bahwa pembicaraan ini penting.

"Apa pun yang kamu lakukan sekarang," katanya, suaranya tetap, "ujungnya akan kembali ke satu hal."

Ia berhenti sejenak. Bukan untuk menunggu, lebih seperti memberi jeda. Lorong terasa makin lengang, meski belum sepenuhnya sepi.

"Meneruskan perusahaan Ayah."

Ayahnya kembali melangkah.

Keenan mengangguk. Gerakannya kecil. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang hampir terucap.

"Ayah tidak pernah menganggap basket itu pilihan utama," lanjut ayahnya. Nadanya datar, seperti menyampaikan sesuatu yang tak perlu diperdebatkan.

Langkah Keenan terhenti.

"Aku nggak pernah minta ini jadi satu-satunya," katanya.

Suaranya naik sedikit. Cukup untuk membuat dua orang yang lewat melirik.

Ayahnya ikut berhenti.

"Ayah tahu." Kali ini nadanya lebih tegas.

Keenan menoleh cepat. "Kalau Ayah tahu, kenapa selalu—"

"Keenan."

Satu kata. Pendek. Memutus semuanya.

Udara di antara mereka menegang. Beberapa langkah di belakang, seseorang mempercepat jalannya, seolah tak ingin terlibat.

Ayah Keenan menarik napas pelan. Bukan karena marah, melainkan menahan sesuatu yang tak jadi dilepaskan.

"Ayah mengizinkanmu," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, "bukan karena Ayah setuju."

Kalimat itu jatuh tepat di dada Keenan.

"Ayah mengalah," lanjutnya, "karena ada hal lain yang juga harus Ayah jaga."

Ia tidak menyebut nama.

Tapi Keenan tahu.

Tatapannya bergeser. Tangannya sempat mengepal lalu dilepas perlahan, seolah tidak ada lagi tenaga untuk menahannya.

"Jadi ini cuma toleransi?" gumamnya.

Ayahnya tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap lurus ke depan saat langkahnya kembali bergerak.

"Ini kepercayaan," katanya, "yang ada batasnya." Nada itu tidak meninggi, justru terasa lebih berat.

"Selama akademikmu aman, dan kamu bisa bertanggung jawab," lanjutnya tanpa menoleh, "basket tetap boleh diikuti."

Ada jeda.

"Tapi jangan paksa ayah menerima sesuatu yang sejak awal ayah anggap sementara."

Langkahnya berlanjut, meninggalkan Keenan beberapa meter di belakang.

Suara lorong kembali normal... percakapan pelan, langkah kaki, pintu yang dibuka. Tapi bagi Keenan, semuanya terdengar jauh.

Saat bayangan ayahnya menghilang di tikungan, Keenan menghentakkan tinjunya ke dinding.

Hanya sekali. Tapi cukup keras hingga suaranya memantul di lorong.

Ia menarik napas, lalu menunduk.

Dan tanpa ia sadari, Rakha berdiri tak jauh dari sana.

Sejak tadi.

Melihat.

Tanpa berniat ikut campur.

Rakha tidak langsung mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari Keenan, memberi jarak yang cukup agar tak terasa mengusik.

Tatapannya singkat, sekadar memastikan, lalu ia menyandarkan punggung ke dinding seberang.

Tangannya sempat bergerak. Lalu berhenti.

Keenan masih menunduk. Bahunya naik turun pelan, berusaha menata napas.

Beberapa detik lewat.

Rakha menghela napas pendek, hampir tak terdengar. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Tidak perlu.

Ia hanya berdiri di sana.

Di antara suara lorong yang perlahan kembali normal, keberadaan Rakha terasa jelas... tenang, tidak menekan, tapi nyata.

Dan entah kenapa, itu cukup membuat Keenan berhenti mengepalkan tangannya.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!