Cinta harus menghadapi bosnya yang super galak dan otoriter. Fakta lain adalah bosnya orang yang menyebabkannya hamil.
Dia terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa bosnya adalah tunangan kakaknya sendiri. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan kakaknya. Namun, kehamilannya tidak bisa ditutupi selamanya. Keputusan apa yang harus dia ambil nantinya? Berkata jujur atau pergi jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendengar Cristian
''Dari tes darah yang telah dilakukan menyatakan jika dia positif hamil." Mike berdiri menepuk pundak Cristian. "Kini kau harus tegas dalam menentukan pilihan."
Mata Cristian berbinar bahagia. Dia memeluk erat Mike dan mencium pipinya.
"Tanks a lot." Cristian pergi keluar ruangan dengan seulas senyum lebar.
"Woy, aku masih normal," teriak Mike mengusap bekas ciuman di pipinya. Dia tersenyum ikut bahagia melihat temannya bahagia.
"Sebentar lagi akan ada yang memanggilku uncle,"
***
Dengan langkah mantap Cristian berjalan ke ruangan Cinta. Dia melihat kertas itu berkali-kali dengan bibir yang menampilkan senyum sempurna.
Pintu ruangan dibuka. Cinta tidur dengan posisi miring membelakanginya.
"Den Cristian di sini. Nona baru saja tidur," kata Mbok Jum.
"Mbok, Si Mbok menginap saja di hotel atau penginapan sekitar sini saya saja yang menunggu Cinta," ucap Cristian mengambil sebuah kartu kredit.
"Tapi Den nanti ... .'' Mbok terlihat berat meninggalkan Cinta.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam padanya aku hanya ingin berbicara pribadi padanya," tegas Cristian.
"Den saya tidak berani," ujar Mbok Jum lagi.
"Saya yang bertanggung jawab jika ada apa-apa pada Cinta. Tapi rahasiakan ini dulu dari siapa pun,'' bujuk Cristian.
Mbok Jum melihat ke dalam mata Cristian. Dia melihat ada yang berbeda dari dirinya.
"Aku tidak akan menyakitinya."
Mbok Jum akhirnya menuruti keinginan Cristian.
Sepeninggal Mbok Jum, Cristian mengunci pintu kamar. Mendekati tempat tidur Cinta. Dia mengambil satu tangan Cinta yang terpasang jarum infus. Menciumnya lembut di bagian jarum seolah ingin menghirup rasa sakit itu. Agar dia saja yang merasakannya. Lalu mengusapnya lembut.
Cinta yang merasa disentuh segera membuka matanya lebar-lebar. Dia serentak membalikkan badannya dan terkejut melihat Cristian yang ada di hadapannya.
"Kau untuk apa kau ke sini? Bukannya kau tadi sudah pergi?" tanya Cinta sembari duduk dan mundur ke belakang hingga tersudut.
Cristian tersenyum kecut setidaknya dia tidak ingin di sambut dengan ketakutan seperti itu. Dia lalu duduk di pinggir ranjang dan mengambil satu tangan Cinta. Namun, Cinta menariknya kasar dan menyembunyikannya di balik bantal yang dia pegang. Raut wajahnya memperlihatkan rasa tidak senangnya.
Cristian menghela nafasnya panjang. Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengucapkan berita bahagia ini. Berita bagus untuknya namun bukan untuk Cinta. Batin Cristian.
Dia sedikit mencondongkan tubuh. Menaruh tangan di atas pahanya. Cinta hanya menunduk saja tanpa ekspresi.
Dia mulai berkata dengan lembut, "Cinta, awal kita bertemu bukanlah sebuah kenangan buruk? Itu terasa indah jika kau mengingatnya dengan baik. Kita tertawa, menari, dan bergembira bersama selama semalam penuh."
Cristian menghembuskan nafas berat, "Kau pergi begitu saja, aku berusaha mengejar dan memanggilmu tapi kau tidak menoleh juga, aku pun coba melupakan masalah itu."
Cinta baru mengangkat wajah dan menatapnya. Sebuah gerakan sederhana itu pertanda Cinta menyimak ceritanya.
"Aku telah menganggapnya sebagai ONS saja. Hingga ketika aku hendak keluar dari kamar hotel aku menemukan tasmu yang tertinggal. Aku penasaran untuk melihat apa isinya dan ternyata isinya hanya sebuah handhone dan ... ."
"Permen tolak topan," potong Cinta tersenyum.
Senyum yang baru dilihat oleh Cristian selama beberapa hari ini.
"Aku mencek semua data handphone itu dan mencari keberadaanmu hingga aku tahu jika kau adalah karyawan di salah cabang perusahaanku."
