NovelToon NovelToon
Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang

Status: tamat
Genre:Patahhati / Spiritual / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Cintapertama / Tamat
Popularitas:425.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Ambu

Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."

Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."

Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."

Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."

Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan

"Pak, aku mau keluar. Itu istri Bapak menelepon, tidak baik kalau tak diangkat."

Hanin mengingatkanku dengan suara yang lembut, dia tak ketus lagi dan hal itu membuatku patuh.

"Baik," aku membuka kunci.

Hanin bergegas. Harapanku, Hanin keluar dulu saat aku teleponan dengan Dewi. Tapi aku salah, Hanin malah mencegat mobil bus. Kupikir, di jalan tol, kendaraan umum tidak boleh berhenti dan mengangkut penumpang. Tapi di sini sedikit berbeda, saat Hanin melambaikan tangan, sebuah mobil bus menepi dan Haninpun naik.

Saking asyiknya memperhatikan Hanin, aku sampai lupa mengangkat telepon. Hingga Dewipun mengakhiri panggilannya. Aku menghela napas, lalu mengiring mobil bus yang membawa Hanin. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya.

Sampailah bus yang ditumpangi Hanin di terminal Leuwi Panjang, pun dengan mobilku. Aku memperhatikan dari kejauhan saat dia turun. Cukup penyabar, pikirku. Dia tidak tergesa-gesa. Baru turun dari mobil itu saat seluruh penumpang sudah keluar. Akupun turun dan menghampirinya.

"Hanin."

Hanya itu kata yang mampu kuucapkan. Sebab tiba-tiba saja seorang pemuda datang menghampiri Hanin. Dia memakai koko berwarna putih, sarungan, berpeci putih dan tampan. Aku minder, aku mundur alon-alon (pelan-pelan).

Siapa pria itu? Batinku bertanya-tanya.

"Teteh," seru pria muda itu.

Ia berhambur ke arah Hanin lalu mencium tangannya. Langsung lega perasaan ini. Jika dipanggil teteh dan sedekat itu, berarti pria ini adalah adik iparku. Maksudnya adiknya Hanin.

"Teh itu saha (siapa)?" tanya pria muda itu, matanya mengerling ke arahku.

"InsyaaAllah calonnya Teteh," jawab Hanin dengan suara pelan.

"Hah, euleuh, seriusan Teh?" Adik Hanin terlihat kaget. Namun dia tiba-tiba berjalan ke arahku dan tersenyum.

"Om, Abang, Aa, hehehe," dia mengulurkan tangan sambil nyengir, menampakkan gigi kelincinya kepadaku. Remaja ini tampan, tak salah kalau kakaknya secantik itu, eh?

"Namaku Zulfikar Saga Antasena, panggil saja Mas." Aku meraih tangannya. Dia mencium tanganku sambil membungkukkan punggungnya. Aku jadi merasa sangat dihormati.

"Salam kenal Mas Saga, namaku Rayhan Abdillah Putra Sadikin."

"Panggil saja Mas Zul," kataku.

"Kenapa gak boleh Mas Saga?" celetuknya.

"Emm, biar lebih mudah," jawabku.

"Oh, hehehe. Aku ngerti, daun saga kan pahit," celetuknya lagi.

Daun saga?

Aku mengernyitkan alis. Ya, aku ingat, saat masih kecil, pernah dicekoki perasaan daun saga oleh bu Wawat. Rasanya memang sangat pahit hingga terasa menempel ke kerongkongan.

"Putra geuraan (cepat), Teteh tos cape (sudah lelah)," kata Hanin. Aku mengerti masud Hanin. Sedikit-sedikit aku juga bisa bahasa Sunda.

"Muhun Teh, hayu atuh (ya Teh, ayolah)."

Putra membungkukkan badan padaku, lalu menuntut tangan Hanin ke suatu tempat. Aku tidak mengalihkan pandangan dari sosok mereka. Ternyata, Putra menjemput Hanin menggunakan sepeda.

Aku terenyuh. Sesederhana itukah kehidupan mereka? Aku sempat bingung bagaimana caranya putra mengayuh sepeda. Dia kan memakai sarung.

Sama seperti Hanin, di balik sarungnya ternyata ada celana panjang. Hanin memeluk erat punggung adiknya. Aku jadi membayangkan jika aku adalah Putra. Tuh, kan, ke arah situ lagi? Ingat Zul, ini hanya pernikahan setingan.

Aku mengikuti sepeda itu dengan perasaan campur aduk.

Hanin.

