Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dengan tangan yang masih gemetar karena tangis dan amarah yang memuncak, Abi merogoh saku celananya.
Ia mengambil ponselnya dan mencari nama Genata.
Tanpa menunggu lama, saat sambungan telepon terhubung, Abi langsung meledak.
"Puas kamu, Genata?! Puas melihat Liana menderita seperti ini?!" teriak Abi dengan suara serak yang dipenuhi kebencian.
Di seberang telepon, Genata terkejut ketika mendengar perkataan dari suaminya.
"Mas, ada apa? Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kamu menggunting semua pakaian Liana! Kamu ingin mempermalukannya, kamu ingin menghancurkannya!" Abi tidak memberi kesempatan Genata untuk membela diri.
"Gara-gara perbuatanmu dan kekhilafanku, Liana hampir mati tenggelam malam ini! Dia menggigil, dia hipotermia, dan kakinya infeksi!"
"Mas, aku hanya—"
"Cukup, Genata! Aku benar-benar kecewa padamu. Aku pikir kamu wanita shalihah yang tulus, tapi ternyata hatimu dipenuhi kedengkian," potong Abi dengan nada yang sangat dingin.
"Dengar ini baik-baik. Aku tidak akan pulang ke rumah itu sampai Liana benar-benar sembuh. Jangan hubungi aku lagi untuk sementara waktu!"
Bip!
Abi mematikan ponselnya secara sepihak, memutus akses komunikasi dari istri pertamanya.
Ia melempar ponsel itu ke kursi balkon dengan kasar, lalu mengusap wajahnya yang basah.
Amarahnya perlahan surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum kembali masuk ke dalam kamar.
Saat ia membuka pintu, bau aromaterapi dan obat-obatan menyambutnya.
Liana sudah berhenti mengigau, namun wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kesedihan.
Abi melangkah pelan, seolah takut langkah kakinya akan menyakiti Liana lagi.
Ia duduk kembali di kursi di samping ranjang, meraih tangan Liana yang mungil, dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
IIa akan tetap di sana, menjaga Liana setiap detik, memastikan bahwa tak ada lagi rasa sakit yang menyentuh istrinya itu, meski ia tahu butuh waktu selamanya untuk mendapatkan maaf dari Liana.
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden villa, menerangi wajah Liana yang masih tampak sangat pucat.
Perlahan, Liana membuka matanya. Kepalanya terasa berat dan tenggorokannya kering, namun hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya sebuah genggaman di tangan kirinya.
Liana menoleh ke bawah. Ia tertegun melihat Abi tidak tidur di ranjang empuk di sampingnya, melainkan meringkuk di atas lantai yang dingin hanya dengan beralaskan karpet tipis.
Tangan pria itu mencengkeram jemari Liana dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Liana akan menghilang.
Mata Liana kemudian beralih ke pergelangan tangannya sendiri.
Sebuah selang kecil tertancap di sana, menghubungkan tubuhnya dengan botol infus yang menggantung di tiang besi.
Bayangan tentang kolam renang yang dingin dan rasa sakit yang menghimpit paru-parunya semalam kembali berkelebat, membuat jantungnya berdenyut nyeri.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu memecah keheningan pagi itu.
"Masuk," ucap Liana dengan suaranya yang terdengar sangat parau dan lemah, hampir menyerupai bisikan.
Pintu terbuka pelan, menampakkan Niluh yang membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas air putih.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya membawakan sarapan dan obat untuk anda."
Suara percakapan itu seketika membuat Abi terjaga.
Ia membuka matanya dengan terkejut, langsung menegakkan tubuhnya yang terasa kaku karena tidur di lantai semalaman.
Tatapan pertama Abi langsung tertuju pada wajah Liana.
"Li? Kamu sudah bangun?" tanya Abi dengan nada penuh kekhawatiran yang mendalam.
Ia segera berdiri, mengabaikan rasa sakit di punggungnya.
"Ada yang sakit? Di mana yang sakit, Sayang? Bilang sama Mas."
Liana tidak menjawab. Ia hanya menatap Abi dengan tatapan kosong yang sulit diartikan.
Ia melihat mata suaminya yang merah dan kantung mata yang menghitam menandakan bahwa pria itu benar-benar tidak tidur atau habis menangis semalaman.
