Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 Mantan Mertua
"Maksud Bapak, apa?"
"Ya ... kamu cerita saja apa masalah kamu." Aksa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf, tapi, sejak kapan Bapak peduli dengan urusan pribadi saya. Bukankah Bapak sering bilang jangan pernah mencampur adukkan antara pekerjaan dengan urusan pribadi. Urusan pribadi itu di rumah, kalau pekerjaan itu di kantor jadi jangan buat mereka bertemu dan membuat pekerjaanmu jadi kacau. Begitu, kan?" Alle menirukan gaya Aksa kalau pria itu sedang menasehati karyawan yang kinerjanya turun.
Aksa berusaha mengalihkan perhatian sebab apa yang Alle katakan benar adanya. Ia melihat jam di tangannya.
"Ini sudah lewat dari jam kantor, jadi kamu boleh cerita apa saja termasuk urusan pribadimu. Aku tidak mau masalah pribadi membuat pekerjaanmu tidak beres." Tentu Aksa harus mencari alasan agar wibawanya tidak jatuh.
"Apa pekerjaan saya tidak memuaskan hati ini, Pak?"
"Apa?"
"Iya, apa saya melakukan kesalahan hari ini sehingga bapak tidak puas dengan hasil kerja saya?"
"Tidak." Aksa menggeleng. "Pekerjaanmu bagus, hanya saja aku lihat hari ini kami jadi lebih banyak diam. Aku pikir semua karena kamu punya masalah."
"Saya, baik-baik saja, Pak. Terima kasih atas perhatian Bapak," ujar Alle menutupi semua masalahnya.
Mendesak Alle nampaknya bukanlah hal bagus. Aksa harus menyerah saat ini. "Ok, aku antar kamu pulang saja."
"Eh ... tidak perlu, Pak. Saya turun di sini saja, saya bisa naik taksi atau pun ojek. Tidak perlu Bapak repot-repot mengantar saya."
"Penolakan berarti gaji kamu dipotong!" ancam Aksa.
"Apa? mana bisa begitu?"
Tanpa persetujuan dari Alle Aksa kembali melajukan mobilnya menuju perumahan bersubsisdi milik sekretarisnya. Sepanjang perjalananan Alle kembali membisu dan Aksa tak bisa memaksa Alle untuk bercerita karena status mereka hanya terikat hubungan kerja. Tidak lebih.
"Terima kasih banyak, Pak," ujar Alle ketika turun dari mobil.
Aksa mengangguk, tapi ketika Alle akan menutup pintu mobilnya Aksa berseru, "Kamu nggak minta aku mampir?"
"Maaf?" Alle mengernyit.
"Bukankah biasanya, setelah seseorang diantar pulang ia akan berbasa-basi mengajak mampir?"
Alle menarik garis lurus di bibirnya. "Sebaiknya Bapak pulang, karena hari ini saya malas sekali merebus air untuk menyeduh kopi."
Aksa tersenyum dengan kelakar Alle. "Baiklah, aku pulang, sampaikan salamku untuk Chilla."
Alle tersenyum mengiyakan sebelum menutup pintu mobil bosnya. Setelah mobil itu menjauh dari pandangan, Alle baru masuk ke rumah.
"Assalamualaikum," sapa Alle ketika membuka pintu. Pandangannya dikejutkan dengan sepasang suami istri yang duduk di sofa ruang tamunya sedang bermain dengan Chilla.
"Waalaikumsalam," jawab Chilla bersemangat. "Hore, Mama sudah pulang." Anak itu menghambur memeluk Alle.
"Ma, lihat siapa yang datang. Mereka Kakek dan Nenek Chilla." Bocah kecil itu menunjuk pada sosok yang sangat Alle kenal. "Ternyata Chilla punya Kakek dan Nenek seperti teman-teman Chilla," sambung Chilla dengan gembira.
Tak ada raut marah yang Alle tunjukkan seperti kedatangan Fadil waktu itu. Alle lebih bisa menahan diri.
Hal yang menjadi pertanyaan Alle adalah, kenapa setelah Fadil, mantan mertuanya juga mendadak muncul. Padahal sejak perceraian itu, mereka tak sekali pun bertanya kabar apa lagi berkunjung untuk melihat cucu mereka.
Alle mengecup kepala chilla lalu mengusap lembut di sana. "Chilla sudah belajar belum?"
Anak kecil itu menggeleng.
"Ya sudah, sekarang Chilla belajar dulu, ya. Mama ngobrol dulu sama Kakek dan Nenek Chilla."
Dengan patuh Chilla menurut. Ia pamit pada dua orang yang baru datang dan mengaku sebagai kakek dan neneknya tersebut.
Tak lama, muncul Mbak Imas yang datang dengan dua cangkir teh. Pengasuh Chilla tersebut sedikit tersentak melihat Alle sudah pulang. "All ...." Mbak Imas bahkan tak mampu berkata-kata. Sebab ini sudah kedua kalinya muncul orang dari masa lalu Alle. Membuat wanita itu sempat naik pitam sebelumnya.
Mbak Imas meletakkan teh tersebut di atas meja. "Silakan Pak ... Bu."
"Mbak, tolong temani Chilla belajar ya," ujar Alle. Tak ada kemarahan dalam nada bicaranya seperti kedatangan Fadil waktu itu.
Mbak Imas mengangguk paham. "Ayo Chilla." Dituntunnya anak kecil itu masuk ke kamar.