Kenapa nama itu begitu membekas di relung hatiku? Hanya menyebut namanya saja, hatiku berdesir.

Lumayan jauh ternyata. Aku yakin bakal tersesat kalau mengikuti intruksi go map. Adiknya Hanin pasti kecapekan karena telah mengayuh sejauh ini.

Sekarang aku memasuki jalan beraspal yang tidak telalu besar. Hanya cukup untuk satu mobil dan dua motor mepet-mepet.

Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan sungguh memanjakan mata. Sejauh mata memandang terhampar sawah yang menghijau. Lalu ada sungai yang sebagian airnya digunakan untuk irigasi. Nun jauh di sana aku melihat sebuah gunung yang bagian puncaknya tertutup kabut. Entah gunung apa namanya. Aku harus bertanya pada Hanin atau Putra.

Terlihat jua aktivitas beberapa orang petani yang tengah menyiangi rumput.

Akhirnya sepeda itu berhenti tepat di seberang sebuah bangunan besar. Aku terkejut. Tertulis besar di bangunan itu 'Pesantren Manhaj Salaf.' Apakah orang tua Hanin pengurus pesantren? Atau mungkin pemilik pesantren ini? Nyaliku tiba-tiba menciut. Aku termenung di dalam mobil.

...🍒🍒🍒...

Daini Hanindiya Putri Sadikin

Kakiku lemas saat turun dari sepeda Putra. Biasanya, aku selalu bahagia saat hendak bertemu abah, ummi, dan adikku. Tapi kali ini tidak. Aku tidak bahagia. Aku justru merasa sedih dan ketakutan.

"Teh, jangan ngelamun atuh, itu ajak juga calonnya. Untung saja abah belum ta'arufin Teteh sama ustadz Kholil. Beranian euy Teteh sampai bawa calon segala, kalau aku sih takut, hehehe. Takut sama abah," kata Putra. Dia menyikut bahuku sambil melirik ke mobil Pak Zulfikar. Pria itu belum turun dari mobilnya.

"Putra tulungan (tolong) Teteh," Aku memeluk lengan Putra.

"Hah? Minta tolong apa, Teh?"

"Kamukan umur 17 tahun. Kamu sudah dewasa. Kamu yang ajakin dia masuk ke rumah ya. Teteh takut sama abah."

"Ya ampun, Teh. Terus aku harus ngomong apa sama abah dan ummi? Aku juga takut, Teh. Eh, kan ummi dan abahnya juga belum ada di rumah. Ya, nanti aku ajak, Teh." Putra garuk-garuk kepala sambil menautkan alisnya.

"Tugas kamu ngajak dia doang. Gak usah ngomong apa-apa sama abah ataupun ummi. Untuk maksud dia datang ke sini, nanti dia juga ngomong langsung kali sama abah," jelasku.

"Oh gitu? Kok Teteh manggilnya dia sih? Kenapa gak Mas Zul?"

"Sudahlah Putra, kamu tidak tahu apa-apa. Pokoknya kamu ajak dia masuk. Kakak mau masuk duluan ya." Aku bergegas ke dalam rumah. Saat aku menoleh, Pak Zulfikar masih belum turun juga dari mobilnya.

...***...

Rayhan Abdillah Putra Sadikin

"Teh, tunggu." Tapi dia tak mempedulikanku.

Aku jadi bingung, lalu ada perasaan tidak enak. Ada apa ya? Kuhampiri mobil Mas Zul. Kuketuk pintunya.

'Tok tok tok.'

"Mas," sapaku.

Eh, Mas Zul langsung membuka pintu saat aku memalingkan wajah karena melihat itik lewat. Hampir saja aku mengetuk kening Mas Zul.

Mas Zul badannya tinggi. Aku setelinganya. Padahal di sekolah aku paling tinggi lho. Mas Zul pasti rajin minum susu dan makan ikan. Pas dia keluar, parfumnya langsung menguar. Beuh, harumnya.

Penampakannya seperti orang kaya. Tinggi, putih bersih, ganteng dan wangi. Sepertinya kayanya gak dibuat-buat sih, ini mobilnya juga terlihat mahal. Tapi bisa jadi mobil sewaan. Sejenak aku ngeheuleung (bengong, melamun). Aku juga gak nyangka kalau selera teteh akan seperti ini. Ini sih level artis.

Yang lebih gak nyangka lagi adalah ... kok bisa sih Mas Zul suka sama teteh?

"Putra, halo, Putra." Mas Zul mengibaskan tangan di hadapan wajahku, aku ngarencod (gerakan tubuh akibat kaget).

