masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasutri
Kami sudah selesai mengucapkan janji sehidup semati kami. Keenan masih terus tersenyum sejak pertama kali bertemu denganku.
"Ayo sekarang kita foto dulu yaaa." Ucap Tante Vera yang sekarang resmi menjadi ibu mertua ku.
Papaku benar benar menjadi wali, sekaligus keluarga terdekatku. Papaku di awasi oleh seorang bodyguard yang selalu berdiri di belakang papa. Tapi aku sangat senang karna papa bisa menjadi wali ku.
Kami berfoto, dengan aku dan Keenan di tengah. Lalu di sebelah Keenan ada Tante Anisa dan papa. Sedangkan di sebelah ku ada Mama dan papa mertuaku.
"Bersiap yaaa. Satu dua senyum." Ucap fotografer di depan kami.
Aku masih harus tersenyum kan, walau tidak ada mama disini. Jujur saja aku sangat sedih karna mama nggak bisa menyaksikan kebahagiaan putrinya. Karna mama nggak bisa menemaniku yang sekarang menggunakan gaun pernikahan miliknya.
Selesai foto itu Keenan memberi perintah bahwa papaku boleh pergi sekarang, bukan hanya pergi dari acara ini, tapi pergi dari kehidupan kami.
Entah kenapa aku merasa bahwa ini akan jadi perpisahanku dan papa. Padahal kami pasti akan di pertemukan lagi kan.
"Keenan." Panggil ku pelan dengan suara sedikit bergetar.
"Kenapa sayang?" Katanya padaku.
"Aku mau foto berdua sama papaku apa boleh?" Tanyaku pada Keenan yang menatapku tak percaya.
Keenan hanya mengangguk dengan senyum menenangkan nya dan meminta papaku untuk berfoto.
"Pa, maafin Nana ya. Nggak bisa jadi anak yang baik." Kataku pada papaku yang menatapku dengan mata sedikit berkaca dan merangkulku.
"Siap ya... Satu dua senyum." Hitung Fotografer tadi.
"Maafin papa juga nggak bisa jadi papa dan Kepala rumah tangga yang baik." Katanya mengusap kepalaku dan pergi menjauh.
"Paa, Nana sayang papa." Gumamku pelan dan air mata turun dari mataku.
"Semoga papa bahagia, mama juga semoga bahagia yaaa. Nana disini bahagia kok." Batinku sambil menghapus air mata dengan tisu.
Aku segera berusaha terlihat baik baik saja saat Keenan datang menemaniku lagi.
"Kamu cantik banget ya, walau saat nangis juga." Ucap Keenan padaku. Entah sudah berapa kali dia mengatakan aku cantik hari ini.
"Aku nggak nangis kok." Kataku pelan.
"Kamu nangis juga nggak papa. Jangan di tahan, aku tau berpisah itu berat." Katanya menggenggam tanganku.
"Nana." Panggil Keenan padaku.
"Bolehkah aku jadi sumber kekuatan kamu?" Tanya Keenan pada Nana dengan senyum manis.
"Kita akan jadi sumber kekuatan satu sama lain kan. Aku support kamu, kamu support aku." Kataku membalas senyumnya.
"Aku bakal tunjukkin ke kamu kalo aku udah jatuh cinta sama kamu." Ucap Keenan padaku.
Siapa yang menyangka kalau laki laki yang selama ini aku cintai. Tapi tak pernah terbalas kini malah balik mencintai ku.
Dia yang dari dulu hanya menganggap aku adiknya yang lemah kini malah menjadi suamiku. Walau masih tetap menganggap aku lemah sih.
00
Kalian tau istilah jadi ratu dan raja seharian. Ya mungkin itu yang terjadi padaku dan Keenan di hari pernikahan kami.
Tapi semua itu cukup membuat pinggang ku dan Keenan juga anggota badan lain pegal pegal. Baju yang beragam macam aksesoris yang lumayan berat juga membuat tubuhku pegal.
Selesai acara dan mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman juga menghapus make up, kami langsung pulang ke rumah Keenan. ini pertama kalinya aku datang ke rumah Keenan. Yang ternyata rumahnya sangat sesuai dengan rumah impianku dengan mama. Rumah dengan banyak jendela besar dan taman besar di belakang rumah.
"Ayo" katanya menggandengku ke dalam rumahnya.
"Aku biasanya tinggal disini cuma seminggu sekali. tapi ada ART yang bersihin rumah tiap hari kok." Katanya menjelaskan.
"Ini pin nya tanggal lahir kamu." Katanya padaku menjelaskan sambil membuka pintu rumah dengan sidik jarinya.
