Hidup tanpa cinta memang hampa, tapi kehampaan tercipta karna adanya cinta.
Apakah hanya wanita yang harus menjadi bahan perbandingan dan apakah semua kesalahan harus ditanggung oleh wanita juga.
Lantas, di mana keadilan itu berada? Mereka bilang cinta membawa kebagian dan cinta menuntun kita ke kehidupan baru, tapi yang aku rasakan jatuh terbalik dari pernyataan itu semua.
Hidupku hancur, harga diriku terhina semua orang mencemooh bahkan mengucilkan aku.
Apakah ini yang di namakan hidup baru penuh kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Erli menjimpit lingerie berwarna biru langit dengan ekspresi wajah yang jijik, dilempar gaun tidur tersebut ke ranjang, bersamaan dengan itu Rafan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang membalut sebagian badannya.
“Kamu kenapa? Kado dari mana itu?” tanya Rafan dengan kepala yang miring berusaha mengintip.
“Aa, bukan apa-apa!” jawab Erli gugup dan bergegas dia meraih lingerie pemberian Handoko.
“Coba sini aku lihat?!” desak Rafan.
Erli berbalik badan dan segera memasukkan gaun tidur itu ke dalam kotak. Melihat kepanikan istrinya, Rafan merasa curiga dan keinginannya semakin besar melihat barang yang disembunyikan oleh Erli.
“Cepat pakai baju! Aku mau mandi, gerah.” Erli mengibas-ngibaskan tangannya seraya menuju ruang ganti.
Gadis bertubuh ramping tersebut menghela napas panjang nan berat, “Hampir saja. Kalau dia tahu baju sialan ini, pasti dia akan berpikir yang macam-macam tentangku!” gerutu Erli pelan sembari meletakkan kotak di dalam lemari.
Di saat Erli mandi, Rafan masuk ke ruang ganti dan mencari kotak yang dia lihat tadi. Senyuman yang sangat aneh, suami Erli itu mengembalikan kotak tersebut di tempatnya semula setelah melihat isinya.
Betapa bahagianya Rafan dan dia sangat tidak menyangka dengan Erli yang jual mahal terhadapnya.
“Rupanya kamu mau main kucing-kucingan denganku. Mari kita lihat, sampai kapan kamu akan menyembunyikan baju harammu itu?” gumam Rafan pelan.
“Apa yang haram, Mas?”
Sontak Rafan terkejut dengan kedatangan Erli yang tiba-tiba, segera Rafan menoleh ke belakang.
“A-apa?” tanya Rafan gagap.
Erli mengusapkan handuk ke rambutnya sembari melangkah ke meja rias.
“Tadi aku dengar kamu bilang haram. Apa yang haram?” Erli mengulang pertanyaannya lagi.
“Tadi aku lihat konten berita. Istri yang ngeprank suaminya mengenakan baju haram,” ujar Rafan dengan nada datar.
“Baju haram?” Erli mengernyitkan keningnya.
“Itu loh, lingerie. Biasa disebut baju dinas atau baju haram,” pungkas Rafan dengan mata yang melirik wajah istrinya.
Erli mengangguk dan tidak merespons lagi perkataan suaminya.
Kenapa dia tidak bereaksi lagi? batin Rafan bertanya-tanya.
Rafan duduk di sebelah Erli dan melontarkan pertanyaan, “Kemarin saat di Bali, kamu tidak beli baju kaya gitu?”
Rafan tersenyum dan bergumam kembali. Mau jawab apa kamu, Sayangku?
Erli menggeleng cepat dan berkata, “Untuk apa aku beli baju kaya gitu? Lagi pula Mas ‘kan tidak tertarik denganku. Selama ini juga kita belum memutuskan untuk melakukan kewajiban suami istri.”
Netra Rafan terbelalak dan dia menelan kasar salivanya.