"Eh, ya Mas. Ayo masuk Mas," ajakku. Kulihat mata Mas Zul terus beredar. Bergulir antara bangunan Ponpes dan rumahku.

"I-ini rumah kamu?" tanya Mas Zul.

"Ya Mas, jelek ya? Hehehe, maklum rumah di kampung," jelasku.

Rumahku memang gak begitu bagus tapi lumayan besar. Luas rumahku 120 meter persegi. Luas tanahnya 500 meter. Sisa tanahnya tentu sana digunakan untuk berkebun, dan sebagian kecilnya dijadikan kolam ikan mas. Abah dan ummi memang suka bercocok tanam.

"Bagus, kok. Besar banget. Kalau di Jakarta rumah dan tanahnya bisa bernilai puluhan milyar," kata Mas Zul. Sementara matanya masih menatap pada bangunan Ponpes.

"Kenapa, Mas? Apa mas alumni pesantren salafi?" tanyaku.

"Bukan. Oiya Putra, Mas mau tanya, apa orang tua kamu pemilik pesantren itu?"

"Apa?! Hahaha, bukan Mas," jawabku. Setelah aku mengatakan itu, wajah Mas Zul berubah ekspresi. Tadinya terlihat tegang. Sekarang tampak lebih tenang.

"Tapi, sebagin lahan pesantren itu wakaf dari abahku," tambahku.

"Abah kamu? Maksudnya?" tanyanya.

"Aku memanggil ayahku dengan sebutan abah, untuk mama aku memanggilnya ummi." Mas Zul mengangguk.

"Tu-tunggu, ja-jadi sebagian lahan pesantren itu awalnya punya papa kamu?"

"Iya Mas, luasnya sekitar 4 hektar. Kata abah, itu tanah sisa warisan dari kakekku untuk abah."

"MasyaaAllah, empat hektar diwakafkan semua?" Mas Zul sepertinya takjub.

Eh, ini termasuk kategori riya ga sih? Semoga saja tidak, karena niatku memberitahu Mas Zul ya biar Mas Zul juga termotivasi untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah tahu isi hatiku. Aku tidak perlu khawatir.

Aku mengangguk. Bersamaan dengan itu, aku melihat wajah Mas Zul kembali menegang.

"Kenapa, Mas?" tanyaku.

"Ti-tidak, tida apa-apa, Mas salut sama papa kamu, emm maksudnya abah kamu. Beliau sangat dermawan."

"Harta itu gak dibawa mati, Mas. Kata abah, Allah menjadikan kita kaya salah satunya ya agar bisa bersedekah, Allah menjadikan umur kita pendek agar dosa kita sedikit, Allah menjadikan kita miskin, agar hisab kita ringan, Allah menjadikan kita umat akhir zaman agar kita tidak terlalu lama menunggu di alam kubur, Allah menjadikan kita umat terakhir agar kesalahan yang kita lakukan tidak diejek oleh umat yang datang kemudian. Allah memaknai setiap kehendak-Nya dengan hikmah," jelasku. Mas Zul melongo.

"Ka-kamu anak pesantren?" tanya Mas Zul.

"Hehehe, masih belajar Mas. Aku kelas dua SMA, tapi sambil mondok di Pesantren Manhaj Salaf."

"Wah, kamu hebat, kamu keren, ganteng lagi," Mas Zul memujiku. Detik itu juga lubang hidungku langsung mengembang.

"Ah, Mas bisa saja."

"Putra, aku malu, aku takut sama abah kamu," katanya.

"Ya ampun, Mas. Abahku baik, kok."

Aku menuntun tangan Mas Zul, serius tangannya terasa dingin. Aku membawa Mas Zul ke kamar tamu yang kebetulan bersebelahan dengan kamarku.

"Ini kamarnya Mas. Abah belum datang dari kebun. Kalau ummiku pengusaha, hehehe."

"Pengusaha apa?" Mas Zul bertanya sambil lihat-lihat. Mungkin merasa aneh dengan kamar tamu yang dipenuhi hiasan kaligrafi.

"Hehehe, pedagang sayuran, Mas. Kalau Abah profesi tetapnya PNS guru," jelasku sambil beranjak.

"Putra mau ke mana? Jangan pergi."

"Aku mau ke pondok lagi, Mas."

"Aku takut, Putra. Masa aku sendirian? Kalau abah atau ummi kamu datang, bagaimana?"