Abi meraih gelas air putih dari nampan yang dibawa Niluh.
"Minum dulu ya, suaramu habis."
Ia mencoba membantu Liana bangun untuk minum, namun Liana tetap diam mematung, seolah raga yang ada di atas tempat tidur itu hanyalah sebuah cangkang kosong tanpa jiwa.
Pintu tertutup pelan saat Niluh meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dua manusia yang terjebak dalam luka itu.
Abi masih memegang gelas air putih, namun tangannya tampak bergetar.
Liana tidak menoleh ke arah Abi. Ia tetap menatap lurus ke depan, ke arah botol infus yang menetes pelan.
"Kenapa Paman menyelamatkan aku?" tanya Liana dengan nada bicara yang sangat datar.
Abi tertegun sampai gelas di tangannya hampir terlepas.
"Li, apa yang kamu bicarakan? Tentu saja aku harus menyelamatkanmu. Kamu istriku..."
"Istri?" Liana memotong kalimat itu dengan tawa kecil yang terdengar sangat pedih.
Ia perlahan menoleh, menatap Abi dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh dengan kehampaan.
"Bukannya lebih baik kalau aku mati saja semalam? Kalau aku mati, Paman tidak perlu repot-repot membagi waktu dengan Mbak Genata. Paman tidak perlu merasa bersalah setiap melihat kakiku yang Paman cambuk. Dan Mbak Genata, dia akan menang karena mesin pencetak anak ini sudah rusak dan dibuang ke laut."
"Liana, cukup!" suara Abi meninggi karena ia tidak sanggup mendengar kata-kata itu, namun sedetik kemudian ia merendahkan suaranya, memohon.
"Jangan bicara seperti itu. Aku hampir gila semalam saat melihatmu tenggelam. Aku menyadari betapa jahatnya aku..."
"Kalau Paman memang sayang padaku seperti yang Paman katakan, seharusnya Paman biarkan aku tenggelam. Di dasar kolam itu, rasanya tenang sekali, Paman. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa malu, dan tidak ada Paman yang terus-menerus menyakitiku lalu meminta maaf."
Liana menarik tangannya yang masih digenggam oleh Abi.
"Kenapa Paman harus menarikku kembali ke neraka ini?"
Abi jatuh terduduk di kursi samping ranjang, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maafkan aku, Li. Maafkan aku. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku janji, kali ini benar-benar akan melindungimu. Aku sudah memarahi Genata, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi."
Abi menghela napas panjang, mencoba mengesampingkan rasa sesaknya.
Ia meraih mangkuk bubur hangat yang dibawakan Niluh tadi, lalu meniupnya perlahan dengan penuh ketelatenan.
"Makan sedikit ya, Li? Setelah itu Mas akan menyuruh Niluh mencari es krim cokelat yang paling enak di sekitar sini untukmu," ucap Abi dengan nada yang sangat lembut.
Ia mencoba menghidupkan kembali memori manis masa lalu mereka.
Liana yang sejak tadi bersikap dingin, seketika menghentikan tatapan kosongnya.
Ia melirik sendok di tangan Abi, lalu menatap wajah suaminya dengan dahi berkerut.
"Es krim cokelat?"
"Iya, es krim cokelat. Seperti dulu kalau kamu sedang sedih atau sakit," sahut Abi sambil tersenyum tulus, senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
Liana memalingkan wajahnya kembali, namun kali ini ada sedikit rona kesal di wajah pucatnya.
"Memangnya aku anak kecil? Paman pikir dengan memberikan es krim, semua luka ini bisa sembuh begitu saja?"
Mendengar ketusan Liana yang terasa familiar seperti saat ia masih remaja dulu, Abi justru tertawa kecil.
Suara tawa yang rendah dan hangat, suara yang sempat hilang ditelan ketegangan beberapa hari terakhir.
"Bagi Mas, kamu masih anak kecil yang dulu, Liana," ucap Abi pelan sambil menatap lekat mata istrinya.
"Anak kecil yang selalu mengejarku minta digendong, anak kecil yang akan berhenti menangis hanya dengan satu cup es krim cokelat. Meski sekarang kamu sudah jadi istriku, di mataku, sisi kekanak-kanakanmu itu yang ingin selalu aku lindungi."