Kini tinggal Alle dan mantan mertuanya. Alle mengambil duduk di sofa yang berseberangan dengan mantan mertuanya. "Silakan diminum Pak, Bu." ujar Alle mengulang perkataan Mbak Imas.
Sofyan—bapaknya Fadil—mengambil cangkir itu terlebih dulu kemudian menyesapnya. Sementara Marini hanya menatap sinis pada Alle yang berada tepat di depannya.
"Ibu nggak minum?" tanya Alle.
"Aku ndak haus!" jawab Marini ketus. Namun, Alle abaikan, ia sudah terbiasa dengan sikap mantan ibu mertuanya ini.
Marini menyenggol lengan suaminya sebagai tanda agar pria berbaju batik itu segera mempercepat tujuan mereka datang ke rumah mantan menantunya.
"Bagaimana kabarmu, All?" tanya Sofyan berbasa-basi. Marini kembali menyenggol lengan suaminya. Wanita itu benar-benar tidak sabaran.
"Alhamdulillah, baik, Pak. Bapak dan ibu baik juga, kan?"
"Maaf, kami baru bisa berkunjung setelah empat tahun," ujar Sofyan.
Tak tahan dengan basa-basi yang dilakukan suaminya Marini menyela, "Langsung saja, tujuan kami kemari adalah untuk meminta Chilla agar bisa tinggal bersama Fadil dan Mira."
Meski kaget dengan ucapan marini yang terus terang, Alle berusaha bersikap tenang. "Atas dasar apa Bapak dan Ibu datang dan meminta Chilla."
Marini mendelik. "Tentu saja atas dasar kalau chilla itu adalah cucu kami. Anak dari Fadil."
"Tapi mas Fadil tidak pernah mengasuh chilla sebelumnya. Ia bahkan menyerahkan hak asuh Chilla pada saya saat kami bercerai. Lalu kenapa tiba-tiba ingin mengambil Chilla. Bukankah itu aneh?"
"Kamu ndak usah banyak bicara. Chilla akan bisa hidup layak dengan Fadil dari pada janda seperti kamu. Penghasilan Fadil lebih besar dan pasti lebih menjamin masa depan Chilla."
Ucapan Marini membuat Alle menyunggingkan senyum miring. "Mungkin Mas Fadil punya penghasilan yang lebih besar, tapi apa Mas Fadil bisa benar-benar bertanggung jawab. Sementara sejak Chilla masih kecil saja Mas Fadil sudah menelantarkannya."
Marini terdiam.
"Kalau mas Fadil ingin bertemu, ya silakan saja, tapi harus di rumah ini dan tidak boleh dibawa pergi," imbuh Alle.
"Kamu itu jadi orang jangan egois. Kamu sudah tahu benar alasan Fadil meminta Chilla. Karena istri Fadil ndak bisa punya anak. Kenapa kamu ndak ngalah saja. Kamu kan bisa punya anak lagi dengan pacarmu yang antar kamu pulang barusan." Marini memang melihat Alle turun dari mobil Aksa, wanita paruh baya itu juga sempat melihat sekilas wajah pria yang mengantar mantan menantunya ini. Saat itu senyum sinis dan mencibir adalah reaksi pertama yang ia tunjukkan.
Alle tertawa. "Kenapa tidak dibalik saja, Bu. Mas Fadil kan subur, ya ... suruh saja Mas Fadil menikah lagi. Biar punya anak lagi. Begitu kan lebih baik dari pada harus meminta Chilla pada Saya."
Telak. Marini merasa tertohok dengan ucapan Alle. Dulu pun Marini pernah mengusulkan itu pada Fadil tapi ada hal yang tak bisa Marini katakan pada mantan menantunya ini.
"Kamu!" Marini menunjuk muka Alle dengan telunjuknya. "Jangan lancang kamu, ya!'
"Bu, sudah." Sofyan berusaha meredakan amarah istrinya. Ia menurunkan tangan yang sempat menunjuk kearah Alle.
"Maaf, Bu sampai kapan pun, Alle akan mempertahankan Chilla. Alle tidak akan mau menyerahkan Chilla pada Mas Fadil. Sesuai keputusan pengadilan dulu, Mas Fadil boleh menjenguk Chilla kapan pun ia mau, tapi tidak untuk mendapatkan hak asuh atas Chilla," ujar Alle tegas. Ia tidak mau berbasa-basi pada mantan mertuanya ini.
Melihat keteguhan hati Alle, Sofyan memutuskan untuk pulang saja. "All, kita pulang dulu saja, nampaknya saat ini ibumu ini ndak bisa diajak kompromi." Sofyan menarik tangan Marini.
"Apa bapak bilang, aku ndak bisa diajak kompromi. Bukan aku pak, tapi dia. Wanita yang sok ini yang ndak bisa diajak bicara baik-baik." Marini meradang.
"Sudah, Bu ... sudah." Sofyan menuntun Marini untuk berdiri. "Ayo kita pulang."
"Ndak, Pak, kalau ndak dengan Chilla, Ibu ndak mau pulang. Ibu harus bawa Chilla ke rumah."
"Bu, kita pulang," ajak Sofyan sedikit memaksa. "Kami pamit dulu, All."
Alle hanya bisa mempersilakan dan menatap kepergian mereka. Dalam benaknya muncul pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa setelah empat tahun berlalu mereka semua muncul dan ingin mendapatkan hak asuh Chilla.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.