"Hahaha, ya ampun Mas. Di rumah ini ada ceu Jani sama mang Hendra. Mereka suami istri yang bekerja di rumah ini. Jam segini biasanya mang Hendra ada di empang. Kalau ceu Jani lagi masak."

"Please Putra, temani Mas sampai abah kamu datang ya." Wajahnya memelas.

"Hmm, gini saja Mas. Sekarang aku ke pondok dulu, maksudnya mau minta izin gak ikut kajian. InsyaAallah, nanti ke kesini lagi."

"Ya, begitu saja. Aku setuju." Wajah Mas Zul sumringah.

...***...

Ternyata, setelah shalat Dzuhur berjamaah di pondok, aku baru diizinkan pulang. Sehari-hari, aku memang menetap di pondok. Maaf ya mas Zul, dia pasti menungguku. Aku berjalan cepat. Jujur, aku juga penasaran pada teteh dan mas Zul.

"Ssst, Jang Putra tong kalebet (jangan ke dalam), di jero nuju gawat (di dalam lagi gawat)," tiba-tiba Mang Hendra yang berdiri di depan pintu masuk menahan tanganku.

"Aya naon (ada apa), Mang?"

"A-Abah nuju ngambek (sedang marah)," jelas Mang Hendra.

Aku jadi khawatir, aku memaksa masuk. Mang Hendra tidak bisa menahanku. Dari segi postur tubuh, aku memang jauh lebih unggul dari Mang Hendra.

"Huuuks, Daini nyuhunkeun dihapunten Abah ... (Daini minta maaf Abah)."

Samar kudengar tangisan teh Daini dan ratapannya. Hatiku semakin tak karuan. Terdengar jua isakan ummi yang kian jelas saat posisiku mendekat ke ruangan tempat mereka berkumpul.

"Abah kecewa sama kamu Daini!"

Teriakan Abah membuat bulu kudukku merinding, spontan langkahku terhenti. Kenapa Abah bisa semarah itu pada teh Daini?

Dengan perasaan takut, aku mengintip. Kubuka perlahan pintu ruangan itu dengan tangan gemetar. Sambil melakukan gerakan 'ssstt' pada Mang Hendra dan ceu Jani yang menyusulku.

Kulihat Teh Daini duduk bersimpuh di hadapan Ummi dan Abah. Ia meletakan kepala di lututnya, bahunya begerak karena tangisan itu. Umi menutup wajahnya dengan hijab. Ummiku menangis. Sementara Abah duduk bersila sambil menatap tajam pada Teh Daini. Abah memegang dadanya. Napasnya naik-turun. Wajah Abah merah-padam.

Berjarak sekitar satu meter, Mas Zul duduk terpekur di samping Teh Daini. Aku tak berani masuk. Hanya mampu menatap dalam kebingungan yang teramat sangat.

"Kenapa kamu mau menikah dengan pria beristri, Dai?! Ya, ini memang tidak sepenuhnya salah! Tapi akan ada hati yang terluka di balik pernikahan kamu! Coba posisikan diri kamu sebagai istrinya pria itu!" bentak Abah.

"Pak, i-ini salahku, tolong jangan memarahinya," kata Mas Zul dengan suara gemetar.

"Maaf Mas Zul, harusnya Anda juga bisa menjaga perasaan istri Anda dan perasaan saya! Bayangkan, putri yang saya cintai, yang saya didik dengan sepenuh hati, tiba-tiba meminta izin pada saya untuk menikah siri dengan pria beristri!"

"Lalu Anda tiba-tiba meminang putri saya dengan perjanjian mahar satu miliar, dan Anda juga mengatakan jika pernikahan ini tidak diketahui oleh istri dan keluarga besar Anda! Jika Anda di posisi saya, apa Anda tidak akan marah?!" teriak Abah. Mas Zul kian menunduk.

"A-Abah ... huuu ... ma-maaf," Teh Daini merangkak pelan. Lalu memeluk pangkuan Abah. Abah bergeming.

Teh Daini ....

Batinku menjerit. Aku jadi faham kenapa Abah semarah itu. Detik ini juga aku kecewa pada Teh Daini dan Mas Zul. Aku tidak sudi punya kakak pelakor!

"Angkat kepala kamu!" bentak Abah.

Teh Daini mengangkat kepalanya perlahan. Lalu ....

'PLAK.'

Untuk yang pertama kalinya aku melihat Abah menampar Teh Daini. Ummi kaget, pun dengan aku. Mang Hendra dan Ceu Jani sampai terhenyak ke lantai sambil menutup bibir mereka.