"Jadi karena malam itu aku dipromosikan! Ternyata rumor yang beredar benar adanya, aku menjadikan tubuhku untuk mendapat promosi kerja." Cinta mendesah pelan. Dia memejamkan matanya sejenak menahan tangis yang tidak bosannya mengalir.
Cristian menangkup kedua pipi Cinta. Tapi malah membuat wanita itu menangis sekali lagi.
"Hei! Dengarkan aku, di sini bukan kau yang salah tapi aku hanya ingin memastikan satu hal saja," kata Cristian.
"Apa itu?" tanya Cinta parau.
"Hatiku." jawab Cristian.
"Hati?" ulang Cinta dengan senyuman mengejek.
"Hatiku terus mencarimu, aku hanya memperhatikan keseharianmu dari jauh, memantaumu dari layar CCTV yang ada. Aku pernah berdiri di sebelahmu tetapi kau terlihat cuek saja, seperti tidak mengenalku. Harga diriku terluka. Aku tidak pernah ditolak oleh wanita manapun sebelumnya. Dan kau seperti mempermainkan aku," tutur Cristian. Cinta membuka lebar mulutnya terkejut mendengar ungkapan hati Cristian.
"Aku bahkan tidak tahu siapa pria yang bersamaku waktu itu dan kau mengira aku mempermainkanmu?" tunjuk Cinta pada dirinya sendiri dengan emosi.
"Aku mulai penasaran padamu, dan ingin mengenalmu lebih dekat lagi."
"Dan kau merencanakan semuanya," tanya Cinta kesal hingga melupakan tangisannya.
"Kau licik!"
"Semua cara diperbolehkan dalam cinta dan perang," jawab Cristian tertawa.
"Lalu mengapa kau mendekatiku sedangkan kau sendiri sudah memilih kakakku sebagai istrimu?" tanya Cinta serius.
"Aku didesak untuk menikah karena suatu alasan karena itu aku memutuskan harus segera menikah. Kedekatanku dengan Bella itu sudah lama, jalinan asmara kami juga sudah berjalan selama satu tahun. Dia juga kandidat istri yang sempurna untuk kukenalkan pada ibuku," jelas Cristian.
"Kakakku memang wanita yang sempurna. Dia sangat layak menjadi istrimu." Hati Cinta terasa sakit ketika mengatakannya."Tapi apakah kau pernah menjalin hubungan seperti yang kita lakukan dengan kakak?" tanya Cinta.
"Biasanya aku selalu menghindari hubungan seperti itu. Namun denganmu aku merasa lain aku seperti menemukan bagian diriku yang lain," kata Cristian mengakhiri kalimat terakhirnya dengan lirih.
"Aku pun merasakan hal yang berbeda ketika bersamamu dan aku tidak tahu apa itu?" batin Cinta.
"Aku sendiri mencoba mengerti perasaanku padamu dan Bella semakin ke sini hatiku semakin condong padamu," lanjut Cristian "Jiwa lelakiku lebih memilihmu"
Mata Cinta mengerjap indah memandang Cristian. Mulutnya merekah karena sedikit terkejut. Ungkapan ini melegakan dadanya tapi juga membuatnya bingung. Apakah dia egois jika menyukai Cristian? Pikir Cinta. Dia kembali menutup mulutnya rapat.
Cristian menatap Cinta dengan tatapan yang dalam. Beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa kata terucap. Seolah mereka sedang menyelami perasaan lawan bicaranya.
"Jika aku mengatakan 'perasaan yang kumiliki adalah cinta,' apakah itu tidak terlalu cepat?" tanya Cristian dengan mimik muka serius.
Pertanyaan Cristian seketika membuat panik Cinta, dia seolah terjatuh dari langit surga dan menemui kenyataan yang menyakitkan jika dia tidak seharusnya mempunyai perasaan lebih pada pria itu karena Cristian hanya milik Bella.
"Tidak ... kau tidak bisa seperti itu, kau tidak boleh berfikir seperti itu. Kakak akan sedih jika mendengarnya. Aku tidak ingin jika dia sedih karenaku. Aku tidak boleh membuatnya sedih ... ," ucap Cinta tanpa putus dan terlihat setengah histeris. Dia terus menggelengkan kepalanya.
Cristian terkejut melihat reaksi Cinta yang terlihat berlebihan. Jika kalimat cinta saja membuatnya histeris, bagaimana jika dia tahu bahwa dia sedang hamil?
***
Like
Vote
Komen
ibarat lagu "tanda tandanya" jatuh cinta