Liana terdiam saat mendengar perkataan dari suaminya.
Ada rasa rindu yang membuncah, namun ego dan lukanya masih terlalu besar untuk menyerah.
"Ayo, buka mulutmu. Satu suap saja," bujuk Abi lagi.
Liana mendengus pelan, namun akhirnya ia membuka mulutnya sedikit, menerima suapan bubur itu dengan terpaksa.
"Hanya karena aku lapar, bukan karena es krim itu," gumamnya ketus di sela kunyahannya.
"Iya, Mas tahu. Nanti es krimnya tetap datang, entah kamu mau mengakuinya atau tidak."
Di tengah suasana yang mulai sedikit mencair itu, Abi menyadari satu hal kalau ia harus berjuang berkali-kali lipat lebih keras untuk mengembalikan kepercayaan Liana yang telah ia hancurkan sendiri.
Abi meletakkan mangkuk bubur yang kini sudah kosong setengahnya.
Ia menatap Liana dengan tatapan yang sangat dalam, berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia berada di pihaknya sekarang.
"Mas, sudah memarahi Genata habis-habisan lewat telepon tadi malam, Li. Mas sangat kecewa dengannya. Mas sudah tegaskan bahwa Mas tidak akan pulang sampai kamu benar-benar sembuh dan bahagia di sini," ucap Abi dengan nada yang tegas, seolah ingin menunjukkan bahwa ia telah memberikan "keadilan" yang Liana inginkan.
Liana hanya terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi senang ataupun puas mendengar kabar itu.
Bagi Liana, amarah Abi kepada Genata tidak serta-merta menghapus bekas cambukan di kakinya atau rasa dingin saat ia tenggelam di kolam.
"Aku tidak mau membahas Mbak Genata lagi, Paman. Menyebut namanya saja membuat kepalaku sakit," sahut Liana dingin, memutus pembicaraan tentang istri pertama suaminya itu.
Abi mengangguk mengerti, ia mengusap punggung tangan Liana dengan ibu jarinya.
"Baik, kita tidak akan bahas dia lagi. Sekarang, Mas ingin kita fokus pada kita berdua. Kita mulai bulan madu kita yang sebenarnya di Bali ini, ya?"
Liana menoleh, menatap Abi dengan tatapan sinis namun ada sedikit nada ejekan di dalamnya.
Ia melirik koper di sudut ruangan yang berisi kain-kain compang-camping hasil karya Genata.
"Kita jadi bulan madu? Pakaian saja aku tidak punya. Apa Paman ingin aku berkeliling Bali hanya dengan memakai selimut tebal ini? Atau Paman ingin aku memakai baju-baju robek itu agar semua orang tahu betapa hebatnya keluarga kita?"
Abi tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rencana.
Ia sudah menduga dengan istrinya yang akan bertanya.
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu kamar, lalu membukanya lebar-lebar.
"Niluh, bawa masuk semuanya!" perintah Abi.
Tak lama kemudian, Niluh masuk bersama dua orang staf villa lainnya.
Mereka membawa tumpukan kantong belanja dari brand-brand ternama dan beberapa manekin yang sudah mengenakan gaun-gaun musim panas yang sangat indah, lengkap dengan topi pantai dan kacamata hitam.
"Mas, sudah menyuruh orang untuk memborong isi butik terbaik di Seminyak saat kamu masih tidur," ujar Abi sambil kembali duduk di samping Liana.
"Semua yang ada di koper lama itu sudah Mas suruh Niluh untuk membuangnya. Sekarang, kamu punya lemari baru, pakaian baru, dan hidup yang baru bersama Mas di sini."
Liana terpaku melihat deretan pakaian mewah yang kini memenuhi kamarnya.
Abi mencoba menyuap lukanya dengan kemewahan dan meski ia benci mengakuinya, perhatian pria itu mulai menggoyahkan pertahanannya.
"Pilih mana saja yang kamu suka, Li. Setelah infusmu dilepas siang nanti, kita akan makan malam di tepi pantai. Hanya kita berdua," bisik Abi di telinga Liana.