"ABAH!" teriak Ummi.

"Ha-Hanin!" teriak Mas Zul, bersamaan dengan teriakan Ummi.

Ummi meraih tubuh Teh Daini yang tersungkur ke lantai. Bibir Teh Daini pecah. Darah segar mengalir dari sudut bibir Teh Daini. Pipi putihnya langsung biru dan lebam seketika. Mas Zulpun sepertinya ingin menyentuh Teh Daini. Tapi ....

"Anda haram menyentuh anak saya!" larang Abah.

"Pak, mohon maaf, kalaupun Hanin salah, tidak seharusnya Bapak menyakiti dia," protes Mas Zul.

"Mas Zul, dia putri saya! Di akhirat, kelak dialah yang bisa menarik tangan saya ke neraka! Saya berhak atas putri saya!" teriak Abah.

"Ya, tapi tolong jangan menyakiti Hanin, dan tolong izinkan kami menikah, jika Bapak merasa kurang dengan mahar satu miliar, Bapak boleh memintanya dengan harga yang pantas. Sampai sepuluh miliarpun aku mampu," tegas Mas Zul. Tapi masih dengan kepala tertunduk.

Sepuluh miliar? Mataku membulat. Siapa sebenarnya Mas Zul ini? Aku jadi penasaran.

"Anda pikir anak saya barang dagangan?! Mohon maaf, saya menolak mahar sebesar itu!"

Abah mengatur napas. Lalu menoleh pada Teh Daini yang saat ini kepalanya bersandar di pangkuan Ummi. Ummi sedang mengelap bibir Teh Daini dengan tissue seraya berurai air mata. Teh Daini sepertinya shock pasca ditampar Abah. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

Batinku terenyuh dan tersayat. Aku hampir tak sanggup melihat adegan ini. Tes, airmataku jatuh. Mang Hendra dan Ceu Jani mengusap punggungku.

Abah menghela napas, ia mulai tenang. Lalu berkata ....

"Maaf, saya tidak merestui pernikahan ini."

"A-apa? Tidak bisa Pak, kami harus tetap menikah," Mas Zul bersikukuh.

"Saya tidak bisa. Pernikahan seperti ini memang dihalalkan. Tapi unsur modhorotnya lebih banyak daripada halalnya. Pertama, Anda menyakiti istri Anda. Kedua, Anda membohongi banyak orang. Ketiga, status putri saya di hadapan hukum sangat lemah karena pernikahan siri tidak memiliki payung hukum," jelas Abah.

"A-Abah, sebenarnya ... a-aku dan Mas Zul, su-sudah ... huuuks," lirih Kak Daini sambil terisak.

"A-apa maksud kamu Daini?!" sentak Ummi sambil bersitatap dengan Abah.

"Aku su-sudah tidur sa-sama dia, huuu ... ampun Ummi ... Abah ...." Teh Daini bersujud di hadapan Ummi dan Abah.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku tersengat hebat. Aku kecewa dan marah. Aku tidak menyangka Teh Daini bisa serendah itu. Abahpun murka.

"Astaghfirullahaladzim, Dainiii. Ya Allah, Ya Rabbi, Dainiii."

Tubuh Abah gemetar. Tangannya mengepal kuat. Abah memukul keras dadanya sambil menggelengkan kepala. Abah mungkin berharap jika ini tidak nyata. Pun denganku.

"Ya Allah, ke-kenapa aku melahirkan putri sejahat ini? Ampuni hamba Ya Allah, Daini ...."

Ummi tiba-tiba terkulai, Ummi pingsan. Abah segera memeluk Ummi. Adegan ini sungguh memilukan. Hatiku hancur, duniaku hampa seketika.

Mas Zul memasygul kepalanya. Dia terlihat kebingungan.

"Mang Hendraaa! Ceu Janiii," teriak Abah.

"Ya, Abah."

Mang Hendra dan Ceu Jani segera berlari ke ruangan dramatis itu. Secepatnya membopong tubuh Ummi, lalu diletakkan di sofa.

"Daini! Abah marah sama kamu!"

Abah mengambil sapu ijuk, lalu dengan gerakan cepat dan kekuatan penuh, Abah memukul betis Teh Daini yang sedang berjalan mendekati Ummi.

'Pukh.'

"AHH! A-Abah, a-ampun," jeritnya.

Teh Daini terpuruk. Ia kembali bersimpuh di lantai. Saat Abah hendak memukul lagi, Mas Zul begerak. Dia melindungi Teh Daini dengan tubuhnya.

