NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:862.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Apakah wajahku seperti gadis SMA?

Pagi ini Nadia terbangun dari tidurnya, tapi ada yang Aneh. Kenapa Rehan tidak berada di sampingnya? Apa suaminya yang gila kerja itu bekerja pada pagi hari? Tapi masa iya? Matahati baru saja muncul, terlalu bersemangat jika suaminya benar-benar sudah bekerja.

Kaki Nadia berjalan menuruni tangga rumah barunya, tenggorokannya kering meminta minum.

Harum masakan menyeruak masuk kedalam rongga hidungnya.

"Wow, baunya enak sekali. Siapa yang masak pagi-pagi begini?" Nadia mempercepat langkahnya, dan....

"Selamat pagi istri ku." Nadia menganga melihat suaminya membawa dua nasi goreng yang di atasnya terdapat dua ayam goreng.

Tangan Nadia terurur membuka kulkas, dia meneguk setengah air dari dalam botol minuman.

"Pagi, apa semua ini kamu yang masak Rey? Kamu juga membuat Jus sendiri?" Nadia menggigit apel yang berada di atas meja makannya.

"Tentu, aku tidak tega membangunkan mu untuk membuat sarapan." Rehan menarik kursi yang akan Nadia duduki.

"Silahkan sarapan istri ku tersayang." Nadia mengerutkan keningnya. Apakah Rehan sakit? Dari semalam dia terus bersikap romantis.

"Heee..., iya." Cengir Nadia, bingung.

Nadia memakan makanannya dalam diam. Begitupun dengan Rehan, lelaki itu sama sekali tidak bersuara. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring, yang membuat riuh di meja makan. Keduanya sangat menikmati sarapan di pagi ini.

"Kamu belajar masak dari mana, Rey?" Sungguh Nadia sangat menikmati masakan Rehan.

"Aku sering melihat Luwis memasak." Jawab Rehan jujur. Sahabatnya itu memang sering memasak untuk dirinya sendiri. Luwis yang tinggal di apartemen, sangat tidak menyukai makanan instan.

"Luwis?" Nadia mengulang jawaban Rehan tadi.

"Dia sahabat ku." Jawab Rehan singkat. Nadia mengangguk, lalu dia kembali memakan sarapannya.

***

"Geser ke kanan, Rey." Seru Nadia. Siang ini Rehan rela tidak bekerja hanya untuk menata pernak-pernik rumah barunya.

"Disini?" Rehan menempelkan Figura foto pernikahannya di atas tempat tidurnya.

Nadia mengamati figura itu, lalu kepalanya menggeleng pelan.

"Tidak, turunkan sedikit." Suruh Nadia, dia tidak suka dengan letak figura itu.

"Begini?" Tanya Rehan kepada istri cantiknya.

Lagi-lagi Nadia menggeleng. "Ke atas lagi."

"Ke atas? minta aku lempar ke atas?" Geram Rehan. Nadia terkekeh melihat kemarahan suaminya.

"Yaudah, di situ aja." Rehan menghela nafas lega. Akhirnya dia bisa turun juga. Tangannya sudah pegal memegang figura itu.

"Bisakah kita membeli cet dan alat-alat dapur yang lebih lengkap?" Nadia menghampiri suaminya yang sedang tiduran di atas kasur.

"Bisakah kamu diam dan bawakan aku minuman dingin? Aku haus." Rehan menatap Nadia yang sedang berdiri di depannya.

"Hufff..., baiklah." Rehan terkekeh melihat wajah malas istrinya.

"Dasar." Dengus Rehan.

Nadia membuatkan Rehan jus orange, kelihatannya jus itu sangat cocok untuk orang yang sedang kecapekan.

"Akhirnya selesai." Nadia membawa dua jus yang dia buat naik kelantai dua kamarnya.

"Rey, aku bawakan kamu jus Orange...."

Pyar...

"Aaa..." Nadia berteriak dan menjatuhkan kedua gelas yang dia pegang.

"Kenapa kamu tidak pakai baju?" Nadia masih memejamkan matanya. Rehan menghela nafas kasar ketika melihat tingkah sok polos istrinya.

"Bisakah kamu buka mata mu? Kamu sudah sering melihat ku seperti ini. Aku hanya bertelanjang dada, bukan bertelanjang badan." Dengus Rehan.

"Tapi...."

"Baiklah, kalau kamu mau terus memejamkan mata mu disini. Aku mau turun, mau minum." Rehan ingin pergi, tapi Nadia dengan sigap mencekal lengan Rehan.

"Ah, maafkan aku sudah menjatuhkan minuman itu. Aku..."

"Kamu kaget melihat ku bertelanjang dada, Aku tahu." Rehan memakluminya.

***

Nadia sedang menyapu diteras, sedangkan Rehan sedang mandi. Sore ini mereka akan membeli cet dan beberapa alat masak.

Nadia sudah cantik mengenakan celana jeans serta baju putih polos. Rambutnya dia ikat asal, hal itu menambah kesan cantik di wajahnya.