“K-kapan? Kapan aku bilang kaya gitu? Aku sangat tertarik dengan dirimu. Tubuh yang molek kulit yang mulus, walaupun kulitmu tidak seputih kulitku!” ungkap Rafan di sela ejekannya untuk Erli.
“Mas ....” Mata Erli membulat sempurna menatap suaminya.
Rafan tertawa kecil melihat wanitanya geram dengan ungkapannya barusan.
Percakapan suami istri itu didengar langsung oleh Handoko, manusia mesum di keluarga Suprianto. Setelah mendapat informasi tentang hubungan keponakannya, Handoko pergi dari sana menuju taman belakang dengan bibir yang tersenyum lebar.
“Bercanda.”
“Awas aja kalau bilang kayak gitu lagi!” ancam Erli.
“Memang kamu mau apa?” Rafan mendekatkan wajahnya ke wajah Erli, napas wangi Rafan terhirup oleh sang istri.
Hal itu membuat degup jantung Erli terpacu cepat dan darahnya seraya mendidih, mendapati dirinya tidak terkendali segera dia menjauh dari sang suami.
“Kenapa lagi kamu?” Netra Rafan menatap Erli dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Enggak apa-apa! Hanya saja aku mengingat janji kita di Bali,” ungkap Erli kalem.
Tampak santai dan biasa saja, tetapi di dalam sana serasa mau meledak dan tubuh gadis itu gemetar lemas tak berdaya. Namun, dia terus berusaha menyembunyikan apa yang dia rasa.
Matahari telah bersemayam dan digantikan oleh rembulan malam yang indah, cahaya kecil melengkapi langit hitam yang terbentang. Erli tengah duduk termangu menikmati terpaan angin malam, dedaunan disekitar bergoyang tak tentu arah dan alunan suara jangkrik yang menyanyi memberi kesan tersendiri.
Seorang pria bertubuh besar datang menghampiri Erli yang tengah duduk santai menikmati latte. Benar, itu Handoko. Pria tua satu-satunya di kediaman Zulaika, tanpa ragu dia membelai lembut kepala Erli dan belaiannya tersebut turun ke punggung istri Rafan.
Erli mengira itu tangan suaminya, karena selama ini Rafan selalu melakukan itu kala dia dilanda kegundahan.
"Sudah selesai memeriksa berkas restoran?" tanya Erli kalem.
Wanita berbadan dua tersebut mengerutkan keningnya saat pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Segera dia menolehkan kepalanya ke belakang, betapa terkejutnya Erli kala melihat orang yang membelainya sejak tadi adalah Handoko—adik mertuanya.
"Apa yang Om lakukan?" Sorot mata Erli menajam, "tindakan Om sangat lancang! Jika tante atau Rafan tahu, mereka akan berpikir yang tidak-tidak." Erli menjauhkan dirinya dari Handoko.
Pria paru baya tersebut menyunggingkan senyuman misterius yang menimbulkan kecurigaan di hati Erli.
"Jika kamu membutuhkan belaian kasih sayang, panggil aku!" Handoko duduk di kursi tempat Erli duduk tadi
Syok, tentu saja Erli syok mendengar perkataan Handoko.
"Jangan memasang wajah yang bingung. Sepertinya Rafan tidak bisa memuaskan dirimu," ucap Handoko dengan suara seraknya.
"Cukup Om! Erli tidak tahu, atas dasar apa Om berbicara seperti ini. Yang jelas Erli sangat amat tidak suka dengan kelancangan Om, Erli mohon dengan hormat jangan membuat suatu tindakan yang menimbulkan prasangka buruk!" pesan Erli panjang lebar.
"Aku tidak yakin hal itu."
***
Empat bulan telah berlalu kini perut Erliana semakin buncit dan hal itu membuatnya cemas, pasalnya dia dan Rafan belum melakukan malam pertama setelah pernikahannya.