"Besok kita daftarin sidik jari kamu disini ya." Jelasnya lagi.
"Kamu dari tadi diem aja kenapa?" Tanya Keenan padaku.
"Eeeem. Aneh nggak sih kalo aku panggil kamu pake nama?" Tanyaku pada Keenan yang langsung tertawa.
"Kamu bebas panggil aku siapa aja kok." Katanya yang mencuri ciuman di pipiku.
Aku yang kaget langsung refleks menatap tajam ke arahnya. Yang membuat Keenan lagi lagi tertawa.
"Muka kamu merah." Katanya menempelkan tangannya pada kedua pipiku.
"Agak hangat juga." Aku cuma diam menerima perlakuannya.
Keenan mengunci tatapanku dengan matanya. Dan mendadak memajukan wajahnya dan otomatis aku memundurkan wajahku tapi tak bisa karna di tahan kedua tangannya.
Keenan tersenyum hangat padaku dan mengecup puncak kepalaku lalu kening ku.
"Aku mau panggil kamu cantik." Ucap Keenan.
"Geli banget di panggil cantik. Noooo, cari yang lain." Kataku padanya sedikit merajuk.
"Sweety?" Tanyanya lagi.
"Eeeem, boleh juga." Kataku setelah sedikit berpikir.
"Cherie aja deh kamu kan suka merah pipinya." Katanya melepaskan pipiku dan tertawa karna aku menatapnya agak kesal.
Aku masih memutar kepalaku untuk mencari panggilan sayang untuknya tapi aku masih belum bisa menemukannya. Rasanya panggilan sayang di kepalaku ini alay semua.
"Ma cheri, ayoo." katanya merangkulku.
"Eem, Keenan. Kamu kan tau aku belum pernah pacaran sebelumnya." Kataku pelan padanya.
"Ah serius? Selama sekolah nggak pernah juga?" Tanya Keenan kaget.
"Ya, sepertinya aku sudah mendedikasikan hidupku untuk suka sama kamu seorang." Kataku kesal karna aku yakin dia pasti punya banyak mantan.
"Na." Panggilnya dengan nada sayang. Ah kalian tau kan nada sayang itu yang kaya orang manggil dengan nada lemah lembut dengan ekspresi senang.
"Hmmm." Jawabku.
"Aku yakin kalo dulu aku terima kamu, kita nggak akan sampai disini." Katanya menggandengku ke dalam kamar.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Nanti kalau kita putus kamu benci sama aku. Terus kita nggak bisa menikah." Jelasnya sedikit kesal yang cukup membuatku sedikit tertawa.
"Kamu mau mandi nggak?" Tanya Keenan mengalihkan pembicaraan.
"Kak Ken dulu deh." Kataku agak sungkan memanggilnya kakak lagi.
Keenan menatapku dan tersenyum, lalu mendekatiku dan tiba tiba mencium bibirku. Hanya kecupan singkat dan Keenan segera menatap reaksiku.
Aku yang di cium hanya mematung dan beberapa kali berkedip tak percaya.
"Kenapa dari begitu banyak panggilan sayang kamu pilih itu? Kamu tau nggak? Orang yang boleh panggil aku Ken itu cuma kamu, mama, papa dan Kintan. Orang lain nggak pernah panggil aku Ken." Jelas Keenan padaku dengan senyum senang miliknya.
"Ternyata bener kata mama ya. Kalau udah nikah gini kebahagiaan kecil itu gampang di dapetin." Kini Keenan memelukku yang tadinya masih mematung.
"Na, apapun yang terjadi. Tetep di samping aku ya. Apapun kesalahan yang aku buat. Aku minta sama kamu buat selalu sadarin aku dan jangan pernah pergi dari sisi aku. Aku juga janji bakal berusaha jadi suami yang terbaik untuk kamu ma cherie." Jelas Keenan lembut.
"Kalau aku goyah. kak ken juga harus tetep ada di samping aku ya. Aku juga bakal berusaha jadi istri terbaik untuk kak ken." Kataku padanya dan membalas pelukannya dengan erat.
"Ah istrikuu... Sayangku..." Katanya mempererat pelukannya.
"Kita mulai pelan pelan ya hubungan kita." Jelasnya.
Aku hanya tertawa senang dan berharap kebahagiaan ini nggak segera berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Nadiapuma
31.07.2020
Selamat hari raya idul adha bagi yang merayakan yaaaa.
Jujur saja aku bingung banget mau nulis pernikahan mereka kaya gimana. Maaf yaa nggak maksimal part ini....