"Mbak-mbak..." Panggil ibu-ibu di depan gerbang rumahnya.

"Iya Bu, sebentar." Nadia menghampiri ibu-ibu itu dengan langkah cepat.

"Ada apa ya, Bu?" Tanya Nadia sopan.

"Itu siapa? Kakaknya ya? Ganteng banget. Udah punya calon belum? Kebetulan saya punya anak perempuan, cantik loh." Nadia mengikuti arah pandangan ibu-ibu itu. Diatas balkon kamar utama, Rehan sedang bertelanjang dada sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.

Nadia terlihat sangat marah, sedangkan Rehan malah bersenandung kecil. Ingin sekali Nadia memaki suaminya itu.

"Dia bukan kakak saya, tapi suami saya." Nadia meninggalkan ibu-ibu itu sendiri, dia melangkah masuk kedalam rumahnya dengan nafas memburu, karena menahan emosi.

"Lah, saya kira itu kakaknya." Ibu-ibu itu terlihat tidak enak kepada Nadia.

Kaki Nadia menaiki setiap anak tangga dengan bibir mendumel. Bisa-bisanya suaminya memamerkan perut sixpack-nya kepada orang-orang.

"Rehan..." Nadia berteriak dengan nafas memburu. Dia tidak perduli jika suaranya hilang nanti.

Nadia mendorong pintu kamarnya, kasar. Sedangkan Rehan berdiri di depan Nadia dengan tatapan tanpa dosa.

"Kamu...." Rehan berkacak pinggang di depan suaminya. Dia merebut handuk yang Rehan pegang.

"Bisakah kamu mengenakan pakaian ketika berada di balkon atau keluar rumah? Kamu seharusnya menutupi perut sixpack mu itu. Kenapa malah kamu perlihatkan kepada semua orang?" Nadia memukul pundak Suaminya. Sedangkan Rehan menaikkan satu alisnya keatas.

"Maksutnya?" Tanya Rehan tidak mengerti. Nadia menghela nafas kasar.

"Jangan berlagak polos kamu ini. Ngapain kamu berdiri di luar balkon tanpa mengenakan baju? Mau pamer perut sixpack kamu? Atau mau pamer kalau kamu itu tampan?" Bibir Nadia tidak berhenti mengoceh.

"Kamu baru saja bilang aku tampan?" Rehan tersenyum jahil di depan Nadia. Tentu hal itu membuat Nadia gugup.

"Tidak usah kepedean kamu. Barusan Ibu-ibu datang ke rumah kita. Dia bertanya kamu sudah menikah atau belum? Dan parahnya lagi, yaampun Rey..." Bibir tipis Nadia, dia majukan kedepan.

"Dia mengira aku adik mu. Apakah wajahku terlihat seperti anak SMA yang menikah dengan Om-om?" Rehan tertawa lepas. Ekspresi Nadia membuat dia tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.

"Kamu marah hanya karena ibu-ibu mengira kamu adik ku?" Rehan tidak habis fikir dengan otak cantik istrinya. Kenapa dia gampang sekali terpancing oleh hal-hal kecil seperti itu.

"Tidak hanya itu, dia menawarkan anak gadisnya untuk di jodohkan dengan mu. Yaampun Rey....." Nadia berjalan kesana-kemari bagaikan orang kebingungan.

"Hey, sadarlah." Rehan menghampiri istrinya. Dia memegang kedua pundak Nadia.

"Kamu tidak usah pedulikan ucapan ibu-ibu itu. Aku mencintai mu, tidak mungkin aku menikah dengan perempuan lain." Rehan mengusap pipi Nadia dengan lembut.

"Bagaimana jika anak ibu-ibu itu cantik? Atau mungkin menarik. Kalau tidak itu dia putih, tinggi, manis, mancung, dan...."

"Dan aku tidak perduli. Aku cukup punya kamu, menaklukkan hati mu saja aku belum bisa, sok-sok'an mau menikah lagi." Rehan menempelkan keningnya di kening istrinya.

"Percayalah, kamu satu-satunya." Nadia memeluk Rehan, dia terus bergerak disana. Nadia seakan mencari tempat ternyaman di dada bidang suaminya.

"Kamu mau terus begini?" Rehan mengusap rambut istrinya.

"Apa kamu keberatan?" Nadia mendongakkan kepalanya.

"Tentu tidak. Aku seneng kamu bermanja seperti ini. Tapi kalau kamu terus memeluk-ku, aku tidak bisa berganti baju, dan tentunya kita tidak bisa pergi untuk beli cat dan alat dapur." Jelas Rehan.

"Tapi aku mau begini." Rengek Nadia, tanpa mau melepaskan pelukannya dari tubuh Rehan.

"Baiklah, terserah kamu saja. Asal kamu bahagia." Rehan membiarkan Nadia terus berada di dalam pelukannya. Dia sangat senang jika istrinya terus bermanja seperti ini dengannya.

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!