Rara Winarti , seorang wanita dewasa yang berpenampilan cuek gaya bicaranya ceplos-ceplos. Ia pengacara (penganguran banyak acara) baginya 'Hidup sekali dan matipun sekali' selama menjalani hidup. Rara selalu bersikap tenang dan tidak pernah berpikir untuk masa depan. Semua tampak rata, seperti jalan tol di matanya. Hingga ibunya lelah melihat Rara, keluarga memaksanya menikah , denga duda beranak satu yang tak lain tetangganya sendiri. Tetapi pernikahan itu gagal, dibatalkan sepihak dari pihak laki-laki .Rara dan kelurganya merasa malu. Ia kabur dari rumah orang tuanya. Tetaapi takdir mempertempurkan dengan seorang pria muda yang memiliki gaya hidup perfeksionis seorang Aktor, sekaligus pengusaha muda yang jadi majikannya.
Bastian Salim, tidak pernah menduga di usianya yang terbilang masih muda harus menikahi wanita yang umurnya lebih tua darinya, karena sebuah kesalahan, seorang wanita yang bekerja di rumahnya sendiri, Tetapi. Apakah keluarga besarnya mau menerima Rara, jadi menantu di kelurga Bastian setelah mereka menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonata 85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta ditraktir
Bastian , sedang nongkrong dengan beberapa temannya, setelah selesai syuting, ia sengaja memilih duduk dekat kaca café, sembari menunggu pesanan datang, ia memainkan ponsel miliknya, saat matanya terfokus ke layar ponsel, tidak sengaja ia menoleh ke jendela kaca, tiba-tiba matanya menyipit dan kedua alisnya menyengit, Ara tiba- tiba aja lewat dari depan Bastian.
Ia hampir saja kesendak minumannya, ketika Ara melempar senyum padanya, gilanya lagi . Rara ikut masuk dan duduk di meja di samping Bastian.
Ia mengedipkan mata pada Bastian ia kembali berulah ingin mengerjai lelaki yang jadi majikannya. Bastian, merasa gerah dan gelisah, ia malu pada teman-temanya kalau Rara sampai ikut bergabung dengan mereka.
Bastian menatapnya dengan tatapan menajam, tidak menyukai kehadirannya di sana.
Hal itu, membuat Ara ingin tertawa ngakak, melihat mimik wajah Bastian yang mengusirnya dengan cara bola mata yang diputar-putar tanpa suara. Lalu ia memberi kode untuk membaca pesannya pada Rara.
Tiiing ….
Notif ponsel Rara, ada pesan peringatan dari Bastian padanya,
[Kamu ngapain kesini?] pesan chating dari Bastian, pakai emoji marah kepala berasap.
[Mau minum kayak yang kamu minum.] Balas Rara pakai emoji emoji meneteskan air liur muka pengen dan matanya sesekali menatap bos tampangnya.
[Gak usah aneh-aneh.] Balas Bastian lagi, dengan mata menatap kearah Ara dengan tatapan melotot, tentu ia merasa marah karena Rara ikut nongkrong dengannya.
Rara dengan Tingkah konyolnya pura-pura berdiri. Bastian tiba-tiba terkejut saat Rara berdiri, ia beri isyarat agar tetap duduk, lalu dengan wajah gelisah, ia mengetik sesuatu di ponsel miliknya dan menatap Rara lagi. Mereka berdua main kode-kodean.
Tiiing ….
Notif di ponsel Rara,
[Baik-baik pesan apa yang kamu suka .Baiklah, aku yang bayarin.] Balas Bastian kemudian,
Matanya menatap Rara dengan tatapan tajam, bibir dipincingkan ke depan, ia menuruti semua kemauan Rara, yang penting jangan mengganggunya dengan temanya. Bastian akan merasa sangat malu, jika mereka tahun tentang Rara dan perlakuannya.
Melihat kesempatan yang baik itu Rara bukan hanya memesan minuman, tetapi ia juga mencoba makanan yang belum pernah di cobai lidahnya, tentu makanan mahal salah satunya yang membuat matanya penasaran , pertama ia mencoba makanan yang berbahan dasar ikan Tuna, bahkan harganya setara dengan ponsel di tangan Rara. Restoran ala masakan Jepang itu akan membuatnya kenyang dan membuat Bastian jengkel.