Selama ini Rafan sudah bersikap baik kepadanya dan Erli memutuskan pada malam ini dia akan menjadi istri Rafan seutuhnya. Ketika dia memikirkan hal itu, tiba-tiba dia mengingat kado yang diberikan oleh Handoko.
“Sebaiknya aku pakai baju itu, agar lebih menarik perhatian ayang kebab.” Erli tertawa seraya membuka pintu lemari.
“Sambil nunggu kedatangannya. Aku mandi dulu, masih ada waktu sepuluh menit. Kita selesaikan peperangan yang telah lama tertunda, Mas!” tutur Erli menyeringai.
Sebelum dia mandi, Erli telah mengubah suasana kamarnya. Banyak kelopak bunga mawar dan melati, ada beberapa lilin yang melengkapi suasana kamar romantis tersebut. Tidak lupa juga Erli menyemprotkan wewangian disetiap sudut kamarnya.
Hal nekat ini bukan karna perutnya yang semakin membuncit, melainkan dia cemburu dengan murid perempuan Rafan yang memperlakukan suaminya dengan sangat istimewa. Saat dia menabur mawar di ranjang Erli mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika dia datang ke sekolah tempat suaminya mengajar. Tidak sengaja Erli mendapati segerombol murid perempuan yang sedang merencanakan kejutan buat suaminya.
Sejak saat itulah Erli selalu uring-uringan dan marah-marah tidak jelas dengan Rafan, berulang kali suaminya bertanya tetapi Erli tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Selepas kejadian itu Erli memutuskan akan memberikan hak Rafan seutuhnya sebagai seorang suami.
“Jangan harap merebut imam ku!” ucap Erli geram.
Erli berbicara sendiri baknorang tidak waras. Setelah selesai menata kamar dan mandi, Erli duduk di pinggir ranjang dengan mengenakan lingerie yang sangat sexy. Berulang kali dia melihat penampilannya dan berulang kali juga dia muntah karna jijik melihat tubuh mungilnya terlihat aneh bak alien.
“Tuju kali sudah aku keluar masuk ke dalam kamar mandi. Kamu ke mana sih, Mas? Tidak tahukah kau di sini aku tersiksa? Dan kenapa juga aku muntah-muntah tidak jelas kaya gini?” gerundel Erli seraya memeluk bantal guling.
Setelah berjalan mondar-mandir kayak orang bodoh akhirnya Erli mendengar derap langkah yang terhenti di depan pintu kamar.
“Aku pasti bisa,” kata Erli penuh percaya diri.
Pintu kamar pun terketuk berulang kali menandakan bahwa suaminya sudah datang. Bisanya Erli akan membukakan pintu menyambut suami tercintanya, tetapi kali ini dia diam saja. bahkan Erli hanya mengatur pose sekai dan sorot mata yang sayu. Perlahan pintu itu terbuka dan decitan pintu membuat Erli semakin deg-degan.
“Astagfirullah, apa-apa ini Erli!” protes Rafan dengan mata yang membulat, setelah berkata demikian Rafan menatap tubuh sang istri yang terlihat sangat seksi dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sabar Rafan jangan tergoda, gumam Rafan dalam hati.
Erli melangkah maju mendekati sang suami dan dia mencoba menggoda keimanan Rafan.
“Kamu mau makan aku dulu atau makan masakan yang telah aku sediakan?” Kalimat ambigu itu dia bisikkan pelan ditelinga Rafan.
Tubuh Rafan bergidik dengan kasarnya dia melepas tangan Erli yang melingkar di tubuh kekarnya.
“Stop jangan berbuat hal yang akan menggoyahkan kesabaran aku!” ujar Rafan, walau sudah menegaskan penolakan Erli tetap menggoda suaminya tanpa putus asa.
“Sudah aku bilang jangan lakukan hal ini!” bentak Rafan seraya melempar tas jinjing ya ke sembarang arah.
kemasan isi cerita yang menarik 💞 keren 💕semangat selalu sahabat q sayang👍
tes..
that's right answered🤭
miss you thor♥