'Pukh.'

Batang sapu menghantam punggung Mas Zul.

'Trak.' Sapu itu langsung patah jadi dua bagian.

"Pak, sebenarnya aku dan Hanin melakukan itu dalam keadaan mabuk! Aku tak sengaja, Haninpun demikian, demi Allah kami melakukannya dalam keadaan setengah sadar, aku dicecoki obat oleh pamanku. Tapi yang memberi obat pada Hanin masih aku selidiki!" jelas Mas Zul.

"A-apa?!"

Sapu di tangan Abah jatuh bersamaan dengan Abah yang menjatuhkan tubuhnya ke lantai, bertumpu pada lutut.

"Astaghfirullahaladzim, jika benar seperti itu, ke-kenapa kalian tidak jujur dari awal? Sesungguhnya Allah itu mengampuni umat-Nya dari dosa yang dilakukan karena kesalahan, kelupaan, dan dipaksakan."

"Semoga apa yang dilakukan Anda dan anak saya termasuk ke dalamnya. Wallahu a'lam bishawab, hanya Allah yang mengetahui kebenarannya," kata Abah sambil mendekati Teh Daini dan menarik tubuh Teh Daini ke dalam dekapannya.

"A-Abah ...," lirih Teh Daini.

"Maafkan Abah, geulis (cantik). Abah yakin kamu bukan wanita yang seperti itu." Abah mencium puncak kepala Teh Daini.

Mas Zul menghela napas. Tatapan Mas Zul pada Teh Daini terlihat begitu dalam.

"Ini sifatnya darurat, Abah restui kalian menikah siri. Kedepannya, mari berdoa agar Allah memberikan jalan terbaik untuk masalah ini. Putra, Abah tahu kamu ngintip, cepat ke sini!" seru Abah.

"I-iya, Abah." Aku mendekat.

"Kamu cepat panggil ustad Abdurrohman, dan ustadz Hanif! Abah mau segera menikahkan teteh kamu."

"Ba-baik, Abah." Aku bergegas.

"Maharnya bagimana Pak?" suara Mas Zul masih bisa aku dengar.

"Seperangkat alas shalat saja," suara Abah.

"Yang satu miliar mohon diterima Pak, jadi maharnya seperangkat alat shalat dan uang satu miliar."

"Maaf Mas Zul, saya tidak bisa menerima mahar sebesar itu. Saya hanya berharap agar Anda bisa memberikan sedikit keadilan dan sedikit cinta untuk putri saya." Suara Abah.

Aku melangkah gontai, tak menyangka jika kisah cinta teh Daini akan seperti ini.

...~Tbc~...

...🥰Yuk, komen yuk! 🥰...

1
Dy Idtoudiah
ditunggu karya berikutnya
Khairul Azam
yg menang laki lakinya celap celup Sana sini
kimiatie
hanin pun sentiasa kalah...sekejap mahu sekejap teruskan lepas tu rasa sakit hati....rumit
nyai ambu: maksiiih
total 1 replies
Dy Idtoudiah
love you too 🤣
kimiatie
demi keselamatan Kandungannya...bagus hanin resign
Dy Idtoudiah
seruuu
Dy Idtoudiah
hamiiil
Dia Amalia
cerita nya mengandung bawang 😅😭😭😭😭
kimiatie
kenapa pak Zul egois...yang susah hanin
Pipin Nurma
menurut saya sangat bagus ..
nit_nut
ceritanya menyentuh hati..🥲
indah77
kuwangen
indah77
aaaaghhh bahagianya neng dai ..
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
kistatik
trimakasih Nyai vote nya sudah aku kasih ke Serena
kistatik
satu cangkir kopi buat Pakzul, senangnya punya banyak anak bahagia banget rasanya. 😍😍😍
zainiyah hamid
kopi panas buat pak Zul ...
zainiyah hamid
rindu berat SM pak Zul.....
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Annie Soe..
Rasanya ga rela dah tamat deh,,
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..
nyai ambu: alhamdulillaah, terima kasih Kak🙏🙏. salam kenal🥰🥰🥰
total 1 replies
Fiani Arifin Arifin
aku baca semua. novel nyai semuanya bagus dan menarik plus seru di hati bangetttt
nyai ambu: terima kasih kak🥰🥰🥰
total 1 replies
Quinna Salsabilla
😭😭😭 sbnr na ga rela tbr hari ditamatkan,,,, tp sukses sll buat nyai baik itu di dunia nyata maupun di dunia perhaluan 😘😘🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!