Ia mulai memesan sushi, shabu-shabu ketiga makanan itu akan membuat tagihan kartu kredit Bastian membengkak.
“Harga segitu, gue jadi tidak tega memakannya” kata Ara mengawasi menu makanan mahal itu dengan tingkah konyolnya . Ia bolak -balik memutar –mutar panci panas dengan isi kaldu mendidih,
Bastian meliriknya, Ia melihat tingkah kocak Ara yang begitu cuek terhadap tatapan orang padanya, ia terus saja mengoceh bagai burung beo dengan mulutnya yang komat;kamit yang tentunya ia menyumpahi makanan degan harganya yang selangit. Ia berniat menghabiskan semua pesanannya karena sudah dibayar mahal-mahal
Kali ini matanya melotot tajam kearah Rara, karena Bastian berpikir, Rara memanfaatkanya sengaja mengekorinya agar ditraktir makan enak.
“Ckkk … dasar licik,” ujar Bastian, ia menggeleng melihat kearahnya. Rara hanya nyengir kuda dengan mata dikedip-kedipkan, saat ia melihat bos kecilnya yang tampan melihatnya,
“Kenapa Bro?” tanya Erik yang dari tadi mengawasi Bastian, ia ikut penasaran, ia melihat ke arah Arah.
“Lihattin siapa si?”
“Tidak, kita pergi dari sini.” Niat Bastian ingin mengerjai Ara.
Melihat Bastian ingin kabur, tentu saja membuat Rara kelabakan, dirinya dijual juga tidak akan mampu membayar makanannya. Ia panik kuah kaldu dalam pancinya sudah mendidih Bastian sudah ingin berdiri.
Rara berdiri di depan Bastian dengan berani, dengan telapak tangan direntangkan, meminta, membuat Bastian kaget setengah mati.
Ia melotot dengan posisi berdiri dan tangan Rara masih terjulur meminta, mirip gaya preman, teman-temanya pada bingung, ada seorang wanita yang berpenampilan amburadul memalak temannya dengan gaya preman
“A-apaaa?” tanya Bastian dengan raut wajah malu.
“Kartumu.”
“Lu, kan yang suruh gue pesan makan, jadi gue pesan,” ujar Rara, tanpa memperdulikan tatapan bingung teman-teman Bastian. Mau tidak mau ia meyerahkannya, Rara lalu duduk lagi ke mejanya.
Teman-teman Bastian sukses dibuat melonggo sama Rara.
“Astagaaa …! Siapa dia?” tanya Erik
“Apa dia orangnya?” tanya Bima dengan wajah penasaran
Kenzo mengeluarkan ponselnya ingin mengambil Foto Rara, Tetapi keburu dicegah Bastian dengan wajah mengeras menahan amarah.
Ketiga temanya memburu Bastian dengan berbagai pertanyaan. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Bastian yang mereka kenal sangat pemilih terhadap wanita . Tetapi saat ini, teman-temannya melihat seorang wanita yang jauh dari kriteria yang biasa ia pegang seorang Bastian.
“Astaga, gue gak salah lihat kan tadi,” ujar Erik.
“Ayo jawab Bro yang tadi siapa? Pacar, teman, sepupu,apa siapa itu.” Bima masih penasaran.
.
“Hanya teman,” ujar Bastian mengacuhkan teman-teman yang ingin mendengar cerita, tentang Rara.
'Awas saja kamu nanti Rara, kamu akan aku beri pelajaran karena sudah membuatku dapat masalah' Bastian membatin, dengan tatapan jengkel ke arah Rara.
Ia cuek, bagi seorang Rara kesempatan bisa makan enak seperti saat ini, hal yang langkah baginya.
Bersembung ....
BANTU TEKAN FAVORIT DAN VOTE ,LIKE KAKAK. KASIH KOMENTAR JUGA.
sebelumnya sdh baca yg dari batak,sunda.
gak tau nih novel yg lain latar belakangnya dr suku mana lagi.
belum baca semua novel karya2 mu.